Amsal: Hikmat (Minggu Pertama)

Ini adalah bagian pertama dari empat seri pembicaraan kita tentang kitab Amsal yang bakal selesai dibahas dalam DJ selama satu bulan.

Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel,

untuk mengetahui hikmat dan didikan,
untuk mengerti kata-kata yang bermakna,

untuk menerima didikan yang menjadikan pandai,
serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,

untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman,
dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda–

baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu
dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–

untuk mengerti amsal dan ibarat,
perkataan dan teka-teki orang bijak.

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan,
tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.

Apa sih, tujuan ditulisnya Amsal?

Amsal ditulis untuk dua macam orang: mereka yang muda dan tidak berpengalaman dan tidak berpengertian, serta mereka yang sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan. Tidak ada seorang pun di dunia yang cukup pandai untuk mengerti hidupnya, sekalipun dia berpengalaman. Kita bisa melihat hidup kita beberapa tahun yang lalu dan mengidentifikasi kebodohan yang kita lakukan waktu itu; tapi ketika itu, kita tidak tahu bahwa yang kita lakukan adalah hal yang bodoh! Kalau kita harus menunggu beberapa tahun lagi untuk menyadari kesalahan kita hari ini, maka hidup kita akan dipenuhi dengan kebodohan dan penyesalan. Hikmat dalam bahasa Ibrani adalah hokmah, yang berarti the skill of living. Kita membutuhkan itu. Kita membutuhkan instruksi yang baik dan benar tentang bagaimana kita harus menjalani hidup.

Let’s ask questions!

Q1: Siapa yang bisa memberi kita hikmat?

Dia haruslah:
seorang pribadi
yang sudah pernah hidup
yang masih hidup
yang memahami keadaan kita sekarang (relevan)
yang memiliki hikmat itu sendiri
yang mau mengajar kita.

“Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 2:6)

Tuhan, pribadi yang kekal, yang melihat manusia dari waktu ke waktu, yang menciptakan kita – Dialah yang paling tahu bagaimana seharusnya kita hidup! Masalahnya, apakah Dia mau mengajar kita?

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Tuhan mau – bukankah itu kabar baik? Tuhan mau! Bahkan Dia menginspirasikan FirmanNya supaya kita belajar bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Salomo berkata bahwa ia menulis Amsalnya supaya orang mendapatkan pengertian. Ini semua ditulis untuk kita! Ini semua “diilhamkan Allah” – Allah sendiri yang mengajar kita lewat tulisan-tulisan dalam Alkitab. Jadi bila kita bertanya, siapa yang bisa mengajar kita? Tuhanlah yang sanggup melakukannya – dan Tuhan telah menginspirasikan FirmanNya untuk kita pelajari, supaya kita berhikmat.

Q2: Tidak adakah hikmat di luar Tuhan?

Bagaimana dengan orang-orang bijak di masa lalu? Seperti Socrates, Konfusius? Bukankah mereka berhikmat? Bagaimana dengan guru-guru etika? Bagaimana dengan filosofi-filosofi sepanjang masa?

Mereka memang memiliki kebijaksanaan – istilah “kebijaksanaan” aku pakai dengan sangat lepas – yaitu logika berpikir yang lebih dari orang pada umumnya. Bahkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip etis yang lebih tinggi dari orang lain. Namun begitulah akhirnya. “Hormati orang tua.” Terima kasih, saya tahu itu hal yang baik untuk dilakukan. Tapi di mana ada anak di dunia yang tidak pernah melawan orang tuanya? “Jangan egois.” Ya, itu hal yang baik. Namun saya tidak berdaya melawan natur saya sendiri untuk tidak bersikap egois.

Apa bedanya hikmat Allah? Bukankah hikmat itu sekedar sesuatu yang ada di pikiran? Ataukah memang ada keunggulan dari hikmat Allah?

“Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkanNya langit, dengan pengetahuanNya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.” (Amsal 3:19-20)

Hikmat dari Allah merupakan hikmat yang berkuasa. Kita, orang-orang Kristen, percaya pada Allah yang supernatural. Dia lebih dari manusia dalam segala hal. Dia adalah sumber segala sesuatu yang baik. HikmatNya memiliki kuasa untuk “meletakkan dasar bumi”. Bayangkan apa yang bisa Dia lakukan dalam hidup kita! Tentu saja Dia bisa menolong kita untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Tuhan bukan sekedar memberi pengertian – Dia memberi kuasa untuk melakukan apa yang kita tahu kita harus lakukan itu.

Q3: Adakah hal-hal lain di luar Firman Tuhan yang dipakai Tuhan untuk menolong kita mendapat hikmat?

Ya! Persis di bawah Amsal 1:1-7 kita menjumpai ayat 8 yang berkata:

“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.”

Orang tua hidup lebih lama dari kita dan – selain dalam kasus-kasus tertentu – mereka mengharapkan yang terbaik untuk kita. Jangan sia-siakan didikan orang tua yang mengasihi Tuhan, karena apa yang mereka berikan pada kita, mereka pelajari dari sekolah kehidupan yang dipimpin oleh Tuhan sendiri.

Selain itu, Amsal memberitahu kita bahwa ada orang-orang di sekitar kita yang berniat baik, yang takut akan Tuhan, dan bisa menolong kita dalam hikmat praktis dalam hidup sehari-hari.

“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” (Amsal 13:20)

Mereka ditempatkan Tuhan di sekitar kita untuk menolong kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dan kita bukan hanya disarankan, melainkan diperintahkan untuk menggali hikmat dari mereka.

Tantangan!

Dalam dunia yang gila ini, kita sangat membutuhkan hikmat. Semua orang hidup semaunya sendiri dan berharap kita mengikuti gaya hidup mereka – tanpa mau bertanggung jawab bila kita sampai salah jalan. Mereka akan bilang, “Salah sendiri ikutin gue!” Jangan ikuti orang-orang seperti itu. Ikutilah Dia, yang memperhatikan kesejahteraan kamu dan peduli pada kamu: Tuhan, yang menciptakan dan yang paling mengerti apa yang terbaik bagi hidup kamu.

  1. Bacalah Amsal selama satu bulan, satu pasal setiap hari. Amsal terdiri dari 31 pasal, jadi kamu akan selesai membaca semuanya dalam sebulan. Amsal adalah kitab kebijaksanaan praktis – dan Tuhan ingin kita bukan hanya spiritual, tapi juga street-smart – mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam hidup sehari-hari, mulai dari makan sampai menjalani hubungan serius dengan seseorang.
  2. Sembari kamu membaca Amsal, perhatikanlah hidup kamu sendiri. Di bagian apa saja dalam hidup kamu, kamu butuh lebih banyak hikmat? Bisa jadi managemen waktu, makan, pergaulan, studi, perencanaan, mengontrol emosi, merendahkan diri, belajar Firman Tuhan, dan lain-lain. Jujurlah pada diri sendiri dan berdoalah supaya Tuhan menunjukkan apa yang harus diubah – supaya waktu satu bulan ini benar-benar berguna untuk perubahan hidup kamu.

Minggu depan kita akan membicarakan tentang Hati. Come to DJ and let’s learn together – don’t miss it!🙂

DJ (Dating with Jesus) tiap Kamis jam 6.30 PM di MYC lounge, UPH.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s