Apa Yang Dicari

Apa yang terjadi ketika seorang pembicara tenar yang bisa menyembuhkan orang sakit datang ke sebuah kota? Tentu saja rakyat berbondong-bondong datang ingin melihat dan mendengar kuliahnya! Begitulah jadinya ketika Yesus datang ke daerah Kapernaum. Orang-orang datang dari kota-kota yang ratusan kilometer jauhnya hanya untuk mendengarkan Dia, termasuk para ahli agama Yahudi. Semua penasaran, orang seperti apa Yesus itu. Berhubung Yesus tidak menyewa gedung pertemuan atau stadion dan hanya tinggal di rumah biasa, rumah itu penuh sesak dengan manusia! Dan ketika Yesus sedang mengajar dengan bersemangat…

“KRAAK..”

Tiba-tiba terdengar bunyi plafon berderak-derak. Bukan, bukan mau ambruk, tetapi tutup plafon – yaitu pintu menuju ke loteng – sedang dibuka. Semua mata melihat ke atas sambil bertanya-tanya, siapa yang membuka plafon dan mengapa plafon itu dibuka?

Sinar matahari menembus masuk dari plafon yang telah terbuka. Orang-orang di dalam ruangan, termasuk Yesus, mengernyitkan mata mereka karena silau. Perlahan-lahan, nampak sosok seseorang yang berbaring di atas tandu kayu, yang diturunkan dari loteng. Orang-orang yang memenuhi bagian tengah ruangan berdesak-desakan mundur dan merapat untuk memberi ruang bagi orang yang turun dari atas tersebut. Ketika sampai di bawah, kelihatanlah bahwa orang itu lumpuh. Dia tidak bisa bergerak, atau bahkan sekedar duduk. Orang itu terlihat lemah, tetapi matanya bergerak ke seluruh sudut ruangan, mencari orang yang bernama Yesus.

Yesus mendekatinya, berlutut di sisinya dan melihat keadaannya, kemudian Dia melihat ke atas, kepada teman-teman orang lumpuh itu. Mereka memandang Yesus dengan penuh harapan.

“Tuan, dia ini lumpuh,” kata mereka. “Tolong, Tuan.”

Orang lumpuh itu melihat Yesus dengan mata berbinar-binar, jelas sekali bahwa dia berharap Yesus akan menolongnya. Semua orang dalam ruangan menanti apa yang akan dilakukan oleh Yesus. Bukankah Dia bisa menyembuhkan orang sakit?

Yesus memegang pundak orang itu, dan berkata,

“Anakku, dosamu sudah diampuni.”

Seketika itu juga ruangan yang tadinya ramai dengan bisik-bisikan orang itu menjadi sunyi senyap. Semua orang membisu mendengar kata-kata Yesus. Mata para ahli agama membelalak dan wajah mereka pucat karena terkejut, dan tangan mereka tergenggam erat. Siapa orang ini sehingga Dia berani berkata bahwa Dia bisa mengampuni dosa? Dia menghujat Allah!

Yesus membalikkan badan, dan menghadap tepat kepada para ahli agama. Dia memandang mereka dan bertanya dengan tegas,

“Mengapa kamu memikirkan hal yang jahat di dalam hatimu?”

Semua orang dalam ruangan itu terhenyak, terutama para ahli agama yang tidak menyangka Yesus tahu apa yang mereka pikirkan.

“Mana yang lebih gampang,” lanjut Yesus, “berkata pada orang ini, ‘Dosamu sudah diampuni,’ atau, ‘Bangunlah dan berjalanlah?'”

Yesus memandang semua orang dalam ruangan itu dan mengeraskan suaranya, “Tetapi supaya kalian tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa…” Ia mengalihkan pandangannya pada orang lumpuh tadi, “Bangunlah, angkat tilammu, dan berjalanlah.”

Orang lumpuh yang berbaring itu memandang Yesus dengan tatapan bingung, tetapi kemudian dia seolah-olah merasakan sesuatu dalam tubuhnya dan mulai bergerak. Pertama-tama ia duduk, dan-sementara semua orang memandang-ia mulai berdiri. Orang-orang dalam ruangan mulai ribut satu sama lain karena takjub. Orang lumpuh itu berdiri tegak dengan air mata membasahi wajahnya. Sesuai perintah Yesus, dia mengambil tilamnya dari lantai. Sebelum pergi, ia sujud menyembah Yesus, lalu berjalan keluar ruangan sambil menangis tersedu-sedu dan mengucap syukur.

. . . .

Ketika saya membaca kisah ini, satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah interaksi Yesus dengan para ahli agama (ahli Taurat dan orang Farisi). Saya bertanya-tanya, untuk apa mereka datang jauh-jauh dari Yerusalem, Yudea, dan Galilea? Dan ketika mereka bertemu dengan Yesus, mendengar Dia mengajar, dan – yang kontroversial – mendengar Dia menyatakan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa, yang dibuktikan-Nya dengan menyembuhkan orang sakit, apa yang ada dalam pikiran mereka, dan apa kesimpulan mereka tentang Dia?

Saya rasa dari cerita ini, jelas terlihat apa yang mereka cari, dan apa yang tidak mereka cari dari Yesus.

  • Mereka mencari seorang pengajar. Karena Yesus adalah rabi yang sedang naik daun, tentu menarik untuk mendengar apa yang akan dikatakan-Nya. Mengapa orang yang tidak berpendidikan bisa begitu besar pengaruhnya di Israel, padahal ada guru-guru yang super intelektual? Tentu mereka ingin tahu seperti apa pengajaran Yesus.
  • Mereka jelas bukan mencari Tuhan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Tuhan; dan ketika Dia menyatakan bahwa Dia berkuasa mengampuni dosa – yang dibuktikan dengan penyembuhan, mereka justru terguncang. Lebih dari itu, mereka sudah mendengar tentang Dia dan bagaimana Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dll hal-hal yang mustahil dilakukan manusia biasa. Tetapi mereka masih tidak mengerti bahwa Allah sendiri ada di tengah-tengah mereka.

Saya jadi bertanya-tanya… Ketika saya membaca Alkitab, mendengarkan khotbah – intinya mempelajari sesuatu dari Tuhan, untuk apa saya bersusah-susah? Apa yang saya cari? Apakah saya sekedar mencari sesuatu yang baru, sudut pandang yang baru, pemahaman yang baru, atau mencari Tuhan?

A. W. Tozer berkata,

“I want the presence of God Himself, or I don’t want anything at all to do with religion. . . I want all that God has or I don’t want any.

Ketika para ahli agama Yahudi bertemu dengan Tuhan sendiri, pengetahuan dan pencarian mereka akan ilmu justru menjadi tembok yang menghalangi pengenalan mereka akan Dia. Mereka melihat apa yang ada pada Yesus sebagai sekedar kharisma, sementara orang-orang biasa justru mengenalinya sebagai kuasa. Mereka yang terpelajar dan sudah mendengar serta melihat sendiri Yesus melakukan mujizat, akhirnya tetap tidak percaya. Sementara orang-orang seperti perwira Kapernaum, orang kusta, dan orang lumpuh ini, yang tidak terpelajar dalam agama Yahudi dan mungkin belum melihat sendiri mujizat Yesus, justru menyerahkan hidup mereka di kaki-Nya. Dalam pencarian kita akan pengetahuan tentang Tuhan, kadang kita kehilangan yang terpenting: diri-Nya sendiri.

Saya belajar bahwa semua informasi yang saya peroleh tentang Tuhan tidak sebanding dengan pengenalan akan Dia secara pribadi. Paulus adalah seorang Farisi, incredibly smart, dan sangat terlatih dalam disiplin agama Yahudi. Tapi dia menyadari bahwa tidak ada yang menandingi pertemuan pribadi dengan Tuhan; sebagaimana yang dia katakan:

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. – Filipi 3:10-11

Kiranya ini yang menjadi keinginan kita semua: Bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s