Anak Terdidik

Judulnya harus begitu karena ane sendiri belom punya anak, gan. Tapi berpengalaman dong, sebagai anak. ;^)

Nah, yang mau saya ceritakan adalah bagaimana orang tua saya mendisiplin saya dan adik saya waktu kami kecil. Fyi, waktu SMA kami berdua sekolah di luar kota, jadi, buat saya, pendidikan dalam keluarga itu sangat terasa hanya sampai saya berumur kira-kira 15 tahun.

Apa ada pembaca yang berpandangan anak tidak boleh dipukul? Saya bahkan pernah baca berita di sebuah negara ada orang tua yang ditangkap polisi karena dia memukul anaknya dan dilaporkan oleh tetangganya. Pandangan saya sebaliknya. Saya percaya apa yang dikatakan Alkitab: “Hajarlah anakmu selama masih ada harapan, tetapi janganlah menginginkan kematiannya.”

Dan ini bukan karena saya tidak pernah dihajar orang tua. Sebaliknya, selama masa kecil saya, saya sering dihajar papa. Saya ingat suatu kali saya main ke rumah teman, dan entah bagaimana, saya bisa merobohkan wastafel (!!). Papa marah besar dan dia ambil kemoceng, lalu memukul paha saya beberapa kali. Pedesnya, jangan ditanya. Tapi ya gimana, anaknya merusak wastafel orang, bo. Di luar peristiwa itu, yang saya paling ingat dari masa kecil saya adalah bagaimana saya dihajar papa dengan sabuk. Saking seringnya, saya sampai ga nangis lagi. Sudah kebal.

Kalau saya punya pengalaman semacam itu waktu kecil, kenapa saya justru mendukung orang tua menghajar anak? Karena, seandainya saya tidak dihajar, saya tidak tahu saya jadi orang seperti apa sekarang.

Alkitab berkata, “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat; tetapi anak yang dibiarkan, mempermalukan ibunya.” Suatu kali ketika masih SMP, saya keceplosan memaki di depan mama, dan dia menampar saya. Seumur-umur, cuma kali itu saya ditampar mama! Biasanya dia bahkan tidak membentak saya. Peristiwa itu mengajar saya bahwa memaki adalah salah. Kalau saya tidak berani mengucapkan kata-kata tertentu di hadapan orang tua saya, berarti kata-kata itu tidak layak diucapkan.

Anak kecil tidak bisa membedakan yang benar dan salah. Manusia memang punya hati nurani, tapi hati nurani itu tidak berdaya melawan kecenderungan untuk berdosa. Seringkali kita tahu apa yang benar, tapi toh kita langgar. Dalam hal inilah orang tua perlu menghajar anaknya. Kalau seorang anak dibiarkan saja, dia bukannya jadi baik, malah jadi rusak. Orang tua bertanggungjawab mendidik anak-anak mereka dalam hal etika dan moral, sehingga anak-anak itu tahu apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, apa yang pantas dan tidak pantas. Mulai dari etika makan sampai kesucian dalam hal seksual, anak harus belajar itu semua dari orang tua mereka. Karena, kalau tidak, dari siapa lagi mereka belajar?

Waktu kecil, saya tidak suka cara orang tua mendisiplin saya. Saya menuruti orang tua karena takut, takut dihukum kalau salah. Tapi semakin saya dewasa, saya semakin sadar bahwa apa yang dilakukan orang tua adalah baik bagi saya. Dan semakin dewasa, saya bukannya kepahitan pada papa karena dulu rajin menyabet pantat saya dengan sabuk, tapi justru berterima kasih atas kepeduliannya. Saya tidak marah pada mama karena membentak saya setiap kali saya tidak sopan dalam bicara, karena saya tahu dia mengajar saya bagaimana menggunakan kata-kata dengan semestinya. Saya tidak dendam pada orang tua saya; saya justru bersyukur. Orang bilang, “Perempuan tidak boleh dipukul.” Buat saya, perempuan memang tidak boleh dipukul, kecuali ketika dia harus didisiplin oleh orang tuanya.

Kalau begitu, adakah batasan? Saya rasa Alkitab jelas sekali dalam hal ini. Kalau pembaca bertemu kata “hajaran”, “menghajar”, atau “dihajar”, pada umumnya hal itu berkaitan dengan pendidikan atau pendisiplinan. Orang tua wajib menghajar anaknya, untuk mendisiplin anak itu — bukan karena dia marah terhadap anaknya. Kalau orang tua sampai mencederai anak secara fisik, atau mengatakan kata-kata yang tidak pantas, itu sudah salah.

Ini tentu tidak mudah, dan saya rasa wajar sekali kalau satu dua kali orang tua kelewatan dalam mendisiplin. Semua yang punya anak tahu rasanya lagi capek, penat, banyak pikiran, dan anak bikin masalah. Karena itu (karena begitu sulitnya mengurus diri sendiri, apalagi tambah anak), setiap orang tua perlu pertolongan Tuhan dan hati yang terbuka untuk belajar. Sulit mengasihi orang ketika kita marah pada orang itu. Tapi Tuhan memberi kemampuan yang luar biasa bagi orang tua, sehingga mereka bisa menunjukkan kasihnya melalui pendisiplinan.

Saya sudah melihat banyak anak yang dimanja orang tua mereka. Yang terjadi, anak itu bukannya bahagia dalam hidupnya, melainkan justru menderita di kemudian hari. Memanjakan anak berarti mengabaikan tanggung jawab sebagai orang tua dan merusak anak itu. Mendidik anak sebagaimana mestinya berarti mengasihi dia dan secara aktif mengharapkan yang terbaik bagi dia di masa depan. Orang tua saya pernah salah dalam hal kelewatan marah pada saya ketika mereka seharusnya mendidik dengan objektif. Tapi saya maklum. Dan saya kagum dan berterima kasih karena mereka bisa tetap menunjukkan kasih mereka pada saya lewat disiplin.

Btw, ada beberapa hal yang saya ingat sekali dalam hal pendisiplinan ini. Papa saya paling tidak suka anaknya bikin ribut di gereja. Kalau sampai berisik di gereja… You’re doomed. Hahahah. Dan mama akan marah besar kalau anaknya berani bentak dia. “Anak kok kurang ajar sama orang tua?!” marahnya. Satu lagi yang super haram adalah bolos sekolah dan Sekolah Minggu. Walaupun sakit, kalau sakitnya enteng, kami pasti dipaksa berangkat. Hal lain yang unik adalah saya dan adik tidak pernah merasakan yang namanya Nintendo, Sega, PS, dsb, karena orang tua selalu menolak membelikan. Walaupun sekarang ga nyambung kalau teman-teman ngobrol tentang game jadul, saya bersyukur sih, karena saya tau game console begituan bisa bikin kami tidak mau belajar.

Tapi dalam beberapa hal lain, mereka santai banget. Orang tua saya ga pernah ribut anaknya ranking berapa, yang penting ga malu-maluin dan tetap naik kelas. Orang tua saya juga selalu mendorong anaknya untuk mengembangkan bakat. Saya ingat betapa mama sangat murah hati kalau saya bilang mau beli buku. “Beli aja,” dia selalu bilang begitu, walaupun bukunya ajubile mahalnya. Dan mereka mendidik kami untuk mandiri, ga cengeng, menyelesaikan masalah sendiri. Setelah dewasa, saya sadar bahwa itu semua penting, lebih penting dibandingkan mainan yang mahal-mahal dan liburan ke luar negeri.

Terakhir, ini kata papa tentang mendidik anak: “Pantat diciptakan empuk, buat dipukul orang tua kalau kamu nakal.” Orang tua, pukul anakmu di pantatnya, jangan di kepalanya. 8^)

2 thoughts on “Anak Terdidik

  1. Orang tua, pukul anakmu di pantatnya, jangan di kepalanya.

    Yup, I’m agree with this. Itu pun klo udah kelewatan. Biasanya aq memulainya dengan menyita sejenak mainan yg disukai anakku.

    Ayo ditunggu prakteknya ke anak sendiri.. #resolusi kah? hehhe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s