No Offense

Itulah frasa yang sering dipakai bule-bule kalau mereka mau memberi kritik pada seseorang. Dalam bahasa Indonesia kira-kira maksudnya, “Jangan tersinggung, yaa.”

angryTapi siapa sih yang ga tersinggung kalau dikritik? Bahkan ada orang-orang yang terang-terangan membenci kritik dan menuding para pengkritiknya “menghakimi” dia. Tuhan Yesus aja bilang, “Jangan menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi,” ‘kan? Jadi apa hak kita untuk menghakimi?? Apalagi kalau kita ga tau sikon orang yang kita kritik??

Lah, lah, jadi panas. Hehehe.

Coba dilihat dari sisi sebaliknya. Ada beberapa argumen yang aku ajukan berkaitan dengan mengkritik orang. Aku di pihak yang pro kritik (tentunya kritik yang membangun, bukan yang pake bumbu kata-kata tajam dan beragam makian serta nada suara setinggi langit-langit).

#1 Seringkali orang mengkritik kita hanya tentang hal tertentu.

Ini contohnya. Suatu kali aku dimasukkan dalam satu tim musik di gereja bersama orang-orang yang lebih jago. Salah satu rekan pemusik mengkritik aku waktu latihan, dan tentunya yang dia kritik adalah permainan musikku. Setelah selesai ngeband, kami baik-baik aja. Bahkan setiap kali ketemu di luar gereja dia selalu menyapa dan mengajak ngobrol.

#2 Memberi kritik itu kewajiban kita.

Kalau kita ada di pihak orang yang memberi kritik, sebenarnya memang kita punya tanggung jawab moral untuk memberi masukan pada orang lain, supaya dia mengalami peningkatan (dalam hal yang kita beri kritik itu). Aku ambil contoh tentang musik lagi. Kalau aku main musik dengan pemusik pemula, dan permainan dia mengganggu keharmonisan musik secara keseluruhan, aku jelas bertanggung jawab buat memberi kritik dan masukan. Kalau aku diam saja, justru aku jadi salah.

………..

Nah, kita jadi salah bila kita memberi kritik yang tidak relevan dengan masalahnya. Misalnya guru matematika yang bilang muridnya “bodoh” karena kesulitan mengerjakan soal. Kenapa ga relevan? Karena murid itu belum tentu benar-benar bodoh; bisa jadi dia ga bakat dalam ilmu hitung. Gimana kalau di rapornya nilai matematikanya 6 tapi nilai geografinya 9? Itu bukan bodoh. Itu mah emang bukan minatnya. Bila kita berbuat seperti guru itu, kita menghakimi. Menghakimi berarti mengambil konklusi tentang karakter seseorang (ingat, karakter, bukan kemampuan) berdasarkan premis-premis yang tidak (cukup) relevan untuk mengambil konklusi itu.

Seringnya, kesalahan kita dalam mengkritik orang lain adalah:

1. Jumping into conclusions, yaitu menghakimi tadi. Kritik kita jadi ga relevan karena kesimpulan kita melebar ke mana-mana dan bukan hanya pada hal khusus yang memang perlu dikritik.

2. Subjektif. Kadang apa yang kita rasa sebagai kekurangan dari orang lain sebenernya sama sekali bukan masalah besar. Tapi kita terlalu menuntut dan akhirnya memperburuk keadaan.

3. ‘Bungkusnya’ – yaitu pilihan kata, nada suara, situasi dan kondisi pada saat melontarkan kritik – tidak tepat.

4. Niatnya! Kalau kita mengkritik karena kita jengkel atau ga suka sama orangnya, dan bukan karena kita berharap orang ybs mengalami kemajuan, secara naluriah orang itu berasa loh.

Sekarang, yang tidak kalah penting adalah, bagaimana kita menerima kritik. Tentu saja dikritik itu ga enak. Manusia mah pengennya dibilang, “Wah, kamu hebat! Luar biasa!” dan dalam hati kita berharap orang mengakui bahwa kita sudah sempurna dan sudah ga mungkin lebih hebat lagi. Tapi kenyataannya, di atas langit selalu ada langit. Apalagi kalau kita belom sampe langit, masih di rawa-rawa. Pasti kita menuai kritik. Bagaimana kita meresponnya tanpa marah-marah?

#1: Temukan hal apa yang membuat orang itu melontarkan kritik.

magnifying glassKita akan bertemu dua macam orang: yang menghakimi, dan yang murni mengkritik. Tapi pertama-tama kita harus paham dulu apa yang membuat mereka menghakimi/mengkritik kita. Misal, si A menerima kritik yang berbunyi, “Kamu ini males bener sih!” Si A perlu tanya pada orang ybs, apa yang membuat orang itu berkata demikian. Jelas sekali bahwa kalimat si pengkritik adalah judging karena bukan hanya dikaitkan dengan tindakan si A, tapi juga dengan karakternya. Tapi tetap perlu dicari apa penyebab orang itu berkata demikian. Usut punya usut, kritik tersebut dilontarkan karena si A sering terlambat datang kerja. Nah! Ketemu deh apa masalahnya.

#2: Bedakan antara tindakan dan pribadi kita.

Bukan berarti kamu buruk sepenuhnya, cuma dalam satu hal ini saja.

Ingat, pada umumnya kritik diberikan tentang hal tertentu yang kita lakukan, bukan pada karakter kita. Jadi jangan gampang tersinggung. Bukan berarti kamu buruk sepenuhnya, cuma ada satu hal ini yang perlu diperbaiki. Misal seorang cewe berdandan, lalu pasangannya bilang, “Make up kamu terlalu tebel deh,” dan cewe itu bete sepanjang hari karena pesan yang masuk ke otaknya adalah, “Kamu jelek.” Kita tentu sepakat bahwa si cewe itu lebay! Yang dikritik kan make up-nya, bukan mukanya. Jadi, pisahkan antara hal yang dikritik dengan pribadi kita.

#3: Maafkanlah orang yang menghakimi kita.

Kalau kita marah dan berkata, “Dasar tu orang emang mulutnya sembarangan!” apa yang terjadi? Kita jadi sama seperti dia.

……………

Sebelum artikel ini diakhiri, ada satu hal penting yang harus aku sampaikan. Orang yang secure dengan dirinya sendiri tidak akan gampang sakit hati karena kritik. Kenapa? Karena dia tau siapa dia dan seberapa tinggi nilai dirinya. Dia menerima dirinya sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dan dia sendiri mau berkembang jadi lebih baik.

heartDan bagaimana orang bisa secure seperti itu? Jawabanku adalah bila dia melabuhkan hidupnya di dalam Tuhan. Salib Yesus Kristus adalah jawaban tentang seberapa tinggi nilai diri kita di hadapan Tuhan. Tanpa salib itu, harga diri kita ditentukan oleh apa kata orang lain tentang kita. Tapi orang yang ada di dalam Dia ga terombang-ambing oleh kata-kata orang lain, karena dia pegang kata-kata Tuhan. Dan apa yang Tuhan katakan, itulah kebenaran.

So, before everything else, come to Jesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s