Kutip Yang Lengkap

Natal identik dengan damai. Katanya, “Damai di bumi, damai di hati.” Ketika mendengar slogan seperti itu, pernahkah pembaca berpikir, “Di mana damainya?” Karena kita tahu bahwa bumi ini jauh dari damai. Pembaca sendiri mungkin tidak dalam keadaan damai. Saya sendiri terpikirkan menulis tentang topik ini waktu saya sedang capek pikiran karena sibuk persiapan natal di gereja. #ironis

Lebih jauh lagi, kalau kita merenungkan bahwa salah satu gelar yang diberikan bagi Yesus adalah Raja Damai, mungkin kita makin penasaran: kalau begitu kenapa justru banyak hal buruk yang terjadi gara-gara agama – termasuk di dalamnya kekristenan? Di mana damainya?

Sebenarnya kaitan damai dengan natal itu berasal dari kutipan Lukas 2:14 bagian menjelang akhir, yang bunyinya:

Damai sejahtera di bumi di antara manusia

Bahasa Inggrisnya lebih ngetop:

Peace on earth, goodwill to man

What peace? What goodwill? Di mana-mana bom bunuh diri, kekerasan, penipuan, eksploitasi terhadap anak-anak, dan sejuta hal lain yang membuat hati beku dan apatis. Belum lagi kalau kita sendiri adalah korban dari kejahatan, atau kita merasakan pengalaman pahit masa-masa sulit dalam hidup.

Ah, tapi sebelum marah-marah, marilah kita perhatikan bahwa ayat yang dikutip itu tidak lengkap.

Pertama-tama saya ajak pembaca memperhatikan, sebenarnya seperti apa sih bunyi lengkapnya.

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi
Dan damai sejahtera di bumi
Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Demikianlah ceritanya. Konteks cerita ini adalah malaikat sedang memberitahu para gembala bahwa ada seorang bayi yang lahir di Betlehem, tapi bayi itu bukan anak biasa – dia adalah Juruselamat. Dalam perayaan kelahiran Sang Juruselamat itu, para malaikat diliputi euforia surgawi dan menyanyikan lagu yang sering dikutip setengah menjelang natal itu.

Paling tidak ada tiga hal penting yang selalu dilewatkan orang setiap kali natalan, yang sebenarnya adalah prasyarat damai yang kita bicarakan tadi.

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat

Kenapa perlu Juruselamat? Tentu saja karena kita perlu diselamatkan.

Kemarin saya melihat meme bertema film Back To The Future (film itu dibuat tahun 1985; ceritanya tokoh utamanya time travel ke tahun 2015 – ya sekarang ini). Tulisan dalam meme itu berbunyi: “Remake of Back To The Future, without flying cars, but with people who stare at their phones all the time and get offended by everything.” Saya merasa geli sekaligus miris. Inilah masa dimana orang bisa sangat tersinggung kalau mereka dikatakan “berdosa”. Apalagi dibilang perlu Juruselamat. “Whoa, wait,” they say, “I’m doing just fine by myself.”

Yesus bukan datang untuk menyelamatkan manusia dari kebangkrutan, atau kesedihan, bahkan penyakit. Dia menyelamatkan manusia dari sesuatu yang menyebabkan itu semua: DOSA. Sekali lagi, manusia tidak suka dituduh berdosa, tapi nyatanya kita tahu bahwa kita berdosa. Dan sebelum kita menerima pertolongan Sang Juruselamat, tidak ada damai – karena damai itu datang bersama Dia. Yang ada hanya permusuhan dengan Tuhan; dan bagaimana mungkin kita menang dalam permusuhan dengan Dia yang menciptakan kita?

Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan…

Saya ikut sertakan kata “dan” untuk menunjukkan betapa prasyarat ini begitu diabaikan oleh banyak orang.

Damai sejahtera di bumi hanya akan terjadi bila kemuliaan diberikan pada Allah di tempat yang mahatinggi. Ketika Tuhan diberi tempat yang semestinya memang untuk Dia – yaitu pemimpin hidup kita, maka akan ada damai sejahtera di dalam hati kita. Kita tidak kuatir, takut, gelisah, insecure, karena kita tahu pasti bahwa Tuhan yang memegang hidup kita, yang kepada-Nya kita mengabdi, bertanggung jawab penuh atas hidup kita.

Bagaimana bisa damai kalau kita tidak punya pegangan dalam hidup ini? Bagaimana mungkin damai kalau disenggol sedikit saja oleh orang lain membuat kita marah? Bagaimana bisa damai kalau tidak ada harapan untuk masa depan? Dan yang lebih penting, bila kita menolak mengabdi kepada Tuhan, berarti kita hidup dalam dosa; dan bagaimana mungkin orang yang bermusuhan dengan Tuhan bisa hidup dalam damai? Akhirnya dunia ini jadi kacau karena isinya orang-orang yang hidupnya serba tidak damai.

Di antara manusia yang berkenan kepada-Nya

Kita hidup dalam era yang menyedihkan: masa dimana manusia didorong untuk berpikir bahwa dirinya luar biasa, sempurna apa adanya, dan Tuhan menerima – dan akan membiarkan – dia apa adanya. Memang betul Tuhan mengasihi kita, dan apapun keadaan kita kita bisa datang kepada Dia. Tapi kalau kita berpikir Tuhan akan membiarkan kita “apa adanya” maka kita termakan kebohongan dunia.

Rasul Paulus sudah mengeluhkan perilaku yang buruk ini waktu dia mengutip Mazmur (kitab yang jauh lebih tua lagi):

Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
Tidak ada seorangpun yang berakal budi,
Tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Orang tidak berpikir, “Apakah Tuhan berkenan akan hidup saya?” Tapi sebaliknya, “Kalau Tuhan tidak menyenangkan saya, saya bebas meninggalkan Dia.” Padahal seperti yang diberitakan para malaikat, damai sejahtera di bumi ini hanya untuk orang yang berkenan kepada Tuhan.

….

Tuhan sudah menyediakan jalan bagi kita untuk menerima damai; pertama-tama damai antara kita dengan Dia, dan kemudian antara kita dengan orang lain. Perdamaian antara kita dengan Tuhan harus terjadi lebih dulu; kita tidak bisa memisahkan damai sejahtera itu dengan prasyaratnya. Kutip ayatnya dengan lengkap, baru kita mengerti bagaimana damai itu datang.

Dari diri kita sendiri, kita tidak bisa menghasilkan damai (kalau keributan, bisa) karena damai itu adalah pemberian Tuhan. Pemberian itu diberikan lewat satu jalan – dan satu-satunya jalan: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan.” Natal tahun ini, mari kita terima anugerah terbesar itu: Sang Raja Damai.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s