Rumah Orang Tua

Buat yang pernah merantau ke luar kota/luar pulau/luar negeri, kemudian mengalami usaha yang kurang berhasil, kerjaan mentok di situ-situ aja, hidup pas-pasan, dst, apa yang muncul dalam pikiranmu? Yah, mau gimana lagi. Daripada di perantauan hidup susah, serba ga berhasil, lebih baik saya…

Pulang ke rumah orang tua.

Apakah memalukan pulang ke rumah orang tua? Ah, mungkin situ ga sadar betapa bahagianya di sana. Memangnya ada apa sih, di rumah orang tua? Di sana, saudara dan saudariku, kamu ga perlu bayar uang kos/kontrak. Di sana, pagi-pagi sudah tersedia sarapan, dan ga perlu bayar pula. Di sana, kamu ga pusing biaya listrik, air, dll. Di rumah orang tua, kamu punya kamar sendiri sekaligus menguasai seluruh ruangan yang ada. Di rumah kita selalu jadi anak yang dirawat orang tua. Dan yang paling penting, ada orang tua yang menyambut kamu dengan tangan terbuka. “Pulang aja lah,” kata mereka, “daripada kamu begitu-begitu aja di Jakarta.” (Ya kecuali kalau rumahnya sudah di Jakarta…)

Beberapa hari yang lalu waktu saya melayat salah satu jemaat gereja yang meninggal dunia dan mengikuti ibadah penghiburan di rumah duka, jemaat menyanyikan lagu Ke Rumah Bapa Yang Mulia (demikian judulnya di buku). Kata-katanya reffrainnya seperti ini:

Mulia
Pulang ke rumah Bapa
Mulia
Tuhan ada sertaku
Mulia, mulia
Ke rumah yang mulia

Saya memikirkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh. Pulang. Kematian adalah meninggalkan dunia, untuk pulang. Ke mana? Ke rumah orang tua, yaitu Bapa kita di surga.

Ada apa di rumah Bapa? Saya beritahu apa yang tidak ada: penyakit, kesedihan, ketakutan, kekuatiran, masalah, pencobaan, penderitaan. Baris pertama dalam lagu itu berkata, “Ke rumah Bapa yang mulia! Di sana tidak ada perang.” Tentunya seseorang yang sedang ada di tengah kecamuk perang yang menulis kalimat pengharapan itu. Di sana, yang ada hanya segala sesuatu yang baik, yang manis, yang menyenangkan, yang membahagiakan. Dan ketika kita pulang, Bapa berdiri di depan pintu gerbang, menyambut kita dengan tangan terbuka. Saya bahkan kadang membayangkan Dia menjemput saya di stasiun (saking seringnya naik kereta api) dan mengantarkan saya sampai ke rumah.

Saya ini anak rumahan. Saya tau bahwa travelling keliling dunia, backpacking keliling Indonesia, (plus selfie di sana) itu trendy. Tapi saya tidak suka. Saya selalu menunggu hari terakhir dari acara di luar kota (apalagi luar negeri) karena hari itu saya akan pulang! Ke negara dan kota saya, dan ke rumah saya yang gue banget! Waktu saya jauh dari rumah, saya homesick. Dan ketika homesick itu, saya memikirkan, kalau rumah di dunia yang tidak sempurna ini saja sangat saya rindukan, semestinya rumah saya di surga jauh lebih ‘ngangenin’.

Aneh kalau orang Kristen tidak ingin pulang ke rumah Bapa. Ke manapun kita pergi, rumah adalah tempat yang selalu kita rindukan. Sayangnya, banyak orang yang merasa Kristen tapi hatinya dirumahkan di dunia. Mereka takut dengan kematian, takut dengan penderitaan, takut meninggalkan kenyamanan yang sudah dinikmati di sini. Padahal ketika kita mati, kita bukan pergi ke mana-mana: kita pulang, ke rumah Bapa yang sudah menantikan kita. Paulus berkata bahwa ini bukan hanya kerinduan kita, tapi kerinduan seluruh mahkluk. Semua mau pulang ke surga!

“Sayangnya, banyak orang yang merasa Kristen tapi hatinya dirumahkan di dunia.”

Kerinduan itu begitu mendalam. Saya membayangkan saudara-saudara seiman yang bertarung dengan penyakit parah, atau mengalami penderitaan yang berat di dunia, atau yang berada dalam bahaya perang dan harus mengungsi. Betapa mereka ingin pulang ke rumah Bapa! Di sana tidak ada kesusahan. Di sana semua masalah hilang dan penyakit tidak ada lagi. Di sana kita hidup enak dan dijamin oleh Tuhan, sebagaimana anak yang dikasihi yang tinggal di rumah orang tuanya. Dan Tuhan Yesus berjanji:

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” —Yohanes 14:2-4

Karena itu bagi orang percaya, hari yang paling indah adalah hari ketika kita dipanggil Tuhan pulang ke rumah-Nya. Banyak hymne yang berbicara tentang pengharapan kekal ini. Salah satu yang terang-terangan menyatakan sukacita menyambut kematian adalah I’ll Fly Away:

Just a few more weary days, and then
I’ll fly away
To a place where joy will never end
I’ll fly away
I’ll fly away—oh glory!
I’ll fly away
When I die, Hallelujah by and by
I’ll fly away!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s