Sariawan dan Pembubaran Natalan

Saya sedang mengalami masalah yang menyakitkan, memusingkan, dan melelahkan, yaitu…

Sariawan!

Karena posisinya di tempat yang sangat strategis, yaitu bagian dalam pipi, antara rahang atas dan bawah, saya tidak bisa makan seperti biasa. Boro-boro makan, buka mulut pun sakitnya alamak. Kadang-kadang sariawan itu terasa cenut-cenut, sampai seisi mulut saya ikut sakit: gusi, gigi, rahang, dan akhirnya kepala juga sakit. Arrggg.

Semua jenis obat saya pakai, minuman pengobat panas dalam saya minum, tapi belum sembuh juga (ini hari ke-4). Berita baiknya, hari ini sudah lumayan dibanding kemarin. Saya jadi senang dan bersemangat, walaupun masih harus menanggung sakit.

Nah, karena sariawan ini, saya jadi berpikir…

Saya tidak pernah bersyukur kepada Tuhan karena diberi rongga mulut yang sehat. Serius, saya belum pernah bersyukur tentang hal ini. Biasanya paling bersyukur karena dilindungi, diberkati, hal-hal seperti itu lah (dan itu semua alasan yang valid untuk bersyukur, tentunya). Tapi setelah mengalami sariawan yang menyiksa ini, saya sadar saya tidak pernah bersyukur untuk hal-hal yang saya anggap memang seharusnya demikian (bahasa Jawa: things I take for granted), seperti katup jantung yang berfungsi normal, gigi tidak berlubang, otot bekerja dengan baik, dan… rongga mulut yang sehat.

Ada satu hal lain yang saya pikirkan.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah acara perayaan Natal di Bandung dibubarkan oleh ormas yang namanya belum pernah saya dengar. Mereka membubarkannya dengan cara yang, menurut saya, bisa disebut preman, dan alasan yang dipakai pun akan backfire ke mereka sendiri seandainya mereka mengadakan kegiatan keagamaan di luar tempat ibadah mereka. Tapi berhubung mereka mayoritas dan gubernur provinsi ybs juga (yang saya lihat dari media) tidak peduli dengan apa yang terjadi, maka orang-orang hanya bisa menyesalkan terjadinya aksi pembubaran paksa ini (mau dibilang tidak memaksa pun, saya rasa yang namanya menggerakkan massa, memakai spanduk dan toa, serta masuk ke dalam ruangan acara minta dibubarkan, itu memaksa).

Dan tidak lama setelah itu terjadi, banyak orang Kristen mencurahkan ketidakpuasan mereka di media sosial. Sebagian besar mempertanyakan apakah Indonesia masih bisa disebut toleran dalam hal agama setelah terjadi insiden semacam itu. Ini sangat bisa dimengerti. Tapi satu hal muncul dalam pikiran saya:

Pernahkah kita bersyukur karena bisa beribadah dengan bebas?

Kebebasan beribadah itu taken for granted. Kita menganggap memang seharusnya begitu, padahal itu adalah anugerah Tuhan.

Saya tidak akan bicara lebih panjang lebar lagi, tapi saya ingin mengajak pembaca, sesama orang percaya, untuk bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Saya percaya Tuhan akan terus memberikan anugerah-Nya dalam skala yang tidak bisa kita bayangkan (sama seperti Tuhan tetap menopang organ tubuh saya yang lain untuk berfungsi dengan normal, selain si sariawan ini – dan itu jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan rongga mulut yang sariawan). Mari sejenak kita bersyukur karena kejadian yang tidak enak seperti bom di gereja di Samarinda dan pembubaran Natalan di Bandung mengingatkan kita untuk merenungkan anugerah Tuhan yang kita nikmati selama bertahun-tahun, yang seringkali kita anggap remeh.

Gagal Atau Berhasil?

Apa yang terbersit dalam benak pembaca ketika mendengar “hamba Tuhan yang luar biasa”?

Kalau saya, jujur saja, yang muncul adalah seorang yang berkhotbah kepada puluhan ribu orang, yang bisa membuat mujizat, yang pembawaannya kharismatik, yang punya aura tertentu mungkin, dan jemaat gerejanya banyak, namanya dikenal banyak orang. Itu baru “luar biasa”.

Tetapi kalau memang “luar biasa” atau “sukses” atau “berhasil” diukur dengan standar yang demikian, maka ada satu tokoh yang sama sekali tidak bisa disebut berhasil (yang mana bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus katakan tentang dia). Dia adalah Yohanes Pembaptis.

john-the-baptistRasanya tidak ada seorangpun, dengan standar sekarang, yang akan berkata bahwa Yohanes adalah hamba Tuhan yang luar biasa atau berhasil. Yang ada, mungkin mereka mempertanyakan apakah Yohanes punya “dosa yang disembunyikan” atau semacam itu, karena hidupnya berakhir mengenaskan.

Matius 14:1-12 menceritakan akhir hidup Yohanes.

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.  Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.  Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 

Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,  sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.  Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.”  Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.  Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Not an impressive ending. Yohanes memulai pelayanannya dengan cemerlang: setelah 400 tahun tidak ada suara kenabian di Israel, orang Israel dengan bersemangat menyambut kedatangan putera dari seorang imam ini, yang menyerukan pada bangsa itu bahwa mereka harus bertobat. Dari berbagai daerah, orang datang berbondong-bondong untuk mendengarkan khotbahnya dan merespon dengan baptisan. Fyi, baptisan ini adalah respon yang luar biasa, karena bagi orang Yahudi, hanya orang non-Yahudi yang masuk agama Yahudi yang perlu dibaptis, sementara mereka sendiri, yang sejak lahir sudah keturunan Abraham, tidak memerlukan baptisan. Tetapi mereka mau dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda pertobatan! Sebesar itulah pengaruh Yohanes di Israel.

Kemudian Yesus memulai pelayanan-Nya di tanah Yudea, dan dalam waktu singkat, everything went downhill for John.

Yohanes seperti kalah bersaing. Murid-muridnya pindah perguruan dan malah mengikuti Yesus, Yesus jadi lebih popular disbanding dia, dan dia bahkan dimasukkan dalam penjara oleh Herodes. Akhir hidupnya tidak kalah mengenaskan: dia dipancung dan kepalanya dijadikan tontonan di pesta Herodes.

Seperti yang saya katakan di atas, untuk ukuran masa kini, tidakkah kita akan berpikir bahwa Yohanes melakukan kesalahan fatal sampai dia “dihukum” oleh Tuhan dan hidupnya berakhir demikian? Karena bukankah keberhasilan diukur dengan public recognition, hal-hal yang spektakuler, dan kekayaan?

Untuk menjawab apakah Yohanes berhasil atau gagal, ada baiknya kita melihat dulu apa yang sebenarnya menjadi misi kehidupannya di dunia. Kita tahu bahwa bila seseorang memenuhi misinya, maka dia berhasil; dan sebaliknya, bila seseorang tidak memenuhi misinya—sekalipun dia mendapatkan hal-hal lain di tengah jalan—maka dia gagal. Misi Yohanes jelas dalam Matius 3:1-3:

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: 

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Kehidupan Yohanes dapat disimpulkan secara sederhana demikian:

  1. Pesan yang dia bawa adalah: “Bertobatlah.”
  2. Dia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan yang akan segera datang, yaitu Yesus.

Mengapa Yohanes dipenjara? Persis karena dia menyampaikan pesan yang selalu dia sampaikan: “Bertobatlah!” Kali ini dia menyampaikannya pada Herodes, yang mengambil iparnya sendiri menjadi isterinya, sehingga Herodes marah dan memenjarakannya. Karena menyampaikan pesan yang harus dia sampaikan, Yohanes akhirnya dihukum mati.

Dan tentang persiapan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus, John actually did a wonderful job! Dia bukan hanya memberitahu orang-orang secara diam-diam; dia memproklamirkan siapa Yesus di depan orang banyak, sehingga semua orang langsung tahu bahwa Yesuslah Juruselamat yang akan datang itu. Karena proklamasinya ini—karena dia melakukan apa yang harus dia lakukan, Yohanes kehilangan pengikut dan popularitasnya.

Yohanes sama sekali bukan orang gagal, karena dia berhasil menjalankan misinya dengan setia, bahkan sampai hari terakhir hidupnya. Kehidupan dan kematian Yohanes adalah sebuah success story.

Sebagai anak-anak Tuhan yang akan hidup dalam kekekalan bersama Tuhan kita, mari kita ubah cara berpikir kita. Kalau biasanya kita mengukur kesuksesan, keberhasilan, atau tingkat kepuasan Tuhan terhadap hidup kita dari hal-hal fisik dan duniawi seperti kekayaan, kesenangan, pengakuan dari orang lain, ketenaran, dsb, berarti kita mengukurnya dari sudut pandang yang sama dengan dunia. Bagi dunia, Yohanes gagal habis-habisan—demikian pula Tuhan Yesus! Tapi nyatanya mereka berhasil, karena kehidupan dan kematian mereka selaras dengan misi yang mereka bawa.

Coba berhenti sebentar dan pikirkan: Sebenarnya saya ini hidup untuk apa? Untuk mengejar hal-hal yang akan binasakah? Kalau untuk mengejar kesuksesan, sukses dari sudut pandang siapa? Kalau mengejar sebuah tujuan, tujuannya siapa? Kalau mengejar penghargaan, penghargaan dari siapa? Jangan sampai di akhir hidup kita, kita baru sadar bahwa kita mendapatkan banyak hal selama hidup, tapi malah gagal memenuhi misi.

Mengapa Kita Menyanyi

violin.jpg

Suatu ketika, waktu lagi bikin bahan untuk Pendalaman Alkitab, bahan yang saya bahas membuat saya tiba-tiba berpikir, kenapa orang Kristen suka menyanyi?

Kalau orang Kristen kumpul untuk ibadah, apa yang mereka lakukan? Nyanyi dulu. Hari Minggu, sebelum dengar khotbah, nyanyi lagi. Di kamar mandi, nyanyi lagu rohani lagi. Di rumah, nyanyi sendiri pakai gitar dengan chord ala kadarnya. Album rohani Kristen juga sepertinya paling banyak dibanding agama-agama lain. Kalau dihitung dari zaman awal ada kekristenan sampai sekarang, entah sudah berapa juta lagu (termasuk yang tidak diterbitkan) yang digubah orang Kristen.

Kemudian saya menyadari sesuatu yang sangat menarik.

Di dunia ini, hal yang paling mendorong manusia untuk menyanyi itu bukan masalah ekosistem, bukan politik, bukan hobi, bukan uang (walaupun katanya itu favorit manusia), tetapi cinta. Karena cinta, orang menulis lagu. Cinta itu membangkitkan emosi yang sedemikian sehingga kreativitas ikut tergugah, dan nada-nadapun tercipta.

Sehingga tidak heran kalau orang Kristen suka menyanyi, dikit-dikit nyanyi, dan selalu ada lagu baru. Karena cinta adalah dasar dari hubungan kita dengan Tuhan. Bukan peraturan, bukan ketakutan, bahkan bukan ketaatan, tetapi cinta. Sejak awal inilah yang Tuhan katakan:

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” ―Ulangan 6:4-5

Tidak ada yang lain selain Tuhan. Hanya Dia satu-satunya Tuhan yang hidup, dan yang diinginkan Tuhan yang hidup itu adalah agar kita mengasihi Dia.

Pikirkanlah. Tuhan bisa meminta apa saja dari kita. Dia bisa minta uang kita, persembahan kita, tenaga kita, keahlian kita, dll. Tetapi yang Dia inginkan ternyata adalah hati kita, kasih kita. Kasih yang tidak terbagi, penyembahan yang tidak tertandingi, sehingga kita bukan hanya mati bagi Dia, tetapi juga hidup bagi Dia.

Dan bukan hanya Dia meminta kasih yang sepenuhnya dari kita; Dia sendiri menunjukkan kasih-Nya kepada kita.

“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” ―Yeremia 31:3

Dulu saya suka ayat itu karena saya pikir kata-katanya romantis-romantis gimana gitu. Tapi ketika saya mempelajari firman Tuhan lebih dalam dan belajar tentang kitab Yeremia, saya sadar bahwa konteksnya sama sekali bukan kasih yang romantis.

Nabi Yeremia membawa berita penghukuman bagi bangsa Israel. Selama 500 tahun Tuhan bertahan dalam kasih-Nya kepada bangsa yang berkali-kali mengkhianati Dia dan menyembah dewa-dewa yang mati, dan akhirnya Dia memutuskan bahwa waktu penghukuman sudah tiba. Dia mengutus Yeremia untuk memperingatkan Israel bahwa bangsa Babel akan menghancurkan mereka (yang mana dilihat sendiri penggenapannya oleh Yeremia). Tetapi berita penghukuman bukan satu-satunya berita yang disampaikan Tuhan melalui nabi Yeremia. Tuhan juga berbicara tentang sesuatu yang sangat penting, yang di kemudian hari digenapi di dalam Yesus Kristus―sebuah istilah yang mungkin banyak dari kita tidak tahu bahwa asalnya dari kitab Yeremia: Perjanjian Baru.

Ya, Tuhan tidak meninggalkan perjanjian-Nya dengan Israel. Mereka melanggar perjanjian hidup-mati dengan Tuhan―bukan sekali tetapi entah berapa ratus kali; seandainya Tuhan membatalkan perjanjian itu, tentu Dia tidak salah. Tetapi Dia tidak melakukannya. Bukan hanya Dia tidak membatalkan perjanjian itu, Dia memperbaruinya. Ketika orang Israel dalam pembuangan, Dia berkata kepada mereka melalui nabi Yehezkiel:

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” ―Yehezkiel 36:26-27

“Suatu hari,” kata Tuhan, “Aku sendiri akan turun tangan mengubah kamu dari dalam, sehingga kamu mengasihi Aku dan menaati Aku dengan sungguh-sungguh.” Inilah pembaharuan perjanjian itu.

Mengapa Tuhan mengasihi kita? Mengapa Dia bertahan dalam perjanjian-Nya dengan kita? Why doesn’t He give up on us? Dalam Perjanjian Baru dikatakan, “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). There is no why. Kasih-Nya yang kita alami adalah pancaran dari siapa Dia. Kalau Dia mengasihi kita karena kita baik, tentu Dia sudah tidak mengasihi kita ketika kita berdosa. Kalau Dia mengasihi kita karena kita menurut, tentu Dia berhenti mengasihi ketika kita melawan Dia. Tetapi nyatanya Allah tetap mengasihi kita, not because of what we’ve done, but because of who He is.

Dan ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, apa yang dinubuatkan para nabi dalam Perjanjian Lama digenapi: Roh Kudus memperbarui hati manusia dari dalam, sehingga mereka bukan hanya bisa mengasihi Tuhan, tetapi juga lebih memilih mati daripada tidak setia kepada Tuhan.

Dan bila orang sedemikian mengasihi Tuhan, tidak mungkin mereka tidak menyanyi. Bukankah cinta yang mendorong manusia untuk menggubah lagu? Untuk menyanyi tentang orang yang mereka kasihi? Karena itulah orang Kristen menyanyi. Karena itulah tidak terhitung banyaknya lagu digubah untuk Dia yang kita kasihi, yang lebih dahulu mengasihi kita. Seperti lirik sebuah lagu yang terkenal: “I could sing of Your love forever!”

Ironis sekali bila orang Kristen menyanyi hanya untuk dilihat orang, karena sebenarnya tujuan kita menyanyi bukan untuk orang lain, tetapi untuk mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan dan membicarakan tentang Dia. Tuhan yang menciptakan orang yang peka nada dan yang tuli nada, dan kedua-duanya diberi kesempatan untuk menyanyi. Tuhan tidak terganggu dengan nada yang fals, karena Dia mendengar seruan hati kita yang mengasihi Dia.

Jadi tunggu apa lagi? Saya percaya sekarang pembaca sudah terpikir sebuah lagu untuk dinyanyikan. Silakan. “Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru!”

A Pilgrim’s Progress

PS: Not sure why I never posted this. I probably wrote a draft and then forgot to post it. This has been sitting in my draft for 2 years now.

Read the transcript of an interview here, between a 22-year-old Glory and her 27-year-old self.

22: How was university life for you?

27: It was thriving with joy; I learned so much from every experience I had.

But the four years of happiness ended now, and a future of uncertainty embraced me. What am I gonna do with my life? What am I gonna be? I didn’t really experience identity crisis as a teenager; I definitely experienced it after graduating from university.

Fast forward to five years later. Which is now.

I still don’t have all the answers (sorry). At 27, I’m single, employed by my parents, an assistant at the church, and a hardly-quarter-time graphic designer. I understand this life I have is not ideal for many people, but I’m completely happy and satisfied. Having said that, I believe I’ll still have more to come. After experiencing many things in 5 short years, I can’t wait to see what the future holds for me.

As I said, I don’t have all the answers. Nonetheless, let me share the things I’ve learned along the years. I had questions, God provided answers. My life is a testimony of His faithfulness.

Q. What will my future be?
A. What are you going to do now?

If I have to name one most important thing I’ve learned, I’d say it is to live in the present. I have hopes for my future; and rightly so, because my future is secure in the Lord. But what I do now really counts. It is a common escape for children of wealthy parents to pursue graduate studies simply because they don’t know what to do with their lives. Grad study is an investment; you have to consider the benefits of pursuing it. If there’s none, why would you waste your time? Remember, you’re on your 20s now.

“Then what do I do?” Good question. Go get a job. Don’t be idle; start making money. If you have a girlfriend/boyfriend, of course you should start planning for marriage.

Q. What if my current job is not my dream job?
A. Do it anyway.

With the exception the job is illegal or there’s a moral consideration, stick with it. The first three months are the hardest; don’t quit just because you feel like it.

Q. I can’t stop worrying about my future.
A. Read the answer below.

Earlier this year, I lost two of my friends. One of them was 28, the other was 27. They were young, and at the prime of their lives. I’m 27 now (talking about the 27 Club). It’s safe to say that it is still not clear whether I will have another day to live, or if this will be the last day of my life. Death has never felt so real as when you see the sting on your friends.

Our Lord posed a rhetoric: “Can worry make you live longer?”

Good Lord has said it best.

Q. Why am I so anxious about my life?
A. Because you don’t belong to this world.

It is not for no reason that the title of this post is “A Pilgrim’s Progress”. You won’t reach an age when you finally feel that everything’s perfectly perfect. Not if your real residence is heavenbound. It is normal to be confused. It is human to want security for your life. Because God has planted eternity in your heart, nothing in this temporary world will satisfy you.

“Look up,” said apostle Paul. Well, he literally said, “Set your eyes on things that are above, not on things that are on earth.” The best way to look at this life is as an opportunity to serve the Lord. Remember Carrie Underwood’s song: “This is my temporary home, it’s not where I belong.”

Q. Money isn’t everything.
A. No. But those who have it can do many things.

I’m not that kind of a dreamer, so you dreamers might find my principle disappointing. I think it’s important to make money – I mean a lot of money. Money makes it possible for you to browse the web and find this post. Money makes it possible for me to fulfill my longtime wish to support missionary work. I envied those rich people who could take Rp 100.000,- bills out from their wallet and put them into the offerings at church. I wanted to be able to do that. Unless I don’t have to worry about money, that wouldn’t be possible.

Endnote
Now I’m 29, in a relationship (which means I have to seriously think about another giant phase in my life which is marriage – my goodness!), still working for my parents, working at church too. And I might be doing more interviews with my younger self. I’m happy I still agree with my 27-year-old self (despite the gloomy tone of the interview) and I’m glad I don’t regret anything. Walk hand in hand with God, and you won’t have to worry about anything.

Epitaph

Yang terbaring di sini memang bukan Anda, tetapi saya. Dan selama hidup saya pun tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya ada di dalam peti yang ukurannya hanya sedikit lebih panjang dari tubuh saya.

Di sinilah akhirnya. Waktu saya di dunia telah habis dan di sini tubuh saya dibaringkan, menunggu untuk dimasukkan ke dalam tanah. Mata yang tadinya bisa melihat, tangan yang bisa menulis, kaki yang bisa berjalan, otak yang bisa berpikir, sekarang hanya organ tubuh yang mati dan menunggu busuk.

Saya tidak hidup dalam kekayaan; saya tidak memiliki segala sesuatu. Banyak orang yang jauh lebih sukses dari saya, jauh lebih terkenal dibanding saya. Tapi apa bedanya? Kami semua tidak bisa merasakan apakah peti kami nyaman atau tidak; kami tidak bisa memilih warnanya; kami dibaringkan dalam posisi yang sama dan sama-sama akan dimasukkan ke dalam tanah. Kami juga tidak bisa membawa apa-apa—semua yang kami kumpulkan dengan susah payah selama hidup. Yah, paling tidak keluarga mereka yang kaya itu bisa memilih peti yang lebih mahal. Tapi, sungguh, apa bedanya?

Hidup itu seperti menunggu di terminal airport dengan memegang boarding pass kosong untuk terbang ke tempat di mana Anda akan tinggal untuk seterusnya. Yang Anda tahu adalah Anda pasti berangkat, tapi Anda tidak tahu ke mana atau jam berapa. Anda menunggu dengan gelisah, sembari melihat satu demi satu orang-orang di sekitar Anda dipanggil namanya. “Seperti apa tempat yang akan saya tuju?” pikir Anda, “Siapa yang akan saya temui?” Orang-orang berkata bahwa tempat tujuan Anda adalah tempat yang mengerikan. Setiap kali seseorang dipanggil untuk naik ke pesawat, orang-orang di sekitarnya menangisi dia karena, kata mereka, mereka tidak akan bertemu dia lagi selama-lamanya. Ada pula yang acuh tak acuh, karena kata mereka, “Saya tidak percaya saya akan pergi ke sana.” Tapi itu tidak mengubah apa-apa. Dia sendiri juga memegang boarding pass, dan Anda pun akhirnya mendengar nama orang itu dipanggil.

Seseorang berkata kepada saya, “Lucu sekali manusia itu. Untuk hidup yang sementara, ia mempersiapkan segala sesuatu; tapi untuk hidup yang kekal, ia tidak mempersiapkan apa-apa.” Dan bagaimana dengan Anda? Ketika tiba giliran Anda untuk berbaring di peti ini, sudahkah Anda siap? Apakah Anda tahu apa yang ada di balik pintu kematian ketika Anda akhirnya dipaksa membukanya? Atau apakah Anda selalu bersikap seolah-olah Anda tidak akan mati, padahal Anda takut ketika akhirnya harus mati? Apakah Anda sedang berpura-pura seolah Anda akan hidup seribu tahun lagi?

Dan ketika Anda harus menghadap Hakim yang Adil itu, yang akan menghakimi orang hidup dan mati, yang akan menjatuhkan vonis yang layak kita dapatkan, siapkah Anda? Apakah Anda mengenal Dia? Atau apakah Anda membawa mati harapan bahwa Dia tidak ada?

Dari tadi saya terus mengajukan pertanyaan; sekarang saya akan menjawab.

Saya siap.

“Bagaimana mungkin?” tanya Anda. Karena saya tahu apa yang akan saya temui setelah kematian; karena kekekalan saya terjamin adanya; karena saya mengenal Hakim yang Adil itu dan kami telah menyelesaikan urusan kami sebelum saya mati. Sekarang saya meninggalkan dunia dengan tenang, dan saya tahu apa—lebih pentingnya, siapa—yang akan saya temui di sana.

Hakim yang Adil itu adalah sahabat saya, yang memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan saya dari kebinasaan kekal di neraka. Dia mengasihi saya. Saya percaya semua yang Dia katakan, dan saya melakukan apa yang Dia ingin saya lakukan selama hidup saya di dunia. Bertahun-tahun sebelum hari ini tiba, kami telah memiliki perjanjian mengenai kehidupan kekal saya. Seperti yang dikatakan seseorang dua milenium yang lalu tentang Pribadi yang sama: “Aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Sekarang hari saya telah datang. Pernahkah Anda melihat obituari di suratkabar yang berkata “Telah pulang ke rumah Bapa”? Anda akan melihat tulisan yang sama pada obituari saya. Saya bukan pergi ke tempat yang tidak saya ketahui untuk bertemu orang yang tidak saya kenal; saya pulang, pulang ke rumah Dia, yang saya panggil Bapa, di surga.

Hari Anda akan datang. Peti Anda akan dipesan. Lobang di tanah tempat tubuh Anda dibaringkan akan segera digali. Pertanyaannya tetap sama: Sudah siapkah Anda? Apakah Anda mau membereskan urusan Anda dengan Hakim yang Adil itu sekarang? Karena ketika Anda sudah di dalam peti itu, tidak akan ada kesempatan lagi.

Latihan

Salah satu kegiatan yang tidak saya sukai adalah olahraga. Olahraga apa aja. Keringetan. Capek. Pegel-pegel. Intinya saya ga suka gerak.

(Untungnya ga hobi kuliner juga, jadi berat badan ga terlalu tragis.)

Tapi akhir-akhir ini saya insyaf bahwa saya harus olahraga, gara-gara frustasi masuk angin terus-terusan. Saya sadar bahwa tidak ada jalan pintas untuk jadi sehat dan kuat selain… olahraga. Jadilah saya membiasakan diri (tepatnya memaksa diri) hidup sehat (makan diatur, minum air yang banyak) dan olahraga setiap hari. So far so good, tiap hari waktunya ditambah, dan sekarang saya sudah mulai menikmati olahraga tiap hari. Target saya adalah satu jam sehari untuk olahraga, dan sekarang saya cukup optimis bisa mencapai target itu.

Saya punya pengalaman yang mirip dalam hal yang lebih penting: kepedulian terhadap orang lain. Dulu, saya tidak peduli terhadap orang lain, cenderung apatis, dan pandangan saya terhadap hidup sangat sinis. “Your life, your problems”—kira-kira begitulah. Saya tidak mau direpotkan orang, saya juga tidak mau merepotkan orang. Bahkan sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pun saya malas (dipikir-pikir, aneh, memang). Sampai suatu hari saya ditegur seorang teman ketika saya minta maaf karena saya merasa merepotkan dia, dan dia berkata, “Orang tuh seneng, tau, kalo bisa nolongin orang lain.”

Sebenarnya sebelum itu pun saya sudah sadar bahwa saya tidak melakukan firman Tuhan tentang menunjukkan kebaikan hati kepada orang lain. Saya sadar saya harus murah hati dan berkorban untuk menolong orang lain. Tapi saya selalu merasa itu bukan prioritas dan terus menunda itu, sampai mendapat teguran dari teman saya itu.

Dan saya memutuskan—okelah, sebenarnya ga dramatis banget sih, cuma saya berpikir, sudahlah jangan ditunda-tunda terus—untuk membiasakan diri peduli terhadap orang lain. Dan dimulailah latihan serius selama bertahun-tahun.

Agak aneh ya? Untuk peduli dan berbuat baik pada orang lain saja saya harus belajar. Yah, pembaca, saya juga maunya dari sananya udah baik hati, tapi mau gimana lagi.

Ketika kita mengikut Yesus, memberikan hidup kita bagi Dia, di situlah proses unlearning dimulai. Semua yang selama ini ditorehkan dalam karakter kita harus dihapus dan diganti dengan sifat-sifat Kristus. Dan itu butuh waktu.

Saya tidak berkata demikian sebagai alasan. Saya tidak bisa berkata pada Tuhan, “Tuhan, ga bisa dong saya langsung diminta jadi sempurna. Saya kan perlu waktu dan proses…” Kalau firman Tuhan bilang, “Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” maka itulah firman Tuhan, saya harus melakukannya sekarang, dan saya tidak bisa membantahnya. Yang saya maksud adalah kualitas ketaatan saya kepada Tuhan meningkat seiring berjalannya waktu. Dulu, saya batal marah-marah kepada orang yang membuat saya jengkel karena saya diharuskan sabar oleh firman Tuhan. Sekarang, keinginan untuk melampiaskan kemarahan itu pun hampir tidak ada. Firman Tuhan tidak berubah; hati saya yang berubah.

Saya mulai dengan baby steps, cara yang sudah saya ketahui dan bisa dipraktekkan: mendengarkan cerita orang lain. Lalu saya belajar untuk mengumpulkan niat ngajak orang ikut kegiatan yang saya tahu akan bermanfaat bagi mereka; saya juga belajar membantu orang lain dengan tugas atau kegiatan mereka. Ketika ada teman yang punya gawe, saya datang (walaupun saya ini 200% anak rumahan yang ga suka jalan-jalan, beneran deh). Saya melakukan semua yang saya tahu untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa saya peduli terhadap mereka sebagai pribadi. Lebih dari seratus kali saya awalnya berpikir, “Males ah,” dengan berbagai alasan, tapi lalu saya memaksa badan bergerak dan bertindak karena saya tahu itulah yang harusnya saya lakukan. Saya sangat termotivasi dengan apa yang dikatakan rasul Paulus:

“Aku melatih tubuhku dan menguasainya sepenuhnya, supaya sesudah aku memberitakan Injil, jangan aku sendiri ditolak.”

Setiap kali ingat ayat itu, saya jadi greget. Saya mengasihi Tuhan, dan saya tidak ingin Dia dirugikan gara-gara sikap saya. Jadi berkali-kali saya memaksa tubuh saya bergerak, mulut saya tersenyum, telinga saya mendengarkan, supaya ketika saya memberitakan Injil, apa yang saya beritakan itu diterima karena sudah diberi pendahuluan dengan tindakan yang baik.

Beberapa tahun kemudian…

Saya masih 200% anak rumahan. Hehehehe. Tapii.. Mempedulikan orang lain dan melakukan hal yang baik bagi mereka bukan lagi beban buat saya. Saya mengasihi mereka. Saya merasakan belas kasihan bagi orang-orang yang perlu diperhatikan. Saya membantu mereka sejauh yang saya mampu karena mereka penting di mata Tuhan—dan karenanya, penting di mata saya. Itulah hasil latihan bertahun-tahun jalan dalam rute firman Tuhan.

Tentu saja saya harus latihan terus dan disiplin dalam latihan itu. Sebagaimana yang dikatakan firman Tuhan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor. Biarlah rohmu menyala-nyala, dan layanilah Tuhan.” Saya suka versi bahasa Inggrisnya:

“Not lagging in dilligence,
fervent in spirit,
serving the Lord!”

Saya selalu percaya bahwa bila Tuhan bisa mengubah saya, Tuhan bisa mengubah siapapun. Saya sendiri dulu tidak pernah terpikir untuk berubah; saya merasa diri saya baik-baik saja dan sifat saya ya memang begini. Tapi sejak kenal Tuhan secara pribadi, saya sadar saya tidak bisa hidup seperti itu. Setiap kali saya melihat ke belakang, kepada hidup saya yang lama, saya takjub bagaimana orang dengan karakter seperti itu bisa diubah begitu rupa oleh Tuhan. Jadi, bagi semua pembaca yang ingin berubah, ingin menjadi seperti Yesus, ingin karakternya yang buruk dikikis, ingin mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihi mereka…

Dengan pertolongan Roh Kudus dan dengan latihan rutin… Bisa!

Manfaat Uang

Apa perlu dibahas tentang manfaat uang? Perenungan ini muncul gara-gara saya membaca ayat yang sangat menarik dari kitab Pengkhotbah:

Pesta membuat tertawa & anggur membuat gembira,
tapi perlu ada uang untuk membayarnya.
-Pkh. 10:19

Orang-orang yang sangat kaya bersaksi bahwa uang tidak membuat mereka bahagia, tapi kita toh tidak percaya kesaksian mereka dan berusaha membuktikan sendiri. “Itu kan karena dia tidak tahu uangnya mau dipakai untuk apa,” kita pikir demikian, “Kalau saya, saya sudah berpikir mau buat apa aja uangnya.” Uang belum di tangan pun kita sudah sibuk berkhayal.

Ketika membaca ayat di atas, mungkin pembaca berpikir, kenapa ada ayat “duniawi” seperti itu dalam Alkitab? Orang-orang yang berpikir bahwa Alkitab itu isinya cerita-cerita supernatural saja, orang-orang yang ada lingkaran di atas kepalanya, pembahasan yang melulu tentang Tuhan, dst, sepertinya kurang kenal firman Tuhan. Dalam Alkitab ada cerita tentang orang-orang seperti kita: orang biasa, yang makan, minum, ngobrol, bekerja, bahkan (maaf) BAB, muntah, mandi, minum alkohol, berhubungan seks, dsb. Saya sebutkan ini untuk menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan sehari-hari itu bukannya tidak berarti bagi Tuhan! Bukan hanya urusan gereja atau kerohanian saja yang diperhatikan Tuhan; Dia memperhatikan semua aspek hidup kita.

Termasuk aspek ekonomi, mestinya. Mama saya pernah berkata bahwa setelah sekian lama berinteraksi dengan jemaat di gereja, masalah jemaat umumnya 2K: keluarga, dan keuangan. Nyatanya memang uang penting. Memang bukan yang terpenting dalam hidup ini, tapi ya penting.

Dan firman Tuhan juga berkata uang penting untuk hidup. Dalam Pengkhotbah 10:19, yang dibicarakan bahkan bukan kebutuhan pokok, melainkan kebutuhan tersier, yaitu pesta. Dalam pesta dihidangkan makanan dan anggur (minuman pesta pada waktu itu) dan itu semua membuat orang senang. Logikanya adalah sebagai berikut.

Seorang senior saya dalam pelayanan kampus pernah memberi nasehat yang berharga: “Kalau kamu mau menegur seseorang (karena waktu itu saya ketua persekutuan mahasiswa Kristen di kampus), ajak dia makan dulu. Abis makan baru ngomong. Dan jangan lupa: bayarin.” Saya praktekkan nasehat itu, dan terbukti ampuh. Tidak ada satupun nasehat atau teguran yang saya berikan yang ditolak… Ketika disampaikan setelah makan!

Mengapa demikian? Makan itu membuat kita senang dan tenang (ini ilmiah lho). Dan yang mungkin tidak ilmiah tapi menurut observasi saya sendiri, dibayarin makan oleh orang lain membuat kita punya pandangan positif terhadap orang ybs. Kalau hati senang, pikiran tenang, ga keluar uang, apapun yang dikatakan orang yang traktir kita pasti lebih gampang masuk. Selain itu, orang yang suka traktir itu banyak temennya, bray! Yang pernah mengalami jadi anak kos jaman sekolah/kuliah pasti tahu rasanya terbelit krisis moneter di akhir bulan. Di saat seperti itu, teman yang nraktir bagaikan malaikat. Saya ingat waktu SMA, di saat ekonomi kritis, ada seorang teman mengajak kami satu geng untuk makan steak. Luar biasa, bener-bener orang baik dia!

Singkatnya, punya uang untuk bayarin dan traktir orang lain itu membuat kita di atas angin. Uang bukan yang terpenting, tapi uang bisa membuat kita dihormati, didengarkan, disenangi. Bukan tanpa alasan kita mengenal sesuatu yang disebut “status sosial”. Ini tidak berarti karakter tidak penting. Tapi kekayaan juga… penting.

Kekayaan menambah banyak sahabat,
tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.
-Amsal 19:4

Dan,

Orang kaya menguasai orang miskin,
yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.
-Amsal 22:7

Ini adalah realita hidup. Pembaca sendiri lebih suka bareng teman yang rajin nraktir, atau teman yang pinjem duit mulu? Lebih suka jalan bareng temen yang punya mobil atau yang harus naik metromini? Wes lah, jujur ae.

Sekarang bayangkan seorang pengikut Kristus yang baik, jadi teladan, bijak, kaya, dan murah hati! Siapa yang alergi terhadap orang seperti itu? Semua mau dekat dengan orang itu. Kalau memang uang bisa dipakai untuk membangun hubungan dengan orang lain, kalau uang bisa dipakai untuk melebarkan pengaruh kita, kalau uang bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan, mengapa tidak? Kesempatan kita memakai uang hanya sekarang ini, karena uang tidak dibawa mati. Selama kita masih hidup dan diberkati, kita disuruh memanfaatkan uang untuk melayani Tuhan. Semua pelayanan butuh uang, semua kegiatan misi butuh uang. Untuk membuat orang respek dan mendengarkan kita, kita butuh uang. Agar pendapat kita diterima dan perintah dituruti, kita harus punya uang. Uang memudahkan segalanya, termasuk pelayanan untuk kemuliaan Tuhan.

Lantai dasar dari iman kepada Tuhan adalah “Jangan berbuat dosa”. Mereka yang ada di lantai ini takut dengan banyak hal, dan pertanyaannya terus-terusan seputar, “Ini dosa gak sih?” “Tuhan marah ga kalo aku berbuat ini?” Dsb. Lantai berikutnya adalah “Tidak ada barang yang punya dosa intrinsik”. Di lantai ini orang Kristen mulai sadar bahwa uang itu tidak jahat. Seks itu tidak salah. Musik itu tidak membuat kita binasa. Dosanya bukan terletak pada uang, atau seks, atau musik, atau senjata sekalipun, tapi pada manusia yang mengendalikannya. Lantai berikutnya, yang lebih tinggi lagi, adalah “Segala hal bisa dimanfaatkan untuk memuliakan Tuhan.” Di lantai ini, orang bekerja keras dan menghasilkan banyak uang, bukan karena dia ingin kaya, tapi karena dia ingin lewat kekayaannya dia bisa melakukan banyak hal bagi Tuhan. Orang terlibat dalam politik bukan karena mau cepat kaya dengan cara gampang, tapi karena benar-benar ingin membuat perubahan bagi bangsanya.

Kita tentu pernah mendengar pernyataan: “Uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang jahat.” Itu benar adanya. Uang adalah hamba yang multitasking; dia bisa melakukan sangat banyak hal. Bila kita memanfaatkannya sebaik-baiknya, kita bisa memberi keuntungan besar untuk Tuan kita yang sesungguhnya: Tuhan sendiri!