Semak Duri Dalam Hati

Ini bukan lagu galau kok.

Jadi ceritanya saya kebagian tugas renungan doa pagi di gereja, dan ayatnya Lukas 8:5-15, perumpamaan tentang penabur. Jujur aja, saya belum pernah sungguh-sungguh memikirkan tentang perumpamaan ini. Biasanya berlalu begitu saja, dengan makna yang menurut saya sudah cukup jelas. Berhubung tugas bawa renungan, saya baca lagi dengan lebih hati-hati, dan cari referensi dari tafsiran. Daaan, begitu saya lebih serius mengerjakan tugas saya, saya belajar hal yang penting.

Penabur menabur benih (yang, kemudian dijelaskan oleh Yesus, adalah firman Tuhan). Benih itu jatuh di atas empat macam tanah, yaitu di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, dan…

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. (7)

Tempat terakhir adalah tanah yang baik, dan tentu saja benih itu tumbuh dengan baik di atas tanah yang baik. Sekarang perhatian saya terarah pada benih yang jatuh di tengah semak duri itu. Tuhan Yesus kemudian menjelaskan apa maksudnya:

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. (14)

Benihnya tumbuh, sih. Tapi buahnya ga bagus, karena pertumbuhannya terganggu oleh semak duri yang menghimpitnya. Mungkin tanamannya malnutrisi atau hidup segan mati tak mau. Yang jelas, buahnya ga bagus. Kalau buah ga bagus, apa gunanya? Dimakan ga enak, diolah ga bisa. Intinya, tanaman itu memang tumbuh, tapi tidak menghasilkan.

Kalau diaplikasikan dalam hidup sehari-hari, ini mungkin bisa diparalelkan dengan orang yang… Kristen, sih. Percaya Yesus, sih. Tapi kehidupannya tidak membawa manfaat apa-apa buat orang-orang di sekitarnya. Buahnya mentah dan tidak pernah matang, tidak berguna untuk orang lain. Apa penyebab hal ini? Kalau dalam metafor penabur ini, si tukang gara-garanya adalah semak duri.

thorny bushKarena metafor yang dipakai adalah “semak duri”, kalau Tuhan Yesus tidak menjelaskan, orang tentu berpikir bahwa yang dimaksud adalah masalah, kesulitan, dst yang susah-susah itu. Tapi ternyata, disamping kekuatiran, Tuhan menyebut dua hal yang sama sekali tidak terasa seperti duri-duri kehidupan, yaitu kekayaan dan kenikmatan hidup.

Kekuatiran bisa membuat benih firman Tuhan yang ditabur di hati kita tidak bertumbuh – masuk akal. Kalau orang kuatirnya sampai lebay, dia fokus pada dirinya dan masalahnya sendiri, jadi ga mau dengar firman deh. Atau, kalau dengarpun, sekedar iya-iya saja. Bagaimana dengan kekayaan dan kenikmatan hidup? Kenapa dua hal itu membuat orang percaya gagal menghasilkan buah yang matang?

Yang berbahaya dari kekayaan bukan uangnya – ini harus diperhatikan. Yang berbahaya dari kekayaan adalah rasa larger than life dan rasa aman yang palsu; seolah-olah karena kita kaya, kita tidak perlu tunduk pada siapapun. Sedangkan kenikmatan hidup memberi kita ilusi bahwa hidup itu seharusnya nyaman dan menyenangkan; padahal kita yang sudah hidup di dunia cukup lama dan punya banyak pengalaman pasti bilang bahwa hidup itu banyak tantangan.

Rasa-rasa yang palsu inilah yang menghimpit benih firman Tuhan yang ditaburkan. Kenapa? Karena firman Tuhan pasti menuntut kita untuk berubah; sedangkan rasa kepemilikan, rasa aman, kenyamanan, membuat kita tidak ingin berubah.

Secara garis besar, saya menganut teori Calvin tentang total depravity. Saya percaya bahwa manusia itu rusak sepenuhnya karena dosa; tidak ada hal dalam dirinya yang baik, yang “berpotensi” membawa keselamatan seandainya dia berusaha cukup keras. Karena itu, setelah percaya pada Kristus, orang yang dari sononya sifatnya dianggap baik pun harus berubah. Jangan lupa bahwa standar yang Tuhan kita tetapkan itu tingginya selangit: “Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:48). Jadi tidak ada dari antara kita yang sudah cukup baik, bahkan dalam sifat-sifat terbaik kita. Saya bisa jadi dari sananya murah hati, suka memberi. Tapi saya masih bisa lebih baik lagi, lebih bijak lagi, dalam hal kemurahan hati. Dan perubahan yang konsisten inilah, “menjadi serupa dengan gambar Khaliknya,” yang menjadi ciri pertumbuhan iman yang sehat.

Lha bagaimana kalau tidak mau berubah? Bagaimana kalau ada sifat dalam hidup kita yang tidak ingin kita ubah, karena kita merasa sudah nyaman dengan sifat itu? Bisa jadi hal itu adalah dendam pada seseorang yang kita pendam bertahun-tahun dan kita tidak rela mengampuninya begitu saja. Bisa jadi kita merasa sudah cukup, tidak ada lagi yang perlu ditingkatkan dari diri kita. Bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang mengganggu ego kita. Bisa jadi apa saja yang membuat kita tidak rela untuk berubah. Ini benar-benar musibah.

Anggaplah hidup kita ini seperti steak. Saya pernah makan steak yang aneh bin ajaib: satu sisi gosong karena terlalu matang, dan sisi yang lain tidak matang. Alhasil: ga bisa dimakan. Mempertahankan wilayah-wilayah dalam hati kita yang ditumbuhi semak duri, tempat-tempat yang kita pertahankan dari teguran firman Tuhan, hal-hal yang kita tau Tuhan mau kita ubah tapi kita tidak bersedia, itu seperti bagian steak yang tidak matang. Membesar-besarkan kelebihan kita, fokus hanya di situ saja, itu seperti bagian steak yang terlalu matang. Seharusnya seluruh permukaan steak itu dipanggang dengan merata, baru deh enak. Seharusnya semua sifat-sifat kita, kita sesuaikan dengan firman Tuhan, baru deh, menghasilkan buah yang matang.

2 Timotius 3:16 bilang bahwa firman Allah itu “mengajar, menyatakan kesalahan…” Saya rasa tidak ada orang yang suka diekspos kesalahannya. Makanya orang yang membaca Alkitab tidak dengan rendah hati, tanpa kesediaan untuk ditegur dan berubah, ga mengalami perubahan apa-apa dalam hidupnya.

Perumpamaan ini bukan ditulis buat identifikasi (saya termasuk tanah yang mana), tapi untuk refleksi. Apa semak duri dalam hidup kita? Di bagian mana kita tidak ingin Tuhan mengubah kita? “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar,” demikian kata Tuhan. Maksudnya, “Kalau kamu berasa, ya berubahlah.”

One thought on “Semak Duri Dalam Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s