Damai Sejahtera Bagi Kamu

holding-hands-matheus-ferrero

Ketika ibadah di gereja, orang-orang di gereja saya suka menyapa dengan berkata, “Syalom.” Kata itu artinya kira-kira “salam damai”, yang berarti kita mengharapkan damai sejahtera bagi orang ybs. Dalam kondisi biasa, ucapan damai itu selayaknya salam pada umumnya. Tetapi bagaimana bila kita sedang bingung, gelisah dan ketakutan?

Itulah yang dialami murid-murid Yesus. Mereka bingung setelah mendapat laporan dari sekelompok wanita yang masih shock karena melihat kubur Yesus yang kosong dan bertemu secara pribadi dengan Guru mereka yang telah mati disalib itu! Mereka gelisah; bila Yesus benar bangkit, di mana Dia? Apa yang harus mereka lakukan tanpa Guru mereka? Mereka juga ketakutan karena sewaktu-waktu orang-orang yang telah menyalibkan Yesus bisa saja datang menangkap dan menghukum mati mereka karena mereka pengikut Yesus. Dalam kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan, murid-murid Yesus berkumpul di satu ruangan dengan pintu terkunci. Kita bisa membayangkan betapa berat suasana dalam ruangan, tidak ada satupun yang tersenyum atau bersenda gurau.

Tiba-tiba Yesus muncul! Entah dari mana, mereka tidak melihat bagaimana Dia masuk. Pintu masih terkunci rapat, jendela tertutup. Dengan mata terbelalak murid-murid itu memandang Guru mereka. Dan Dia berkata…

“Damai sejahtera bagi kamu.”

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, sekelompok gembala sedang menjaga domba mereka di padang rumput di kota Betlehem, Yudea. Tiba-tiba langit menjadi terang seperti siang, dan malaikat, ribuan jumlahnya, muncul di langit, dan bernyanyi dengan suara menggelegar,

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi,
dan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya!”

Mengapa mereka bernyanyi demikian? Mengapa ada damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada Allah? Karena, salah satu malaikat itu berkata, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud!” Seketika pikiran mereka melayang dan sampai pada nubuat nabi Yesaya, “Nama-Nya akan disebutkan… Raja Damai.

Ketika Raja Damai itu datang ke dunia, orang-orang yang menanti-nantikan Dia menemukan penggenapan pengharapan mereka. Bila orang berkata pada kita, “Damai bagi kamu,” kita tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika Dia, yang adalah Raja Damai, berkata, “Damai sejahtera bagi kamu,” damai itu diperintahkan untuk datang kepada kita. Damai itu ada di dalam kita, ketika Yesus ada bersama kita. Dan karena nama-Nya adalah Imanuel, “Allah beserta kita”, maka damai itu juga selalu beserta kita.

Yohanes melanjutkan ceritanya. Setelah memberi mereka salam damai, Yesus menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu menyadari bahwa yang ada di tengah mereka benar-benar Yesus, bukan Guru yang sudah mati, tetapi Tuhan yang telah bangkit! Dan firman Tuhan berkata, “Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.”

Inilah yang kita alami ketika kita bertemu Tuhan dan menyadari bahwa Dia selalu menyertai kita. Saya ingat sebuah cerita tentang lukisan bertema “damai”. Lukisan itu menggambarkan laut yang gelap dan bergelora diterpa badai, dengan banyak batu karang yang tajam. Tetapi di atas salah satu batu karang itu ada seekor burung yang bertengger dengan tenang memandangi badai yang menakutkan itu. Itulah damai. Daud menyatakannya dengan puitis: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Sebuah hymne berkata,

Tuhanlah yang memimpinku
Tanganku dipegang teguh
Hatiku berserah penuh
Tanganku dipegang teguh

“Jika Allah di pihak kita,” ujar rasul Paulus dengan yakin, “Siapa yang akan melawan kita?” Inilah damai dan pengharapan kita, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Namun damai dan sukacita ini diberikan oleh Tuhan bukan untuk kita nikmati sendiri saja. Yesus berkata lagi kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.

Ke mana kita diutus? Tidak lain kepada dunia yang gelap dan kacau ini. Sebagaimana Yesus datang menjadi terang dunia, kitapun diutus menjadi terang di dunia yang gelap, membawa damai sejahtera di dunia yang gelisah. Bila damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, kita dapat melayani Tuhan dan orang lain dengan keyakinan yang mantap, iman yang teguh, dan semangat yang tidak padam. Ini bukan berarti kita harus membawa pesan yang manis-manis saja; tetapi ini berarti kita tidak takut dengan resiko apapun yang kita hadapi sebagai orang-orang yang mewakili Kristus di dunia. Ini berarti kita tidak takut ditolak dunia ketika berbicara tentang dosa, dan tidak mundur sekalipun menghadapi kesulitan.

But it gets better: Dia tidak membiarkan kita berjuang sendiri! Yohanes melanjutkan:

Dan sesudah berkata demikian (yaitu, mengutus mereka), Yesus mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Ketika seorang raja menyuruh ajudannya mengerjakan tugas negara, ia menyertakan kuasanya bagi ajudan tersebut; entah dalam bentuk kawalan tentara, surat tugas, atau lainnya. Demikian pula Allah Roh Kudus menyertai kita dan memperlengkapi kita dengan kuasa. Kuasa ini begitu luar biasa, karena ini bukan hanya kuasa untuk hidup di dunia, melainkan kuasa yang mengikat orang sampai kekekalan! Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu”―perhatikan, Dia berani mengutus kita karena Dia memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya.

Inilah tujuan Tuhan memberikan damai sejahtera dalam hati kita: supaya dengan hati yang teguh, yang percaya penuh bahwa Dia menyertai kita, kita melayani Tuhan dengan segenap hati. Peace is not merely some feel-good sentiment, peace is a fortress, and it is only in Jesus Christ we have peace. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya,

“Yang hatinya teguh, Kaujagai dengan damai sejahtera,
sebab kepada-Mulah ia percaya.”
Yesaya 26:3

Ini Aku, Utuslah Aku

3rm3deyl_cm-guillaume-bolduc.jpg

Dua puluh tahun lamanya sebagian suku Israel dijajah oleh bangsa Kanaan di bawah pimpinan raja Yabin, dengan kepala pasukannya yang bernama Sisera. Selama dua puluh tahun, penjajah merampok hasil bumi dan memperbudak orang-orang mereka. Bangsa Israel berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melakukan sesuatu untuk menolong mereka.

Apa yang Tuhan lakukan? Dia bukan mengirim tentara dari luar negeri untuk membebaskan mereka, atau mengirim bencana alam bagi orang Kanaan. Lewat nabiah Debora, Tuhan memerintahkan Barak, seorang prajurit dari suku Naftali, untuk memimpin 10.000 tentara Naftali dan Zebulon (dua dari 12 suku Israel) untuk maju berperang melawan Yabin dan Sisera.

Dengan kata lain, Tuhan memerintahkan supaya orang Israel sendiri yang memberikan diri untuk menjadi jawaban doa mereka. Tuhan berjanji akan menyertai mereka sehingga mereka menang dalam pertempuran itu, tetapi mereka sendiri yang harus maju berperang.

Setelah kemenangan besar atas bangsa Kanaan, Debora menyanyikan pujian dan berkata,

“Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang,
karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela,
pujilah TUHAN!

Hatiku tertuju kepada para panglima Israel,
kepada mereka yang menawarkan dirinya dengan sukarela di antara bangsa itu.
Pujilah TUHAN!”

Pernahkah pembaca berdoa untuk keluargamu, agar diberkati Tuhan? Untuk anak-anakmu, agar mereka jadi anak yang baik? Untuk bangsamu, agar diberi pemimpin yang takut akan Tuhan? Pertanyaannya, siapa yang akan Tuhan utus untuk menjawab doa-doa itu?

Akankah kita menemukan uang jatuh dari langit di depan rumah kita?

Haruskah orang lain mendidik anak-anak kita sehingga mereka menjadi anak yang baik?

Siapa orang yang takut akan Tuhan, yang akan dipakai-Nya memimpin bangsa ini?

Banyak orang punya mentalitas tangan di bawah; mengharapkan sesuatu dari Tuhan sementara mereka bersikap pasif dan tidak berbuat apa-apa. Seperti anak-anak sekolah di kelas yang langsung menunduk berjamaah waktu guru bertanya, “Siapa yang mau mengerjakan ini?” Bahkan di komsel pun kita pura-pura sibuk ketika ditanya, “Siapa yang mau bersaksi?” Siapa sebenarnya yang harus Tuhan utus? Siapa? Dan apa peran kita?

Ketika kita berdoa pada Tuhan meminta berkat, Tuhan akan menjawab doa kita ketika kita bekerja. Semakin rajin dan jujur kita, semakin banyak berkat yang Dia berikan. Ketika kita minta pada Tuhan agar anak-anak kita menjadi anak yang baik dan takut akan Tuhan, apakah kita sendiri, sebagai orang tua, memberi teladan seperti apa orang yang baik dan takut akan Tuhan? Ketika kita berdoa bagi negara ini, pertanyaan besarnya adalah: Apa yang sudah kita lakukan? Menjadi penonton dan komentator?

Kita berharap orang lain yang dipakai Tuhan, orang lain yang mengorbankan diri mereka, orang lain yang menderita, supaya kita hidup nyaman. Tapi tidak demikian seharusnya dengan para pengikut Kristus. Kalau kita berdoa minta Tuhan melakukan sesuatu agar saudara kita mau percaya kepada Kristus, mestinya kita minta pada Tuhan, “Tuhan, pakailah saya untuk membawa dia kepada Tuhan. Tolong beri saya hikmat.” Kalau kita minta berkat finansial kepada Tuhan, mintalah juga, “Beri saya hikmat untuk mengelola keuangan dan mengembangkan usaha ini.” Kalau kita ingin anak-anak kita menjadi orang-orang yang berhasil, mintalah kepada Tuhan, “Beri saya hikmat untuk mendidik mereka menjadi orang yang takut akan Tuhan, dan memberi teladan kepada mereka.”

Kira-kira 2500 tahun lalu Yesaya melihat Tuhan, dan ia mendengar Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Dia menjawab tanpa ragu-ragu, “Ini aku, utuslah aku!” Yesaya tidak berpikir terlalu jauh. Ia tidak terlalu takut untuk mengambil resiko. Harus ada orang yang diutus oleh Tuhan, dan Yesaya menyediakan diri secara sukarela untuk menjadi orang itu.

Menjelang tahun baru, mari kita ubah mental tangan di bawah yang diwakili oleh doa-doa yang malas. Dari, “Tuhan, lakukanlah sesuatu!” menjadi, “Tuhan, pakailah saya untuk melakukan sesuatu.” Siapa tahu, ternyata memang Tuhan mau kita sendiri yang menjadi alat Tuhan untuk menjawab doa kita. Ketika Tuhan bertanya siapa yang akan diutus-Nya, biarlah kita tidak berpikir terlalu panjang, tetapi kita berlomba-lomba mengacungkan jari dan berkata, “Ini aku, utuslah aku!”

Sariawan dan Pembubaran Natalan

Saya sedang mengalami masalah yang menyakitkan, memusingkan, dan melelahkan, yaitu…

Sariawan!

Karena posisinya di tempat yang sangat strategis, yaitu bagian dalam pipi, antara rahang atas dan bawah, saya tidak bisa makan seperti biasa. Boro-boro makan, buka mulut pun sakitnya alamak. Kadang-kadang sariawan itu terasa cenut-cenut, sampai seisi mulut saya ikut sakit: gusi, gigi, rahang, dan akhirnya kepala juga sakit. Arrggg.

Semua jenis obat saya pakai, minuman pengobat panas dalam saya minum, tapi belum sembuh juga (ini hari ke-4). Berita baiknya, hari ini sudah lumayan dibanding kemarin. Saya jadi senang dan bersemangat, walaupun masih harus menanggung sakit.

Nah, karena sariawan ini, saya jadi berpikir…

Saya tidak pernah bersyukur kepada Tuhan karena diberi rongga mulut yang sehat. Serius, saya belum pernah bersyukur tentang hal ini. Biasanya paling bersyukur karena dilindungi, diberkati, hal-hal seperti itu lah (dan itu semua alasan yang valid untuk bersyukur, tentunya). Tapi setelah mengalami sariawan yang menyiksa ini, saya sadar saya tidak pernah bersyukur untuk hal-hal yang saya anggap memang seharusnya demikian (bahasa Jawa: things I take for granted), seperti katup jantung yang berfungsi normal, gigi tidak berlubang, otot bekerja dengan baik, dan… rongga mulut yang sehat.

Ada satu hal lain yang saya pikirkan.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah acara perayaan Natal di Bandung dibubarkan oleh ormas yang namanya belum pernah saya dengar. Mereka membubarkannya dengan cara yang, menurut saya, bisa disebut preman, dan alasan yang dipakai pun akan backfire ke mereka sendiri seandainya mereka mengadakan kegiatan keagamaan di luar tempat ibadah mereka. Tapi berhubung mereka mayoritas dan gubernur provinsi ybs juga (yang saya lihat dari media) tidak peduli dengan apa yang terjadi, maka orang-orang hanya bisa menyesalkan terjadinya aksi pembubaran paksa ini (mau dibilang tidak memaksa pun, saya rasa yang namanya menggerakkan massa, memakai spanduk dan toa, serta masuk ke dalam ruangan acara minta dibubarkan, itu memaksa).

Dan tidak lama setelah itu terjadi, banyak orang Kristen mencurahkan ketidakpuasan mereka di media sosial. Sebagian besar mempertanyakan apakah Indonesia masih bisa disebut toleran dalam hal agama setelah terjadi insiden semacam itu. Ini sangat bisa dimengerti. Tapi satu hal muncul dalam pikiran saya:

Pernahkah kita bersyukur karena bisa beribadah dengan bebas?

Kebebasan beribadah itu taken for granted. Kita menganggap memang seharusnya begitu, padahal itu adalah anugerah Tuhan.

Saya tidak akan bicara lebih panjang lebar lagi, tapi saya ingin mengajak pembaca, sesama orang percaya, untuk bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Saya percaya Tuhan akan terus memberikan anugerah-Nya dalam skala yang tidak bisa kita bayangkan (sama seperti Tuhan tetap menopang organ tubuh saya yang lain untuk berfungsi dengan normal, selain si sariawan ini – dan itu jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan rongga mulut yang sariawan). Mari sejenak kita bersyukur karena kejadian yang tidak enak seperti bom di gereja di Samarinda dan pembubaran Natalan di Bandung mengingatkan kita untuk merenungkan anugerah Tuhan yang kita nikmati selama bertahun-tahun, yang seringkali kita anggap remeh.

Gagal Atau Berhasil?

Apa yang terbersit dalam benak pembaca ketika mendengar “hamba Tuhan yang luar biasa”?

Kalau saya, jujur saja, yang muncul adalah seorang yang berkhotbah kepada puluhan ribu orang, yang bisa membuat mujizat, yang pembawaannya kharismatik, yang punya aura tertentu mungkin, dan jemaat gerejanya banyak, namanya dikenal banyak orang. Itu baru “luar biasa”.

Tetapi kalau memang “luar biasa” atau “sukses” atau “berhasil” diukur dengan standar yang demikian, maka ada satu tokoh yang sama sekali tidak bisa disebut berhasil (yang mana bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus katakan tentang dia). Dia adalah Yohanes Pembaptis.

john-the-baptistRasanya tidak ada seorangpun, dengan standar sekarang, yang akan berkata bahwa Yohanes adalah hamba Tuhan yang luar biasa atau berhasil. Yang ada, mungkin mereka mempertanyakan apakah Yohanes punya “dosa yang disembunyikan” atau semacam itu, karena hidupnya berakhir mengenaskan.

Matius 14:1-12 menceritakan akhir hidup Yohanes.

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.  Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.  Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 

Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,  sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.  Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.”  Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.  Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Not an impressive ending. Yohanes memulai pelayanannya dengan cemerlang: setelah 400 tahun tidak ada suara kenabian di Israel, orang Israel dengan bersemangat menyambut kedatangan putera dari seorang imam ini, yang menyerukan pada bangsa itu bahwa mereka harus bertobat. Dari berbagai daerah, orang datang berbondong-bondong untuk mendengarkan khotbahnya dan merespon dengan baptisan. Fyi, baptisan ini adalah respon yang luar biasa, karena bagi orang Yahudi, hanya orang non-Yahudi yang masuk agama Yahudi yang perlu dibaptis, sementara mereka sendiri, yang sejak lahir sudah keturunan Abraham, tidak memerlukan baptisan. Tetapi mereka mau dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda pertobatan! Sebesar itulah pengaruh Yohanes di Israel.

Kemudian Yesus memulai pelayanan-Nya di tanah Yudea, dan dalam waktu singkat, everything went downhill for John.

Yohanes seperti kalah bersaing. Murid-muridnya pindah perguruan dan malah mengikuti Yesus, Yesus jadi lebih popular disbanding dia, dan dia bahkan dimasukkan dalam penjara oleh Herodes. Akhir hidupnya tidak kalah mengenaskan: dia dipancung dan kepalanya dijadikan tontonan di pesta Herodes.

Seperti yang saya katakan di atas, untuk ukuran masa kini, tidakkah kita akan berpikir bahwa Yohanes melakukan kesalahan fatal sampai dia “dihukum” oleh Tuhan dan hidupnya berakhir demikian? Karena bukankah keberhasilan diukur dengan public recognition, hal-hal yang spektakuler, dan kekayaan?

Untuk menjawab apakah Yohanes berhasil atau gagal, ada baiknya kita melihat dulu apa yang sebenarnya menjadi misi kehidupannya di dunia. Kita tahu bahwa bila seseorang memenuhi misinya, maka dia berhasil; dan sebaliknya, bila seseorang tidak memenuhi misinya—sekalipun dia mendapatkan hal-hal lain di tengah jalan—maka dia gagal. Misi Yohanes jelas dalam Matius 3:1-3:

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: 

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Kehidupan Yohanes dapat disimpulkan secara sederhana demikian:

  1. Pesan yang dia bawa adalah: “Bertobatlah.”
  2. Dia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan yang akan segera datang, yaitu Yesus.

Mengapa Yohanes dipenjara? Persis karena dia menyampaikan pesan yang selalu dia sampaikan: “Bertobatlah!” Kali ini dia menyampaikannya pada Herodes, yang mengambil iparnya sendiri menjadi isterinya, sehingga Herodes marah dan memenjarakannya. Karena menyampaikan pesan yang harus dia sampaikan, Yohanes akhirnya dihukum mati.

Dan tentang persiapan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus, John actually did a wonderful job! Dia bukan hanya memberitahu orang-orang secara diam-diam; dia memproklamirkan siapa Yesus di depan orang banyak, sehingga semua orang langsung tahu bahwa Yesuslah Juruselamat yang akan datang itu. Karena proklamasinya ini—karena dia melakukan apa yang harus dia lakukan, Yohanes kehilangan pengikut dan popularitasnya.

Yohanes sama sekali bukan orang gagal, karena dia berhasil menjalankan misinya dengan setia, bahkan sampai hari terakhir hidupnya. Kehidupan dan kematian Yohanes adalah sebuah success story.

Sebagai anak-anak Tuhan yang akan hidup dalam kekekalan bersama Tuhan kita, mari kita ubah cara berpikir kita. Kalau biasanya kita mengukur kesuksesan, keberhasilan, atau tingkat kepuasan Tuhan terhadap hidup kita dari hal-hal fisik dan duniawi seperti kekayaan, kesenangan, pengakuan dari orang lain, ketenaran, dsb, berarti kita mengukurnya dari sudut pandang yang sama dengan dunia. Bagi dunia, Yohanes gagal habis-habisan—demikian pula Tuhan Yesus! Tapi nyatanya mereka berhasil, karena kehidupan dan kematian mereka selaras dengan misi yang mereka bawa.

Coba berhenti sebentar dan pikirkan: Sebenarnya saya ini hidup untuk apa? Untuk mengejar hal-hal yang akan binasakah? Kalau untuk mengejar kesuksesan, sukses dari sudut pandang siapa? Kalau mengejar sebuah tujuan, tujuannya siapa? Kalau mengejar penghargaan, penghargaan dari siapa? Jangan sampai di akhir hidup kita, kita baru sadar bahwa kita mendapatkan banyak hal selama hidup, tapi malah gagal memenuhi misi.

Mengapa Kita Menyanyi

violin.jpg

Suatu ketika, waktu lagi bikin bahan untuk Pendalaman Alkitab, bahan yang saya bahas membuat saya tiba-tiba berpikir, kenapa orang Kristen suka menyanyi?

Kalau orang Kristen kumpul untuk ibadah, apa yang mereka lakukan? Nyanyi dulu. Hari Minggu, sebelum dengar khotbah, nyanyi lagi. Di kamar mandi, nyanyi lagu rohani lagi. Di rumah, nyanyi sendiri pakai gitar dengan chord ala kadarnya. Album rohani Kristen juga sepertinya paling banyak dibanding agama-agama lain. Kalau dihitung dari zaman awal ada kekristenan sampai sekarang, entah sudah berapa juta lagu (termasuk yang tidak diterbitkan) yang digubah orang Kristen.

Kemudian saya menyadari sesuatu yang sangat menarik.

Di dunia ini, hal yang paling mendorong manusia untuk menyanyi itu bukan masalah ekosistem, bukan politik, bukan hobi, bukan uang (walaupun katanya itu favorit manusia), tetapi cinta. Karena cinta, orang menulis lagu. Cinta itu membangkitkan emosi yang sedemikian sehingga kreativitas ikut tergugah, dan nada-nadapun tercipta.

Sehingga tidak heran kalau orang Kristen suka menyanyi, dikit-dikit nyanyi, dan selalu ada lagu baru. Karena cinta adalah dasar dari hubungan kita dengan Tuhan. Bukan peraturan, bukan ketakutan, bahkan bukan ketaatan, tetapi cinta. Sejak awal inilah yang Tuhan katakan:

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” ―Ulangan 6:4-5

Tidak ada yang lain selain Tuhan. Hanya Dia satu-satunya Tuhan yang hidup, dan yang diinginkan Tuhan yang hidup itu adalah agar kita mengasihi Dia.

Pikirkanlah. Tuhan bisa meminta apa saja dari kita. Dia bisa minta uang kita, persembahan kita, tenaga kita, keahlian kita, dll. Tetapi yang Dia inginkan ternyata adalah hati kita, kasih kita. Kasih yang tidak terbagi, penyembahan yang tidak tertandingi, sehingga kita bukan hanya mati bagi Dia, tetapi juga hidup bagi Dia.

Dan bukan hanya Dia meminta kasih yang sepenuhnya dari kita; Dia sendiri menunjukkan kasih-Nya kepada kita.

“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” ―Yeremia 31:3

Dulu saya suka ayat itu karena saya pikir kata-katanya romantis-romantis gimana gitu. Tapi ketika saya mempelajari firman Tuhan lebih dalam dan belajar tentang kitab Yeremia, saya sadar bahwa konteksnya sama sekali bukan kasih yang romantis.

Nabi Yeremia membawa berita penghukuman bagi bangsa Israel. Selama 500 tahun Tuhan bertahan dalam kasih-Nya kepada bangsa yang berkali-kali mengkhianati Dia dan menyembah dewa-dewa yang mati, dan akhirnya Dia memutuskan bahwa waktu penghukuman sudah tiba. Dia mengutus Yeremia untuk memperingatkan Israel bahwa bangsa Babel akan menghancurkan mereka (yang mana dilihat sendiri penggenapannya oleh Yeremia). Tetapi berita penghukuman bukan satu-satunya berita yang disampaikan Tuhan melalui nabi Yeremia. Tuhan juga berbicara tentang sesuatu yang sangat penting, yang di kemudian hari digenapi di dalam Yesus Kristus―sebuah istilah yang mungkin banyak dari kita tidak tahu bahwa asalnya dari kitab Yeremia: Perjanjian Baru.

Ya, Tuhan tidak meninggalkan perjanjian-Nya dengan Israel. Mereka melanggar perjanjian hidup-mati dengan Tuhan―bukan sekali tetapi entah berapa ratus kali; seandainya Tuhan membatalkan perjanjian itu, tentu Dia tidak salah. Tetapi Dia tidak melakukannya. Bukan hanya Dia tidak membatalkan perjanjian itu, Dia memperbaruinya. Ketika orang Israel dalam pembuangan, Dia berkata kepada mereka melalui nabi Yehezkiel:

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” ―Yehezkiel 36:26-27

“Suatu hari,” kata Tuhan, “Aku sendiri akan turun tangan mengubah kamu dari dalam, sehingga kamu mengasihi Aku dan menaati Aku dengan sungguh-sungguh.” Inilah pembaharuan perjanjian itu.

Mengapa Tuhan mengasihi kita? Mengapa Dia bertahan dalam perjanjian-Nya dengan kita? Why doesn’t He give up on us? Dalam Perjanjian Baru dikatakan, “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). There is no why. Kasih-Nya yang kita alami adalah pancaran dari siapa Dia. Kalau Dia mengasihi kita karena kita baik, tentu Dia sudah tidak mengasihi kita ketika kita berdosa. Kalau Dia mengasihi kita karena kita menurut, tentu Dia berhenti mengasihi ketika kita melawan Dia. Tetapi nyatanya Allah tetap mengasihi kita, not because of what we’ve done, but because of who He is.

Dan ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, apa yang dinubuatkan para nabi dalam Perjanjian Lama digenapi: Roh Kudus memperbarui hati manusia dari dalam, sehingga mereka bukan hanya bisa mengasihi Tuhan, tetapi juga lebih memilih mati daripada tidak setia kepada Tuhan.

Dan bila orang sedemikian mengasihi Tuhan, tidak mungkin mereka tidak menyanyi. Bukankah cinta yang mendorong manusia untuk menggubah lagu? Untuk menyanyi tentang orang yang mereka kasihi? Karena itulah orang Kristen menyanyi. Karena itulah tidak terhitung banyaknya lagu digubah untuk Dia yang kita kasihi, yang lebih dahulu mengasihi kita. Seperti lirik sebuah lagu yang terkenal: “I could sing of Your love forever!”

Ironis sekali bila orang Kristen menyanyi hanya untuk dilihat orang, karena sebenarnya tujuan kita menyanyi bukan untuk orang lain, tetapi untuk mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan dan membicarakan tentang Dia. Tuhan yang menciptakan orang yang peka nada dan yang tuli nada, dan kedua-duanya diberi kesempatan untuk menyanyi. Tuhan tidak terganggu dengan nada yang fals, karena Dia mendengar seruan hati kita yang mengasihi Dia.

Jadi tunggu apa lagi? Saya percaya sekarang pembaca sudah terpikir sebuah lagu untuk dinyanyikan. Silakan. “Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru!”

A Pilgrim’s Progress

PS: Not sure why I never posted this. I probably wrote a draft and then forgot to post it. This has been sitting in my draft for 2 years now.

Read the transcript of an interview here, between a 22-year-old Glory and her 27-year-old self.

22: How was university life for you?

27: It was thriving with joy; I learned so much from every experience I had.

But the four years of happiness ended now, and a future of uncertainty embraced me. What am I gonna do with my life? What am I gonna be? I didn’t really experience identity crisis as a teenager; I definitely experienced it after graduating from university.

Fast forward to five years later. Which is now.

I still don’t have all the answers (sorry). At 27, I’m single, employed by my parents, an assistant at the church, and a hardly-quarter-time graphic designer. I understand this life I have is not ideal for many people, but I’m completely happy and satisfied. Having said that, I believe I’ll still have more to come. After experiencing many things in 5 short years, I can’t wait to see what the future holds for me.

As I said, I don’t have all the answers. Nonetheless, let me share the things I’ve learned along the years. I had questions, God provided answers. My life is a testimony of His faithfulness.

Q. What will my future be?
A. What are you going to do now?

If I have to name one most important thing I’ve learned, I’d say it is to live in the present. I have hopes for my future; and rightly so, because my future is secure in the Lord. But what I do now really counts. It is a common escape for children of wealthy parents to pursue graduate studies simply because they don’t know what to do with their lives. Grad study is an investment; you have to consider the benefits of pursuing it. If there’s none, why would you waste your time? Remember, you’re on your 20s now.

“Then what do I do?” Good question. Go get a job. Don’t be idle; start making money. If you have a girlfriend/boyfriend, of course you should start planning for marriage.

Q. What if my current job is not my dream job?
A. Do it anyway.

With the exception the job is illegal or there’s a moral consideration, stick with it. The first three months are the hardest; don’t quit just because you feel like it.

Q. I can’t stop worrying about my future.
A. Read the answer below.

Earlier this year, I lost two of my friends. One of them was 28, the other was 27. They were young, and at the prime of their lives. I’m 27 now (talking about the 27 Club). It’s safe to say that it is still not clear whether I will have another day to live, or if this will be the last day of my life. Death has never felt so real as when you see the sting on your friends.

Our Lord posed a rhetoric: “Can worry make you live longer?”

Good Lord has said it best.

Q. Why am I so anxious about my life?
A. Because you don’t belong to this world.

It is not for no reason that the title of this post is “A Pilgrim’s Progress”. You won’t reach an age when you finally feel that everything’s perfectly perfect. Not if your real residence is heavenbound. It is normal to be confused. It is human to want security for your life. Because God has planted eternity in your heart, nothing in this temporary world will satisfy you.

“Look up,” said apostle Paul. Well, he literally said, “Set your eyes on things that are above, not on things that are on earth.” The best way to look at this life is as an opportunity to serve the Lord. Remember Carrie Underwood’s song: “This is my temporary home, it’s not where I belong.”

Q. Money isn’t everything.
A. No. But those who have it can do many things.

I’m not that kind of a dreamer, so you dreamers might find my principle disappointing. I think it’s important to make money – I mean a lot of money. Money makes it possible for you to browse the web and find this post. Money makes it possible for me to fulfill my longtime wish to support missionary work. I envied those rich people who could take Rp 100.000,- bills out from their wallet and put them into the offerings at church. I wanted to be able to do that. Unless I don’t have to worry about money, that wouldn’t be possible.

Endnote
Now I’m 29, in a relationship (which means I have to seriously think about another giant phase in my life which is marriage – my goodness!), still working for my parents, working at church too. And I might be doing more interviews with my younger self. I’m happy I still agree with my 27-year-old self (despite the gloomy tone of the interview) and I’m glad I don’t regret anything. Walk hand in hand with God, and you won’t have to worry about anything.

Epitaph

Yang terbaring di sini memang bukan Anda, tetapi saya. Dan selama hidup saya pun tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya ada di dalam peti yang ukurannya hanya sedikit lebih panjang dari tubuh saya.

Di sinilah akhirnya. Waktu saya di dunia telah habis dan di sini tubuh saya dibaringkan, menunggu untuk dimasukkan ke dalam tanah. Mata yang tadinya bisa melihat, tangan yang bisa menulis, kaki yang bisa berjalan, otak yang bisa berpikir, sekarang hanya organ tubuh yang mati dan menunggu busuk.

Saya tidak hidup dalam kekayaan; saya tidak memiliki segala sesuatu. Banyak orang yang jauh lebih sukses dari saya, jauh lebih terkenal dibanding saya. Tapi apa bedanya? Kami semua tidak bisa merasakan apakah peti kami nyaman atau tidak; kami tidak bisa memilih warnanya; kami dibaringkan dalam posisi yang sama dan sama-sama akan dimasukkan ke dalam tanah. Kami juga tidak bisa membawa apa-apa—semua yang kami kumpulkan dengan susah payah selama hidup. Yah, paling tidak keluarga mereka yang kaya itu bisa memilih peti yang lebih mahal. Tapi, sungguh, apa bedanya?

Hidup itu seperti menunggu di terminal airport dengan memegang boarding pass kosong untuk terbang ke tempat di mana Anda akan tinggal untuk seterusnya. Yang Anda tahu adalah Anda pasti berangkat, tapi Anda tidak tahu ke mana atau jam berapa. Anda menunggu dengan gelisah, sembari melihat satu demi satu orang-orang di sekitar Anda dipanggil namanya. “Seperti apa tempat yang akan saya tuju?” pikir Anda, “Siapa yang akan saya temui?” Orang-orang berkata bahwa tempat tujuan Anda adalah tempat yang mengerikan. Setiap kali seseorang dipanggil untuk naik ke pesawat, orang-orang di sekitarnya menangisi dia karena, kata mereka, mereka tidak akan bertemu dia lagi selama-lamanya. Ada pula yang acuh tak acuh, karena kata mereka, “Saya tidak percaya saya akan pergi ke sana.” Tapi itu tidak mengubah apa-apa. Dia sendiri juga memegang boarding pass, dan Anda pun akhirnya mendengar nama orang itu dipanggil.

Seseorang berkata kepada saya, “Lucu sekali manusia itu. Untuk hidup yang sementara, ia mempersiapkan segala sesuatu; tapi untuk hidup yang kekal, ia tidak mempersiapkan apa-apa.” Dan bagaimana dengan Anda? Ketika tiba giliran Anda untuk berbaring di peti ini, sudahkah Anda siap? Apakah Anda tahu apa yang ada di balik pintu kematian ketika Anda akhirnya dipaksa membukanya? Atau apakah Anda selalu bersikap seolah-olah Anda tidak akan mati, padahal Anda takut ketika akhirnya harus mati? Apakah Anda sedang berpura-pura seolah Anda akan hidup seribu tahun lagi?

Dan ketika Anda harus menghadap Hakim yang Adil itu, yang akan menghakimi orang hidup dan mati, yang akan menjatuhkan vonis yang layak kita dapatkan, siapkah Anda? Apakah Anda mengenal Dia? Atau apakah Anda membawa mati harapan bahwa Dia tidak ada?

Dari tadi saya terus mengajukan pertanyaan; sekarang saya akan menjawab.

Saya siap.

“Bagaimana mungkin?” tanya Anda. Karena saya tahu apa yang akan saya temui setelah kematian; karena kekekalan saya terjamin adanya; karena saya mengenal Hakim yang Adil itu dan kami telah menyelesaikan urusan kami sebelum saya mati. Sekarang saya meninggalkan dunia dengan tenang, dan saya tahu apa—lebih pentingnya, siapa—yang akan saya temui di sana.

Hakim yang Adil itu adalah sahabat saya, yang memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan saya dari kebinasaan kekal di neraka. Dia mengasihi saya. Saya percaya semua yang Dia katakan, dan saya melakukan apa yang Dia ingin saya lakukan selama hidup saya di dunia. Bertahun-tahun sebelum hari ini tiba, kami telah memiliki perjanjian mengenai kehidupan kekal saya. Seperti yang dikatakan seseorang dua milenium yang lalu tentang Pribadi yang sama: “Aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Sekarang hari saya telah datang. Pernahkah Anda melihat obituari di suratkabar yang berkata “Telah pulang ke rumah Bapa”? Anda akan melihat tulisan yang sama pada obituari saya. Saya bukan pergi ke tempat yang tidak saya ketahui untuk bertemu orang yang tidak saya kenal; saya pulang, pulang ke rumah Dia, yang saya panggil Bapa, di surga.

Hari Anda akan datang. Peti Anda akan dipesan. Lobang di tanah tempat tubuh Anda dibaringkan akan segera digali. Pertanyaannya tetap sama: Sudah siapkah Anda? Apakah Anda mau membereskan urusan Anda dengan Hakim yang Adil itu sekarang? Karena ketika Anda sudah di dalam peti itu, tidak akan ada kesempatan lagi.