Teruntuk Para Wanita Single

Judulnya spesifik sekali ya. Soalnya topik ini mungkin lebih relevan buat cewe single dibanding buat cewe yang sudah menikah (apalagi buat cowo, tingkat relevansinya mungkin agak minus).

Beberapa tahun lalu, aku ngobrol dengan seorang teman (sesama wanita) tentang sesuatu yang jaraaang dibahas oleh para wanita, sekalipun dalam obrolan mereka yang senantiasa panjang lebar. Berkat obrolan itu, aku jadi tau bahwa aku bukan satu-satunya yang bertanya-tanya dan merasa tidak nyaman dengan hal tersebut. Kemudian aku baca buku Every Young Woman’s Battle, dan aku semakin sadar bahwa sebenernya apa yang aku hadapi adalah hal yang biasa buat kaum wanita, dan aku ga sendirian.

Yang aku maksud adalah pikiran yang bersifat seksual.

mirror

Seks mungkin adalah salah satu topik yang paling jarang dibicarakan oleh para wanita. Ya mungkin ada juga sih komunitas cewe-cewe semacem yang di Sex & The City, yang hobinya ngomong tentang getting laid, sexy hunks, dll semacem itu; dan tentu sangat terbuka kemungkinan ada cewe-cewe yang pikirannya seputar seks mulu. Aku juga pernah baca tentang komunitas wanita yang melatih dirinya sendiri mencapai kepuasan dengan masturbasi. Macem-macem wujud lah di dunia ini. Tapi dalam keadaan biasa, di lingkungan sekelilingku, seks adalah sesuatu yang sangat jarang dibicarakan, terutama oleh kaum wanita. Ada ketidaknyamanan membicarakan hal ini; mungkin karena wanita Indonesia pada umumnya merasa seks adalah urusan yang sangat pribadi dan tidak sepatutnya dibicarakan.

Tapi, dorongan seksual itu nyata. Wanita, seperti layaknya pria, punya kebutuhan seksual. Dan wanita juga memikirkan hal-hal seksual, sekalipun (menurut pengetahuan umum) tidak sesering pria.

Aku sendiri juga mengalami hal itu kok. Dan kalo dipikir-pikir, jangan-jangan banyak wanita yang seperti aku, yang memendam pikiran itu untuk diri sendiri, dan punya pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa aku ga normal karena punya pikiran seperti ini ya?”  dan nangis-nangis karena merasa berdosa. Ah, pasti banyak yang begitu. Bener kan, sista-sista?

Jadi aku mau bahas beberapa hal dalam post ini. Yang cowo-cowo diem aja ya, atau cari postingan di blog lain tentang seksualitas pria. Hahaha. Yang cewe-cewe, kalo mau comment, silakan.

Apakah wajar kalau saya memiliki dorongan seksual?

Ya.

Wanita, sama halnya dengan pria, juga punya dorongan seksual. Wanita bisa berfantasi seksual, menikmati rangsangan seksual, dan tubuhnya menghasilkan hormon yang menimbulkan nafsu seksual. Itu semua wajar. Malah kalau kita sudah melewati masa puber tapi sama sekali ga pernah terangsang, ga pernah timbul pikiran tentang hal-hal seksual, ga ada ketertarikan seksual terhadap orang lain, itu baru perlu dipertanyakan.

Apakah dosa bila timbul pikiran tentang hal-hal seksual?

Dengan pede aku akan jawab: Tidak.

Aku rasa rata-rata wanita merasa bahwa ketika timbul pikiran seksual dalam benak mereka, mereka sedang berdosa. Sebenernya dorongan seksual dan implementasinya (yang paling sederhana tentu pikiran tentang hal-hal seksual) adalah hal yang normal; jadi ya wajar sekali bila kita sebagai mahkluk seksual mengalami timbulnya pikiran seksual. Pertanyaan ini kira-kira mirip dengan: “Apakah dosa bila saya merasa lapar?” Ya tentu saja tidak. (Bedanya, seks bukan merupakan kebutuhan pokok seperti makanan.)

Apa yang harus saya lakukan ketika timbul pikiran-pikiran seksual?

Nahh, ini nih yang paling penting!

Sekalipun dorongan seksual adalah hal yang wajar, itu tidak berarti kita punya alasan untuk melihat gambar-gambar erotis, nonton film porno, masturbasi, atau berhubungan seks dengan pacar. Orang yang hidup dalam kemiskinan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok sekalipun tidak mendapat izin untuk mencuri; demikian juga adanya dorongan seksual dalam diri kita bukan berarti kita boleh memenuhinya di luar ikatan pernikahan dengan pasangan yang sah. Tadi sudah disebutkan bahwa seks bukan kebutuhan pokok seperti makanan; kita ga akan malnutrisi, sakit, atau meninggal kok, kalau tidak memenuhinya.

Banyak orang, ketika timbul dorongan seksual, menyerah pada dorongan itu. Ga heran, pornografi menjadi salah satu (atau malah paling?) industri bernilai terbesar di dunia. Bahkan orang-orang yang pelayanan di gereja, termasuk banyak pendeta-pendeta besar, terperangkap dalam kecanduan seksual.

Dosa seringkali berawal dari kebutuhan, yang kemudian dieksploitasi. Lihat saja judi; berawal dari kebutuhan untuk rekreasi, orang-orang bertaruh untuk bersenang-senang. Lama-lama para pelakunya makin penasaran, kenapa ga menang-menang. Kebutuhan untuk rekreasi dieksploitasi menjadi kebutuhan untuk aktualisasi diri. Dan dalam hati manusia yang dirusak oleh dosa, segala macam kebutuhan adalah black hole—tidak berdasar. Sudah menang judi sekali, dia harus main lagi supaya menang lagi; dan seterusnya. Seks juga sama saja. Kebutuhan seksual dieksploitasi menjadi gratifikasi seksual, dan gratifikasi seksual itu seperti air bah yang menerjang hancur bendungan moral kita; dia menjadi tidak terbendung dan meminta lagi dan lagi. Kalau sudah begitu, namanya bukan lagi memenuhi kebutuhan, tapi kecanduan.

Ini yang harus kita tanamkan pada diri kita sendiri: Adanya sebuah dorongan biologis bukan berarti kita harus memenuhinya sekarang juga. Salah satu pernyataan terkenal dari Martin Luther adalah, “Saya tidak bisa mencegah burung-burung beterbangan di atas kepala saya, tapi saya bisa mencegah mereka bersarang di atas kepala saya.” Muncul pikiran bernuansa seksual? Wajar. Membiarkan pikiran itu berkembang jadi fantasi seksual dan memuaskan hasrat tersebut secara fisik? Dosa.

———————————–

woman sitting on bench

Nah, sekarang ke bagian praktikalnya.

Aku mau berbagi beberapa hal prinsip yang berasal dari pengalaman pribadi *ehm* tentang bagaimana caranya supaya pikiran ga ngeres mulu. Kalau pembaca (yang wanita ya) mau berkontribusi tips & trik, silakan comment ya.

1. Terimalah bahwa kamu adalah wanita normal dengan hasrat seksual yang diberikan oleh Tuhan.

Adanya dorongan seksual membuktikan bahwa kamu adalah wanita yang normal dan sehat. Bersyukurlah. Kelak setelah menikah, kamu juga bisa menikmati kehidupan seksual yang sehat bersama suami dan memiliki keturunan. Bersyukurlah lagi.

2. Jangan nganggur.

Nganggur pangkal dosa (!!!). Waktu nganggur, pikiran kita melayang ke mana-mana; kita bukannya produktif malah jadi dosa. Apalagi kalo yang ditonton film Korea yang romantis-romantis dan bertaburan adegan ciuman, itu namanya menyiram bensin ke api. Ayo kerja. Di waktu luang, tingkatkan kualitas diri dengan baca buku yang bagus, belajar keahlian baru, sosialisasi, dan tentu saja pelayanan di gereja. Jangan bengong aja di rumah deh, pokoknya.

3. LARI dari pencobaan.

Wanita, seperti laki-laki, juga terpengaruh dengan rangsangan dari luar yang mempengaruhi panca indera kita. Ada seorang teman berkata, “Buat laki-laki, film porno. Buat perempuan, novel  Harlequinn.” NAH. Jauhi segala hal yang bisa memancing pikiran bernuansa seksual, apalagi mendorong kamu untuk melakukan masturbasi atau hubungan seksual. Jangan naif; jangan merasa diri kuat. LARI dari keadaan yang berpotensi membawa kamu pada dosa.

4. Berdoalah minta kekuatan dari Tuhan untuk hidup kudus.

Setiap kita berjuang untuk hidup kudus di hadapan Tuhan setiap hari. Bagi beberapa orang, tantangan untuk tidak memenuhi dorongan seksual di luar pernikahan bahkan lebih besar dibanding orang lain. Tuhan Yesus memberi kita perintah yang penting: “Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu tidak jatuh dalam pencobaan.” Mintalah kekuatan dari Tuhan, sumber kebenaran sekaligus Bapa yang penuh perhatian, agar kita, anak-anak perempuan yang sangat Dia kasihi, bisa hidup sesuai kehendak-Nya.

Catatan terakhir:

Bagaimana bila ketertarikan seksual saya adalah pada sesama jenis?

Aku sedih banget setiap kali bahas hal ini, karena aku tau ada anak-anak Tuhan di luar sana yang merasa sangat tidak nyaman dengan diri mereka sendiri karena mereka sadar mereka beda dengan orang lain.

Tapi setiap kita punya salib yang harus dipikul, dan beberapa anak Tuhan cukup kuat untuk memikul salib yang berbeda dengan orang lain. Kalau kamu adalah orang itu, aku mau bilang bahwa kita ini sama-sama orang berdosa, yang punya kelemahan dalam berbagai hal, dan Tuhan mengasihi kita dengan kasih yang setara. Aku juga mau tegaskan di sini bahwa firman Tuhan tidak membuat perbedaan antara dosa seksual yang satu dengan yang lain. Prinsip ini harus dipegang dengan kuat:

Setiap bentuk gratifikasi seksual di luar pernikahan (dilakukan terhadap diri sendiri oleh diri sendiri atau dengan bantuan orang yang bukan suami kita) adalah dosa.

Aku akan bilang: Kecenderungan seksual yang berbeda dengan orang pada umumnya bukanlah dosa. Selama kecenderungan itu tidak dipenuhi karena kita hendak hidup kudus di hadapan Tuhan, itu bukan dosa. Aku yakin ada banyak anak-anak Tuhan yang punya orientasi seksual yang tidak wajar, tapi mereka bertahan dalam kekudusan karena mereka tahu Allah membenci dosa. Tell you what, orang-orang itu hidup menyenangkan hati Tuhan, dan mereka akan mendapat upah yang besar dari Bapa mereka.

anak rajaSampai kita bertemu Tuhan di surga, sampai tubuh dosa ini diganti dengan tubuh kemuliaan, kita semua – semua – akan berjuang untuk hidup memuliakan Tuhan. Beban kita mungkin berbeda-beda, tapi tujuan kita sama: Memuliakan Tuhan dengan tubuh kita. And if that’s you, no matter what your struggle is, you are His daughter, you are my sister, and we love you.

8 thoughts on “Teruntuk Para Wanita Single

  1. Matthew 5: 27-30
    27 “You have heard that it was said, ‘You shall not commit adultery.’[a] 28 But I tell you that anyone who looks at a woman lustfully has already committed adultery with her in his heart. 29 If your right eye causes you to stumble, gouge it out and throw it away. It is better for you to lose one part of your body than for your whole body to be thrown into hell. 30 And if your right hand causes you to stumble, cut it off and throw it away. It is better for you to lose one part of your body than for your whole body to go into hell.

    Alasan kenapa banyak orang Kristen ngerasa berdosa karena memikirkan hal-hal seksual itu adalah karena di ayat ini disebutkan bahwa memikirkan seseorang dengan “lustfully” adalah dosa. At least this what is widely taught ya.

    Jadi kalo kamu tulis di blog bahwa memikirkan itu gapapa, dibandingkan dengan ayat ini gimana, Glo?

    At the same time, aku pernah liat video yang bilang bahwa di dalam bahasa aslinya, yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan “looks at a woman” adalah a woman who is a wife of another man. Di budaya Yahudi, garis keturunan seorang pria itu sangat penting. Bisa diliat di dua kitab Injil bahwa penulisnya memulai dengan menjabarkan garis keturunan Tuhan Yesus, satu dari Jusuf, satu lagi dari Maria. Jadi untuk “mencemarkan” garis keturunan seorang laki-laki itu, dalam budaya Yahudi, adalah sebuah kesalahan yang besar. Sama kayak kasus Onan yang menolak memberikan keturunan buat kakaknya yang sudah meninggal lewat jandanya (Tamar), dan Tuhan melihat itu sebagai dosa. Lineage is a big thing in Jewish culture. Jadi untuk memikirkan/ menginginkan scr seksual seseorang yang sudah menikah itu adalah dosa karena itu bisa mengarah ke perbuatan adultery yang mencemarkan keturunan laki-laki lain. Jadi mikirin soal seseorang yang uda merit itu dosa.

    Nah tapi kalo ayat ini diinterpretasikan kayak gini, implikasinya adalah: it’s okay to think lustfully about other men/ women, as long as they’re not married.

    Nah, mnrtmu gimana Glo?

    1. Thank you for bringing that up, Yan. Aku akan berusaha menjawab dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

      1. Yang aku sebut bukan dosa adalah “munculnya pikiran”, bukan “memikirkan”. Kalo kepikiran sesuatu, tapi ga dilanjutin, itu ga dosa. Tapi kalo diterusin, ya jadi dosa. Sama seperti ketika kita marah besar thd seseorang, bisa jadi muncul pikiran jahat dalam benak kita (saking marahnya). Tapi kalo kita buru-buru menepis pikiran itu karena kita tau itu bisa membawa kita pada dosa, maka kita ga berdosa.

      Tentang ayat yang kamu kutip, aku pernah tulis tentang itu di blog, mungkin uda pernah baca: https://gloryekasari.wordpress.com/2012/03/05/khotbah-di-bukit-yang-terkenal-itu/

      Aku yakin perikop di mana Yesus bilang, “Kamu telah mendengar…. tetapi Aku berkata kepadamu….” itu disampaikan dengan tujuan bikin kita sadar sesadar-sadarnya betapa jauhnya kita dari standar Allah. Dan gagasannya berasal dari ayat 20: “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Orang bisa berbangga karena dia “taat hukum”, tapi hukum cuma bisa mengatur tindakan kita; dia ga bisa mengatur pikiran dan hati kita. Padahal, menurut Yesus, Tuhan itu trace back semua tindakan kita sampai ke motivasi dan akar-akarnya. Alhasil ga ada orang yang benar di mata Tuhan.

      Jadi gimana menyelesaikan masalah ini? “Marilah kita menghadap takhta kasih karunia Allah, untuk memperoleh pertolongan kita pada waktunya.” We can only live a life pleasing to Him in His way, by His grace.

      2. Setauku memang kata Yunani yang dipakai itu mengarah ke isteri. Tapi aku rasa konteksnya masuk akal. Orang Yahudi waktu itu pada umumnya setelah cukup umur akan menikah; cewe single umur 20-30an itu pasti jarang sekali. Dan kalo ada laki-laki tertarik pada seorang gadis, ya dia bisa menikah dengan gadis itu. Jadi wanita dewasa, yang menarik secara seksual buat laki-laki dewasa, hampir pasti adalah isteri orang lain. Lagipula dalam bahasa Ibrani *ih gaya pake ibrani2an segala* kata “isya” itu artinya bisa wanita, bisa isteri. Kesimpulanku, yang dimaksud bukan cuma isteri orang lain, tapi pokoknya wanita. Begitu pendapatku.🙂

  2. Btw aku bilang bahasa Ibrani karena penulis Injilnya (Matius) adalah orang Yahudi yang pasti latar belakangnya juga Judaisme. Tapi tentu saja Injil ditulis dalam bahasa Yunani. Maapkeun kalo jadi rancu.

  3. Hai aku komen lagi.
    Totally love this writing. Kayanya gue akan post juga yang intinya kaya gini. Dari dulu concern sekali sama hal ini. Sering banget gue berusaha meyakinkan temen-temen gue buat gak usah baca harlequin2an tapi ya susah lah ya.

    Kalo buat gue sih godaannya bukan Harlequin tapi film comedy romance! My…oh my…

    Dan setuju banget sama tips2 lo itu. Gak ada deh tuh yang namanya manusia bener2 BISA melawan godaan. Yang tepat adalah lari/menghindar dari godaan. Itulah cara melawannya.

    dan JANGAN NGANGGUR! bener banget nget

    Terus menanggapi komen Yani di atas tadi, gw juga setuju tanggapan lo. Kalo ‘jatuh dalam pemikiran’ menurut gw sih dosa yang nggak disengaja, dan jangan sampai jadi terintimidasi merasa berdosa terus karena hal ini. Tapi kalo udah jatuh terus keenakan malah dipikirin terus… ya toyor aja.

    At the end, disengaja atau nggak, makanya penting setiap hari berefleksi dan mengaku dosa di hadapan Tuhan kan? *loh kok jadi nyambung ke sini*

  4. Saat usia ku 22 tahun aku jatuh ke dosa sexual/free sex dengan pacar pertama ku akhirnya hubungan kami putus tapi aku tetap terjerat pada dosa sexual memang tidak mudah berhenti dari kecanduan sexual tapi akhirnya dengan bantuan hamba – hamba Tuhan akhirnya aku bisa mengatasi kecanduan ku di usia ku yang ke 27 tahun, saat ini usia ku 28 tahun dan aku tau tidaklah mudah untuk berhenti tapi berdoalah dan berjuanglah Yesus Kristus pasti membantu mu untuk mengatasi dosa sexual dan memampukan mu untuk hidup baik di jalan Tuhan, terima kasih atas tulisan mu di blog sangat membantu menguatkan iman, GBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s