Kui adalah untuk melebur perak
dan perapian untuk melebur emas,
tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
—Amsal 17:3

Tentunya kita pikir kitalah yang paling kenal diri kita sendiri, apa yang kita suka dan tidak suka, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan. Tapi kita bisa terkaget-kaget sendiri ketika orang yang menguasai psikologi dan turunannya (grafologi, dll) “membaca” apa yang sebenarnya ada dalam pikiran kita melalui gestur, ekspresi wajah, tulisan tangan—hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan akan mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya.

Beberapa tahun lalu ada seorang teman yang bisa “baca” tanda tangan, dan saya iseng minta tanda tangan saya ditelaah. Hal pertama yang dia bilang adalah, “Kamu… kalau mengerjakan sesuatu, sering ga selesai ya?”

Belum pernah saya sekaget itu waktu ada orang ngomong sesuatu tentang saya.

Respon pertama, denial. “Ah, ngawur,” pikir saya. Tapi setelah direnungkan, dipikirkan, dan flashback ke masa lalu, ternyata… emang bener. (Pada waktu itu) saya memang cepat kehilangan minat pada apa yang sedang saya kerjakan, dan akhirnya ditinggal, atau diselesaikan setengah hati. Ya ampun, saya sendiri tidak sadar punya sifat seperti itu.

Kita seringkali tidak tahu apa yang ada dalam hati kita sendiri. Untuk mengetahui apa yang ada di dalam hati, hati itu harus dibongkar, atau bahasa Alkitabnya “diselidiki”. Seperti perusahaan yang harus diaudit eksternal supaya objektif, hati kita pun perlu diselidiki oleh pihak luar, yang ahli masalah hati, yang mengenal hati manusia luar dalam.

Dan Amsal berkata, “pihak luar” itu adalah Tuhan. Bagaimana Tuhan menyelidiki hati? Dengan memberi kita kesempatan untuk membuat pilihan yang membuktikan kualitas hati kita. Tuhan sudah tahu apa yang ada dalam hati kita. Yang Dia lakukan melalui ujian hanyalah memberitahu kita apa yang sebenarnya ada dalam hati kita.

Dalam keadaan biasa, kita bisa mengucap syukur. Tapi dalam kesusahan kita baru tahu apakah benar hati kita penuh ucapan syukur.

Waktu lagi hidup pas-pasan, banyak orang hidup dalam kerendahan hati dan setia melayani Tuhan; tapi begitu makin kaya, mereka ga punya lagi waktu untuk pelayanan.

Selama belum punya anak, sepasang suami isteri rajin berdoa dan melayani Tuhan. Begitu punya anak, aduh, sibuk jaga anak di rumah, ga bisa ditinggal. Boro-boro pelayanan.

Baik penderitaan maupun berkat bisa dipakai Tuhan untuk membuktikan apa yang sesungguhnya ada dalam hati kita. Seperti kata nabi Yeremia: “Betapa liciknya hati; lebih licik dari segala sesuatu.” A heart deceives even its owner.

Ambillah contoh yang sederhana: Cinta. Seringkali apa yang kita katakan adalah apa yang kita rasakan sekarang. Dulu saya punya album John Legend, dan ada satu lagu berjudul Used To Love You. Kata mas John, “Baby, when I used to love you, there’s nothing that I wouldn’t do. . . But now I don’t love you, not like I used to.” Nah, seperti itulah manusia. Ketika hati kita dipenuhi berbagai emosi positif, itu yang kita sebut cinta, dan kita pikir perasaan positif itu akan bertahan. Seorang pengantin pria yang berdiri di altar mengucapkan janji pernikahan dan menggandeng isterinya bisa dengan gagah dan mantap berkata, “I love you.” Tapi bagaimana dengan lima tahun kemudian, waktu dia pulang kerja dalam keadaan capek dan pusing, dan isterinya (dalam keadaan no-make up) menyambut dengan omelan karena sedang PMS? “Cintaku sudah luntur,” katanya. Yang dia maksud, “Aku tidak lagi merasakan perasaan positif yang dulu aku rasakan terhadap kamu.”

Karena itulah janji nikah berkata, “Saya berjanji akan mengasihimu (lalu dijelaskan): merawatmu, setia kepadamu, . . . (dst semua yang berupa tindakan aktif) . . . dalam susah atau senang, sehat atau sakit, kaya atau miskin . . . sampai Tuhan, oleh maut, memisahkan kita.” Janjinya realistis. Kurang lebih intinya, “Sekalipun perasaan itu telah hilang, saya tidak akan cari yang lain dan akan tetap konsisten berbuat baik terhadap kamu.” Termasuk ketika…

  • Isteri terus-menerus bersikap tidak menyenangkan, dan “kebetulan” suami ketemu lagi dengan mantan zaman SMA dulu (yang kok masih cantik dan menyenangkan) waktu reuni sekolahan.
  • Suami kena stroke.
  • Keadaan ekonomi keluarga tidak karuan dan serba kekurangan.
  • Terjadi perang saudara dengan mertua dan ipar.
  • And the list goes on.

Di sinilah cinta yang diikat dengan janji pernikahan itu diuji.

Serupa dengan janji pernikahan yang intinya tetap bertahan dan konsisten memperlakukan pasangan dengan baik, Tuhan Yesus berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku.” Perhatikan baik-baik bahwa Dia sama sekali tidak menyinggung perasaan (!). Kasih kita kepada Tuhan dibuktikan dengan ketaatan kita, terlepas dari apa yang kita rasakan. Ketika perasaan kita menentang Tuhan, yang mana yang kita bela? Ketika keinginan kita berjuang melawan Tuhan, yang mana yang kita pertahankan? Ketika terungkap pemberontakan yang menetap dalam hati kita, akankah kita memaksa hati ini tunduk kepada Tuhan? Dunia berkata, “Ikuti kata hatimu.” Tuhan berkata, “Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal.”

Seperti perak dimurnikan di kui dan emas di perapian, demikianlah hati kita diselidiki oleh Tuhan; karena kita seringkali keminter; padahal kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati kita. Satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang sungguh ada dalam hati kita adalah melewati ujian yang Tuhan berikan. Merendahkan hati di hadapan Tuhan dengan memilih untuk taat kepada-Nya, itulah yang membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s