Ibadah Tersembunyi

Oke, waktunya saat teduh.

Pilih meja kayu yang bagus, supaya bernuansa vintage. Ambil Alkitab, buka di kitab yang mau dibaca. Di sebelahnya, taruh secangkir kopi. Di dekat Alkitab, ada buku catatan dan bolpoin. Sip. Sekarang, difoto dari atas (harus 90 derajat, kalau perlu naik bangku), upload di Instagram, dengan hashtag sebanyaaaak-banyaknya: #instaapp #instapray #instabible #instadaily #instaini #instaitu #Christian #Godfirst #quiettime #prayer #dst #dst #dst.

Meminjam istilah teman saya, itu namanya bukan “saat teduh”, tapi “saat gaduh”.

Memang sekarang dunia ini berisik sekali, dan seringnya kita sendiri justru ingin diganggu dengan berbagai notifikasi. Media sosial sudah menjadi semacam berhala: semua harus di-upload dan dibagikan dengan orang lain. Bahkan hal yang seharusnya sifatnya sangat pribadi, seperti saat teduh, juga kita jadikan tontonan buat orang lain. Sulit untuk berdua saja dengan Tuhan, dan seringkali kesulitannya justru ada pada kita sendiri.

Hal ini bukan hal yang baru. Dua ribu tahun yang lalu, Tuhan kita pernah membahas masalah ini. Bukan tentang Instagram, tentunya, tapi tentang perilaku manusia yang ketagihan “like” dari orang lain. Tuhan menegaskan:

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”
—Matius 6:1

Sepanjang Matius 6, Tuhan Yesus memberi contoh tiga aktivitas keagamaan yang sering dipamerkan orang—and He is divinely on point: memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa.

Memberi sedekah. Pernah lihat foto pemimpin/perwakilan organisasi (atau perorangan) yang tersenyum lebar sambil berjabat tangan dengan pihak yang diberi sedekah—misalnya korban bencana atau panti asuhan? Pasti pernah. Sama seperti dulu, ketika pemuka agama di Israel memberi sedekah, mereka memastikan agar orang lain tahu bahwa mereka sedang sibuk berbuat baik.

Berdoa. Pasti pembaca pernah melihat orang beramai-ramai berdoa di lapangan atau mengadakan acara rohani sampai menutup gang atau bahkan jalan raya. Seperti pemuka agama zaman Tuhan Yesus dulu, mereka mempertontonkan kerohanian mereka agar dilihat orang banyak.

Berpuasa. Pada masa kuliah, saya ikut pelayanan di kampus, dan kami sedang beramai-ramai doa puasa untuk suatu kegiatan pelayanan. Dalam masa puasa itu, suatu kali ketika sedang ngobrol beberapa orang mengeluh lapar dan haus ketika sedang puasa, dan seorang teman rupanya tidak senang. “Ga perlu lah disebar-sebarkan ke orang lain kalau kita lagi puasa,” katanya. “Apa puasa kita diterima Tuhan kalau sikap kita begini?” Hal yang sama dikatakan Tuhan Yesus ketika orang-orang munafik berpuasa: Mereka sengaja dilemes-lemesin supaya orang lain tahu bahwa mereka berpuasa. Tuhan bilang, “Dandan, cuci muka, berpakaian yang rapi, supaya orang tidak tahu bahwa kamu sedang berpuasa!”

Dan sekalipun kita merasa tidak bersalah dalam tiga hal itu, tidak bisa dipungkiri bahwa kita cenderung mencari pengakuan dari orang lain, termasuk ketika kita menjalankan kewajiban agama.

Tapi kenapa kita begini? Kenapa kita sibuk dengan aktualisasi diri berdasarkan pengakuan orang lain? Usut punya usut, di dalam hati kita ada kehausan untuk penerimaan dan pujian, dan kita tidak tahu di mana harus mencari itu semua, karena itu kita minta orang lain memenuhi kebutuhan itu. Masalahnya adalah, kita mencari di tempat yang salah.

Orang terus-menerus mencari pengakuan dari orang lain karena mereka tidak pernah merasakan betapa memuaskannya pengakuan dari Tuhan. Yang kita kenal adalah dunia dan klik ‘like’ dari mereka; dan kita tidak tahu betapa indahnya mendengar Tuhan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia.” Orang mencari kebahagiaan di luar Tuhan karena mereka tidak mengerti betapa bahagianya di dalam Dia. Orang mencari labuhan hati dalam diri orang lain, tanpa menyadari bahwa orang lain mengalami kekosongan yang sama. Hati kita yang berdosa mencari kepuasan, yang tidak akan kita temukan di luar Tuhan.

Perhatikan apa yang Tuhan Yesus katakan tentang aktivitas keagamaan yang kita lakukan.

“Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Ini bukan sekedar perintah. Kewajiban agama, kegiatan agamawi, sebenarnya adalah wujud kasih kita kepada Tuhan. Tapi banyak orang tidak mengasihi Tuhan dan hanya sekedar beragama karena mereka merasa perlu beragama. Perhatikan bahwa kita beribadah bukan kepada “Tuhan yang jauh di sana”, tapi kepada Bapa. Setiap hari saya membuatkan kopi untuk mama saya, dan dia selalu merespon dengan senyum sambil berkata, “Terima kasih.” Saya tidak membuatkannya kopi agar dilihat orang dan dianggap anak berbakti, tapi karena saya senang bisa menyenangkan dia. Inilah yang Tuhan mau kita tahu. There is a greater reward! Tujuan ibadah adalah melihat senyum di wajah Bapa kita, bukan untuk dilihat orang lain. Kebahagiaan yang didapat dari menyenangkan hati Tuhan jauh melebihi kebanggaan karena mendapat pujian orang lain.

Kalau kita pernah melihat pasangan yang sedang jatuh cinta, kita bisa membayangkan apa yang Tuhan maksud. Setiap kali seseorang menelepon pacarnya, dia segera menyingkir ke tempat yang sepi dan berbicara dengan suara lembut kepada sang pacar. Dia tidak ingin pembicaraannya dengan sang pacar didengar orang lain, bukan karena tidak ada hal yang menarik, tapi karena dia ingin menikmati momen itu sendiri.

Bila kita mencintai Tuhan, kita ingin apa yang kita lakukan menyenangkan Dia; dan kita tahu bahwa Dia senang ketika kita berbagi momen hanya dengan Dia. Dunia tidak perlu tahu apa yang kita bicarakan dengan Tuhan di tempat tersembunyi. Tidak seorangpun perlu tahu seberapa banyak dana yang kita berikan untuk mendukung pekerjaan-Nya. Kita tidak perlu mengumbar iman kita dengan segudang hashtag. Sekalipun tidak ada orang lain dan tidak ada musik, kita tetap berbahagia di hadirat-Nya. Bisa berdua dengan Dia dan menikmati ibadah, itu adalah upah terbaik yang bisa kita dapatkan.

Apa yang kita cari? Pengakuan dari manusia? Tuhan berkata, “Mereka telah mendapatkan upahnya,” yang berarti hal itu gampang sekali kita dapatkan; tapi kita akan melewatkan upah yang sesungguhnya. Bila yang kita cari adalah Tuhan dan hanya Tuhan, kita tidak perlu mengumbarnya kepada orang lain, dan Dia berjanji,

“Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;
apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
Aku akan memberi kamu menemukan Aku,
demikianlah firman TUHAN.”
—Yeremia 29:13-14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s