Supaya Kita Mengerti

Siapapun yang memahami disiplin ilmu tertentu dengan sangat mendalam (apa saja: psikologi, fisika, patologi, akuntansi, dll) pasti mengerti betapa rumitnya disiplin ilmu tersebut. Dan saya rasa memang lebih mudah menjabarkan daripada menyimpulkan. Tapi katanya, kalau orang belum bisa mengajar dengan sesederhana mungkin, dia belum benar-benar memahami apa yang dia ajarkan. Kalau benar demikian, maka Yesus benar-benar mengerti apa yang Dia ajarkan. Dia merangkum 66 kitab Perjanjian Lama dalam dua kalimat.

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”
Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. -Markus 12:28-34

Apakah ini oversimplification? Dunia jaman sekarang tidak bisa membedakan rangkuman dengan yang instan. Rangkuman itu kaya dengan makna, bisa dijabarkan panjang lebar, dan semakin direnungkan justru semakin mendalam. Ibarat nonton film, orang yang bisa membuat rangkuman adalah orang yang sudah nonton; dan semakin bagus rangkumannya biasanya karena dia sudah berkali-kali nonton dan memahami seluk-beluk film itu. Instan, sebaliknya, berarti gampangan, seperti nonton film langsung endingnya, atau tidak mau nonton tapi minta diceritakan sekilas isi filmnya. Intinya, orang hanya bisa merangkum karena dia mengerti.

Yesus menunjukkan pengenalannya yang mendalam tentang Hukum – bukan sekedar tahu, tapi kenal. Yang dilakukan ahli Taurat pada umumnya adalah menjabarkan Hukum, sampai sekecil-kecilnya, sedetil-detilnya. Mereka tidak tahu apa motif yang Tuhan miliki di balik perintah-perintahnya dan apa yang ada di dalam hatinya; mereka tidak tahu mengapa Tuhan memberi Hukum kepada mereka. Ini sangat ironis karena di antara orang Israel sebenarnya merekalah yang paling familiar dengan Hukum. Mengapa mereka tidak mengerti tetapi Yesus mengerti? Karena Yesuslah yang memberi firman itu – Dialah Sang Firman. Orang-orang yang mendengar-Nya tidak mengerti karena pikiran manusia yang berdosa tidak mungkin tersambung dengan pikiran Tuhan.

Ada dua golongan di antara para ahli Hukum Taurat ini. Golongan pertama adalah orang-orang yang dengan sungguh-sungguh ingin mengerti apa yang sebenarnya dimaksud dalam Hukum Taurat. Contoh anggota golongan ini adalah ahli Taurat yang bertanya pada Yesus dalam teks di atas, dan Nikodemus yang khusus datang kepada Yesus pada malam hari karena dia berharap Yesus bisa mencerahkan pemahamannya tentang Hukum. Golongan yang kedua adalah orang-orang yang memperlakukan Hukum itu tidak lebih sebagai bahan pelajaran saja, dan merasa tidak suka bila ada yang mengutak-utik kenyamanan mereka. Golongan inilah yang marah karena Yesus seolah-olah menjadi musuh mereka yang mengkritik ketidaksesuaian antara apa yang mereka bilang mereka percaya dengan apa yang mereka praktekkan.

Apa yang membedakan dua golongan ini? Keinginan untuk mengerti. Tuhan berjanji, “Apabila kamu mencari Aku, kamu akan mendapatkan Aku; apabila kamu mencari Aku dengan segenap hatimu.” Dan itulah yang terjadi.

Ahli Taurat dalam teks kita di atas sungguh ingin tahu apa yang melatarbelakangi Tuhan memberi perintah yang begitu banyak jumlahnya, dan – apabila mungkin disimpulkan – apa kesimpulan dari semua firman yang dia hafalkan. Yesus, Firman yang menjadi manusia, memberi dia jawaban; dan perhatikan bahwa ketika ahli Taurat itu menerima jawaban dari Yesus, dia segera berseru, “Tepat sekali, Guru; benar kata-Mu itu!” Seolah-olah matanya yang selama ini melihat bayangan yang kabur tiba-tiba dapat melihat dengan tajam. Orang yang membaca firman Tuhan dengan hati yang rindu untuk belajar akan mengenali kebenaran itu ketika diungkapkan kepadanya.

Ketika Nikodemus datang pada Tuhan Yesus, dia bahkan belum mengajukan pertanyaan apa-apa saat Yesus menjawab dia dan berbicara tentang kelahiran kembali. Nikodemus hanya berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu jika Allah tidak menyertainya.” Apa yang dikatakan Nikodemus senada dengan apa yang dikatakan Filipus beberapa pasal sesudahnya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Keduanya merasakan suatu jarak yang jauh dengan Allah dan tidak tahu bagaimana harus menjembatani jarak itu, tapi mereka tahu sesuatu: Yesus bisa menolong mereka.

Bagi orang-orang yang sungguh-sungguh ingin mengenal Tuhan, ada berita baik: Dia sendiri telah datang di tengah-tengah kita untuk berbicara kepada kita, dalam bahasa kita. Setelah para nabi yang mendahului-Nya selama ribuan tahun, Tuhan sendiri datang kepada kita dalam rupa manusia. Dan ketika kita mendengar suara-Nya, sekalipun kita tidak sepenuhnya mengerti, kita merasa suara itu familiar, karena itulah suara yang dulu didengar dan ditunggu-tunggu oleh manusia pertama di Taman Firdaus. Setelah ribuan tahun terputus hubungan dengan Tuhan, Dia datang untuk memulihkan hubungan itu.

Setelah Yesus bangkit dari kematian, Dia menjumpai dua murid-Nya (yang, ironisnya, tidak mengenali Dia) dalam perjalanan mereka menuju Emaus. Sebuah percakapan terjadi, dan Yesus mengoreksi pemahaman mereka akan Firman Tuhan. Lukas memberi catatan yang sangat indah dalam kisah itu: “Lalu Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” Ia membuka pikiran mereka. Bila bukan Tuhan sendiri yang menolong kita, selama-lamanya kita tidak akan mengerti apa yang Ia katakan. Tapi Tuhan kita bukan Tuhan yang hanya suka berbicara; Dia ingin kita mengerti, dan Dia akan menolong kita untuk mengerti. Bagi orang-orang yang berdoa seperti Daud, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu,” Tuhan dengan senang hati memberikan jawaban.

Saya sungguh bersyukur saya hidup pada saat Alkitab telah ditulis lengkap dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ketika Roh Kudus dicurahkan tanpa batas, dan sejarah telah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan untuk memperjelas apa yang Dia hendak sampaikan. Sekarang, di manapun di dalam Alkitab, saya melihat Yesus, dan Roh-Nya membuka pikiran saya untuk mengerti. Tidak ada yang menandingi sukacita ketika mengerti firman Tuhan dan sanggup melakukannya. Tapi itu semua bukan karena kemampuan manusia; karena bahkan ahli Taurat yang menghabiskan hidup mereka untuk mempelajari firman Tuhan pun tidak dapat mengerti. Hanya oleh anugerah Tuhan kita bisa mengerti perkataan-Nya. Dan saya percaya bahwa janji Tuhan berlaku bagi semua orang yang percaya kepada-Nya:

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran
karena mereka akan dipuaskan.”
Matius 5:6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s