A Pilgrim’s Progress

PS: Not sure why I never posted this. I probably wrote a draft and then forgot to post it. This has been sitting in my draft for 2 years now.

Read the transcript of an interview here, between a 22-year-old Glory and her 27-year-old self.

22: How was university life for you?

27: It was thriving with joy; I learned so much from every experience I had.

But the four years of happiness ended now, and a future of uncertainty embraced me. What am I gonna do with my life? What am I gonna be? I didn’t really experience identity crisis as a teenager; I definitely experienced it after graduating from university.

Fast forward to five years later. Which is now.

I still don’t have all the answers (sorry). At 27, I’m single, employed by my parents, an assistant at the church, and a hardly-quarter-time graphic designer. I understand this life I have is not ideal for many people, but I’m completely happy and satisfied. Having said that, I believe I’ll still have more to come. After experiencing many things in 5 short years, I can’t wait to see what the future holds for me.

As I said, I don’t have all the answers. Nonetheless, let me share the things I’ve learned along the years. I had questions, God provided answers. My life is a testimony of His faithfulness.

Q. What will my future be?
A. What are you going to do now?

If I have to name one most important thing I’ve learned, I’d say it is to live in the present. I have hopes for my future; and rightly so, because my future is secure in the Lord. But what I do now really counts. It is a common escape for children of wealthy parents to pursue graduate studies simply because they don’t know what to do with their lives. Grad study is an investment; you have to consider the benefits of pursuing it. If there’s none, why would you waste your time? Remember, you’re on your 20s now.

“Then what do I do?” Good question. Go get a job. Don’t be idle; start making money. If you have a girlfriend/boyfriend, of course you should start planning for marriage.

Q. What if my current job is not my dream job?
A. Do it anyway.

With the exception the job is illegal or there’s a moral consideration, stick with it. The first three months are the hardest; don’t quit just because you feel like it.

Q. I can’t stop worrying about my future.
A. Read the answer below.

Earlier this year, I lost two of my friends. One of them was 28, the other was 27. They were young, and at the prime of their lives. I’m 27 now (talking about the 27 Club). It’s safe to say that it is still not clear whether I will have another day to live, or if this will be the last day of my life. Death has never felt so real as when you see the sting on your friends.

Our Lord posed a rhetoric: “Can worry make you live longer?”

Good Lord has said it best.

Q. Why am I so anxious about my life?
A. Because you don’t belong to this world.

It is not for no reason that the title of this post is “A Pilgrim’s Progress”. You won’t reach an age when you finally feel that everything’s perfectly perfect. Not if your real residence is heavenbound. It is normal to be confused. It is human to want security for your life. Because God has planted eternity in your heart, nothing in this temporary world will satisfy you.

“Look up,” said apostle Paul. Well, he literally said, “Set your eyes on things that are above, not on things that are on earth.” The best way to look at this life is as an opportunity to serve the Lord. Remember Carrie Underwood’s song: “This is my temporary home, it’s not where I belong.”

Q. Money isn’t everything.
A. No. But those who have it can do many things.

I’m not that kind of a dreamer, so you dreamers might find my principle disappointing. I think it’s important to make money – I mean a lot of money. Money makes it possible for you to browse the web and find this post. Money makes it possible for me to fulfill my longtime wish to support missionary work. I envied those rich people who could take Rp 100.000,- bills out from their wallet and put them into the offerings at church. I wanted to be able to do that. Unless I don’t have to worry about money, that wouldn’t be possible.

Endnote
Now I’m 29, in a relationship (which means I have to seriously think about another giant phase in my life which is marriage – my goodness!), still working for my parents, working at church too. And I might be doing more interviews with my younger self. I’m happy I still agree with my 27-year-old self (despite the gloomy tone of the interview) and I’m glad I don’t regret anything. Walk hand in hand with God, and you won’t have to worry about anything.

Epitaph

Yang terbaring di sini memang bukan Anda, tetapi saya. Dan selama hidup saya pun tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya ada di dalam peti yang ukurannya hanya sedikit lebih panjang dari tubuh saya.

Di sinilah akhirnya. Waktu saya di dunia telah habis dan di sini tubuh saya dibaringkan, menunggu untuk dimasukkan ke dalam tanah. Mata yang tadinya bisa melihat, tangan yang bisa menulis, kaki yang bisa berjalan, otak yang bisa berpikir, sekarang hanya organ tubuh yang mati dan menunggu busuk.

Saya tidak hidup dalam kekayaan; saya tidak memiliki segala sesuatu. Banyak orang yang jauh lebih sukses dari saya, jauh lebih terkenal dibanding saya. Tapi apa bedanya? Kami semua tidak bisa merasakan apakah peti kami nyaman atau tidak; kami tidak bisa memilih warnanya; kami dibaringkan dalam posisi yang sama dan sama-sama akan dimasukkan ke dalam tanah. Kami juga tidak bisa membawa apa-apa—semua yang kami kumpulkan dengan susah payah selama hidup. Yah, paling tidak keluarga mereka yang kaya itu bisa memilih peti yang lebih mahal. Tapi, sungguh, apa bedanya?

Hidup itu seperti menunggu di terminal airport dengan memegang boarding pass kosong untuk terbang ke tempat di mana Anda akan tinggal untuk seterusnya. Yang Anda tahu adalah Anda pasti berangkat, tapi Anda tidak tahu ke mana atau jam berapa. Anda menunggu dengan gelisah, sembari melihat satu demi satu orang-orang di sekitar Anda dipanggil namanya. “Seperti apa tempat yang akan saya tuju?” pikir Anda, “Siapa yang akan saya temui?” Orang-orang berkata bahwa tempat tujuan Anda adalah tempat yang mengerikan. Setiap kali seseorang dipanggil untuk naik ke pesawat, orang-orang di sekitarnya menangisi dia karena, kata mereka, mereka tidak akan bertemu dia lagi selama-lamanya. Ada pula yang acuh tak acuh, karena kata mereka, “Saya tidak percaya saya akan pergi ke sana.” Tapi itu tidak mengubah apa-apa. Dia sendiri juga memegang boarding pass, dan Anda pun akhirnya mendengar nama orang itu dipanggil.

Seseorang berkata kepada saya, “Lucu sekali manusia itu. Untuk hidup yang sementara, ia mempersiapkan segala sesuatu; tapi untuk hidup yang kekal, ia tidak mempersiapkan apa-apa.” Dan bagaimana dengan Anda? Ketika tiba giliran Anda untuk berbaring di peti ini, sudahkah Anda siap? Apakah Anda tahu apa yang ada di balik pintu kematian ketika Anda akhirnya dipaksa membukanya? Atau apakah Anda selalu bersikap seolah-olah Anda tidak akan mati, padahal Anda takut ketika akhirnya harus mati? Apakah Anda sedang berpura-pura seolah Anda akan hidup seribu tahun lagi?

Dan ketika Anda harus menghadap Hakim yang Adil itu, yang akan menghakimi orang hidup dan mati, yang akan menjatuhkan vonis yang layak kita dapatkan, siapkah Anda? Apakah Anda mengenal Dia? Atau apakah Anda membawa mati harapan bahwa Dia tidak ada?

Dari tadi saya terus mengajukan pertanyaan; sekarang saya akan menjawab.

Saya siap.

“Bagaimana mungkin?” tanya Anda. Karena saya tahu apa yang akan saya temui setelah kematian; karena kekekalan saya terjamin adanya; karena saya mengenal Hakim yang Adil itu dan kami telah menyelesaikan urusan kami sebelum saya mati. Sekarang saya meninggalkan dunia dengan tenang, dan saya tahu apa—lebih pentingnya, siapa—yang akan saya temui di sana.

Hakim yang Adil itu adalah sahabat saya, yang memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan saya dari kebinasaan kekal di neraka. Dia mengasihi saya. Saya percaya semua yang Dia katakan, dan saya melakukan apa yang Dia ingin saya lakukan selama hidup saya di dunia. Bertahun-tahun sebelum hari ini tiba, kami telah memiliki perjanjian mengenai kehidupan kekal saya. Seperti yang dikatakan seseorang dua milenium yang lalu tentang Pribadi yang sama: “Aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Sekarang hari saya telah datang. Pernahkah Anda melihat obituari di suratkabar yang berkata “Telah pulang ke rumah Bapa”? Anda akan melihat tulisan yang sama pada obituari saya. Saya bukan pergi ke tempat yang tidak saya ketahui untuk bertemu orang yang tidak saya kenal; saya pulang, pulang ke rumah Dia, yang saya panggil Bapa, di surga.

Hari Anda akan datang. Peti Anda akan dipesan. Lobang di tanah tempat tubuh Anda dibaringkan akan segera digali. Pertanyaannya tetap sama: Sudah siapkah Anda? Apakah Anda mau membereskan urusan Anda dengan Hakim yang Adil itu sekarang? Karena ketika Anda sudah di dalam peti itu, tidak akan ada kesempatan lagi.

Latihan

Salah satu kegiatan yang tidak saya sukai adalah olahraga. Olahraga apa aja. Keringetan. Capek. Pegel-pegel. Intinya saya ga suka gerak.

(Untungnya ga hobi kuliner juga, jadi berat badan ga terlalu tragis.)

Tapi akhir-akhir ini saya insyaf bahwa saya harus olahraga, gara-gara frustasi masuk angin terus-terusan. Saya sadar bahwa tidak ada jalan pintas untuk jadi sehat dan kuat selain… olahraga. Jadilah saya membiasakan diri (tepatnya memaksa diri) hidup sehat (makan diatur, minum air yang banyak) dan olahraga setiap hari. So far so good, tiap hari waktunya ditambah, dan sekarang saya sudah mulai menikmati olahraga tiap hari. Target saya adalah satu jam sehari untuk olahraga, dan sekarang saya cukup optimis bisa mencapai target itu.

Saya punya pengalaman yang mirip dalam hal yang lebih penting: kepedulian terhadap orang lain. Dulu, saya tidak peduli terhadap orang lain, cenderung apatis, dan pandangan saya terhadap hidup sangat sinis. “Your life, your problems”—kira-kira begitulah. Saya tidak mau direpotkan orang, saya juga tidak mau merepotkan orang. Bahkan sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pun saya malas (dipikir-pikir, aneh, memang). Sampai suatu hari saya ditegur seorang teman ketika saya minta maaf karena saya merasa merepotkan dia, dan dia berkata, “Orang tuh seneng, tau, kalo bisa nolongin orang lain.”

Sebenarnya sebelum itu pun saya sudah sadar bahwa saya tidak melakukan firman Tuhan tentang menunjukkan kebaikan hati kepada orang lain. Saya sadar saya harus murah hati dan berkorban untuk menolong orang lain. Tapi saya selalu merasa itu bukan prioritas dan terus menunda itu, sampai mendapat teguran dari teman saya itu.

Dan saya memutuskan—okelah, sebenarnya ga dramatis banget sih, cuma saya berpikir, sudahlah jangan ditunda-tunda terus—untuk membiasakan diri peduli terhadap orang lain. Dan dimulailah latihan serius selama bertahun-tahun.

Agak aneh ya? Untuk peduli dan berbuat baik pada orang lain saja saya harus belajar. Yah, pembaca, saya juga maunya dari sananya udah baik hati, tapi mau gimana lagi.

Ketika kita mengikut Yesus, memberikan hidup kita bagi Dia, di situlah proses unlearning dimulai. Semua yang selama ini ditorehkan dalam karakter kita harus dihapus dan diganti dengan sifat-sifat Kristus. Dan itu butuh waktu.

Saya tidak berkata demikian sebagai alasan. Saya tidak bisa berkata pada Tuhan, “Tuhan, ga bisa dong saya langsung diminta jadi sempurna. Saya kan perlu waktu dan proses…” Kalau firman Tuhan bilang, “Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” maka itulah firman Tuhan, saya harus melakukannya sekarang, dan saya tidak bisa membantahnya. Yang saya maksud adalah kualitas ketaatan saya kepada Tuhan meningkat seiring berjalannya waktu. Dulu, saya batal marah-marah kepada orang yang membuat saya jengkel karena saya diharuskan sabar oleh firman Tuhan. Sekarang, keinginan untuk melampiaskan kemarahan itu pun hampir tidak ada. Firman Tuhan tidak berubah; hati saya yang berubah.

Saya mulai dengan baby steps, cara yang sudah saya ketahui dan bisa dipraktekkan: mendengarkan cerita orang lain. Lalu saya belajar untuk mengumpulkan niat ngajak orang ikut kegiatan yang saya tahu akan bermanfaat bagi mereka; saya juga belajar membantu orang lain dengan tugas atau kegiatan mereka. Ketika ada teman yang punya gawe, saya datang (walaupun saya ini 200% anak rumahan yang ga suka jalan-jalan, beneran deh). Saya melakukan semua yang saya tahu untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa saya peduli terhadap mereka sebagai pribadi. Lebih dari seratus kali saya awalnya berpikir, “Males ah,” dengan berbagai alasan, tapi lalu saya memaksa badan bergerak dan bertindak karena saya tahu itulah yang harusnya saya lakukan. Saya sangat termotivasi dengan apa yang dikatakan rasul Paulus:

“Aku melatih tubuhku dan menguasainya sepenuhnya, supaya sesudah aku memberitakan Injil, jangan aku sendiri ditolak.”

Setiap kali ingat ayat itu, saya jadi greget. Saya mengasihi Tuhan, dan saya tidak ingin Dia dirugikan gara-gara sikap saya. Jadi berkali-kali saya memaksa tubuh saya bergerak, mulut saya tersenyum, telinga saya mendengarkan, supaya ketika saya memberitakan Injil, apa yang saya beritakan itu diterima karena sudah diberi pendahuluan dengan tindakan yang baik.

Beberapa tahun kemudian…

Saya masih 200% anak rumahan. Hehehehe. Tapii.. Mempedulikan orang lain dan melakukan hal yang baik bagi mereka bukan lagi beban buat saya. Saya mengasihi mereka. Saya merasakan belas kasihan bagi orang-orang yang perlu diperhatikan. Saya membantu mereka sejauh yang saya mampu karena mereka penting di mata Tuhan—dan karenanya, penting di mata saya. Itulah hasil latihan bertahun-tahun jalan dalam rute firman Tuhan.

Tentu saja saya harus latihan terus dan disiplin dalam latihan itu. Sebagaimana yang dikatakan firman Tuhan: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor. Biarlah rohmu menyala-nyala, dan layanilah Tuhan.” Saya suka versi bahasa Inggrisnya:

“Not lagging in dilligence,
fervent in spirit,
serving the Lord!”

Saya selalu percaya bahwa bila Tuhan bisa mengubah saya, Tuhan bisa mengubah siapapun. Saya sendiri dulu tidak pernah terpikir untuk berubah; saya merasa diri saya baik-baik saja dan sifat saya ya memang begini. Tapi sejak kenal Tuhan secara pribadi, saya sadar saya tidak bisa hidup seperti itu. Setiap kali saya melihat ke belakang, kepada hidup saya yang lama, saya takjub bagaimana orang dengan karakter seperti itu bisa diubah begitu rupa oleh Tuhan. Jadi, bagi semua pembaca yang ingin berubah, ingin menjadi seperti Yesus, ingin karakternya yang buruk dikikis, ingin mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihi mereka…

Dengan pertolongan Roh Kudus dan dengan latihan rutin… Bisa!

Manfaat Uang

Apa perlu dibahas tentang manfaat uang? Perenungan ini muncul gara-gara saya membaca ayat yang sangat menarik dari kitab Pengkhotbah:

Pesta membuat tertawa & anggur membuat gembira,
tapi perlu ada uang untuk membayarnya.
-Pkh. 10:19

Orang-orang yang sangat kaya bersaksi bahwa uang tidak membuat mereka bahagia, tapi kita toh tidak percaya kesaksian mereka dan berusaha membuktikan sendiri. “Itu kan karena dia tidak tahu uangnya mau dipakai untuk apa,” kita pikir demikian, “Kalau saya, saya sudah berpikir mau buat apa aja uangnya.” Uang belum di tangan pun kita sudah sibuk berkhayal.

Ketika membaca ayat di atas, mungkin pembaca berpikir, kenapa ada ayat “duniawi” seperti itu dalam Alkitab? Orang-orang yang berpikir bahwa Alkitab itu isinya cerita-cerita supernatural saja, orang-orang yang ada lingkaran di atas kepalanya, pembahasan yang melulu tentang Tuhan, dst, sepertinya kurang kenal firman Tuhan. Dalam Alkitab ada cerita tentang orang-orang seperti kita: orang biasa, yang makan, minum, ngobrol, bekerja, bahkan (maaf) BAB, muntah, mandi, minum alkohol, berhubungan seks, dsb. Saya sebutkan ini untuk menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan sehari-hari itu bukannya tidak berarti bagi Tuhan! Bukan hanya urusan gereja atau kerohanian saja yang diperhatikan Tuhan; Dia memperhatikan semua aspek hidup kita.

Termasuk aspek ekonomi, mestinya. Mama saya pernah berkata bahwa setelah sekian lama berinteraksi dengan jemaat di gereja, masalah jemaat umumnya 2K: keluarga, dan keuangan. Nyatanya memang uang penting. Memang bukan yang terpenting dalam hidup ini, tapi ya penting.

Dan firman Tuhan juga berkata uang penting untuk hidup. Dalam Pengkhotbah 10:19, yang dibicarakan bahkan bukan kebutuhan pokok, melainkan kebutuhan tersier, yaitu pesta. Dalam pesta dihidangkan makanan dan anggur (minuman pesta pada waktu itu) dan itu semua membuat orang senang. Logikanya adalah sebagai berikut.

Seorang senior saya dalam pelayanan kampus pernah memberi nasehat yang berharga: “Kalau kamu mau menegur seseorang (karena waktu itu saya ketua persekutuan mahasiswa Kristen di kampus), ajak dia makan dulu. Abis makan baru ngomong. Dan jangan lupa: bayarin.” Saya praktekkan nasehat itu, dan terbukti ampuh. Tidak ada satupun nasehat atau teguran yang saya berikan yang ditolak… Ketika disampaikan setelah makan!

Mengapa demikian? Makan itu membuat kita senang dan tenang (ini ilmiah lho). Dan yang mungkin tidak ilmiah tapi menurut observasi saya sendiri, dibayarin makan oleh orang lain membuat kita punya pandangan positif terhadap orang ybs. Kalau hati senang, pikiran tenang, ga keluar uang, apapun yang dikatakan orang yang traktir kita pasti lebih gampang masuk. Selain itu, orang yang suka traktir itu banyak temennya, bray! Yang pernah mengalami jadi anak kos jaman sekolah/kuliah pasti tahu rasanya terbelit krisis moneter di akhir bulan. Di saat seperti itu, teman yang nraktir bagaikan malaikat. Saya ingat waktu SMA, di saat ekonomi kritis, ada seorang teman mengajak kami satu geng untuk makan steak. Luar biasa, bener-bener orang baik dia!

Singkatnya, punya uang untuk bayarin dan traktir orang lain itu membuat kita di atas angin. Uang bukan yang terpenting, tapi uang bisa membuat kita dihormati, didengarkan, disenangi. Bukan tanpa alasan kita mengenal sesuatu yang disebut “status sosial”. Ini tidak berarti karakter tidak penting. Tapi kekayaan juga… penting.

Kekayaan menambah banyak sahabat,
tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.
-Amsal 19:4

Dan,

Orang kaya menguasai orang miskin,
yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.
-Amsal 22:7

Ini adalah realita hidup. Pembaca sendiri lebih suka bareng teman yang rajin nraktir, atau teman yang pinjem duit mulu? Lebih suka jalan bareng temen yang punya mobil atau yang harus naik metromini? Wes lah, jujur ae.

Sekarang bayangkan seorang pengikut Kristus yang baik, jadi teladan, bijak, kaya, dan murah hati! Siapa yang alergi terhadap orang seperti itu? Semua mau dekat dengan orang itu. Kalau memang uang bisa dipakai untuk membangun hubungan dengan orang lain, kalau uang bisa dipakai untuk melebarkan pengaruh kita, kalau uang bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan, mengapa tidak? Kesempatan kita memakai uang hanya sekarang ini, karena uang tidak dibawa mati. Selama kita masih hidup dan diberkati, kita disuruh memanfaatkan uang untuk melayani Tuhan. Semua pelayanan butuh uang, semua kegiatan misi butuh uang. Untuk membuat orang respek dan mendengarkan kita, kita butuh uang. Agar pendapat kita diterima dan perintah dituruti, kita harus punya uang. Uang memudahkan segalanya, termasuk pelayanan untuk kemuliaan Tuhan.

Lantai dasar dari iman kepada Tuhan adalah “Jangan berbuat dosa”. Mereka yang ada di lantai ini takut dengan banyak hal, dan pertanyaannya terus-terusan seputar, “Ini dosa gak sih?” “Tuhan marah ga kalo aku berbuat ini?” Dsb. Lantai berikutnya adalah “Tidak ada barang yang punya dosa intrinsik”. Di lantai ini orang Kristen mulai sadar bahwa uang itu tidak jahat. Seks itu tidak salah. Musik itu tidak membuat kita binasa. Dosanya bukan terletak pada uang, atau seks, atau musik, atau senjata sekalipun, tapi pada manusia yang mengendalikannya. Lantai berikutnya, yang lebih tinggi lagi, adalah “Segala hal bisa dimanfaatkan untuk memuliakan Tuhan.” Di lantai ini, orang bekerja keras dan menghasilkan banyak uang, bukan karena dia ingin kaya, tapi karena dia ingin lewat kekayaannya dia bisa melakukan banyak hal bagi Tuhan. Orang terlibat dalam politik bukan karena mau cepat kaya dengan cara gampang, tapi karena benar-benar ingin membuat perubahan bagi bangsanya.

Kita tentu pernah mendengar pernyataan: “Uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang jahat.” Itu benar adanya. Uang adalah hamba yang multitasking; dia bisa melakukan sangat banyak hal. Bila kita memanfaatkannya sebaik-baiknya, kita bisa memberi keuntungan besar untuk Tuan kita yang sesungguhnya: Tuhan sendiri!

Apa Yang Dicari

Apa yang terjadi ketika seorang pembicara tenar yang bisa menyembuhkan orang sakit datang ke sebuah kota? Tentu saja rakyat berbondong-bondong datang ingin melihat dan mendengar kuliahnya! Begitulah jadinya ketika Yesus datang ke daerah Kapernaum. Orang-orang datang dari kota-kota yang ratusan kilometer jauhnya hanya untuk mendengarkan Dia, termasuk para ahli agama Yahudi. Semua penasaran, orang seperti apa Yesus itu. Berhubung Yesus tidak menyewa gedung pertemuan atau stadion dan hanya tinggal di rumah biasa, rumah itu penuh sesak dengan manusia! Dan ketika Yesus sedang mengajar dengan bersemangat…

“KRAAK..”

Tiba-tiba terdengar bunyi plafon berderak-derak. Bukan, bukan mau ambruk, tetapi tutup plafon – yaitu pintu menuju ke loteng – sedang dibuka. Semua mata melihat ke atas sambil bertanya-tanya, siapa yang membuka plafon dan mengapa plafon itu dibuka?

Sinar matahari menembus masuk dari plafon yang telah terbuka. Orang-orang di dalam ruangan, termasuk Yesus, mengernyitkan mata mereka karena silau. Perlahan-lahan, nampak sosok seseorang yang berbaring di atas tandu kayu, yang diturunkan dari loteng. Orang-orang yang memenuhi bagian tengah ruangan berdesak-desakan mundur dan merapat untuk memberi ruang bagi orang yang turun dari atas tersebut. Ketika sampai di bawah, kelihatanlah bahwa orang itu lumpuh. Dia tidak bisa bergerak, atau bahkan sekedar duduk. Orang itu terlihat lemah, tetapi matanya bergerak ke seluruh sudut ruangan, mencari orang yang bernama Yesus.

Yesus mendekatinya, berlutut di sisinya dan melihat keadaannya, kemudian Dia melihat ke atas, kepada teman-teman orang lumpuh itu. Mereka memandang Yesus dengan penuh harapan.

“Tuan, dia ini lumpuh,” kata mereka. “Tolong, Tuan.”

Orang lumpuh itu melihat Yesus dengan mata berbinar-binar, jelas sekali bahwa dia berharap Yesus akan menolongnya. Semua orang dalam ruangan menanti apa yang akan dilakukan oleh Yesus. Bukankah Dia bisa menyembuhkan orang sakit?

Yesus memegang pundak orang itu, dan berkata,

“Anakku, dosamu sudah diampuni.”

Seketika itu juga ruangan yang tadinya ramai dengan bisik-bisikan orang itu menjadi sunyi senyap. Semua orang membisu mendengar kata-kata Yesus. Mata para ahli agama membelalak dan wajah mereka pucat karena terkejut, dan tangan mereka tergenggam erat. Siapa orang ini sehingga Dia berani berkata bahwa Dia bisa mengampuni dosa? Dia menghujat Allah!

Yesus membalikkan badan, dan menghadap tepat kepada para ahli agama. Dia memandang mereka dan bertanya dengan tegas,

“Mengapa kamu memikirkan hal yang jahat di dalam hatimu?”

Semua orang dalam ruangan itu terhenyak, terutama para ahli agama yang tidak menyangka Yesus tahu apa yang mereka pikirkan.

“Mana yang lebih gampang,” lanjut Yesus, “berkata pada orang ini, ‘Dosamu sudah diampuni,’ atau, ‘Bangunlah dan berjalanlah?'”

Yesus memandang semua orang dalam ruangan itu dan mengeraskan suaranya, “Tetapi supaya kalian tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa…” Ia mengalihkan pandangannya pada orang lumpuh tadi, “Bangunlah, angkat tilammu, dan berjalanlah.”

Orang lumpuh yang berbaring itu memandang Yesus dengan tatapan bingung, tetapi kemudian dia seolah-olah merasakan sesuatu dalam tubuhnya dan mulai bergerak. Pertama-tama ia duduk, dan-sementara semua orang memandang-ia mulai berdiri. Orang-orang dalam ruangan mulai ribut satu sama lain karena takjub. Orang lumpuh itu berdiri tegak dengan air mata membasahi wajahnya. Sesuai perintah Yesus, dia mengambil tilamnya dari lantai. Sebelum pergi, ia sujud menyembah Yesus, lalu berjalan keluar ruangan sambil menangis tersedu-sedu dan mengucap syukur.

. . . .

Ketika saya membaca kisah ini, satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah interaksi Yesus dengan para ahli agama (ahli Taurat dan orang Farisi). Saya bertanya-tanya, untuk apa mereka datang jauh-jauh dari Yerusalem, Yudea, dan Galilea? Dan ketika mereka bertemu dengan Yesus, mendengar Dia mengajar, dan – yang kontroversial – mendengar Dia menyatakan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa, yang dibuktikan-Nya dengan menyembuhkan orang sakit, apa yang ada dalam pikiran mereka, dan apa kesimpulan mereka tentang Dia?

Saya rasa dari cerita ini, jelas terlihat apa yang mereka cari, dan apa yang tidak mereka cari dari Yesus.

  • Mereka mencari seorang pengajar. Karena Yesus adalah rabi yang sedang naik daun, tentu menarik untuk mendengar apa yang akan dikatakan-Nya. Mengapa orang yang tidak berpendidikan bisa begitu besar pengaruhnya di Israel, padahal ada guru-guru yang super intelektual? Tentu mereka ingin tahu seperti apa pengajaran Yesus.
  • Mereka jelas bukan mencari Tuhan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Tuhan; dan ketika Dia menyatakan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa – yang dibuktikan dengan penyembuhan, mereka justru terguncang. Lebih dari itu, mereka sudah mendengar tentang Dia dan bagaimana Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dll hal-hal yang mustahil dilakukan manusia biasa. Tetapi mereka masih tidak mengerti bahwa Allah sendiri ada di tengah-tengah mereka.

Saya jadi bertanya-tanya… Ketika saya membaca Alkitab, mendengarkan khotbah – intinya mempelajari sesuatu dari Tuhan, untuk apa saya bersusah-susah? Apa yang saya cari? Apakah saya sekedar mencari sesuatu yang baru, sudut pandang yang baru, pemahaman yang baru, atau mencari Tuhan?

A. W. Tozer berkata,

“I want the presence of God Himself, or I don’t want anything at all to do with religion. . . I want all that God has or I don’t want any.

Ketika para ahli agama Yahudi bertemu dengan Tuhan sendiri, pengetahuan dan pencarian mereka akan ilmu justru menjadi tembok yang menghalangi pengenalan mereka akan Dia. Mereka melihat apa yang ada pada Yesus sebagai sekedar kharisma, sementara orang-orang biasa justru mengenalinya sebagai kuasa. Mereka yang terpelajar dan sudah mendengar serta melihat sendiri Yesus melakukan mujizat, akhirnya tetap tidak percaya. Sementara orang-orang seperti perwira Kapernaum, orang kusta, dan orang lumpuh ini, yang tidak terpelajar dalam agama Yahudi dan mungkin belum melihat sendiri mujizat Yesus, justru menyerahkan hidup mereka di kaki-Nya. Dalam pencarian kita akan pengetahuan tentang Tuhan, kadang kita kehilangan yang terpenting: diri-Nya sendiri.

Saya belajar bahwa semua informasi yang saya peroleh tentang Tuhan tidak sebanding dengan pengenalan akan Dia secara pribadi. Paulus adalah seorang Farisi, incredibly smart, dan sangat terlatih dalam disiplin agama Yahudi. Tapi dia menyadari bahwa tidak ada yang menandingi pertemuan pribadi dengan Tuhan; sebagaimana yang dia katakan:

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. – Filipi 3:10-11

Kiranya ini yang menjadi keinginan kita semua: Bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Memakai aplikasi Alkitab dari SABDA/Yuku untuk Android (Bagian 2)

Lihat bagian pertama di sini.

Melanjutkan post sebelumnya, post ini adalah lanjutan tutorial memanfaatkan aplikasi Alkitab dan teman-temannya (Kamus Alkitab, Peta (Bible Maps), AlkitabPEDIA, dan Tafsiran). Post sebelum ini adalah tentang Kamus Alkitab dan Bible Maps, dan dalam post ini saya akan membahas bagaimana memakai AlkitabPEDIA dan Tafsiran.

Kali ini saya akan memberi contoh dari Perjanjian Baru. Ayat yang akan kita gunakan adalah Galatia 1:1.

Screenshot_2016-01-24-16-36-22

AlkitabPEDIA

AlkitabPEDIA adalah aplikasi semacam ensiklopedia Alkitab. Ensiklopedia itu berisi serba-serbi tentang topik tertentu. AlkitabPEDIA berisi serba-serbi masing-masing kitab dalam Alkitab, dan lebih khusus lagi adalah serba-serbi tiap pasalnya.

Cara membuka AlkitabPEDIA dari aplikasi Alkitab:

Perhatikan bagian yang dilingkari merah. Pilih ayat yang akan dipelajari (dalam contoh ini Galatia 1:1), lalu pilih menu (titik tiga di sebelah kanan atas). Dari menu, pilih Panduan. Ini akan membuka aplikasi AlkitabPEDIA tepat di bagian kitab dan pasal yang pembaca pilih.

Screenshot_2016-01-24-16-47-21
AlkitabPEDIA untuk Galatia 1:1

Dalam AlkitabPEDIA ada banyak keterangan tentang pasal yang sedang aktif. Pembaca bisa scroll ke bawah untuk melihat apa saja yang ada di dalamnya.

Keterangan gambar paling kiri:

  1. Penjelasan singkat tentang pasal yang sedang dipelajari.
  2. Isi pasal. Biasanya berisi satu kalimat saja yang merangkum isi pasal tersebut, kecuali ada beberapa perikop (judul paragraf).
  3. Garis besar. Merupakan ayat-ayat kunci yang menandai perubahan gagasan atau awal cerita yang baru.

Keterangan gambar tengah:

  1. Judul perikop, yaitu satu atau beberapa sub-judul yang ada dalam pasal tersebut.
  2. Tokoh. Siapa saja orang yang disebutkan namanya dalam pasal itu.
  3. Nama dan tempat. Kotak-kotak biru dengan nama dan tempat itu (di gambar kedua) bisa di-klik, untuk membuka Kamus Alkitab.

Keterangan gambar paling kanan:

  1. Kesimpulan dan Fakta. Kurang lebih isinya adalah pelajaran apa yang bisa dipetik dari pasal yang bersangkutan.

Kalau pembaca ingin tahu, sebenarnya seperti apa latar belakang kitab Galatia secara keseluruhan, pembaca bisa melihatnya juga dari AlkitabPEDIA.

Perhatikan Gb. 1. Pilih tanda yang dilingkari merah, kemudian pilih Intro (lingkaran hijau). Akan muncul latar belakang kitab Galatia secara keseluruhan. Pembaca bisa scroll ke bawah karena penjelasannya cukup panjang.

Aplikasi AlkitabPEDIA ini sangat berguna, terutama dalam mempelajari kitab nabi-nabi (Yesaya, Yeremia, Yoel, Amos, dsb) dan surat (Roma, Korintus, Galatia, dst). Banyak orang menganggap kitab nabi-nabi Perjanjian Lama sulit dimengerti, padahal masalahnya adalah mereka tidak tahu konteks nubuat nabi tersebut. Kepada siapa dia berbicara? Bagaimana keadaan sosial-politik saat itu? Itu semua menentukan isi nubuatnya. Demikian pula dengan surat-surat dalam Perjanjian Baru. Pembaca mungkin bingung mengapa Paulus membuka surat Galatia dengan nada emosi, atau mengapa dalam kitab Ibrani banyak digunakan gambaran ibadah Perjanjian Lama. Dengan mengetahui latar belakangnya, pembaca bisa mengerti makna teks Alkitabnya.

Tafsiran

“Menafsirkan perkataan orang itu,” berarti menemukan makna dalam perkataannya, dan menjelaskannya lagi. Menafsirkan firman Tuhan berarti menemukan makna dalam teks Alkitab, dilanjutkan dengan mencari aplikasinya dalam kehidupan kita sehari-hari. Langkah pertama dalam mempelajari teks Alkitab adalah mencari data (siapa, apa, kapan, di mana, mengapa – 5W1H) dan untuk langkah ini kita dibantu tiga aplikasi yang sudah saya bahas: Bible Maps/peta, Kamus Alkitab, dan AlkitabPEDIA. Setelah menemukan data-data dalam teks yang bersangkutan, kita lalu menafsirkannya dengan satu pertanyaan dalam pikiran: “Jadi apa maksudnya teks ini?”

Tafsiran adalah bala bantuan terakhir yang fungsinya sebagai pembanding hasil pelajaran kita. Isinya adalah hasil pemikiran orang-orang yang sudah menemukan makna dalam teks yang bersangkutan, sehingga kita bisa mencocokkan pemahaman kita dengan pemahaman mereka, dan mendapat masukan yang berharga – siapa tahu ada yang terlewat dari pengamatan kita.

Berikut ini adalah cara membuka Tafsiran dari aplikasi Alkitab.

Screenshot_2016-01-24-17-21-54

Dari Menu, pilih Tafsiran (lingkaran merah), dan ini akan membawa pembaca masuk aplikasi Tafsiran.

Screenshot_2016-01-24-17-23-48

Ada beberapa macam tafsiran yang disediakan. Untuk Galatia 1:1 ada MHC (Matthew Henry Commentary) – atau MHCC (Matthew Henry Concise Commentary) (ringkasannya), TSK (Treasury of Scripture Knowledge), Wycliffe (John Wycliffe), Jerusalem, dan SH (Santapan Harian). Ada beberapa ayat yang tafsirannya jauh lebih banyak dibanding ayat lain, dan ada juga ayat yang sangat sedikit tafsirannya. Pembaca bisa melihat satu per satu tafsiran tersebut, cukup dengan meng-klik judul tafsiran yang ingin dilihat.

Apabila pembaca masih kesulitan menafsir teks Alkitab sekalipun sudah dibantu dengan Bible Maps, Kamus Alkitab, dan AlkitabPEDIA, pembaca bisa mendapat bantuan dari Tafsiran. Sekedar pengingat, tafsiran ini adalah hasil pemikiran manusia, jadi gunakan ini hanya sebagai pembanding, bukan disejajarkan dengan teks Alkitabnya sendiri. Sebelum membaca tafsiran, sebaiknya pembaca sudah punya penafsiran sendiri untuk dibandingkan.

Kesimpulan

Khotbah yang didengar pembaca setiap hari Minggu adalah hasil dari penafsiran teks Alkitab yang dicari relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, untuk orang umum, apa manfaatnya belajar Alkitab?

  • Makin mengenal Tuhan karena memahami firman-Nya, dan tahu apa yang Tuhan mau kita lakukan
  • Mencari tahu apakah pengajaran di gereja atau khotbah yang didengar pembaca itu sesuai firman Tuhan (terutama kalau pengajarannya kontroversial)
  • Menjelaskan pada orang lain tentang teks Alkitab yang sudah dipelajari oleh pembaca

Dulu, hanya orang-orang yang sekolah Alkitab yang punya akses untuk mempelajari firman Tuhan. Zaman kakek-nenek kita, boro-boro belajar Alkitab, bisa membaca saja sudah lumayan. Tapi sekarang, Tuhan bekerja lewat teknologi informasi sehingga di mana-mana orang Kristen bukan hanya bisa membaca, tetapi juga mempelajari firman Tuhan. Mari manfaatkan itu semua untuk semakin mengenal Tuhan!🙂

Link download AlkitabPEDIA dan Tafsiran.

Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna,
yaitu hukum yang memerdekakan orang,
dan ia bertekun di dalamnya,
jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya,
tetapi sungguh-sungguh melakukannya,
ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

-Yakobus 1:25

Memakai aplikasi Alkitab dari SABDA/Yuku untuk Android (Bagian 1)

Akhir-akhir ini saya rajin promosi aplikasi ini. Jangan kuatir, ini promo tak berbayar. Saya tidak kenal developernya, tapi siapapun dia, saya sangat berterima kasih. Sudah lama saya berpikir, seandainya ada materi pendalaman Alkitab yang berkualitas dalam bahasa Indonesia, supaya bukan hanya orang yang bisa bahasa Inggris saja yang bisa belajar Alkitab. Ternyata Tuhan bekerja dalam hati orang-orang yang mengembangkan aplikasi ini. Yeay!

Saya ingin menunjukkan kepada pembaca sekalian bagaimana menggunakan aplikasi Alkitab dengan beberapa aplikasi lain yang terintegrasi dengan Alkitab. Sebagai awal mulanya, aplikasi Alkitab yang saya maksud adalah ini:

Screenshot_2016-01-16-17-35-06

Pembaca bisa memilih aplikasi Alkitab dari SABDA atau Yuku, sama saja. Saya memakai yang dari Yuku.

Dan selain aplikasi Alkitab itu, ada empat aplikasi lain (jangan kuatir, ukuran file-nya kecil-kecil), yaitu Tafsiran, Kamus Alkitab, AlkitabPEDIA, dan Bible Maps. Tujuan semua aplikasi ini hanya satu: membantu pembaca mengerti apa yang dibaca dalam Alkitab. Seringkali kita bosan saat membaca karena tidak tahu di mana itu tanah Negeb atau Tirus dan Sidon, atau siapa itu Bezaleel dan Aholiab, atau kenapa tanah Kanaan dikatakan “berlimpah susu dan madu.” Semua aplikasi ini akan membantu pembaca untuk mendapat gambaran tentang dunia Alkitab, sehingga firman Tuhan dapat dimengerti.

Masing-masing aplikasi bisa dibuka sendiri-sendiri, tapi dalam post ini saya akan membahas bagaimana menggunakan semua aplikasi itu dari dalam aplikasi Alkitab.

Screenshot_2016-01-16-17-42-29
Tafsiran, Kamus Alkitab, dan AlkitabPEDIA
Screenshot_2016-01-16-17-39-38
Bible Maps

Saya membagi post ini dalam dua bagian. Bagian pertama adalah tentang Kamus Alkitab dan Bible Maps (peta Alkitab), dan bagian kedua adalah tentang Tafsiran dan AlkitabPEDIA.

Contoh bacaan yang saya ambil adalah dari Kejadian 12:1, Abraham dipanggil Tuhan untuk keluar dari negerinya (dan kemudian menuju Kanaan).

 

Screenshot_2016-01-16-17-51-48

Sebelum membahas aplikasi lainnya, saya ingin menunjukkan kepada pembaca beberapa hal berkaitan dengan ayatnya. Pembaca melihat tanda bintang (apostrophe) di akhir ayat pertama. Apa maksudnya?

Screenshot_2016-01-16-17-33-49-2

Tanda bintang itu berarti ada ayat lain yang berkaitan dengan isi ayat ini. Ternyata ayat dengan bunyi yang sama (konteksnya bisa bervarasi) ada dalam dua teks lain dalam Perjanjian Baru. Jadi tanda bintang ini fungsinya sama dengan catatan kaki dalam Alkitab cetak/buku.

Nah, sekarang kita masuk ke pembahasan tentang fitur-fitur aplikasi Alkitab ini.

Kamus Alkitab

Kamus adalah salah satu alat yang paling penting dalam menafsirkan Alkitab, khususnya Perjanjian Lama, karena ada banyak kata yang dikutip langsung dari bahasa Ibrani yang kita tidak tahu artinya. Contohnya Yakub mengubah nama kota Lus menjadi Betel: nama itu berasal dari dua kata Bet yang berarti ‘rumah’ dan El yang berarti ‘Allah’; jadi Betel artinya ‘rumah Allah’. Dia memberi nama itu supaya dia selalu ingat bahwa di tempat itu Allah menemui dia dalam mimpi dan mengikat perjanjian dengan dia. Nah, tau dari mana hal seperti ini? Salah satunya, dari kamus.

Mari kita kembali ke ayat kita tadi, Kejadian 12:1.

Ketika ayat dalam keadaan dipilih, tekan tiga titik di kanan atas (lihat gambar sebelah kiri, bagian yang dilingkari merah). Akan muncul beberapa pilihan. Silakan pilih Kamus (lihat gambar sebelah kanan, bagian yang dilingkari merah). Akan muncul tampilan sebagai berikut:

Screenshot_2016-01-16-17-55-52

Bagian yang digaris bawah dari ayat pertama itulah yang ada definisinya dalam Kamus Alkitab. Untuk melihat arti nama ‘Abram’, pembaca cukup menekan kata ‘Abram’.

Screenshot_2016-01-16-17-55-59

Voila! Muncullah arti namanya (dan mungkin pembaca jadi mengerti mengapa Tuhan mengubah nama Abram menjadi Abraham?). Kalau pembaca ingin tahu lebih jauh tentang Abram/Abraham, pembaca bisa menekan ‘Buka Kamus’ (kanan bawah) dan pembaca akan langsung pindah dari aplikasi Alkitab ke Kamus Alkitab.

Peta Alkitab

Kenapa peta penting?

Saya sedang dalam kegiatan membaca Alkitab dua pasal sehari bersama teman-teman komsel, dan kami sampai di kitab Bilangan (-terdengar tarikan nafas panjang). Sesuai namanya, sebagian isi kitab ini adalah daftar: jumlah masing-masing suku Israel, daftar nama pemimpin Israel, dan daftar nama daerah yang mereka lewati. Sejauh mata memandang, isinya… daftar.

Tapi kemarin ketika sampai pada pasal yang membahas daerah-daerah yang sudah dilewati orang Israel selama otw dari Mesir ke Tanah Perjanjian, saya sangat bersemangat karena saya sibuk melihat peta! Dan ternyata yang pernah saya dengar itu benar: orang Israel diputar-putar 40 tahun di gurun oleh Tuhan, untuk perjalanan yang harusnya hanya menghabiskan beberapa tahun saja. Saya jadi miris melihat betapa dekatnya jarak yang sebenarnya harus mereka tempuh, tapi menjadi sangat jauh karena ketidaktaatan mereka.

Bayangkan mendapat pelajaran seperti itu dari satu pasal yang isinya nama lokasi dan hanya dibantu peta. Firman Tuhan selalu punya sesuatu untuk diajarkan kepada kita. Jangan lewatkan apapun.

Sekali lagi, tujuan dari adanya peta Alkitab adalah membantu kita memahami firman Tuhan. Pembaca tidak akan tahu betapa luar biasanya usaha Paulus untuk memberitakan Injil tanpa mengerti jalur perjalanannya. Atau betapa agung dan luasnya kerajaan Persia dibawah pemerintahan Ahasyweros. Dan banyak hal lain lagi hal yang berharga yang bisa kita dapatkan lewat peta.

Mari kita lihat ayat yang kita bahas dalam Kejadian 12.

Screenshot_2016-01-16-17-33-49-1

Kapanpun pembaca melihat tanda lokasi seperti yang ditunjuk oleh panah merah di atas, itu berarti ada nama lokasi dalam ayat itu yang tercantum dalam peta Alkitab. Kebetulan ayat yang saya jadikan contoh, yaitu Kejadian 12:1, tidak ada nama lokasinya. Tapi dalam ayat 4 ada Haran, yang merupakan nama tempat. Karena itu ayat 4 ini dihubungkan dengan peta. Dan bila pembaca menekan tanda lokasi, petanya akan langsung muncul:

Screenshot_2016-01-16-17-56-32

Perlu diperhatikan bahwa peta dalam Bible Maps ini adalah peta kondisi sekarang, jadi bukan peta kuno pada zaman Alkitab. Menurut saya ini ada bagusnya, karena pembaca jadi tahu apa nama tempat itu sekarang. Sebagian besar nama daerah di Alkitab sudah berubah nama sekarang, kecuali kota-kota yang masih dihuni seperti Yerusalem, Yerikho, dan Betlehem. Seperti Kamus Alkitab, kalau pembaca ingin tahu lebih jauh tentang semua daerah yang disebutkan dalam kitab yang sedang dibuka (dalam hal ini, Kejadian), pembaca tinggal tap ‘Buka Peta’.

Selain itu, karena peta ini terintegrasi dengan Google Earth, pembaca bisa zoom petanya dan melihat atap rumah dan jalan raya dari aerial view. Ini yang bikin saya lama baca Bilangan, karena saya sibuk zoom-zoom dan melihat-lihat rumah-rumah. Hahaha.

(Bersambung. Bagian kedua di sini.)

Install aplikasi: Alkitab, Kamus Alkitab, dan Bible Maps