Adaptasi

Lama ga aktif di blog, dan daftar post isinya ‘drafts’ semua. Yah, maklum, sekarang jadi orang sibuk dan kurang pinter bagi waktu. Sekarang malah jadi heran sama diri sendiri, kok dulu banyak waktu buat merenung, mikir, dan nulis ya? Sekarang kok rasanya ga ada waktu ya??

Faktanya memang begitu. Kegiatan sehari-hari saya sekarang kerja di toko dari pagi sampai sore, lanjut aktivitas ini-itu yang rata-rata berhubungan dengan gereja, sampai malam. Toko cuma tutup hari Minggu dan Minggu justru kegiatan gereja penuh. Demikian seterusnya hari demi hari, minggu demi minggu, dan sudah berjalan selama SEPULUH!!…. bulan.

Ah, kirain sepuluh taun. Hihihi.

Karena sudah pengalaman kerja, saya tau bahwa kira-kira tiga bulan pertama bekerja biasanya orang pada rewel dan pengen berhenti karena ga cocok lah, ga suka kerjaannya lah, temen-temennya ga asik lah, dsb. Tapi fase berikutnya bernama fase “mulai betah”. Dan kalau disabar-sabarin, si pekerja bisa tahan bertahun-tahun, bahkan sayang kalau harus meninggalkan pekerjaannya.

Tadinya saya pikir saya bakal sangat ga betah di kota asal saya. Maklum, pulang dari kota besar, sudah jadi anak gaul, jangan-jangan saya kecewa pada humdrum lifestyle di kota kecil dan meratap minta dikembalikan ke ibukota. Ternyata malah sebaliknya, saya ga kangen kehidupan di Jakarta. Saya seneng-seneng aja di sini. Boro-boro meratap; karena emang dasarnya anak rumahan, saya di rumah mulu dan ga pernah jalan-jalan. Emang bakat nerd dari sononya ya.

Tapi masalahnya bukan hanya betah atau tidak. Yang lebih susah untuk beradaptasi adalah kondisi fisik dan mental saya sehubungan dengan pekerjaan. Sekalipun kerjanya di toko milik orang tua, saya perlu banyak waktu untuk belajar dan menguasai bidang jualan toko ini. Menurut saya sendiri pekerjaan saya ga berat, tapi kok ya ternyata ga gampang juga. Dan selain kerja di toko, ada semacam kerjaan “part time” juga di gereja. Musik, sharing firman, komsel, dan rekan-rekannya, menyita waktu dan tenaga untuk latihan dan persiapan. Dulu waktu masih kuliah, saya punya waktu yang berlimpah buat persiapan sharing firman. Sekarang, saya kadang sampai sedih karena begitu mepetnya waktu.

Yang lebih menyiksa adalah sangat kurangnya waktu untuk mengeksplor minat-minat lain yang saya miliki. Mau mendalami musik, desain, baca buku, menulis, boro-borooo… Seumur-umur, baru sepuluh bulan terakhir ini saya mengeluh kekurangan waktu.

Jadi begitulah, hidup di kota kecil kok malah jauh lebih sibuk dibanding waktu saya di Jakarte. Jangan-jangan saya terlalu santai waktu masih di ibukota?? Nah, karena artikel ini ditulis bukan dalam rangka mengasihani diri sendiri tapi buat berbagi poin yang saya pelajari, saya sampaikan juga sisi baiknya.

Sebenarnya saya memberi tenggat waktu diri sendiri untuk adaptasi selama lima tahun.

Yap, lima TAHUN.

Sudah hampir setaun, euy! Dan saya merasa belum ada kemajuan dalam kemampuan saya untuk membagi waktu. Saya memberi waktu yang lama buat diri sendiri untuk beradaptasi justru karena saya kenal diri saya. Gini-gini, saya tipe seniman: hanya bisa berpikir dengan cemerlang kalau lagi mood. Dan itu menyusahkan sekali, saudara-saudara, karena saya kesulitan “memerintahkan” diri saya untuk menempatkan diri pada saat diperlukan. Contoh kebiasaan jaman dulu waktu masih kuliah, saya biasanya butuh waktu berhari-hari hanya buat memutuskan mau ambil tema apa dan visual seperti apa untuk tugas kuliah. Misal butuh lima hari; empat tiga perempat hari itu buat bengong dan diem aja, lalu, voila! tiba-tiba inspirasi datang dan saya buru-buru membuat sketsa. Tugas selesai dalam waktu singkat. Tapi nunggu mood nya itu lho yang ampun-ampun lamanya.

Jadi lima tahun sama sekali ga lebay, karena saya harus “mengubah jati diri” dari tipe pemikir yang moody menjadi semacam mesin yang bisa pindah gigi dalam sekejap. Belum lagi kalau dalam tahun-tahun ini saya menikah. Tambah lagi deh yang harus diurus, dan semakin keras saya harus mendisiplin diri saya untuk membagi waktu. Saya sering sedih karena merasa diri kurang disiplin, kurang tegas membagi waktu, kurang rajin. Tapi kalau masih banyak yang kurang, berarti saya masih punya ruang untuk peningkatan dong. Dan itulah yang saya kejar.

Dalam pikiran saya, Glory lima tahun lagi adalah orang yang hebat, yang disipliiin banget membagi waktu, yang bisa juggling kerjaan satu sampai sepuluh, dan menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. Beuh, mantep banget.

Ya mungkin kenyataannya ga bakal gitu-gitu banget ya. Hahahah. Namanya juga ngayal.

Tapi selama saya digembleng oleh tugas ini itu, kerjaan ini itu, di kota yang kecil ini, saya selalu ingat apa yang dikatakan oleh om Billy Graham:

Read your Bible. Work hard and honestly. And don’t complain.

Dan apa yang dikatakan oleh om Salomo ribuan tahun yang lalu:

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

And btw, I can’t be happier than I am now. My life rocks!😉

One thought on “Adaptasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s