Door In The Face

Apa ini? Gampar orang pakai pintu??

interior of a modern home, empty roomPertama-tama, ngapain nulis post tentang menggampar orang dengan pintu? Hehehe.. Door in the face adalah istilah komunikasi yang kurang lebih berarti membuat orang terkejut dengan permintaan yang besar dan mustahil di awal, sehingga ketika kita melanjutkan dengan permintaan berikutnya—yang lebih kecil dan rasional—orang ybs akan menyanggupi. Teknik ini (iya, ini teknik) memanfaatkan psikologi manusia pada umumnya. Misalnya saya mau ajak orang ikut bakti sosial dan saya minta tolong ke orang itu, “Kamu nanti betulin genteng yang bocor ya.” Orang itu bisa jadi (sangat) keberatan dengan kerjaan yang melibatkan naik turun tangga dan mempertaruhkan nyawa di atas plafon itu. Oh, dia ga mau. “Yaudah,” kata saya, “bantu sapu halaman aja ya. Daun-daun kering dibawa ke tempat pembuangan sampah.” Dijamin 200% dia mau. Kenapa? Karena jauh lebih mudah dan rasional daripada membetulkan genteng bocor. Padahal sebenarnya dari awal tujuan saya adalah minta dia menyapu halaman.

Sekarang mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus.

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.”
Matius 16:24-25

Gimana? Ultimate door in the face, menurut saya.

Syarat ini berat. Di tengah dunia yang jatuh cinta dengan segala sesuatu yang serba instan, gampang, dan bermental no-strings-attached, apa yang Yesus tuntut adalah mustahil. Menyangkal diri berarti dengan sengaja menolak apa yang nyaman dan diinginkan oleh diri sendiri, demi menaati Tuhan. Memikul salib—yah, hanya orang yang dijatuhi hukuman mati dengan salib yang diharuskan memikul salib. Bukan hanya soal salibnya berat, tapi ujungnya: kematian dengan penderitaan; intinya orang yang mau mengikut Yesus harus siap susah karena Dia sampai akhir hidupnya. Dan mengikut Yesus. Yesus sendiri berkata, “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dia menyebut jalan-Nya sebagai “jalan yang sempit”, yang tidak disukai orang, yang sepi dan berat. John Bunyan bahkan membuat kisah The Pilgrim’s Progress untuk melukiskan perjalanan panjang dan sulit yang harus dilewati oleh orang yang percaya. Dan Yesus merangkum syarat dan ketentuan yang berlaku dengan kalimat yang tidak kalah cadas: Hanya orang yang melepaskan nyawanya demi Dia yang akan mendapatkannya.

Tadi saya bilang ini adalah penerapan door in the face. Sekarang saya akan menjelaskan apa yang saya maksud.

Menyangkal diri, memikul salib, mengikut Yesus

Aduh, susahnya! Aduh, masa sih ga boleh melakukan hal-hal yang saya sukai lagi, untuk seterusnya? Ya ampun, ngeri banget harus menderita seumur hidup! Kok berat sih, mau ikut Yesus, harus kehilangan segala-galanya?

Baiklah. Kalau itu berat, maukah kamu mengorbankan satu hal ini, sekali ini?

“Sekali lagi.” Bilang begitu kepada diri kita sendiri setiap kali kita harus berkorban untuk Tuhan. Kali ini, berkorbanlah. Kali ini, ampunilah. Kali ini, taatlah.

Dan kita akan mendapati bahwa setiap kali adalah “kali ini”. Tuhan tidak minta pengorbanan yang dirapel—baik itu dalam bentuk ketaatan kecil, atau bahkan kematian demi kesetiaan terhadap Dia. Setiap pengorbanan hanya berlaku untuk kali ini. Lagipula, kita hidup dalam “sekarang”. Kemarin sudah berlalu dan besok belum tentu ada.

Kekristenan adalah paradoks yang tidak dapat dipahami, hanya dapat dijalani. Orang Kristen hidup dalam pengharapan akan hidup kekal, sehingga masalah apapun yang terjadi tidak menghancurkan imannya. Tapi pengharapan kekal itu diaplikasikan dalam “hari ini”, karena itu dia bisa menanggung penderitaan dengan sabar. Ini kesaksian Paulus:

“Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar. Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.
1 Korintus 15:31-32 (penekanan ditambahkan)

Paulus tahu bahwa orang yang mati dalam keadaan beriman kepada Yesus akan dibangkitkan dengan tubuh kemuliaan. Hidupnya bukan hanya di dunia ini, karena itu dia punya keberanian menghadapi berbagai macam tantangan karena imannya kepada Yesus “tiap-tiap hari.” Sehari, demi sehari, demi sehari, dan tiba-tiba sudah puluhan tahun setia kepada Tuhan. Akhirnya, kita bisa berkata seperti Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” We do the seemingly impossible.

Kehilangan nyawa karena Yesus

Saya rasa pilihan bahasa untuk ayat ini sangat berpengaruh. Dalam bahasa Indonesia, “hidup” identik dengan… hidup. Sedangkan “nyawa” identik dengan mati. Orang tidak berkata “mempertaruhkan hidup”, tetapi “mempertaruhkan nyawa”, karena konteksnya adalah kondisi di mana kita bisa sewaktu-waktu mati karena tindakan tersebut. Demikian juga dengan “meregang nyawa”, “mengorbankan nyawa”, dsb. Dan karena dalam ayat ini disebutkan tentang “kehilangan”, secara natural kata yang dipilih adalah “nyawa”.

Bagaimana bila “nyawa” diganti “hidup”? (Sebagai catatan, saya rasa tidak ada masalah dengan bahasa aslinya (ψυχην/ψυχη) karena kata tersebut bisa berarti kedua-duanya.) Kita mendapatkan pengertian yang sama dengan syarat mengikut Yesus dalam ayat sebelumnya (menyangkal diri, memikul salib, mengikuti Yesus): Barangsiapa memilih dirinya sendiri dibanding Yesus, dia akan kehilangan segalanya; tapi orang yang memilih Yesus dibanding dirinya sendiri, akan mendapatkan segala sesuatu. Kalau saya simpulkan dalam bahasa Inggris: It is only in Christ that you truly live.

Kita tidak bisa berkata kita siap mati untuk Yesus, bila kita tidak siap hidup untuk Dia. Siapa yang mau hidup semaunya sendiri, menghalalkan segala hal untuk menyenangkan diri sendiri, justru akan mendapati bahwa hidupnya berlalu dengan sia-sia (yaitu, “kehilangan nyawanya”). Tapi orang yang membaktikan hidupnya bagi Tuhan, menaati Tuhan, setia kepada Tuhan mendapati bahwa, sekalipun kelihatannya menderita, hidupnya memuaskan dan berbahagia. Inilah paradoks yang besar, yang tidak bisa dipahami manusia, selain mereka yang mengalaminya sendiri.

Dan, seperti tadi, hidup untuk Yesus itu tidak serta-merta 20, 50, 80 tahun, tapi hari ini. Pada hari ini, siapa yang kita layani? Keinginan kita sendiri, atau Tuhan Yesus? Pada hari ini, siapa yang kita taati? Kata hati kita sendiri, atau Tuhan Yesus? Kalau kita hidup untuk Dia, kita siap mati untuk Dia—kapan saja. Tapi kalau hidup untuk Diapun tidak, mana mungkin kita mati untuk Dia.

Itu semua dimulai dari hari ini. Sekarang. Kali ini.

Door in the face?

Di awal kita melihat syarat yang luar biasa berat yang diminta oleh Yesus. Orang mengeluh, “Aduh, susahnya!” Lalu permintaannya “diringankan”: “Oke, hari ini saja ya, sekali ini, untuk satu hal ini.” Bagaimana kelihatannya?

calendarSaya bersyukur karena hidup manusia ada dalam batasan waktu. Kita hanya punya 24 jam sehari, yang berarti baik penderitaan maupun kesenangan hari ini hanya bisa dialami dalam sekian jam itu. Tuhan tahu kita perlu istirahat, perlu break dari beban yang berat yang harus kita hadapi, makanya Dia buat matahari terbit dan terbenam. Keputusan untuk mengikut Yesus harus dibuat setiap hari—dan, untungnya, hanya setiap hari.

Lagipula Tuhan memberikan kita pengharapan dalam janji-Nya. Apakah saya punya kekuatan untuk mengikut Tuhan hari ini? Ini jawab-Nya:

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,
tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi;
besar kesetiaan-Mu!

—Ratapan 3:22-23

Terpujilah Tuhan!
Hari demi hari Ia menanggung bagi kita;
Allah adalah keselamatan kita.

—Mazmur 69:20

Tidak perlu pusing memikirkan besok; tidak perlu ngeri berpikir “seumur hidup” atau “selama-lamanya”. Hari ini. Kali ini. Yang satu ini. Sekarang. Dan Tuhan memberi kita kekuatan untuk mengikut Dia setiap hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s