Di Mana Hartamu Berada…

Tiga tahun yang lalu (saya lupa bulan apa, tapi yang jelas antara September-November), keluarga saya mengalami sesuatu yang tidak terlupakan. Kenang-kenangannya masih berdiri megah sampai sekarang.

Saya dan adik waktu itu masih tinggal di rumah kontrakan di Jakarta. Hari Minggu malam, tiba-tiba adik saya heboh keluar dari kamarnya (kamar kami berseberangan) dan panggil-panggil saya, “Cik! Cik!!”

Saya kaget dan keluar kamar, kirain dia menang lotre apa gimana gitu kan. Tapi kalimat berikutnya bikin lebih kaget lagi.

“Toko kebakaran!”

Ya ampun. Saya langsung ikut stres. Tapi ga ikut heboh sih.

Kami berdua duduk bersebelahan, dan saya telpon mama. Perasaan saya waktu itu campur aduk; saya ga tau harus bereaksi apa kalau si mama nangis-nangis di ujung sana. Setelah nada sambung yang rasanya seperti seabad lamanya, terdengar suara mama di telpon.

“Halo?”

Saya dengar suara banyak orang dan sirine seperti mobil polisi sebagai background sound, dan saya langsung tanya, “Halo, ma! Toko kebakaran??”

“Iya. Ini mama lagi di depan toko. Lagi nunggu branwir nih (bahasa kunonya pemadam kebakaran, red.), mosok harus panggil mobil lain di Batang (kabupaten tetangga Pekalongan), yo keburu abis tokone. Wih, Ri, apine gedhe banget lho!”

“….. Terus gimana?”

“Ya gapapa. Mbak Ester (PRT) sama koko (sepupu saya yang tinggal di toko) udah keluar. Motor juga dikeluarin.”

“….. Jadi gapapa ya?”

“Ya gapapa kok. Ya? Nanti mama telpon lagi, ini rame.”

Saya tutup telpon dan bilang ke adik saya, “Kayaknya gapapa tuh…”

Selanjutnya, kami berdua malah jadinya makan makanan Thailand. Dia yang bayar. *salah fokus*

Usut punya usut, ternyata penyebab kebakaran adalah sebuah warung tukang bikin plat nomer kendaraan yang nyempil di sebelah toko kami. Itu tanah sepetak memang punya kami, tapi tukang platnya ngotot ga mau digusur karena katanya, “Sudah tahunan di sini!” Ya sudahlah. Hari Minggu itu, entah dia lupa matiin kompor atau gimana, terbakarlah kedainya. Api menyambar masuk ke toko kami lewat lubang udara, dan yang pertama terbakar adalah dus-dus mesin yang ditaruh di rak atas. Alhasil kebakaran jadi besar.

Miris pertama, orang tua saya dapet kabar kebakaran ketika mereka lagi ibadah di gereja. Salah satu tetangga kami yang baik hati buru-buru datang ke gereja dan memberitahu orang gereja bahwa toko kebakaran. Mama saya pergi ke toko, tapi si papa tetap di gereja (berhubung dia pendetanya).

Miris kedua, sebenarnya apinya bisa dipadamkan lebih cepat dan toko ga akan habis terbakar, kalau saja kotamadya Pekalongan punya lebih dari satu mobil damkar. Cape deh. *toyor DPRDnya* Jadi si mama cuma bisa nonton tokonya kebakaran. Ditambah lagi ada wartawan kepo yang tau-tau sudah ada di TKP dan tanya, “Berapa kerugiannya?” Woy, gimana sih, apinya padam aja belom!

Besoknya…

Pagi-pagi mama sudah ke toko dan lihat apa yang masih bisa dipakai. Terus dia suruh pegawai-pegawai toko membereskan gudang (di seberang toko), yang mau dipakai jadi toko baru. Cepet amat geraknya si tante.

Waktu saya cerita tentang peristiwa ini di komsel, teman saya bilang, “Hebat nyokap lu. Toko kebakar abis, ga gila aja uda bagus.” Bukan cuma dia; saya sendiri aja salut dengan si mama. Setelah jadi anaknya selama 20 tahun lebih, hari itu saya benar-benar melihat seperti apa orang yang mengasihi Tuhan lebih dari berkat-Nya. Beberapa waktu setelah kebakaran, mama cerita, “Waktu mama lihat toko kebakaran sampai habis, mama inget kata Tuhan: “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Terus mama doa dalam hati,

“Tuhan, hartaku bukan di situ.””

Karena hartanya bukan di situ, dia ga stres, ga nangis-nangis, apalagi jadi gila (!) waktu kekayaan dan hasil usahanya hilang dalam semalam. Karena hartanya bukan di situ, dia ga menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi, dan bahkan tetap bisa bersyukur karena tidak ada korban jiwa (luka pun ga ada) dalam kebakaran itu.

Saya ingat tahun lalu di bulan-bulan seperti sekarang ini, mama ngobrol sama salesman spare part mesin tentang kebakaran itu, dan dia bilang, “Dua puluh lima tahun lalu, saya ga punya apa-apa, dan Tuhan berkati saya luar biasa. Tuhan bisa lah, berkati saya lagi lebih dari itu.” Menurut dia, kebakaran itu membuat dia terpaksa pindah ke gudang di seberang toko, yang notabene bangunannya lebih luas, dan dia jadi stok barang lebih banyak, penjualan meningkat, penghasilan juga. Dan sekarang keadaan kami pulih sama sekali, bahkan lebih baik.

Dan suatu hari, waktu kami berdua ngobrol santai, saya bilang ke mama bahwa arti nama Manasye adalah “lupa”. Yusuf, bapaknya, memberi nama anak sulungnya demikian karena, katanya, “Allah telah membuat aku lupa sama sekali pada kesusahanku (di masa lalu).” Mama dengan antusias bilang, “Kok seperti mama. Mama kadang lupa lho, dulu pernah kebakaran!”

Ternyata harta mama saya tidak bisa terbakar habis, karena harta sejatinya ada di surga.

2 thoughts on “Di Mana Hartamu Berada…

  1. bagus kesaksiannya glory…. kapan kapan aku pinjem… jadiin bahan sharing di keluargaku yah…. hihihi❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s