Amsal: Kebodohan (Minggu Ketiga)

Ini adalah bagian ketiga dari empat seri pembicaraan kita tentang kitab Amsal yang bakal selesai dibahas dalam DJ selama satu bulan.

“Some things are not sin. They’re just.. dumb.”
– Mark Driscoll

Sebagian besar Amsal yang ditulis Salomo adalah perbandingan antara orang bodoh (atau bebal, atau pencemooh, maksudnya sama aja) dengan orang bijak. Hari ini kita bakal belajar seperti apa kebodohan itu – dan dengan demikian kita sambil belajar juga seperti apa kebijakan itu. Hari ini kita membicarakan diri sendiri. Jadi jangan tuding orang lain dulu, yang pertama dikoreksi haruslah diri sendiri. Kalo ada yang tersindir, bertobat ya. Justru kalo kamu ga mau bertobat, kamu secara resmi masuk liga orang bodoh. (Ini Alkitab yang bilang, lho.)

Tanya Diri Sendiri

Q1: Apakah aku orang yang ga mau ditegur?

Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya,
kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya. (9:8)

Si pencemooh tidak suka ditegur orang;
ia tidak mau pergi kepada orang bijak. (15:12)

Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian
dari pada seratus pukulan pada orang bebal. (17:10)

Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri,
tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak. (12:15)

Perhatikan sikapmu. Yang menyedihkan dari orang yang benar-benar bodoh adalah, dia ga mau dikoreksi. Sekarang kita ngaca ke diri kita sendiri lah. Kalo orang menegur kita, gimana reaksi kita? Pilih antara 2 jawaban ini:

A: “Ah, lu kan ga tau kondisinya. Lu jangan asal nge-judge aja. Lu ga kenal gue.” Dst dsb.. – Pokoknya membela diri.

B: “Gitu ya? Menurut lu harusnya gimana? … Makasi ya buat masukannya.”

Kalo jawaban kamu yang A, kamu adalah orang bod*h. Kenapa? Karena kamu ga bisa ditegur. Kamu akan menghindar dari orang-orang yang bisa kasi kritik untuk kamu. Kamu ga mau disalahkan. Kamu mau orang “ngertiin kamu”, anggep kamu pinter, percaya kamu yang paling tau apa yang harus kamu lakukan, dan kalo kamu cerita apapun mereka cuma boleh manggut-manggut doang tanpa protes. Alkitab, bukan aku, menyebut orang seperti itu “pencemooh”. Bukan gelar yang menarik.

Q2: Dengan siapa aku bergaul?

“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak,
tetapi siapa bergaul dengan orang bebal menjadi malang.” (13:20)

Lihat pergaulanmu. Dengan siapa kamu bergaul? Kapan terakhir kali kamu dan teman-teman terdekatmu membahas tentang Tuhan? Siapa Tuhan di mata kalian? Apa aja yang kalian kerjakan? Sebagian besar waktu kalian dihabiskan untuk apa?

Kumpulan pencemooh adalah orang-orang yang ga produktif. Yang mereka kerjakan cuma kumpul-kumpul, hedon, bersenang-senang, ngerumpi, shop till drop, dst. Kalo ngobrol, yang diomongin adalah berbagai keluhan tentang betapa ngeselinnya bos mereka, betapa banyaknya tugas mereka, betapa resenya orang tua, dan seterusnya. Dan mereka ga sempat memperhatikan hidup satu sama lain karena mereka sibuk membicarakan diri masing-masing. Fokusnya selalu ke diri sendiri.

Good friends are fun. Pertemanan, persahabatan, itu harus menyenangkan, kalo engga, apa asiknya punya teman/sahabat? Tapi kita harus sadar bahwa persahabatan sejati tidak selalu menyenangkan. Waktu masih kuliah, teman-teman terdekatku adalah orang-orang yang paling berani mengkritik aku. Dengan terang-terangan mereka bisa bilang, “Lu mikir dulu dong, kalo mo ngomong,” atau “Makan aja mie instan terus, paling 15 taun lagi lu mati gara-gara kanker,” atau, “Lu tu bukan orang paling pinter di dunia loh.” Ouch, it hurts! Tapi mereka adalah teman-teman sejati, yang menegur aku karena mereka peduli. Perhatikanlah: apakah teman-teman terdekatmu:

Berani menegur kamu waktu kamu salah?
Rela bertengkar sama kamu kalo itu demi kebaikanmu?
Tau kapan harus have fun dan kapan harus serius?
Mau tolongin kamu waktu kamu kesulitan?
Mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh?

Q3: Seperti apa omonganku?

“Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya,
tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.” (14:3)

“Jika orang bijak beperkara dengan orang bodoh,
orang bodoh ini mengamuk dan tertawa, sehingga tak ada ketenangan.” (29:9)

“Orang bijak menyimpan pengetahuan,
tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam.” (10:14)

Perhatikan kata-katamu. Pernah kan, ketemu orang yang dari omongannya aja kita tau bahwa ini orang bodoh? Sebelum kita buru-buru menunjuk orang, lebih baik kita tanya pada diri kita sendiri: Apakah aku seperti itu? Apakah aku mikir baik-baik sebelum ngomong, atau kata-kataku kebanyakan spontan dan, kalo dipikir-pikir, sebenernya ga berbobot? Apakah aku sering kena masalah gara-gara omonganku? Apakah orang lain seneng kalo denger aku ngomong karena ada sesuatu yang bisa mereka pelajari dari aku?

Bukan hanya omongan, tapi juga apapun yang keluar dari kita. Misalnya tweet (ouch!). Kalau kita langganan nge-twit yang ga penting, yang isinya emosi, yang nyindir orang, maka kata-kata kita, seberapapun bagus grammar-nya, seberapapun puitis isinya, menunjukkan bahwa kita orang bodoh yang tidak bisa mengendalikan diri.

Perlu aku informasikan, teman-teman, bahwa orang yang pandai, yang bijak, biasanya berhati-hati kalo ngomong, apalagi mengutarakan pendapat yang serius. Ini bukan berarti orang-orang sanguin harus mengubah kepribadian – tapi kita semua, seperti apapun kepribadian kita, harus belajar buat ga ngomong sembarangan.

Q4: Apakah aku mengelola sumber daya (waktu, tenaga, uang, pikiran, kegiatan, dll) dengan baik?

“Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan,
tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.” (13:16)

“Rancangan terlaksana oleh pertimbangan,
sebab itu berperanglah dengan siasat.” (20:18)

“Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu. Karena harta benda tidaklah abadi. Apakah mahkota tetap turun-temurun? Kalau rumput menghilang dan tunas muda nampak, dan rumput gunung dikumpulkan, maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk pembeli ladang, pula cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, dan untuk penghidupan pelayan-pelayanmu perempuan.” (Amsal 27:23-27)

Pasti semua pernah denger istilah “maksimal”. Istilah itu seolah jadi patokan untuk seberapa baik kita bekerja. “Kita harus memberikan usaha terbaik,” maksudnya adalah, “Kita harus kerja sampe gempor dan tepar setepar-teparnya.” Kalo belom tumbang, berarti belum terbaik. Lucunya, Amsal justru mengatakan kebalikannya.

Kita adalah penatalayan (steward); Tuhan mempercayakan banyak hal bagi kita: kesehatan, uang, talenta, waktu, tenaga, intelegensi, teman, pelayanan, dan sebagainya – dan semua itu, bukan salah satu saja, harus kita kelola dengan baik. Amsal mengajar kita untuk berpikir paralel dan mengelola itu semua tanpa harus kehabisan tenaga di salah satunya. Tidak bijak bila kamu, seperti aku dulu, habis-habisan pelayanan di Youth Camp sampe sakit; tidak bijak bila kamu bermalas-malasan dan menunda kerjain tugas sampe H-1; tidak bijak bila kamu begadang terus, makan jam 1 pagi, tidur jam 4 pagi, sampe akhirnya jatuh sakit. Semua harus berjalan bersama-sama dengan baik dan memberi hasil yang optimal untuk kemuliaan Tuhan.

Jadi kalo sampe itu terjadi dalam hidup kalian, kalo sampe kalian harus begadang terus buat mengerjakan segala sesuatu, kalo kalian pelayanan sampe mo pingsan saking capenya, kalo jam tidur kalian terlalu sedikit, kalo kegiatan kalian terlalu banyak, kalo 24 jam sehari ga cukup dan kalian sering kecapean, itu adalah kebodohan dan Tuhan ga suruh kita berbuat seperti itu. Camkan itu.

Yuk, Berubah Yuk!

Yakobus berkata bahwa orang yang hanya mendengar Firman tapi tidak mau melakukannya adalah seperti orang yang melihat wajahnya di cermin; ia bisa mengidentifikasi masalah apa yang ada dengan dirinya, namun dia tidak mau memperbaiki diri dan meninggalkan cermin itu. Itulah orang bodoh. Ga enak disebut orang bodoh – aku tau – tapi seringkali kita harus mengakui kekurangan kita kalo emang mau jadi orang yang lebih baik.

  1. Think. Apakah kamu selalu keteteran masalah waktu? Selalu kehabisan duit di tengah bulan? Sering sakit? Minta hikmat pada Tuhan dan mulailah buat perencanaan. Jangan lagi hidup que sera sera tanpa rencana. Kalau kamu berbuat begitu, kamu menyia-nyiakan resource yang Tuhan berikan.
  2. Observe. Bukan hidupnya orang lain, tapi hidup kamu sendiri. Cek dirimu sendiri secara teratur dan perhatikanlah kebodohan yang kamu lakukan, supaya kamu ga mengulang kesalahan itu lagi.
  3. Listen. “Dengarkanlah nasehat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan” (Amsal 19:20). Diam, dengarkan, catat. Jangan buru-buru mau ngomong, komentar, membela diri, ngetwit, atau semacam itu. Dengarkan.

“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak,
takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.”
-Amsal 3:7-

“Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
-Efesus 5:17-

5 thoughts on “Amsal: Kebodohan (Minggu Ketiga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s