Stres Tersembunyi

Beberapa hari lagi, bertepatan dengan Lebaran, gerejaku akan mengadakan retreat keluarga. Tebak siapa ketuanya?  Saya, yang belum berkeluarga ini. Ya mungkin karena belom berkeluarga jadi ada waktu luang buat jadi ketua retreat? -.-

Lalu kenapa judul post-nya “Stres Terselubung”? Bentar, stresnya bukan karena belum kunjung berkeluarga kok. Walopun emang uda ditanyain tentang jodoh oleh orang-orang gereja mulu, itu sama sekali ga bikin setres. Stresnya justru karena retreatnya. Semakin dekat hari H-nya, semakin stres saya.

Itu memang kelemahan psikologis saya; di luar aku rapopo – dan aku emang krosone rapopo, tapi di dalem aku opo-opo. Ga nangis, ga curhat, karena memang ga berasa sedih dan ga tau juga apa yang harus diceritain, tapi sejatinya beban pikiran. Dan lebih repotnya, stresnya terselubung: hanya terasa di lambung (baca: maag) dan bawaan yang serba kemrungsung – kata orang Jawa. Maksudnya, ga bisa menikmati apapun yang dikerjakan. Simply put, I’m becoming a machine. Mesin karatan mungkin ya, terutama di bagian maag-nya.

Ya, aku ga menikmati apapun yang aku kerjakan. Kerja di toko rasanya pengen buru-buru pulang, pelayanan di gereja rasanya pengen cepet selesai, kerjaan paruh waktu rasanya pengen ditinggal aja, tapi begitu sampe rumah, masih aja ga pengen ngapa-ngapain dan mau langsung tidur! Apalagi kerjaan retretnya sendiri; ibarat pacar, serasa pengen diputusin aja. Demikian seterusnya. Akhir-akhir ini diperparah dengan hormone attack. Dan sudah sebulan ini begitu terusssss…

Jadi? Solusinya?

Aku sempat berharap stres ini bisa hilang lewat sekali doa. Jadi ya doa deh. Tapi ternyata ga hilang! Hmmm, coba cara lain: cari hiburan (kebetulan lagi balik ke hobi lama yang berhubungan dengan desain). Eh, gagal juga! Bagaimana dengan comfort food?? Ga bisa juga – tambah gendut iya! Setelah coba cara ini dan itu, akhirnya… Saya…

Menyerah.

Yaudah, suka ga suka, mau ga mau, eneg ga eneg, ini semua harus dijalani. Dan diselesaikan.

Salah satu sumpah saya (cie, sumpah) kepada diri sendiri adalah saya akan menyelesaikan apa yang saya mulai. Makan tuh sumpah. *keselek*

Ya begitulah hidup. Kita tahu kita sudah dewasa ketika kita melakukan apa yang harus kita lakukan, bukan hanya apa yang ingin kita lakukan. Dengan kesadaran 100% bahwa aku ini orang yang cepet bosen, aku memutuskan mendidik diri sendiri buat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik mungkin. Karena orang dewasa harus bertanggungjawab atas keputusannya kan?

Bukannya gampang. Tapi hidup kan emang ga gampang. Aku ga mau melihat ke belakang dan merasakan penyesalan. Mendingan abis-abisan lah, tanggung, tinggal sedikit lagi.

Ini kayanya dramatis banget ya, padahal cuma retreat.. :p

Yak, curhat time is out. Ayo kerjo, kerjoo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s