Sekitar tahun 2014, saya membuat akun Instagram, dan tidak sengaja ketemu lagi dengan sesuatu yang sudah lama saya lupakan: hand-lettering. Memang waktu kuliah DKV (desain grafis), mata kuliah yang sangat saya sukai adalah Tipografi (gampangnya, ilmu tentang serba-serbi huruf). Gara-gara Instagram, saya jadi mulai menggambar huruf lagi, dan ternyata pada masa-masa itu memang hand-lettering sedang ngetren (lagi), dan di Indonesia sendiri komunitasnya berkembang pesat.

Hand-lettering berarti ya seperti namanya: menggambar huruf secara freehand. Tapi dalam membuat karya hand-lettering, banyak yang perlu diperhatikan: proporsi huruf (tentunya), layout, flow, dsb dst dll yang istilah-istilah grafis gitu lah. Biasanya orang-orang yang tidak punya latar belakang desain dan mulai membuat hand-lettering pasti bermasalah dalam hal-hal teknis (walaupun umumnya mereka tidak sadar ada masalah tsb). Tapi dengan latihan, banyak melihat karya orang, dan belajar secara mandiri, pasti ada perkembangan. Dan setelah mahir, orang tersebut akan melihat karya pertamanya dua tahun yang lalu yang dulu ia bangga-banggakan, dan… menangis, saking jeleknya. Hahaha. Namanya juga belajaarr…

Sekilas info, per hari ini, saya tidak menjalankan bisnis hand-lettering, alias ga terima job. Dikarenakan saya punya dua pekerjaan penuh waktu, yang satu resmi, yang satu tidak resmi; alhasil saya tidak punya waktu untuk banyak latihan dan mengerjakan orderan. Padahal kalau ga latihan, ga bisa cepet mengerjakannya, dan kalau ga cepat, ga selesai-selesailah orderan. Memang kalau mau menekuni suatu ilmu, perlu banyak waktu untuk latihan.Bagi banyak orang, seni dan desain itu “cuma begitu doang”, tapi sama seperti musik, sastra, tari, dan cabang-cabang seni yang lain, seni grafis membutuhkan belajar dan latihan terus-menerus. Tidak ada orang yang langsung mahir dalam sekali coba; perlu bertahun-tahun untuk mengembangkan diri.

Salah satu ciri negara maju adalah seniman dan karya seni mendapatkan apresiasi yang layak, seimbang dengan kreativitas dan usahanya. Indonesia belum bisa digolongkan negara maju, karena lagi dan lagi kita mendengar orang berkomentar tentang seni (segala aliran), “Cuma begitu doang kok mahal amat” – yang menunjukkan ketidakmengertian mereka terhadap hal-hal yang bersifat non-material (dalam hal ini, ilmu dan kreativitas). Tapi saya optimis lah, dengan makin majunya pendidikan dan pelayanan sosial, makin banyak orang berpendidikan di negara kita, dan pasti apresiasi terhadap bidang usaha jasa dan seni makin baik. Mungkin tidak terjadi selama saya masih hidup di dunia, tapi moga-moga tahun 2100 sudah tidak seperti ini. Hahaha.

Berikut ini adalah beberapa karya-karya saya. Pembaca bisa melihat yang lain di Instagram saya: @gloryekasari.

Lively-Oracles-small

DSC_0571_2

O-Come

Poster-Frame