Sang Perdana Menteri

giza background orionMalam semakin larut. Sang perdana menteri masih duduk di ruang kerjanya, membaca dan mencatat tempat-tempat yang ia kunjungi hari itu untuk pengawasan bahan baku makanan. Ini sudah tahun kesembilan dalam masa pemerintahannya, dan tantangan demi tantangan sejauh ini bisa ia atasi. Namun ia masih akan harus bekerja keras lima tahun lagi, setidaknya sampai masa kelaparan selesai. Orang-orang dari berbagai bangsa mulai datang ke Mesir untuk membeli gandum, karena di mana-mana di seluruh dunia, ada kelaparan yang mengerikan. Pembawa kabar memberitahunya siang tadi bahwa bahkan di Kush, kerajaan besar itu, tidak tersedia makanan di istana raja. “Hanya Mesir,” ujar si pesuruh, “yang memiliki gandum berlimpah, untuk rakyatnya dan untuk seluruh bumi.”

“Ayah?”

Begitu konsentrasinya ia pada pekerjaannya, ia tidak menyadari bahwa kedua putera kecilnya masuk ke dalam ruang kerja itu. Segera senyum merekah di wajah sang perdana menteri; rasa lelahnya hilang seketika. Ia memeluk anak-anaknya, dan mereka duduk di pangkuannya.

“Kalian belum tidur?” tanyanya sambil menciumi putera-puteranya. Mereka tergelak dan menggeleng. “Kami mau dengar ayah bercerita.”

“Hmmm, ayah sudah cerita semua pengalaman ayah waktu ayah kecil, ‘kan?”

“Tapi ayah, kami ingin tahu bagaimana ayah sampai di Mesir,” jawab putera sulungnya. “Apa benar ayah dulu memelihara ternak?”

“Benar, Manasye,” sahut sang ayah. “Dan walaupun orang Mesir tidak suka pada ternak, kalian harus ingat bahwa kaum kita diberkati Tuhan melalui ternak kita. Kakek buyut Abraham, buyut Ishak, dan kakek Yakub menjadi sangat kaya karena ternak mereka.”

“Lalu bagaimana ayah sampai di Mesir?” tanya si bungsu.

“Ceritanya panjang, Efraim. Kalian ingin tahu?”

Kedua laki-laki kecil itu mengangguk dengan penuh semangat, mata mereka berbinar-binar menantikan ceritanya. Sang ayah pun mulai berbicara.

“Ayah punya sepuluh kakak. Ayah juga punya satu adik, tapi ayah pergi dari rumah saat dia masih sangat kecil. Pada masa itu, kami semua menggembalakan ternak. Tapi kakek kalian jarang menyuruh ayah bekerja, karena dia memanjakan ayah.

“Suatu kali dia bahkan membuatkan ayah jubah yang maha indah. Waktu itu ayah sangat senang dan bangga, ayah pikir, tentulah ayah anak yang paling disayang oleh kakek. Tapi ayah tidak tahu bahwa itu membuat ayah dibenci kakak-kakak ayah. Semua anak ingin disayang ayahnya, kan?”

Manasye dan adiknya mengangguk dengan semangat. Ayah mereka meneruskan.

“Ayah waktu itu sombong dan tidak baik. Suatu kali kakak-kakak ayah menjadi marah, dan mereka berencana membunuh ayah…”

“Membunuh ayah??” kedua anak laki-lakinya terkejut. Efraim berkata dengan penuh keheranan, “Kenapa kakak ingin membunuh adiknya?”

“Ketika itu kakak-kakak ayah sudah dewasa, Efraim,” jawab ayahnya sambil mengelus kepala anak bungsunya itu, “dan kadang orang dewasa berbuat hal yang jahat ketika mereka benci kepada orang lain. Tapi rencana mereka itu digagalkan oleh kakak tertua ayah, paman Ruben. Ia berkata, ‘Mari kita kurung saja adik kita ke dalam sumur, biar dia tahu rasa; tapi jangan kita bunuh dia.’ Ayah rasa dia kasihan kepada ayah bila ayah sampai dibunuh.

“Ayah ditangkap dan dimasukkan ke dalam sumur yang kering. Setelah beberapa lama, mereka mengeluarkan ayah dan ayah melihat orang-orang asing di luar sumur itu; orang-orang berpakaian kafilah. Mereka mengikat tangan dan kaki ayah, lalu memberi uang kepada kakak-kakak ayah. Saat itu ayah sadar bahwa ayah dijual kepada orang-orang Ismael sebagai budak.”

Manasye dan Efraim tercengang-cengang. “Ayah dijual menjadi budak?” tanya Manasye lirih.

“Iya, sayang, ayah pernah menjadi budak. Tangan ayah diikat, ditarik dengan unta, dan ayah harus berjalan di belakang unta kafilah itu sejauh ratusan mil. Ayah terus-menerus menangis. Ayah rindu rumah, rindu kakek. Biasanya ayah dilayani oleh pelayan-pelayan di rumah, tapi sekarang ayah dijual sebagai budak dan diperlakukan seperti barang yang tidak berharga. Sampai akhirnya air mata ayah kering karena terlalu banyak menangis dan ayah tidak kuat lagi karena harus terus berjalan. Ketika sampai di Mesir, telapak kaki ayah sudah mengelupas, pergelangan tangan ayah robek oleh tali yang kasar, dan entah seperti apa rupa ayah saat itu.

slave“Karena ayah terus ingat pengalaman itu, ayah mengajar kalian untuk memperlakukan budak-budak kita dengan baik. Kalian mengerti?”

Kedua anak kecil itu mengangguk, masih tercengang-cengang oleh cerita ayah mereka.

“Ayah dibawa ke tempat penjualan budak di Heliopolis. Kami, budak-budak, dimasukkan dalam satu ruangan seperti kandang beralas jerami, laki-laki dan perempuan berjejalan di dalam ruangan itu. Kami diberi makan dua kali sehari. Ada yang remaja seperti ayah, ada orang tua, ada juga anak-anak. Beberapa mereka dijual orang tuanya karena tidak bisa membayar hutang. Kasihan sekali.

“Suatu hari tiba giliran ayah untuk dijual di pasar budak. Ada beberapa orang yang bersama-sama dengan ayah, tapi semuanya lebih tua dari ayah. Ayah dibeli oleh seorang pejabat bernama Potifar. Hari itu dia membeli beberapa budak bersama-sama dengan ayah. Rumahnya besar sekali, dan budaknya banyak. Di Kanaan ayah tinggal di tenda-tenda, jadi baru kali itu ayah melihat rumah dari bata, dihiasi berbagai ornamen yang sangat bagus.”

“Apa lebih bagus dari rumah kita, ayah?” tanya Efraim polos.

Sang ayah tertawa kecil. “Menurut kamu, adakah yang lebih bagus dari rumah kita?”

Anak itu menggeleng. “Rumah ini yang terbaik karena ada ayah, ibu dan kakak,” ujarnya sambil tersenyum manis.

“Iya, sayang,” sahut ayahnya. “Ayah kesepian di rumah yang bagus itu. Budak-budak yang lebih lama bekerja di situ terus menghina ayah karena ayah tidak bisa bekerja. Di rumah kakek, ayah tidak pernah bekerja. Ayah bahkan tidak tahu bagaimana caranya menyapu! Dan tiba-tiba saja ayah harus mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga di rumah Potifar. Pada awalnya ayah berbuat banyak kesalahan dan sering sekali dipukuli oleh mandor karena ayah tidak cakap.

“Ayah sempat tertekan karena kehidupan seperti itu. Tapi lalu ayah mencoba berteman dengan budak-budak yang lain dan perlahan mereka mengajarkan cara mengurus pekerjaan rumah tangga kepada ayah. Ayah mulai belajar membersihkan rumah, memoles perabotan, mencuci, dan sebagainya. Orang-orang mulai melihat bahwa ayah juga bisa bekerja.

“Ternyata tuan Potifar merasa pekerjaan ayah baik, sehingga ayah mulai dipercaya mengurus dapurnya. Lalu orang-orang yang bekerja di bagian lain, mereka yang membersihkan kamar-kamar dan mereka yang mengurus keamanan, jadi sering bertanya pada ayah tentang apa yang harus dilakukan. Karena itu akhirnya ayah menjadi kepala pelayan di rumah Potifar.”

Manasye menyeringai lebar. “Ayah hebat!” serunya.

Sang ayah tersenyum. “Ayah bekerja keras, nak. Ayah pikir, ayah sudah menjadi budak dan akan terus menjadi budak seumur hidup ayah—karena siapa yang mau menebus seorang budak yang berasal dari Kanaan? Tidak ada orang yang ayah kenal di Mesir. Jadi ayah pikir, baiklah, kalau memang Tuhan tentukan nasib ayah seperti ini, ayah akan terima dan ayah akan bekerja sebaik mungkin. Setidaknya, ayah tentu bisa menjadi budak terbaik di Mesir.

“Tuhan memberkati ayah. Setiap hari ayah berdoa kepada Tuhan. Awalnya ayah berdoa sambil menangis dan memohon kepada Tuhan agar ayah dapat kembali ke rumah kakek, entah bagaimana caranya. Tapi kemudian doa ayah berubah. Ayah mulai berdoa agar Tuhan memberi ayah kemampuan untuk bekerja dengan baik. Ayah meminta kepada Tuhan agar Dia menolong ayah ketika ayah menyapu, membersihkan rumah, dan mengurus kebun. Ayah meminta kepada Tuhan agar budak-budak yang lebih tua mau berbagi pengalaman mereka dengan ayah. Dan Tuhan menjawab doa ayah.

“Selama beberapa tahun menjadi budak, ayah belajar bahwa Tuhan memberi ayah kemampuan untuk menjalani apa yang Ia bebankan kepada ayah. Dan ayah belajar untuk lebih memperhatikan hal-hal yang menjadi tanggung jawab ayah dibandingkan hal-hal yang menjadi keinginan ayah.

“Jadii, kalau Manasye malas belajar dan ingin bermain saja, apa yang kamu doakan kepada Tuhan, sayang?”

“Mmm, supaya Tuhan membuat aku ingin belajar?” sahut anak itu pelan.

“Betul sekali,” sahut sang ayah sambil mengelus kepala anak sulungnya. “Lalu Efraim. Kalau Efraim marah pada kakak dan tidak mau memaafkan kakak, apa yang kamu doakan?”

“Efraim berdoa supaya Tuhan tolong untuk memaafkan kakak.”

“Anak pintar,” ujar ayahnya sambil tersenyum. “Jadi Manasye dan Efraim harus ingat cerita ayah hari ini. Ayah dulu anak biasa, seperti kalian, disayang oleh kakek, tapi kemudian harus menjadi budak. Tapi Tuhan menolong ayah supaya bisa menjadi budak yang baik. Dalam keadaan apapun dalam hidup kalian, kalian harus bekerja sebaik mungkin, dan kalian bisa minta Tuhan menolong kalian untuk bekerja sebaik mungkin. Mengerti?”

Kedua kakak beradik itu mengangguk. “Lalu apakah ayah bisa pulang ke Kanaan?” tanya Manasye.

“Nanti akan ayah lanjutkan ceritanya ya,” sahut sang ayah. “Ini sudah malam, kalian harus tidur karena besok harus sekolah. Oke?”

Dengan enggan kedua anak itu mengangguk. Sebelum kembali ke kamar, mereka mencium ayahnya dan mengucapkan selamat malam. Sang ayah memandangi anak-anaknya sambil tersenyum sampai mereka keluar dari ruangan. Lalu ia meneruskan pekerjaannya. Dua jam berlalu tanpa terasa.

“Yusuf? Sayang?”

Yusuf mengangkat wajahnya dan melihat isterinya berjalan ke arahnya. Ia tersenyum.

“Kamu cerita apa ke anak-anak? Kok sampai malam?”

“Cerita jaman dulu,” sahut Yusuf sambil memeluk isterinya. Ia menarik wanita itu untuk duduk di pangkuannya. “Cerita waktu aku datang ke Mesir sebagai budak.”

“Dan pasti tentang bagaimana Tuhan menolong kamu untuk jadi budak yang baik kan?” sahut isterinya sambil melingkarkan tangannya di pundak sang suami.

Yusuf tertawa ringan. “Tentu saja. Itu ‘kan pengalaman yang berkesan. Kalau tidak datang ke Mesir, aku tidak jadi budak. Kalau tidak jadi budak, aku tidak belajar bagaimana bekerja dengan baik. Kalau tidak bekerja dengan baik, aku tidak mungkin jadi perdana menteri. Dan aku tidak akan bertemu dengan kamu, sayang.” Ia mencium isterinya itu dengan mesra.

Sang isteri membelai wajah suaminya. “Ini sudah larut, kamu juga harus istirahat. Besok pagi-pagi kamu ke luar kota ‘kan?” ujarnya.

Sang suami mengangguk. “Baiklah, mari kita istirahat. Kamu ke kamar dulu, aku mau membereskan semua laporan ini.”

Isteri Yusuf meninggalkan ruangan. Yusuf membereskan meja kerjanya. Sebelum meninggalkan ruangan, ia melihat sekeliling ruangannya dan mengucap syukur dalam hatinya kepada Tuhan Semesta Alam.

“Aku datang dengan tangan kosong sebagai budak, ya Tuhan,” ujarnya lirih, “dan aku tidak pernah membayangkan aku akan sampai di sini, diberkati sebesar ini, memiliki keluarga sebaik ini.”

Air mata mengembang di pelupuk matanya.

“Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.”

 

 

Cerita ini merupakan dramatisasi dari kisah Yusuf dalam kitab Kejadian, dan bukan dimaksudkan untuk menjadi sumber informasi sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s