Belajar Kepemimpinan Dari Nehemia 2

Secara istimewa, kitab Nehemia yang mengajar kita tentang kepemimpinan dimulai dengan sebuah krisis, yang diteruskan, bukan oleh perencanaan atau keperkasaan sang tokoh utama, tapi oleh doa.

Sebelum tindakan apapun diambil, baiklah orang dengan karunia apapun, termasuk kepemimpinan, memulai dengan doa.

Nehemia datang kepada Tuhan. Doanya bukan berisi kemarahan atau protes terhadap Tuhan, namun merupakan wujud kerendahan hati dan pengenalan akan Tuhan yang mendalam, karena ia minta ampun atas dosa bangsanya. Kasihnya kepada Tuhan adalah motivasinya yang utama. Hal ini sungguh menarik, karena ia meminta izin dari Tuhan terlebih dahulu sebelum memulai rencana apapun. Ia meminta belas kasihan dan pengampunan Tuhan, agar rencananya berhasil.

Berapa lama ia berdoa? Satu-dua hari? Alkitab mencatat bahwa Nehemia mendapat kabar tentang runtuhnya tembok Yerusalem pada bulan Kislew dan ia mulai membicarakan masalah itu dengan raja pada bulan Nisan. Jarak antara kedua bulan itu sekitar empat bulan. Nehemia berdoa dengan sungguh-sungguh (dan tentunya memikirkan berbagai rencana) selama empat bulan! Adalah bijaksana untuk mengikuti teladan Nehemia yang tidak sembarangan menjalankan tindakan namun dengan sabar berdoa dan berpikir tentang apa yang akan ia kerjakan.

Kita dapat melihat dalam catatan Alkitab bahwa Nehemia sangat terpukul mendengar berita runtuhnya tembok Yerusalem. 141 tahun tembok itu menjadi reruntuhan. Sebagai seorang Yahudi sejati yang mencintai tanah airnya, ia sakit hati mengetahui keadaan kota Allahnya yang hancur. Raja Artahsasta, penguasa seluruh wilayah Persia, melihat perubahan suasana hati orang kepercayaannya itu, dan menjadi penasaran. Dalam pembicaraan pribadi mereka, Nehemia memberitahu raja tentang apa yang dialami oleh kota asalnya. Raja menghela nafas dengan prihatin, lalu bertanya, “Lalu kamu mau berbuat apa?”

Mata Nehemia berbinar ketika ia menjawab, “Raja, aku mau membangun kembali tembok Yerusalem.”

Bagi seorang pemimpin, krisis bukan hanya sesuatu yang jadi bahan pembicaraan. Krisis adalah untuk diselesaikan.

Seorang pemimpin adalah seorang perintis. Nehemia mendengar adanya krisis dan ia sadar ia harus berbuat sesuatu. Seseorang yang diberi karunia kepemimpinan secara unik dapat mengetahui apa yang harus ia perbuat ketika sebuah krisis mengusik hatinya. Kita sekarang mengenal istilah ini dengan kata visi. Kira-kira begitulah maknanya.

Setelah mendapat izin dari raja, dengan cepat Nehemia meminta juga surat pengantar dari raja untuk melewati daerah-daerah di seberang sungai Efrat, serta surat bagi Asaf, supaya ia membantu Nehemia dengan keperluan bahan-bahan material untuk membangun tembok Yerusalem. Ia berangkat dengan satu pasukan lengkap. Dan sepanjang perjalanan, ia memperhatikan orang-orang yang ia temui. Kemudian ia mendapati bahwa Sanbalat dan Tobia, dua orang pejabat di daerah sekitar Yehuda, tidak senang dengan apa yang sedang ia kerjakan. Nehemia menyimpan informasi itu di dalam pikirannya, dan sejak itu selalu berhati-hati dengan mereka berdua.

Seorang pemimpin mempersiapkan dan mengantisipasi segala sesuatu sebelum menjalankan rencananya.

Mungkin ada orang yang akan menyebut Nehemia terlalu pesimis dan serba takut, karena ia meminta surat pengantar dari raja, terlalu berhati-hati pada Tobia dan Sanbalat, dan sebagainya. Namun langkah Nehemia jauh dari pesimis; ia berhati-hati. Ia adalah orang pemerintahan, dan ia menyadari bahwa banyak sekali orang yang punya kepentingan politis di sekitarnya. Dengan cerdik ia menggunakan posisinya sebagai orang yang terdekat dengan raja untuk mendapatkan surat pengantar, sehingga bupati-bupati daerah lain tidak akan berani berbuat macam-macam padanya. Ia mempersiapkan bahan-bahan untuk membangun kota. Ia berhati-hati dengan orang-orang yang tidak suka dengan rencananya. Ia adalah seorang ahli strategi yang cerdik. Empat bulan waktu doa dan persiapan tidak ia habiskan dengan sia-sia. Ia serius dengan rencananya ini.

Setelah tiga hari di Yerusalem, Nehemia mengadakan penelitian lapangan sendirian. Ia mengitari tembok itu sepanjang malam dan melihat di bagian mana saja perbaikan perlu dilakukan, separah apa kerusakannya, dan seterusnya. Ketika ia kembali dari penelitian itu, ia telah memiliki keterangan lengkap tentang apa saja yang harus dilakukan. Sekarang sudah ada cetak biru dari pekerjaan pembangunan kembali tembok Yerusalem, dan ia tinggal mengumpulkan orang-orang untuk membangunnya.

Bagian kedua ini adalah tentang persiapan pembangunan oleh Nehemia. Setelah ini kita akan membahas Nehemia 3, yang berisi daftar nama dan pembagian tugas yang luar biasa rinci dan tersusun dengan baik. Tunggu bagian ketiganya ya!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s