Matius 8:1-4

Betuel tergesa-gesa berjalan menuju rumahnya. Ia baru saja melihat kejadian yang luar biasa, tapi ia tidak mungkin menceritakannya pada semua orang! Ia tidak sabar menceritakannya pada saudara-saudaranya. Karena begitu bersemangatnya, ia tersandung di depan rumah dan hampir saja jatuh, kalau pundaknya tidak menabrak pintu. Abdiel, adiknya, tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan kakaknya. Yoel, kakak mereka, menghampiri Betuel dan membantunya berdiri sambil tertawa. “Kau baik-baik saja?” tanya Yoel, yang dijawab Betuel dengan mengibaskan tangannya. Abdiel masih saja menertawakannya.

Yoel melihat wajah Betuel yang tidak senang karena ditertawakan. Ia mengalihkan pembicaraan. “Dari mana saja kau?” tanyanya, “Pembelimu sudah menanyakan meja pesanannya.”

Betuel duduk di kursinya, di hadapan meja kerjanya di studio kayu milik keluarga mereka itu. “Aku baru dari kaki bukit,” sahutnya sambil membersihkan tangannya yang kena debu saat jatuh tadi. “Kalian tidak akan percaya apa yang baru terjadi! Apa kalian pernah mendengar rabi Yesus bin Yusuf?”

“Orang Galilea itu?” sahut Abdiel.

“Begitulah!” Betuel memulai ceritanya dengan bersemangat, namun mengecilkan suaranya agar tidak terdengar sampai ke luar. “Ia tadi menyembuhkan orang kusta. Kau tahu? Orang kusta yang sering ada di luar kota itu! Siapa namanya, aku lupa.”

“Orang kusta! Astaga!” timpal Abdiel lagi. Ia buru-buru mengecilkan suaranya ketika Betuel memberi isyarat. Abdiel melanjutkan dengan setengah berbisik, “Dia ‘kan rabi, apa dia tidak tahu bahwa mereka najis? Rabi mana yang menyembuhkan orang kusta? Eh, tunggu, tunggu, katamu dia menyembuhkan orang itu??”

“Ya! Ya! Dia menyembuhkannya! Aku melihatnya sendiri!” Betuel sampai berdiri karena terlalu bersemangat. “Orang kusta itu datang ke hadapannya, lalu minta disembuhkan, lalu ia menyentuhnya, lalu…”

“Tunggu, tunggu,” potong Yoel, “kau bilang dia menyentuh orang kusta itu? Apa dia tidak tahu bahwa hal itu… najis?”

Abdiel ikut memandang kakaknya. “Ya, Betuel, itu najis ‘kan?” ujarnya perlahan.

Betuel memandang kedua saudaranya. “Aku tahu,” sahutnya, “aku juga orang Israel, aku tahu bahwa orang kusta itu najis. Tapi ia menjamah orang itu, aku bersumpah demi langit! Dan orang kusta itu sembuh! Harusnya kalian ada di sana; harusnya kalian melihat sendiri betapa senangnya orang kusta itu ketika rabi Yesus memegangnya dan menyembuhkannya! Wajahnya sangat bahagia…”

Ketiga saudara itu terdiam sejenak. Yoel menggelengkan kepalanya. “Aku belum pernah mendengar seorang rabi – maksudku, seorang rabi! – menyentuh orang kusta. Kau percaya itu?”

“Selain kau, siapa yang melihatnya?” tanya Abdiel.

Betuel mengangkat bahunya. “Sepertinya hanya aku,” sahutnya, “dan murid-muridnya. Aku rasa rabi Yesus kasihan kepada orang itu. Dia hanya ingin sembuh. Hei, kalian tahu, bagian terbaiknya adalah, orang itu sembuh! Aku tidak berdusta. Dia sembuh!”

“Lalu mengapa beritanya tidak ramai di sini?” desak Yoel.

“Ia melarang orang itu memberitahu orang lain,” sahut Betuel. “Ia hanya memintanya menunjukkan diri pada para imam dan mempersembahkan korban. Kau tahu lah bagaimana aturannya. Hei, kau tahu bagaimana ia menyembuhkannya? Kau tahu?” Betuel menjawab sendiri pertanyaannya, “Ia hanya berkata ‘Jadilah tahir!’ dan seketika orang itu sembuh!”

“Wow, aku rasa dia bukan sekedar rabi,” ujar Abdiel tercengang.

“Ya! Ya! Aku juga merasa dia pasti seorang nabi atau sesuatu yang lebih hebat lagi!” timpal Betuel bersemangat.

“Tenang,” Yoel menengahi. “Jadi katamu, orang ini bukan hanya tidak menghindari, tapi juga menyentuh orang kusta, berkata kepada dia, dan dengan begitu menyembuhkan dia? Lalu ia melarang orang itu memberitahu orang lain? Begitu?”

“Ya, betul!” sahut Betuel, masih bersemangat.

Yoel bersandar di tempat duduknya. “Sulit dipercaya ada rabi seperti itu,” ujarnya. “Apa ia tidak ingin dikenal orang? Apa ia tidak suka menjadi rabi paling terkenal di Israel? Mengapa ia melarang orang itu memberitahu orang lain?”

Betuel mengangkat bahu. “Mungkin dia tidak ingin terjadi keributan? Mungkin dia kasihan pada orang kusta itu dan hanya memikirkan supaya dia sembuh, tapi jangan sampai ia sendiri jadi terlalu terkenal. Yah, tak tahulah.”

Mereka semua terdiam. Yoel menerawang jauh dan bergumam, “Kalau dia begitu rendah hati… Apakah Tuhan mengirim utusannya pada kita?”

“Sebenarnya ada sesuatu yang tidak biasa,” ujar Abdiel. Kakak-kakaknya memandangnya, menunggu penjelasan. Ia mengangkat bahu. “Yah, kupikir, biasanya nabi akan memanggil nama Tuhan sebelum menyembuhkan orang atau melakukan mujizat. Tapi ia hanya berkata ‘Jadilah tahir!’ dan orang itu sembuh. Tidakkah kalian pikir dia punya kuasa sendiri?”

“Apa maksudmu? Tentu saja tidak ada kuasa lain selain kuasa Tuhan!” bantah Yoel.

“Iya, aku tahu, aku tahu. Tuhan kita Esa, terpujilah nama-Nya!” balas Abdiel. “Maksudku… Apakah mungkin… Dia adalah…”

Mereka semua terdiam. Betuel memandang adiknya. “Apa kau berkata dia adalah Tuhan?”

Abdiel lagi-lagi mengangkat pundaknya. “Jujur, aku sempat berpikir begitu.”

“Kau gila!” ujar Yoel. “Tuhan ada di surga, ia tak mungkin menjadi manusia!”

“Yah, aku hanya berpikir… Kau ingat nabi Yesaya berkata tentang Mesias sebagai ‘Allah yang perkasa’, bukan? Lagipula, bukankah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan?” sahut Abdiel santai, sambil kembali ke balik meja kerjanya untuk menyerut kayu.

Yoel dan Betuel berpandang-pandangan sambil tercengang.

4 thoughts on “Matius 8:1-4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s