Gagal Atau Berhasil?

Apa yang terbersit dalam benak pembaca ketika mendengar “hamba Tuhan yang luar biasa”?

Kalau saya, jujur saja, yang muncul adalah seorang yang berkhotbah kepada puluhan ribu orang, yang bisa membuat mujizat, yang pembawaannya kharismatik, yang punya aura tertentu mungkin, dan jemaat gerejanya banyak, namanya dikenal banyak orang. Itu baru “luar biasa”.

Tetapi kalau memang “luar biasa” atau “sukses” atau “berhasil” diukur dengan standar yang demikian, maka ada satu tokoh yang sama sekali tidak bisa disebut berhasil (yang mana bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus katakan tentang dia). Dia adalah Yohanes Pembaptis.

john-the-baptistRasanya tidak ada seorangpun, dengan standar sekarang, yang akan berkata bahwa Yohanes adalah hamba Tuhan yang luar biasa atau berhasil. Yang ada, mungkin mereka mempertanyakan apakah Yohanes punya “dosa yang disembunyikan” atau semacam itu, karena hidupnya berakhir mengenaskan.

Matius 14:1-12 menceritakan akhir hidup Yohanes.

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.  Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.  Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 

Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,  sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.  Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.”  Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.  Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Not an impressive ending. Yohanes memulai pelayanannya dengan cemerlang: setelah 400 tahun tidak ada suara kenabian di Israel, orang Israel dengan bersemangat menyambut kedatangan putera dari seorang imam ini, yang menyerukan pada bangsa itu bahwa mereka harus bertobat. Dari berbagai daerah, orang datang berbondong-bondong untuk mendengarkan khotbahnya dan merespon dengan baptisan. Fyi, baptisan ini adalah respon yang luar biasa, karena bagi orang Yahudi, hanya orang non-Yahudi yang masuk agama Yahudi yang perlu dibaptis, sementara mereka sendiri, yang sejak lahir sudah keturunan Abraham, tidak memerlukan baptisan. Tetapi mereka mau dibaptis oleh Yohanes sebagai tanda pertobatan! Sebesar itulah pengaruh Yohanes di Israel.

Kemudian Yesus memulai pelayanan-Nya di tanah Yudea, dan dalam waktu singkat, everything went downhill for John.

Yohanes seperti kalah bersaing. Murid-muridnya pindah perguruan dan malah mengikuti Yesus, Yesus jadi lebih popular disbanding dia, dan dia bahkan dimasukkan dalam penjara oleh Herodes. Akhir hidupnya tidak kalah mengenaskan: dia dipancung dan kepalanya dijadikan tontonan di pesta Herodes.

Seperti yang saya katakan di atas, untuk ukuran masa kini, tidakkah kita akan berpikir bahwa Yohanes melakukan kesalahan fatal sampai dia “dihukum” oleh Tuhan dan hidupnya berakhir demikian? Karena bukankah keberhasilan diukur dengan public recognition, hal-hal yang spektakuler, dan kekayaan?

Untuk menjawab apakah Yohanes berhasil atau gagal, ada baiknya kita melihat dulu apa yang sebenarnya menjadi misi kehidupannya di dunia. Kita tahu bahwa bila seseorang memenuhi misinya, maka dia berhasil; dan sebaliknya, bila seseorang tidak memenuhi misinya—sekalipun dia mendapatkan hal-hal lain di tengah jalan—maka dia gagal. Misi Yohanes jelas dalam Matius 3:1-3:

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: 

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Kehidupan Yohanes dapat disimpulkan secara sederhana demikian:

  1. Pesan yang dia bawa adalah: “Bertobatlah.”
  2. Dia datang untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan yang akan segera datang, yaitu Yesus.

Mengapa Yohanes dipenjara? Persis karena dia menyampaikan pesan yang selalu dia sampaikan: “Bertobatlah!” Kali ini dia menyampaikannya pada Herodes, yang mengambil iparnya sendiri menjadi isterinya, sehingga Herodes marah dan memenjarakannya. Karena menyampaikan pesan yang harus dia sampaikan, Yohanes akhirnya dihukum mati.

Dan tentang persiapan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus, John actually did a wonderful job! Dia bukan hanya memberitahu orang-orang secara diam-diam; dia memproklamirkan siapa Yesus di depan orang banyak, sehingga semua orang langsung tahu bahwa Yesuslah Juruselamat yang akan datang itu. Karena proklamasinya ini—karena dia melakukan apa yang harus dia lakukan, Yohanes kehilangan pengikut dan popularitasnya.

Yohanes sama sekali bukan orang gagal, karena dia berhasil menjalankan misinya dengan setia, bahkan sampai hari terakhir hidupnya. Kehidupan dan kematian Yohanes adalah sebuah success story.

Sebagai anak-anak Tuhan yang akan hidup dalam kekekalan bersama Tuhan kita, mari kita ubah cara berpikir kita. Kalau biasanya kita mengukur kesuksesan, keberhasilan, atau tingkat kepuasan Tuhan terhadap hidup kita dari hal-hal fisik dan duniawi seperti kekayaan, kesenangan, pengakuan dari orang lain, ketenaran, dsb, berarti kita mengukurnya dari sudut pandang yang sama dengan dunia. Bagi dunia, Yohanes gagal habis-habisan—demikian pula Tuhan Yesus! Tapi nyatanya mereka berhasil, karena kehidupan dan kematian mereka selaras dengan misi yang mereka bawa.

Coba berhenti sebentar dan pikirkan: Sebenarnya saya ini hidup untuk apa? Untuk mengejar hal-hal yang akan binasakah? Kalau untuk mengejar kesuksesan, sukses dari sudut pandang siapa? Kalau mengejar sebuah tujuan, tujuannya siapa? Kalau mengejar penghargaan, penghargaan dari siapa? Jangan sampai di akhir hidup kita, kita baru sadar bahwa kita mendapatkan banyak hal selama hidup, tapi malah gagal memenuhi misi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s