Mengapa Kita Menyanyi

violin.jpg

Suatu ketika, waktu lagi bikin bahan untuk Pendalaman Alkitab, bahan yang saya bahas membuat saya tiba-tiba berpikir, kenapa orang Kristen suka menyanyi?

Kalau orang Kristen kumpul untuk ibadah, apa yang mereka lakukan? Nyanyi dulu. Hari Minggu, sebelum dengar khotbah, nyanyi lagi. Di kamar mandi, nyanyi lagu rohani lagi. Di rumah, nyanyi sendiri pakai gitar dengan chord ala kadarnya. Album rohani Kristen juga sepertinya paling banyak dibanding agama-agama lain. Kalau dihitung dari zaman awal ada kekristenan sampai sekarang, entah sudah berapa juta lagu (termasuk yang tidak diterbitkan) yang digubah orang Kristen.

Kemudian saya menyadari sesuatu yang sangat menarik.

Di dunia ini, hal yang paling mendorong manusia untuk menyanyi itu bukan masalah ekosistem, bukan politik, bukan hobi, bukan uang (walaupun katanya itu favorit manusia), tetapi cinta. Karena cinta, orang menulis lagu. Cinta itu membangkitkan emosi yang sedemikian sehingga kreativitas ikut tergugah, dan nada-nadapun tercipta.

Sehingga tidak heran kalau orang Kristen suka menyanyi, dikit-dikit nyanyi, dan selalu ada lagu baru. Karena cinta adalah dasar dari hubungan kita dengan Tuhan. Bukan peraturan, bukan ketakutan, bahkan bukan ketaatan, tetapi cinta. Sejak awal inilah yang Tuhan katakan:

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” ―Ulangan 6:4-5

Tidak ada yang lain selain Tuhan. Hanya Dia satu-satunya Tuhan yang hidup, dan yang diinginkan Tuhan yang hidup itu adalah agar kita mengasihi Dia.

Pikirkanlah. Tuhan bisa meminta apa saja dari kita. Dia bisa minta uang kita, persembahan kita, tenaga kita, keahlian kita, dll. Tetapi yang Dia inginkan ternyata adalah hati kita, kasih kita. Kasih yang tidak terbagi, penyembahan yang tidak tertandingi, sehingga kita bukan hanya mati bagi Dia, tetapi juga hidup bagi Dia.

Dan bukan hanya Dia meminta kasih yang sepenuhnya dari kita; Dia sendiri menunjukkan kasih-Nya kepada kita.

“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” ―Yeremia 31:3

Dulu saya suka ayat itu karena saya pikir kata-katanya romantis-romantis gimana gitu. Tapi ketika saya mempelajari firman Tuhan lebih dalam dan belajar tentang kitab Yeremia, saya sadar bahwa konteksnya sama sekali bukan kasih yang romantis.

Nabi Yeremia membawa berita penghukuman bagi bangsa Israel. Selama 500 tahun Tuhan bertahan dalam kasih-Nya kepada bangsa yang berkali-kali mengkhianati Dia dan menyembah dewa-dewa yang mati, dan akhirnya Dia memutuskan bahwa waktu penghukuman sudah tiba. Dia mengutus Yeremia untuk memperingatkan Israel bahwa bangsa Babel akan menghancurkan mereka (yang mana dilihat sendiri penggenapannya oleh Yeremia). Tetapi berita penghukuman bukan satu-satunya berita yang disampaikan Tuhan melalui nabi Yeremia. Tuhan juga berbicara tentang sesuatu yang sangat penting, yang di kemudian hari digenapi di dalam Yesus Kristus―sebuah istilah yang mungkin banyak dari kita tidak tahu bahwa asalnya dari kitab Yeremia: Perjanjian Baru.

Ya, Tuhan tidak meninggalkan perjanjian-Nya dengan Israel. Mereka melanggar perjanjian hidup-mati dengan Tuhan―bukan sekali tetapi entah berapa ratus kali; seandainya Tuhan membatalkan perjanjian itu, tentu Dia tidak salah. Tetapi Dia tidak melakukannya. Bukan hanya Dia tidak membatalkan perjanjian itu, Dia memperbaruinya. Ketika orang Israel dalam pembuangan, Dia berkata kepada mereka melalui nabi Yehezkiel:

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” ―Yehezkiel 36:26-27

“Suatu hari,” kata Tuhan, “Aku sendiri akan turun tangan mengubah kamu dari dalam, sehingga kamu mengasihi Aku dan menaati Aku dengan sungguh-sungguh.” Inilah pembaharuan perjanjian itu.

Mengapa Tuhan mengasihi kita? Mengapa Dia bertahan dalam perjanjian-Nya dengan kita? Why doesn’t He give up on us? Dalam Perjanjian Baru dikatakan, “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). There is no why. Kasih-Nya yang kita alami adalah pancaran dari siapa Dia. Kalau Dia mengasihi kita karena kita baik, tentu Dia sudah tidak mengasihi kita ketika kita berdosa. Kalau Dia mengasihi kita karena kita menurut, tentu Dia berhenti mengasihi ketika kita melawan Dia. Tetapi nyatanya Allah tetap mengasihi kita, not because of what we’ve done, but because of who He is.

Dan ketika Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, sepuluh hari setelah Yesus naik ke surga, apa yang dinubuatkan para nabi dalam Perjanjian Lama digenapi: Roh Kudus memperbarui hati manusia dari dalam, sehingga mereka bukan hanya bisa mengasihi Tuhan, tetapi juga lebih memilih mati daripada tidak setia kepada Tuhan.

Dan bila orang sedemikian mengasihi Tuhan, tidak mungkin mereka tidak menyanyi. Bukankah cinta yang mendorong manusia untuk menggubah lagu? Untuk menyanyi tentang orang yang mereka kasihi? Karena itulah orang Kristen menyanyi. Karena itulah tidak terhitung banyaknya lagu digubah untuk Dia yang kita kasihi, yang lebih dahulu mengasihi kita. Seperti lirik sebuah lagu yang terkenal: “I could sing of Your love forever!”

Ironis sekali bila orang Kristen menyanyi hanya untuk dilihat orang, karena sebenarnya tujuan kita menyanyi bukan untuk orang lain, tetapi untuk mengungkapkan kasih kita kepada Tuhan dan membicarakan tentang Dia. Tuhan yang menciptakan orang yang peka nada dan yang tuli nada, dan kedua-duanya diberi kesempatan untuk menyanyi. Tuhan tidak terganggu dengan nada yang fals, karena Dia mendengar seruan hati kita yang mengasihi Dia.

Jadi tunggu apa lagi? Saya percaya sekarang pembaca sudah terpikir sebuah lagu untuk dinyanyikan. Silakan. “Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s