Menjelang Pernikahan

Post ini dibuat dalam rangka menyambut lembaran baru dalam hidup saya *cailah* yaitu pernikahan. Ceritanya bentar lagi bakal kehilangan nama seperti nasib mama saya yang dikenal dengan nama “bu Im” (nama papa: Imanuel). Mama pernah protes, “Namaku ilang wes.” Saya… tidak pernah membayangkan bahwa saya akan dipanggil dengan nama orang lain juga. Hahahah.

Sejujurnya saya merasa saya agak aneh kalau dibanding cewek-cewek lain. Saya tidak pernah…

  • Takut ga dapet jodoh.
  • Takut ga menikah.
  • Minta sama Tuhan biar ketemu pasangan hidup.

Sungguh, gak pernah. Tiada sedikitpun ketakutan dalam hatiku kalau saya tidak akan menikah. Emangnya kenapa kalo ga menikah? Kalo hidup bahagia, ya bahagia aja, tidak tergantung menikah atau engga. Dan orang-orang yang suka memburu-buru saya agar cepat menikah? Yah, apa urusan mereka dengan saya? Yang menikah kan saya, mereka mau mendesak juga percuma, wong calonnya gak ada (dan, terus terang, saya ga semangat cari juga). Bodo amattt. (Terus terang saya sendiri heran kenapa saya cuek banget begitu.)

Apa sih yang ada di pikiran saya? Tahun demi tahun waktu berlalu dan saya bertambah tua, saya selalu merasa saya belum melakukan cukup banyak hal dalam hidup saya. Sesungguhnya Tuhan itu baik pada saya: saya diberi begitu banyak karunia dan kelebihan. Tapi saya selalu merasa banyak waktu terbuang percuma, talenta tersia-siakan, kesempatan terlewatkan, dan saya (masih saja) terlalu malas. Saya sadar bahwa saya punya semacam “jiwa pencari”, dan saya tidak pernah puas dengan hidup saya. Nah gimana kalo punya suami?? Hidupku bukan aku lagi. *nangis pedih* Dia akan jadi prioritas baru dalam hidup saya, dan saya harus mengesampingkan semua visi dan tujuan hidup saya sendiri. Tentu saja saya ogah! Kenapa hidup harus dikorbankan untuk mendukung hidup orang lain? Mari kita mengurus hidup masing-masing saja.

Dengan cara berpikir seperti itu, saya berpikir, fix aku ga bakal nikah. “Terus kalo ga nikah, ngapain??” Ya ampun, banyak banget yang harus dikerjakan! Banyak sekali target yang bisa dicapai, potensi yang bisa dikembangkan, orang-orang yang bisa diberdayakan. Jujur saya berpikir bahwa pernikahan justru akan menjadi penghalang. Saya pulang ke kampung halaman buat mbangun deso tahun 2013, dan saya punya rencana 5 tahun: selama 5 tahun saya akan belajar sebanyak mungkin tentang kebutuhan orang-orang di gereja tempat saya pelayanan, sehingga pelayanan saya menjawab kebutuhan mereka. Apa yang bisa menggagalkan rencana 5 tahun itu? Menikah! Kalau saya sampai menikah, semua rencana saya harus disesuaikan ulang. Repot sekali.

Lalu suatu kali di bulan Juni 2016, seorang cowok, teman komsel saya, yang umurnya lebih muda, mulai rajin BBM.

“Pagi, ci,” dan diakhiri emoticon nyengir.

“Pagi Chris. Ada apa ya?

Tiap kali kami bahas bagaimana dia mulai PDKT, saya selalu ketawa ngakak dan dia geleng-geleng kepala. Saya ga sadar kalau lagi dideketin, dia juga mati gaya karena dijawab begitu. “Sinyal lemah,” gitu katanya.

Bukannya sinyal lemah, tapi emang ga ada sinyal. Saya ga ada rasa, termasuk sampai ketika kami jadian. Yang ada di pikiran saya cuma, “Ya sudahlah, dicoba, kalo ga cocok kan bisa putus.” –> sungguh pikiran macam apa.

Saya dapet pacar yang… sangat tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Kalau lihat diri saya sendiri, saya pikir saya akan punya pacar yang tegas, gagah, berwibawa, bisa segala hal, well-traveled, visioner, dst. Yang saya dapatkan… well, let’s say, tidak seperti itu. Hahaha. Kami sangat berbeda, dan di awal saya merasa agak frustasi saking bedanya. Saya pikir, apa kabar nih kalau saya menikah sama orang ini?

Singkat cerita, dia malah buru-buru ngelamar (dan kok ya sayanya mau). Saya belajar banyak hal, terutama beberapa bulan terakhir ini. Saya tidak terlalu excited tentang the wedding (sampai H-3 ini pun biasa aja), tapi saya banyak berpikir tentang the marriage. Terus terang yang mendorong saya untuk pacaran dan akhirnya menikah itu bukan perasaan, tapi penasaran (oke, fix saya aneh). Saya penasaran! Saya ingin tau, seperti apa sih rasanya menikah, seperti apa rasanya jadi isteri, seperti apa harus membagi hidup dengan seseorang seumur hidup saya (atau seumur hidup dia – hahahah).

Hubungan kami membuat saya banyak belajar, dan saya jadi sadar betapa banyak yang saya belum tahu (sejujurnya saya agak sok tau emang). Saya belajar tentang penundukan diri, mengasihi seseorang dengan cara yang dia mengerti, komunikasi, ketertarikan seksual, dan (terutama) belajar bahwa dia adalah dia dan saya adalah saya – ada hal-hal dalam diri kami yang tidak bisa – dan tidak perlu – berubah, karena hal itu adalah bagian dari siapa kami. Calon suami saya ini cara berpikirnya sederhana, suka berinteraksi dengan banyak orang, dan tipe orang yang savor every moment. Saya sebaliknya: saya pemikir yang ribet, gak gaul (saya mengakui), dan selalu berpikir tentang masa depan. Hiburan buat dia adalah nonton YouTube dan main Mobile Legends; hiburan buat saya adalah membaca atau menulis seperti ini, dan bikin lettering. Saya suka ngobrol tentang politik, dia suka ngobrol tentang teknologi. Itu semua bukan hal-hal yang perlu diubah. Pewahyuan terbesar bagi saya adalah: saya perlu menerima pasangan apa adanya dan mengasihi dia sebagai dia, bukan berusaha mengubah dia menjadi sosok ideal dalam imajinasi saya. Ih remeh amat pewahyuannya? Biarin deh, buat saya itu hal baru.

Semakin saya memperhatikan sifat-sifat pasangan saya, semakin saya melihat, betapa baiknya dia. Saya memang gak dapat cowok yang tegas, kharismatik, berwibawa, bisa segala hal, dsb yang tadinya saya pikir akan cocok dengan saya; tapi Tuhan memberi saya orang yang mendukung saya dalam segala hal, tidak merasa tersaingi punya cewek yang terkenal (ehm) dan banyak talenta, sayang keluarga, ramah, lembut hati, pekerja keras, ganteng, dan masih banyak lah kelebihan yang lain. Tuhan memberi saya orang yang sesuai dengan kebutuhan saya, bukan keinginan saya.

Saya pernah tanya ke pacar, apa yang bikin dia tertarik pada saya. Dia bilang, dia suka lihat saya khotbah di gereja dan sharing di komsel. Katanya, saya “bercahaya” (memang sih di mimbar gereja ada lampu persis di atas pengkhotbah). Dia merasa kalau saya sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan serius belajar firman Tuhan. Lama-lama, dari temen, jadi demen.

Itu jawaban yang saya suka, karena satu-satunya kriteria yang saya inginkan dari orang yang akan jadi suami saya adalah dia haruslah orang yang cinta Tuhan dan sudah lahir baru. Kalau dia tertarik kepada saya karena melihat Tuhan di dalam saya, saya merasa aman. Seperti kata Matt Chandler, “Godliness is sexy for godly people.”

Saya tahu bahwa topik tentang percintaan itu sangat menarik, khususnya buat cewek-cewek. Apakah pembaca ada masukan tentang topik yang berhubungan dengan relationship? Atau mau tanya sesuatu? Kalau saya bisa, saya akan bahas di post berikutnya. Tapi berhubung saya baru mau menikah, plis jangan tanya tentang bagaimana mengatasi kenakalan anak remaja. Itu nanti aja, 12 tahun lagi. Hahaha.

DSCF5941
Itu dia si dedek. Ganteng kan?

 

Advertisements

Pembedahan Dosa

Ada satu hal yang menyedihkan bagi saya. Di mata saya sendiri, tiap hari saya menemukan bahwa saya bukannya makin hebat, malah makin terungkap siapa saya dan seberapa buruknya saya. Saya akan memberi analogi seperti ini. Ketika saya bertobat, saya seolah seperti orang sakit yang setuju untuk dioperasi. Mulailah sang dokter membedah saya dan menunjukkan pada saya satu demi satu penyakit saya. Makin lama, makin ngeri yang dia tunjukkan, dan kesadaran bahwa penyakit saya benar-benar parah semakin nyata dalam pikiran saya. Saya baru sadar bahwa saya benar-benar butuh pertolongan dokter tersebut.

Tuhan membedah hati saya. Sebelum Dia melakukan itu, Dia sudah tahu apa yang ada di dalamnya dan bagaimana menangani masalahnya. Tapi saya tidak tahu. Seperti kata Amsal, “Segala jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.” Sementara Dia membedahnya, dia mengangkat ke permukaan satu per satu penyakit yang memang ada di sana dan, dengan anugerah-Nya, membereskannya. Saya hanya bisa bergidik ngeri memikirkan bahwa penyakit, yaitu kekejian semacam itu, ada dalam hati saya dan saya baru mengetahuinya!

Yang saya temukan bukan betapa hebat, suci, dan kuatnya saya. Yang saya temukan, hari demi hari, adalah betapa payah, berdosa, dan lemahnya saya. Semakin saya menyadari ini semua, semakin saya bergantung kepada belas kasihan Tuhan. Tentulah saya orang yang paling berdosa; tentulah saya orang yang paling sulit diampuni. Kalau kesalahan saya dihitung oleh Tuhan dan ada limit pengampunan, tentulah saya sudah kelewat batas dan ditolak-Nya. Saya yakin Tuhan melakukan ini pada setiap orang yang mengasihi Dia, karena itu Paulus, seorang yang bekerja begitu keras bagi Tuhan, bisa berkata bahwa di antara orang berdosa, dialah yang paling berdosa.

Tuhan menunjukkan kelemahan demi kelemahan saya dengan berbagai cara. Beberapa Dia tunjukkan lewat masalah. Respon saya ketika diprovokasi, ketika segala hal tidak berjalan sesuai keinginan saya, kata-kata yang keluar ketika saya marah, itu semua menunjukkan bahwa saya tidak sabar, mudah kuatir, berpikiran negatif, dan sebagainya. Yang lain Dia tunjukkan lewat firman-Nya. Tidak terhitung berapa kali firman Tuhan membongkar isi hati saya. Seperti yang dikatakan seorang hamba Tuhan: “I do not read the Bible; the Bible reads me.” Sisanya, Dia tunjukkan pada saya lewat pencobaan. Pilihan yang saya ambil ketika saya dicobai menunjukkan kualitas hati saya yang sesungguhnya. Hati yang berdosa akan memilih dosa; dan tanpa diragukan lagi, saya jatuh lagi dan lagi ke dalam dosa, dan saya menyadari bahwa saya tidak sekuat yang saya pikir.

Dosa yang baru muncul ke permukaan sebenarnya tidak baru. Dia selalu ada di sana, tetapi saya baru melihatnya sekarang karena Tuhan sedang mencabutnya sampai ke akarnya, lewat masalah, teguran firman-Nya, maupun lewat pencobaan. Ya, dosa itu sedang dicabut, oleh tangan Dokter di atas segala dokter, yang sanggup menyembuhkan saya.

Saya mendapati bahwa benar seperti yang dikatakan firman Tuhan, kasih setia-Nya selalu baru setiap hari. Setiap kali tumor dosa diangkat dari hati saya, tumor itu diangkat oleh tangan yang berlobang paku, yang memberi hati saya kesembuhan. Untuk setiap dukacita yang saya alami ketika menyadari betapa berdosanya saya, ada sukacita dari pengampunan yang Tuhan berikan. Tiap kali saya jatuh, saya jatuh dalam pelukan-Nya dan tangan-Nya membantu saya berdiri kembali. Dengan kekuatan-Nya, saya bangkit dan berjalan kembali.

Saya tahu bahwa di masa depan masih akan ada “penyakit-penyakit” yang Dia korek dari hati saya. Dan saya membuka hati saya seluas-luasnya untuk Dia, karena Dia mengangkat penyakit itu dengan belas kasihan, dan Dia sanggup menyembuhkan saya.

Jiwaku terbuka untuk-Mu, Tuhan
Selidiki, nyatakan segala perkara
Singkapkan semua yang terselubung
Supaya ku layak di hadapan-Mu, Tuhan

Batal Ngetik

Semakin bertambah umur saya, semakin sering saya batal ngetik status atau komentar di media sosial. Apa pasal? Saya merasa apa yang akan saya tulis akan memicu atau menambah panas perdebatan, jadi saya tahan diri untuk tidak berkomentar.

Bukan rahasia bahwa manusia suka didengarkan tapi tidak suka mendengarkan. Malah ada yang bilang, we listen, not to understand, but to reply. Ini berakibat buruk dalam hubungan sosial kita.

Debat, sebenarnya, adalah adu logika. Misalnya si A dan si B berdebat tentang lebih baik pasangan yang akan menikah beli rumah dulu atau mobil dulu. Masing-masing bergantian mengemukakan pendapatnya, yang didukung dengan logika. Si A bilang, “Rumah dulu lah. Rumah kan tempat tinggal permanen. Investasi tempat tinggal jauh lebih baik daripada beli kendaraan yang penyusutannya besar.” Si B menjawab, “Masalahnya, DP dan cicilan rumah itu ga murah. Uangnya bisa dipakai buat mengembangkan usaha dulu, sementara itu kontrak. Mobil bisa jadi sarana memajukan usaha juga.” Dst masing-masing beradu logika, sampai salah satu menang karena solusinya lebih menjawab kebutuhan, dan pihak satunya mengakui kekalahannya. Mestinya ini murni adu ide.

Yang jadi masalah adalah bila adu ide dan logika ini dibumbui dengan emosi negatif. Kalau sudah muncul kata-kata seperti “bodoh”, atau muncul sindiran dan makian, debat itu sudah bukan debat, tapi pertengkaran. Dan kedua pihak tidak akan mau mengalah, karena ini sudah bukan adu logika lagi, tapi adu gengsi. Dan kalau sudah begitu, cilaka lah, tidak ada jalan keluar.

Karena itu saya menghindari debat di kolom komentar media sosial, atau status yang memicu debat (saya pernah melanggar prinsip ini, dan menyesali akibatnya). Ada beberapa kerugian kalau berdebat di medsos:

  1. Rentan kesalahpahaman. Karena tidak bertatap muka, kita tidak bisa menjelaskan langsung pada lawan bicara. Gestur, raut wajah, nada suara kita tidak nampak, padahal itu semua bisa jadi faktor yang sangat membantu menjelaskan gagasan kita. Yang ada, kedua pihak sewot sendiri karena gaya tulisannya terkesan galak, dsb (padahal emang biasa gitu ngetiknya).
  2. Tidak komprehensif. Kita ga mungkin menjelaskan panjaaaang lebaaar dan terstruktur, lewat status atau komentar. Kalau kepanjangan, nanti ga dibaca. Kependekan, kurang menjelaskan. Akhirnya gagal paham mulu kejadiannya.
  3. Tidak berguna, bahkan merugikan. Debat di medsos itu sungguh menghabiskan waktu. Se-medsos-medsosnya jaman sekarang, tidak ada yang bisa menggantikan tatap muka. Waktu bertemu, kecil kemungkinan kita bakal bermusuhan gara-gara suatu debat. Tapi pertengkaran di medsos hampir selalu berujung pada hubungan yang rusak. Saran saya, kalau memang ga bisa ketemuan, balas-balasan post di blog aja. Tulis yang panjang, lengkap, kalau perlu pakai footnote, jelaskan semuanya. Jangan perang 144 karakter.

Sepanjang sejarah, manusia selalu kebanyakan ngomong, mengucapkan hal-hal yang mestinya tidak perlu diucapkan yang akhirnya menyulut pertengkaran. Tapi di abad ini, manusia difasilitasi untuk lebih banyak ngomong melalui media sosial. Jangan terpancing jadi cerewet di medsos, apalagi terjebak dalam pertengkaran dengan orang lain. Lagi ngetik status yang kira-kira akan menyebabkan pertengkaran? Batalkan ngetiknya.

Kendali Penuh

“Sebenarnya Tuhan punya rencana indah untuk kita. Sayangnya kita seringkali tidak taat pada Tuhan, sehingga rencana Tuhan bagi kita gagal.”

Gagal? Memangnya Tuhan itu seperti kita, yang rencananya gagal maning gagal maning? Atau jangan-jangan dalam pikiran orang-orang yang berpandangan demikian, Tuhan yang mereka kenal itu Tuhannya Open Theism, yang ga tau apa yang akan terjadi di masa depan? Selemah itukah Tuhan, sampai Dia kalah berkuasa dari kehendak bebas dan pilihan manusia?

Menurut saya Tuhan yang seperti itu sama sekali tidak keren. Dan kalau Dia sama saja dengan saya, yang rencananya bisa gagal juga, buat apa saya menyembah Dia? Itu namanya saya tidak berdiri di atas batu karang, melainkan di atas pasir, karena tidak ada kepastian di dalam Dia!

Untungnya, Tuhan yang saya kenal, yang menyatakan diri dari firman-Nya, tidak seperti itu. Tuhan yang saya sembah adalah Tuhan yang mahakuasa, agung, tidak berubah, gagah perkasa; Dia tidak memelas, bukan Tuhan yang cemberut waktu saya tidak taat, atau menangis pilu tanpa daya saat saya berontak terhadap Dia. Di hadapan-Nya, sayalah yang harus memohon belas kasihan, sayalah yang harus merendahkan diri dan bersujud, bukan Dia yang memohon-mohon agar saya mau menerima Dia.

Dalam pernyataan di awal tadi, ada dua hal yang jadi masalah besar.

  1. Tuhan bisa gagal. Ini jelas ngawur dan, menurut saya, penghinaan terhadap Tuhan.
  2. Orang yang bicara demikian berasumsi bahwa hidup ini adalah tentang kita, bukan tentang Tuhan. Ini tidak alkitabiah. Lha wong kalau mau mengikut Yesus, kita harus menyangkal diri, jadi tidak ada lagi yang namanya kita jadi tokoh utama hidup kita sendiri. Life is about Jesus, not about us.

Ketika saya memikirkan itu semua, saya berpikir tentang apa yang terjadi menjelang kematian Yesus. Saya sering melihat patung atau lukisan Yesus yang tergantung di salib dengan wajah memelas, alis mengarah ke bawah, pokoknya sedih lah. Apakah Dia sudah pasrah dengan keadaan dan tidak punya jalan keluar lagi, sehingga terjadilah penyaliban itu?

Sebaliknya, Dia berkuasa atas semua yang terjadi pada-Nya, termasuk kematian-Nya.

Sudah berkali-kali Yesus akan ditangkap oleh orang-orang yang tidak suka pada-Nya. Pernah terjadi di Nazaret, kota-Nya sendiri, tapi Yesus dengan tenang berjalan di tengah-tengah massa, dan tidak terjadi apa-apa. Beberapa kali pemimpin agama yang merasa terancam dengan keberadaan Yesus juga berencana membunuh-Nya, tapi tidak kunjung berhasil. Mengapa? Alkitab memberi penjelasan sederhana: belum waktunya.

Yesus sendiri beberapa kali berbicara tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Dia berkata dengan jelas bahwa Dia akan dibawa ke hadapan tua-tua Israel, Dia akan dibunuh, dan Dia akan bangkit pada hari ketiga. Ini semua menunjukkan bahwa Yesus tahu dengan jelas apa yang akan terjadi kepada-Nya. Penangkapan-Nya oleh para pemuka agama tidak membuat-Nya terkejut.

Bukan hanya tahu, Yesus berkuasa atas apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Dia tahu siapa yang akan mengkhianati-Nya, dan Dia membiarkan Yudas bertindak sebagaimana yang ia rencanakan. Kepada murid-Nya itu Dia berkata, “Lakukan apa yang hendak engkau lakukan.” Pada saat Yesus dan murid-murid-Nya makan roti tidak beragi menjelang hari raya Paskah, Yesus berkata dengan singkat, “Telah tiba saatnya.” Dan sebelum mereka selesai makan, Dia memperingatkan Petrus bahwa Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali. Yesus sudah tahu semuanya.

Malam itu juga Dia ditangkap. Tepat pada saat yang Dia tentukan. Dan kemudian Dia disalib, seperti yang Dia katakan. Pada hari ketiga, Dia bangkit dari kematian, seperti yang sudah Ia sampaikan. Di dunia ini tidak seorangpun berkuasa atas hidup dan mati mereka. Tidak seorangpun, kecuali Yesus Kristus. Ini yang Dia katakan:

“Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikan-Nya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali.” —Yohanes 10:17-18

Kita pernah mendengar “nyawa seseorang dihabisi” atau “dicabut nyawanya”, tapi itu tidak terjadi pada Yesus. Dia memberikan nyawa-Nya. Dengan keberadaan dan pengajaran-Nya yang kontroversial, mestinya sudah lama Dia dibunuh orang, namun nyatanya Dia selalu lolos, sampai waktu yang Dia tentukan. Selain itu berkali-kali Dia menyatakan bagaimana caranya Dia akan mati, dan bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga. Dia tahu Yudaslah yang mengkhianati Dia. Kematian dan kebangkitan-Nya justru adalah panggung untuk menunjukkan kuasa-Nya yang tidak terbatas!

Kalau kita telusuri lebih jauh lagi, Yesus, dengan kematian dan kebangkitan-Nya, menggenapi nubuat dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Mesias akan menderita, mati, dan bangkit dari kematian. Bagaimana ini terjadi? Tanpa disadari oleh musuh-musuh Yesus, Allah bekerja lewat tangan-tangan mereka—yaitu lewat kejahatan mereka, untuk menggenapi rencana-Nya! Mereka pikir mereka berkuasa atas Yesus; yang sebenarnya terjadi adalah mereka menjadi pion di tangan Allah.

Jadi dari kejahatan keji yang terjadi atas Yesus, kita justru melihat betapa jeniusnya rencana Allah. Iblis dan musuh-musuh Yesus berpikir mereka telah berhasil, padahal mereka sedang menggenapi rencana Allah. Lagipula siapa kita, sehingga kita lebih berkuasa dari Allah? Yang sebenarnya terjadi adalah, kita akan selalu menggenapi rencana-Nya, dengan atau tanpa persetujuan kita. Orang-orang yang mengasihi Allah berdoa, “Jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga,” dan mereka menyediakan diri untuk menggenapi kehendak-Nya dengan cara yang Dia mau, yang membawa kebahagiaan bagi kita. Orang-orang yang memusuhi Dia juga (tanpa mereka sadari) akan membuat kehendak-Nya jadi, tapi bagi mereka itu adalah sebuah kekalahan, bukan kemenangan.

Sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan, kita bisa tenang mengetahui ini semua, karena Tuhan kita tidak pernah kecolongan. Tidak ada, sekali lagi, tidak ada yang dapat menggagalkan rencana Tuhan. Dengan keterbatasan kita sebagai manusia, kita berbuat kesalahan, kita mengambil keputusan-keputusan bodoh, kita bahkan kadang jatuh dalam dosa; tapi bila kita mengasihi Tuhan, ketahuilah bahwa itu semua ada dalam kendali Tuhan. His grace covers even our foolishness. Banyak sekali kejadian dalam Alkitab yang membuktikan hal ini, mulai dari insiden memalukan Yehuda dan Tamar, sampai pertobatan Saulus yang awalnya sangat memusuhi orang Kristen.

Tapi kita tidak perlu membuat keputusan bodoh, bila kita hidup mengikuti firman Tuhan. Rencana Tuhan akan terlaksana baik melalui jalan yang menyenangkan bagi kita, atau yang menyakitkan bagi kita. Kalau bisa, tentu kita mau yang menyenangkan. Dan Tuhan juga mau demikian! Tuhan mau menyatakan kemuliaan-Nya kepada bangsa-bangsa lain lewat kebesaran Israel; tapi karena mereka berontak terhadap Tuhan, Dia menyatakan kemuliaan-Nya melalui penghukuman-Nya atas mereka. Dia telah memberikan dua jalan bagi Israel: berkat atau kutuk, dan Israel memilih kutuk. Apapun yang mereka pilih, firman Tuhan digenapi. At the end of the day, Tuhan pasti dimuliakan; tapi sebenarnya Israel tidak perlu mengalami apa yang mereka alami bila mereka taat pada Tuhan.

Jadi tidak perlu takut rencana Tuhan gagal. Yang perlu kita pikirkan adalah, lewat jalan apa kita mau rencana Tuhan terjadi dalam hidup kita? Lewat lecutan dan cambukan, karena kita berontak terhadap Tuhan? Atau lewat pujian dan upah, karena kita menaati Dia?

preston-pownell-14388-01

Damai Sejahtera Bagi Kamu

holding-hands-matheus-ferrero

Ketika ibadah di gereja, orang-orang di gereja saya suka menyapa dengan berkata, “Syalom.” Kata itu artinya kira-kira “salam damai”, yang berarti kita mengharapkan damai sejahtera bagi orang ybs. Dalam kondisi biasa, ucapan damai itu selayaknya salam pada umumnya. Tetapi bagaimana bila kita sedang bingung, gelisah dan ketakutan?

Itulah yang dialami murid-murid Yesus. Mereka bingung setelah mendapat laporan dari sekelompok wanita yang masih shock karena melihat kubur Yesus yang kosong dan bertemu secara pribadi dengan Guru mereka yang telah mati disalib itu! Mereka gelisah; bila Yesus benar bangkit, di mana Dia? Apa yang harus mereka lakukan tanpa Guru mereka? Mereka juga ketakutan karena sewaktu-waktu orang-orang yang telah menyalibkan Yesus bisa saja datang menangkap dan menghukum mati mereka karena mereka pengikut Yesus. Dalam kebingungan, kegelisahan, dan ketakutan, murid-murid Yesus berkumpul di satu ruangan dengan pintu terkunci. Kita bisa membayangkan betapa berat suasana dalam ruangan, tidak ada satupun yang tersenyum atau bersenda gurau.

Tiba-tiba Yesus muncul! Entah dari mana, mereka tidak melihat bagaimana Dia masuk. Pintu masih terkunci rapat, jendela tertutup. Dengan mata terbelalak murid-murid itu memandang Guru mereka. Dan Dia berkata…

“Damai sejahtera bagi kamu.”

Sekitar tiga puluh tahun sebelumnya, sekelompok gembala sedang menjaga domba mereka di padang rumput di kota Betlehem, Yudea. Tiba-tiba langit menjadi terang seperti siang, dan malaikat, ribuan jumlahnya, muncul di langit, dan bernyanyi dengan suara menggelegar,

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi,
dan damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya!”

Mengapa mereka bernyanyi demikian? Mengapa ada damai sejahtera di bumi, di antara orang-orang yang berkenan kepada Allah? Karena, salah satu malaikat itu berkata, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud!” Seketika pikiran mereka melayang dan sampai pada nubuat nabi Yesaya, “Nama-Nya akan disebutkan… Raja Damai.

Ketika Raja Damai itu datang ke dunia, orang-orang yang menanti-nantikan Dia menemukan penggenapan pengharapan mereka. Bila orang berkata pada kita, “Damai bagi kamu,” kita tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika Dia, yang adalah Raja Damai, berkata, “Damai sejahtera bagi kamu,” damai itu diperintahkan untuk datang kepada kita. Damai itu ada di dalam kita, ketika Yesus ada bersama kita. Dan karena nama-Nya adalah Imanuel, “Allah beserta kita”, maka damai itu juga selalu beserta kita.

Yohanes melanjutkan ceritanya. Setelah memberi mereka salam damai, Yesus menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu menyadari bahwa yang ada di tengah mereka benar-benar Yesus, bukan Guru yang sudah mati, tetapi Tuhan yang telah bangkit! Dan firman Tuhan berkata, “Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.”

Inilah yang kita alami ketika kita bertemu Tuhan dan menyadari bahwa Dia selalu menyertai kita. Saya ingat sebuah cerita tentang lukisan bertema “damai”. Lukisan itu menggambarkan laut yang gelap dan bergelora diterpa badai, dengan banyak batu karang yang tajam. Tetapi di atas salah satu batu karang itu ada seekor burung yang bertengger dengan tenang memandangi badai yang menakutkan itu. Itulah damai. Daud menyatakannya dengan puitis: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.” Sebuah hymne berkata,

Tuhanlah yang memimpinku
Tanganku dipegang teguh
Hatiku berserah penuh
Tanganku dipegang teguh

“Jika Allah di pihak kita,” ujar rasul Paulus dengan yakin, “Siapa yang akan melawan kita?” Inilah damai dan pengharapan kita, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Namun damai dan sukacita ini diberikan oleh Tuhan bukan untuk kita nikmati sendiri saja. Yesus berkata lagi kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.

Ke mana kita diutus? Tidak lain kepada dunia yang gelap dan kacau ini. Sebagaimana Yesus datang menjadi terang dunia, kitapun diutus menjadi terang di dunia yang gelap, membawa damai sejahtera di dunia yang gelisah. Bila damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, kita dapat melayani Tuhan dan orang lain dengan keyakinan yang mantap, iman yang teguh, dan semangat yang tidak padam. Ini bukan berarti kita harus membawa pesan yang manis-manis saja; tetapi ini berarti kita tidak takut dengan resiko apapun yang kita hadapi sebagai orang-orang yang mewakili Kristus di dunia. Ini berarti kita tidak takut ditolak dunia ketika berbicara tentang dosa, dan tidak mundur sekalipun menghadapi kesulitan.

But it gets better: Dia tidak membiarkan kita berjuang sendiri! Yohanes melanjutkan:

Dan sesudah berkata demikian (yaitu, mengutus mereka), Yesus mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni; dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Ketika seorang raja menyuruh ajudannya mengerjakan tugas negara, ia menyertakan kuasanya bagi ajudan tersebut; entah dalam bentuk kawalan tentara, surat tugas, atau lainnya. Demikian pula Allah Roh Kudus menyertai kita dan memperlengkapi kita dengan kuasa. Kuasa ini begitu luar biasa, karena ini bukan hanya kuasa untuk hidup di dunia, melainkan kuasa yang mengikat orang sampai kekekalan! Yesus berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu”―perhatikan, Dia berani mengutus kita karena Dia memperlengkapi kita dengan kuasa-Nya.

Inilah tujuan Tuhan memberikan damai sejahtera dalam hati kita: supaya dengan hati yang teguh, yang percaya penuh bahwa Dia menyertai kita, kita melayani Tuhan dengan segenap hati. Peace is not merely some feel-good sentiment, peace is a fortress, and it is only in Jesus Christ we have peace. Seperti yang dikatakan nabi Yesaya,

“Yang hatinya teguh, Kaujagai dengan damai sejahtera,
sebab kepada-Mulah ia percaya.”
Yesaya 26:3

Ini Aku, Utuslah Aku

3rm3deyl_cm-guillaume-bolduc.jpg

Dua puluh tahun lamanya sebagian suku Israel dijajah oleh bangsa Kanaan di bawah pimpinan raja Yabin, dengan kepala pasukannya yang bernama Sisera. Selama dua puluh tahun, penjajah merampok hasil bumi dan memperbudak orang-orang mereka. Bangsa Israel berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melakukan sesuatu untuk menolong mereka.

Apa yang Tuhan lakukan? Dia bukan mengirim tentara dari luar negeri untuk membebaskan mereka, atau mengirim bencana alam bagi orang Kanaan. Lewat nabiah Debora, Tuhan memerintahkan Barak, seorang prajurit dari suku Naftali, untuk memimpin 10.000 tentara Naftali dan Zebulon (dua dari 12 suku Israel) untuk maju berperang melawan Yabin dan Sisera.

Dengan kata lain, Tuhan memerintahkan supaya orang Israel sendiri yang memberikan diri untuk menjadi jawaban doa mereka. Tuhan berjanji akan menyertai mereka sehingga mereka menang dalam pertempuran itu, tetapi mereka sendiri yang harus maju berperang.

Setelah kemenangan besar atas bangsa Kanaan, Debora menyanyikan pujian dan berkata,

“Karena pahlawan-pahlawan di Israel siap berperang,
karena bangsa itu menawarkan dirinya dengan sukarela,
pujilah TUHAN!

Hatiku tertuju kepada para panglima Israel,
kepada mereka yang menawarkan dirinya dengan sukarela di antara bangsa itu.
Pujilah TUHAN!”

Pernahkah pembaca berdoa untuk keluargamu, agar diberkati Tuhan? Untuk anak-anakmu, agar mereka jadi anak yang baik? Untuk bangsamu, agar diberi pemimpin yang takut akan Tuhan? Pertanyaannya, siapa yang akan Tuhan utus untuk menjawab doa-doa itu?

Akankah kita menemukan uang jatuh dari langit di depan rumah kita?

Haruskah orang lain mendidik anak-anak kita sehingga mereka menjadi anak yang baik?

Siapa orang yang takut akan Tuhan, yang akan dipakai-Nya memimpin bangsa ini?

Banyak orang punya mentalitas tangan di bawah; mengharapkan sesuatu dari Tuhan sementara mereka bersikap pasif dan tidak berbuat apa-apa. Seperti anak-anak sekolah di kelas yang langsung menunduk berjamaah waktu guru bertanya, “Siapa yang mau mengerjakan ini?” Bahkan di komsel pun kita pura-pura sibuk ketika ditanya, “Siapa yang mau bersaksi?” Siapa sebenarnya yang harus Tuhan utus? Siapa? Dan apa peran kita?

Ketika kita berdoa pada Tuhan meminta berkat, Tuhan akan menjawab doa kita ketika kita bekerja. Semakin rajin dan jujur kita, semakin banyak berkat yang Dia berikan. Ketika kita minta pada Tuhan agar anak-anak kita menjadi anak yang baik dan takut akan Tuhan, apakah kita sendiri, sebagai orang tua, memberi teladan seperti apa orang yang baik dan takut akan Tuhan? Ketika kita berdoa bagi negara ini, pertanyaan besarnya adalah: Apa yang sudah kita lakukan? Menjadi penonton dan komentator?

Kita berharap orang lain yang dipakai Tuhan, orang lain yang mengorbankan diri mereka, orang lain yang menderita, supaya kita hidup nyaman. Tapi tidak demikian seharusnya dengan para pengikut Kristus. Kalau kita berdoa minta Tuhan melakukan sesuatu agar saudara kita mau percaya kepada Kristus, mestinya kita minta pada Tuhan, “Tuhan, pakailah saya untuk membawa dia kepada Tuhan. Tolong beri saya hikmat.” Kalau kita minta berkat finansial kepada Tuhan, mintalah juga, “Beri saya hikmat untuk mengelola keuangan dan mengembangkan usaha ini.” Kalau kita ingin anak-anak kita menjadi orang-orang yang berhasil, mintalah kepada Tuhan, “Beri saya hikmat untuk mendidik mereka menjadi orang yang takut akan Tuhan, dan memberi teladan kepada mereka.”

Kira-kira 2500 tahun lalu Yesaya melihat Tuhan, dan ia mendengar Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Dia menjawab tanpa ragu-ragu, “Ini aku, utuslah aku!” Yesaya tidak berpikir terlalu jauh. Ia tidak terlalu takut untuk mengambil resiko. Harus ada orang yang diutus oleh Tuhan, dan Yesaya menyediakan diri secara sukarela untuk menjadi orang itu.

Menjelang tahun baru, mari kita ubah mental tangan di bawah yang diwakili oleh doa-doa yang malas. Dari, “Tuhan, lakukanlah sesuatu!” menjadi, “Tuhan, pakailah saya untuk melakukan sesuatu.” Siapa tahu, ternyata memang Tuhan mau kita sendiri yang menjadi alat Tuhan untuk menjawab doa kita. Ketika Tuhan bertanya siapa yang akan diutus-Nya, biarlah kita tidak berpikir terlalu panjang, tetapi kita berlomba-lomba mengacungkan jari dan berkata, “Ini aku, utuslah aku!”

Sariawan dan Pembubaran Natalan

Saya sedang mengalami masalah yang menyakitkan, memusingkan, dan melelahkan, yaitu…

Sariawan!

Karena posisinya di tempat yang sangat strategis, yaitu bagian dalam pipi, antara rahang atas dan bawah, saya tidak bisa makan seperti biasa. Boro-boro makan, buka mulut pun sakitnya alamak. Kadang-kadang sariawan itu terasa cenut-cenut, sampai seisi mulut saya ikut sakit: gusi, gigi, rahang, dan akhirnya kepala juga sakit. Arrggg.

Semua jenis obat saya pakai, minuman pengobat panas dalam saya minum, tapi belum sembuh juga (ini hari ke-4). Berita baiknya, hari ini sudah lumayan dibanding kemarin. Saya jadi senang dan bersemangat, walaupun masih harus menanggung sakit.

Nah, karena sariawan ini, saya jadi berpikir…

Saya tidak pernah bersyukur kepada Tuhan karena diberi rongga mulut yang sehat. Serius, saya belum pernah bersyukur tentang hal ini. Biasanya paling bersyukur karena dilindungi, diberkati, hal-hal seperti itu lah (dan itu semua alasan yang valid untuk bersyukur, tentunya). Tapi setelah mengalami sariawan yang menyiksa ini, saya sadar saya tidak pernah bersyukur untuk hal-hal yang saya anggap memang seharusnya demikian (bahasa Jawa: things I take for granted), seperti katup jantung yang berfungsi normal, gigi tidak berlubang, otot bekerja dengan baik, dan… rongga mulut yang sehat.

Ada satu hal lain yang saya pikirkan.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah acara perayaan Natal di Bandung dibubarkan oleh ormas yang namanya belum pernah saya dengar. Mereka membubarkannya dengan cara yang, menurut saya, bisa disebut preman, dan alasan yang dipakai pun akan backfire ke mereka sendiri seandainya mereka mengadakan kegiatan keagamaan di luar tempat ibadah mereka. Tapi berhubung mereka mayoritas dan gubernur provinsi ybs juga (yang saya lihat dari media) tidak peduli dengan apa yang terjadi, maka orang-orang hanya bisa menyesalkan terjadinya aksi pembubaran paksa ini (mau dibilang tidak memaksa pun, saya rasa yang namanya menggerakkan massa, memakai spanduk dan toa, serta masuk ke dalam ruangan acara minta dibubarkan, itu memaksa).

Dan tidak lama setelah itu terjadi, banyak orang Kristen mencurahkan ketidakpuasan mereka di media sosial. Sebagian besar mempertanyakan apakah Indonesia masih bisa disebut toleran dalam hal agama setelah terjadi insiden semacam itu. Ini sangat bisa dimengerti. Tapi satu hal muncul dalam pikiran saya:

Pernahkah kita bersyukur karena bisa beribadah dengan bebas?

Kebebasan beribadah itu taken for granted. Kita menganggap memang seharusnya begitu, padahal itu adalah anugerah Tuhan.

Saya tidak akan bicara lebih panjang lebar lagi, tapi saya ingin mengajak pembaca, sesama orang percaya, untuk bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan kepada kita. Saya percaya Tuhan akan terus memberikan anugerah-Nya dalam skala yang tidak bisa kita bayangkan (sama seperti Tuhan tetap menopang organ tubuh saya yang lain untuk berfungsi dengan normal, selain si sariawan ini – dan itu jauh lebih besar dan kompleks dibandingkan rongga mulut yang sariawan). Mari sejenak kita bersyukur karena kejadian yang tidak enak seperti bom di gereja di Samarinda dan pembubaran Natalan di Bandung mengingatkan kita untuk merenungkan anugerah Tuhan yang kita nikmati selama bertahun-tahun, yang seringkali kita anggap remeh.