Happy Anniversary!

Bukan, post ini bukan tentang pacar kok. Apalagi tentang pernikahan. Apalagi ulang tahun anak (!). Ini sekedar memperingati setahun saya di kampung halaman tercinta, kota kecil bernama Pekalongan, yang terletak di – siapa tau ada pembaca yang ga tau kota itu ada di benua mana – Jawa Tengah, antara Pemalang dan Semarang. Ga tau Semarang? Wah, sampeyan ga ketulungan.

Sementara bocah-bocah kota kecil pada berhamburan di kota besar dan metropolitan, dan banyak yang ga mau pulang karena ga tau mau ngapain di kota asalnya, saya justru bercita-cita mau pulang ke Pekalongan setelah lulus kuliah. Singkat cerita, saya benar-benar pulang. Berbekal ilmu desain dan teologi yang saya pelajari semasa kuliah, saya datang ke Pekalongan daannn… Jaga toko plus serabutan di gereja.

Kelihatannya ngenes gitu ya. Sekolah susah-susah, bayar mahal-mahal, uda belajar banyak, akhirnya malah di toko, di kota kecil pula? Padahal kan dengan bekal yang saya punya, saya bisa go international dan mengubah dunia! *peluk globe*

Ah, tapi saya bisa bilang apa yang ga bisa dibilang banyak orang seusia saya: Saya puas dengan hidup saya. Saya bahagia.

Apa yang membuat saya puas dan bahagia?

Saya ga ingat kapan saya mulai memikirkan hal ini, tapi ceritanya kira-kira begini. Sebagai anak muda yang baru lulus kuliah dan bingung mau ngapain, saya penuh semangat dan cita-cita. Saya membayangkan saya mau melakukan ini dan itu, menjadi seperti ini dan itu, dsb. Bahasa kerennya, saya punya berbagai visi. Walopun ga paham dunia pendidikan, tapi mau nimbrung dong, dalam pendidikan di Indonesia. Walopun buta ilmu kesehatan, tapi mau ikut mengkritisi kiprah pemerintah dalam dunia kesehatan. Walopun ga kompeten dalam penanggulangan masalah sosial, boleh kan, ikut komentar ini itu tentang harusnya gimana. Dst. Biasalah, namanya juga baru jadi sarjana, merasa uda kenal dunia.

Sampai terjadilah yang berikut ini: saya bekerja. Yang uda kerja, tau dong, betapa pekerjaan membangunkan anak muda dari mimpi indah mereka. Ya begitulah nasib saya. “Kok begini? Kok begitu??” itu pertanyaan sehari-hari. Saya belum tahu bahwa secara bertahap Tuhan membuka mata saya untuk hal-hal yang sebelumnya tidak saya pikirkan.

Saya ga perpanjang kontrak kerja dan mulai kuliah teologi, dan bertemu banyak teman baru. Saya dengar berbagai cerita tentang kehidupan jemaat dan para pendeta di gereja mereka masing-masing dan saya diperkaya sekaligus bingung. Bocah yang selama ini terbiasa dengan Bible study dan interaksi dengan orang-orang yang seumur dan setingkat pendidikannya ini jadi bingung. Kalau saya nyemplung dalam dunia pelayanan, bagaimana saya harus menghadapi masalah-masalah yang diceritakan teman-teman saya itu? Mendadak saya sadar saya sangat-sangat kekurangan pengalaman, dan sayapun mulai belajar diam kalau tidak menguasai keadaan. Saya mulai banyak mendengarkan dan mengurangi komentar. Saya mulai terbiasa jujur berkata, “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

Lalu. Belum lengkap usia 20an kalau belum galau dengan yang namanya hidup. Lewat firman-Nya, Tuhan banyak berbicara kepada saya. Tapi warisan yang paling berharga buat saya adalah Pengkhotbah 9:10, “Apapun juga yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga.” Waktu saya bingung dengan masa depan saya, saya merasa tidak puas dengan keadaan saya sekarang, kalimat itu jadi pegangan saya. “Diam, Glory,” kata saya pada diri sendiri, “dan kerja yang bener. Pikirin aja kerjaannya.”

Seakan-akan mau digojlok dalam prinsip yang penting itu, saya “kebetulan” membaca salah satu quote dari the great Billy Graham: “Read your Bible, work hard and honestly, and don’t complain.”

Saya ulangi ya, biar nyresep.

Read your Bible, work hard and honestly, and don’t complain.

Ini seperti kesimpulan dari semua yang saya pelajari sejak masih kuliah sampai sekarang. Saya ingat waktu kuliah saya ikut grup Bible study dan saya membaca kalimat ini: “Bukan kita yang menentukan dalam hal apa kita akan melayani Tuhan. Ketika kita melihat Tuhan sedang mengerjakan sesuatu, di situlah kita ikut bergabung bekerja bersama Dia.” Apa yang saya pelajari setelah lulus kuliah itu seperti kelanjutannya. Semua itu mengubah cara pandang saya terhadap hidup, masa depan, dan semua cita-cita saya.

Sejak itu saya hanya minta hal yang sederhana dari Tuhan. “Di mana Tuhan tempatkan saya, beri saya kesempatan untuk bekerja.” Saya tidak lagi mengklasifikasi pekerjaan besar dan kecil. I just want to do whatever my hands find to do, whatever God allows me to do, with all my strength. Dan, “Don’t complain,” kata om Billy.

Saya belajar banyak. Dalam waktu bertahun-tahun.

Lalu saya pulang ke Pekalongan dan mulai menjalani hidup yang serba rutin. Tentu ada pekerjaan yang saya suka dan tidak suka, tapi ya itu tadi, kerjakan semuanya dan jangan banyak omong.

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang sahabat yang tinggal di Jakarta. Ngobrol, ngobrol, dan dia ngomong sesuatu yang intinya memuji saya (I’ll take it as a compliment, thank you). Saya bingung baca chat nya. Apa seperti itu dulu teman-teman saya di Jakarta memandang saya? Padahal saya sendiri makin lama makin sadar dengan banyaknya kekurangan saya.

Saya baru sadar bahwa saya ga punya waktu buat memuji diri. Self-consciousness nya berkurang jauh karena sibuk kerja. *cailah*

Eh, tapi serius ini. Karena kerjaan ada terus, kan ga sempat merenungkan betapa hebat dan pinternya saya (cih) – dan itu justru bagus!

Setelah setahun di Pekalongan, saya sama sekali belum puas dengan diri saya sekarang. Ini bukan ga menghargai diri sendiri lho. I love myself, and I think I’m awesome. *dilempar bakiak* Maksudku, kemajuan saya kok belum sebanyak yang saya inginkan. Ibarat penjualan, ga memenuhi target.

Tapi saya juga sadar bahwa sekalipun belum memuaskan, kemajuan saya jelas ada. Saya lebih maju dalam bakat-bakat saya, saya lebih serius cari duit (–> ini penting), saya lebih rendah hati dan berkorban banyak buat pelayanan, saya lebih bijak dalam bersikap dan berkata-kata. Dan yang paling jelas, saya sama sekali ga kangen kehidupan hedon ala kota metropolitan (yang dampaknya sadis buat dompet saya).

Karena post nya sudah puanjangg, mari kita akhiri. Setahun sudah berlalu. Saya ngeri (karena begitu cepatnya waktu berjalan) sekaligus senang (karena saya sama sekali ga menderita, malah justru bahagia) dan bersemangat (melihat apa yang akan Tuhan kerjakan setahun lagi)! Masih banyak yang saya pelajari selama tinggal di kota kecil ini. Tapi ntar aja lah ya, kalo pas nge-post lagi.

Apalah artinya post di blog kalau ga ada gambarnya. Berikut ini hasil corat-coret waktu toko lagi ga rame.

image

I love you, kota Batik. And I’m thankful for the time I’ve spent with you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s