Epitaph

Yang terbaring di sini memang bukan Anda, tetapi saya. Dan selama hidup saya pun tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya ada di dalam peti yang ukurannya hanya sedikit lebih panjang dari tubuh saya.

Di sinilah akhirnya. Waktu saya di dunia telah habis dan di sini tubuh saya dibaringkan, menunggu untuk dimasukkan ke dalam tanah. Mata yang tadinya bisa melihat, tangan yang bisa menulis, kaki yang bisa berjalan, otak yang bisa berpikir, sekarang hanya organ tubuh yang mati dan menunggu busuk.

Saya tidak hidup dalam kekayaan; saya tidak memiliki segala sesuatu. Banyak orang yang jauh lebih sukses dari saya, jauh lebih terkenal dibanding saya. Tapi apa bedanya? Kami semua tidak bisa merasakan apakah peti kami nyaman atau tidak; kami tidak bisa memilih warnanya; kami dibaringkan dalam posisi yang sama dan sama-sama akan dimasukkan ke dalam tanah. Kami juga tidak bisa membawa apa-apa—semua yang kami kumpulkan dengan susah payah selama hidup. Yah, paling tidak keluarga mereka yang kaya itu bisa memilih peti yang lebih mahal. Tapi, sungguh, apa bedanya?

Hidup itu seperti menunggu di terminal airport dengan memegang boarding pass kosong untuk terbang ke tempat di mana Anda akan tinggal untuk seterusnya. Yang Anda tahu adalah Anda pasti berangkat, tapi Anda tidak tahu ke mana atau jam berapa. Anda menunggu dengan gelisah, sembari melihat satu demi satu orang-orang di sekitar Anda dipanggil namanya. “Seperti apa tempat yang akan saya tuju?” pikir Anda, “Siapa yang akan saya temui?” Orang-orang berkata bahwa tempat tujuan Anda adalah tempat yang mengerikan. Setiap kali seseorang dipanggil untuk naik ke pesawat, orang-orang di sekitarnya menangisi dia karena, kata mereka, mereka tidak akan bertemu dia lagi selama-lamanya. Ada pula yang acuh tak acuh, karena kata mereka, “Saya tidak percaya saya akan pergi ke sana.” Tapi itu tidak mengubah apa-apa. Dia sendiri juga memegang boarding pass, dan Anda pun akhirnya mendengar nama orang itu dipanggil.

Seseorang berkata kepada saya, “Lucu sekali manusia itu. Untuk hidup yang sementara, ia mempersiapkan segala sesuatu; tapi untuk hidup yang kekal, ia tidak mempersiapkan apa-apa.” Dan bagaimana dengan Anda? Ketika tiba giliran Anda untuk berbaring di peti ini, sudahkah Anda siap? Apakah Anda tahu apa yang ada di balik pintu kematian ketika Anda akhirnya dipaksa membukanya? Atau apakah Anda selalu bersikap seolah-olah Anda tidak akan mati, padahal Anda takut ketika akhirnya harus mati? Apakah Anda sedang berpura-pura seolah Anda akan hidup seribu tahun lagi?

Dan ketika Anda harus menghadap Hakim yang Adil itu, yang akan menghakimi orang hidup dan mati, yang akan menjatuhkan vonis yang layak kita dapatkan, siapkah Anda? Apakah Anda mengenal Dia? Atau apakah Anda membawa mati harapan bahwa Dia tidak ada?

Dari tadi saya terus mengajukan pertanyaan; sekarang saya akan menjawab.

Saya siap.

“Bagaimana mungkin?” tanya Anda. Karena saya tahu apa yang akan saya temui setelah kematian; karena kekekalan saya terjamin adanya; karena saya mengenal Hakim yang Adil itu dan kami telah menyelesaikan urusan kami sebelum saya mati. Sekarang saya meninggalkan dunia dengan tenang, dan saya tahu apa—lebih pentingnya, siapa—yang akan saya temui di sana.

Hakim yang Adil itu adalah sahabat saya, yang memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan saya dari kebinasaan kekal di neraka. Dia mengasihi saya. Saya percaya semua yang Dia katakan, dan saya melakukan apa yang Dia ingin saya lakukan selama hidup saya di dunia. Bertahun-tahun sebelum hari ini tiba, kami telah memiliki perjanjian mengenai kehidupan kekal saya. Seperti yang dikatakan seseorang dua milenium yang lalu tentang Pribadi yang sama: “Aku tahu kepada siapa aku percaya.”

Sekarang hari saya telah datang. Pernahkah Anda melihat obituari di suratkabar yang berkata “Telah pulang ke rumah Bapa”? Anda akan melihat tulisan yang sama pada obituari saya. Saya bukan pergi ke tempat yang tidak saya ketahui untuk bertemu orang yang tidak saya kenal; saya pulang, pulang ke rumah Dia, yang saya panggil Bapa, di surga.

Hari Anda akan datang. Peti Anda akan dipesan. Lobang di tanah tempat tubuh Anda dibaringkan akan segera digali. Pertanyaannya tetap sama: Sudah siapkah Anda? Apakah Anda mau membereskan urusan Anda dengan Hakim yang Adil itu sekarang? Karena ketika Anda sudah di dalam peti itu, tidak akan ada kesempatan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s