Excellence

Ini sebetulnya tema yang aku bawain di sebuah fellowship beberapa waktu lalu. Setelah diketik, aku pikir cocok lah buat blog. Semoga bermanfaat.😉

Ada seorang bapak yang punya dua anak, namanya Andi dan Budi. Suatu kali si Andi protes pada bapaknya, katanya, “Papa lebih sayang Budi ya? Apa-apa yang disuruh selalu Budi, Andi ga pernah disuruh sama papa.”

Bapaknya menjawab, “Yauda, sekarang papa suruh kamu ke toko listrik di sebelah ya. Tanyain harga lampu 25 Watt.”

Andi pergi ke toko sebelah, lalu kembali dan berkata, “Pa, lampu 25 Watt harganya Rp15.000,00.”

Sang bapak bertanya lagi, “Itu yang warna putih atau kuning?”

Andi pun kembali lagi ke toko sebelah, kembali ke rumah, dan berkata, “Putih, pa.”

Bapaknya bertanya lagi, “Kalau yang kuning harga berapa?”

Andi kembali lagi ke toko sebelah, pulang ke rumah, dan berkata, “Rp14.000,00, pa.”

“Nah,” kata bapaknya, “sekarang papa suruh Budi ya.” Ia memanggil Budi dan memberi perintah yang sama. Budi pergi ke toko sebelah. Ketika pulang, dia membawa kertas kecil.

“Pa,” ujar Budi, lalu ia membacakan catatannya, “lampu 25 Watt ada yang putih, ada yang kuning. Yang putih Rp15.000,00, yang kuning lebih murah seribu. Kalo papa mau, ada juga yang Watt lain, Budi tulis harganya di sini.”

Setelah Budi pergi, sang bapak berkata pada Andi, “Sekarang kamu tahu kan, kenapa papa lebih sering suruh Budi?”

Definisi

Excellent itu tidak sama dengan sempurna. Excellent, secara sederhana, seperti si Budi, yaitu memberikan lebih dari yang diharapkan. Kalau kita hanya memberi sesuai permintaan, ga mau usaha lebih, berarti kita orang yang biasa-biasa saja. Dan siapa yang mau orang yang biasa-biasa saja? Seandainya ada anggota keluarga kita yang masuk rumah sakit karena sakit jantung, kita akan minta dia ditangani oleh dokter yang terbaik. Kita tidak mungkin minta dokter yang “biasa-biasa saja”. Dunia aja mau orang yang terbaik; kita bisa memikirkan sendiri, yang seperti apa yang pantas bagi Tuhan.

Dua Ekstrim

Sehubungan dengan definisi excellence tersebut di atas, ada dua titik ekstrim yang harus kita waspadai. Ibarat dalam kamera, ada yang under-exposure dan ada yang over-exposure. Keduanya tidak baik.

Under-Exposure: Malas

lazyOkelah, mungkin kita ga malas dalam segala hal; tapi pasti ada hal-hal tertentu dalam hidup kita dimana kita bermalas-malasan. Mungkin hal itu tentang membereskan kamar, atau mengerjakan tugas yang sebenarnya tidak kita sukai.

Ciri dari orang malas adalah banyak alasan. Demikian pula sebaliknya, orang yang banyak alasan adalah orang yang malas. Si pemalas cari-cari alasan supaya dimaklumi, dikasihani, dikurangi beban tugasnya, dsb. Intinya adalah, dia tidak mau mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Orang malas adalah beban bagi orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan bersama dia. Kita semua pernah mengalami harus bekerja dengan teman sekelompok yang tidak mau mengerjakan bagian tugasnya—atau mungkin kita sendiri adalah orang itu. Orang seperti itu adalah beban.

Ketika manusia diciptakan oleh Tuhan, ia tidak diciptakan untuk santai, main game, jalan-jalan, wisata kuliner, nonton tv, dan semacamnya. Dia diciptakan Tuhan untuk bekerja. “Orang yang malas,” kata Amsal, “sudah menjadi kawan dari si perusak.” Kitab Amsal punya banyak hal untuk dikatakan tentang pemalas; penulisnya bahkan menjamin bahwa orang malas tidak akan berhasil dalam apapun yang ia inginkan; karena dia punya banyak mimpi tapi tidak mau mengeluarkan tenaga.

Mari tingkatkan nilai hidup kita. Pikirkan dalam hal apa kamu malas dan tidak mau memberikan yang terbaik. Mungkin hal itu tidak terlihat oleh orang lain, mungkin kamu pikir itu hal kecil; tapi excellence, seperti kualitas lainnya, berawal dari kebiasaan.

Yusuf adalah teladan yang baik bagi kita. Dari anak papi yang tersayang, tiba-tiba dia menjadi budak. Mungkin tadinya dia bahkan ga bisa nyapu, dan tiba-tiba harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Tapi tidak sekalipun Alkitab mencatat Yusuf mengeluh atau meratapi nasibnya yang malang. Apa yang harus dia kerjakan, dia kerjakan—dengan baik. Dia mungkin tidak menyukai pekerjaan itu, tapi emosi dan preference-nya tidak ia jadikan standar untuk kualitas pekerjaannya.

Bagaimana bila seseorang tidak bisa excellent bukan karena malas, tapi karena kehabisan tenaga untuk mengerjakan semua tugasnya? Sederhana, dia kebanyakan kerjaan. Atur waktu kita sebaik mungkin sehingga kita tetap punya waktu untuk istirahat cukup dan menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik dan tepat waktu.

Over-Exposure: Perfeksionis

bullseyeKalau orang malas tidak mau memberi seperti yang diharapkan orang, si perfeksionis justru berlebihan dalam usahanya.

Di dunia yang tidak sempurna, bekerja bersama orang-orang yang tidak sempurna, dalam kondisi yang tidak sempurna, dengan ketidaksempurnaan diri kita sendiri, kita tidak mungkin memberikan hasil yang sempurna.

Puji Tuhan, karena Dia tidak meminta hasil pekerjaan yang sempurna. (Kalau ada yang tiba-tiba ingat Matius 5:48, “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” aku ingatkan bahwa konteksnya adalah tentang karakter seseorang secara moral, bukan tentang hasil kerjanya.) Dia menghendaki yang terbaik, itu saja.

Orang yang perfeksionis menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Dia menyakiti dirinya sendiri karena dia terus-menerus menyalahkan dirinya untuk kekurangan-kekurangan yang sebenarnya memang tidak mungkin diperbaiki, keadaan yang tidak ideal, masalah teknis, kesalahan orang lain, dsb. Dia menyakiti orang lain karena dia adalah seorang penuntut. Biasanya orang seperti ini tidak segan marah atau bersikap emosional ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya, dan, bisa ditebak, orang lain yang menjadi pelampiasan rasa frustasinya.

Kita akan senantiasa dihadapkan pada keadaan yang tidak ideal, rekan kerja yang tidak sempurna, cuaca yang berubah-ubah, kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan, dan hal-hal lain yang merusak rencana kita dan menghancurkan harapan kita untuk memberi hasil yang sempurna. Tuhan mau kita memberi yang terbaik dalam keadaan seperti itu, bukan meratapi masalahnya dan berharap segala sesuatunya ideal.

Mereka yang perfeksionis perlu satu hal yang istimewa. Hal inilah yang membuat Tuhan, dalam kesempurnaan-Nya, bisa melihat dan mengasihi manusia yang hancur lebur secara moral. Hal ini yang membuat Tuhan memilih untuk bekerja melalui tangan-tangan manusia yang hatinya tidak setia dan tidak sempurna. Hal ini yang membuat Dia tetap menerima kita dalam semua kekurangan kita. Apa lagi kalau bukan kasih?

Kasih Tuhan membuat kita lebih menghargai orang-orang yang bekerja dengan kita dibanding hasil pekerjaan mereka. Kasih Tuhan membuat kita melihat proses yang telah dijalani orang-orang itu. Kasih Tuhan membuat kita mampu mengampuni orang yang berbuat salah. Kasih Tuhan melembutkan hati kita dan membuat kita melihat orang lain seperti Dia melihat kita.

Pikirkanlah: bila Tuhan kita perfeksionis, adakah di antara kita satu orang saja yang akan dipakai-Nya untuk menjalankan rencana-Nya?

Mulai Dari Sekarang

Start small, finish strong
Start small, finish strong

Sekali lagi, excellence adalah masalah kebiasaan. Kita pasti pernah mendengar jargon “Excellence is a habit.” Kapan saat yang terbaik untuk memulai sebuah kebiasaan yang baik? Jangan seperti pepatah yang sudah menjadi parodi, “Diet starts tomorrow.” Katakan kepada diri sendiri: Excellence starts now.

Apakah kamu menyadari kemalasanmu? Berdoalah, minta ampun kepada Tuhan dan mintalah Tuhan menggerakkan hatimu dengan semangat setiap hari; dan mulailah bergerak. Sekarang lagi ngerjain apa? Berikan lebih dari yang kamu rencanakan sebelum kamu baca artikel ini.

Apakah kamu merasa selama ini kamu bersikap perfeksionis? Berdoalah, minta ampun kepada Tuhan untuk setiap orang yang kamu sakiti (termasuk dirimu sendiri), dan mintalah Dia memenuhi hatimu dengan kasih-Nya. Sekarang lagi ngerjain apa? Bersyukurlah untuk setiap pekerjaan yang telah selesai, apapun hasilnya.

4 thoughts on “Excellence

  1. Baguusss…
    Great job si d^^b
    I love this part :
    Kasih Tuhan membuat kita lebih menghargai orang-orang yang bekerja dengan kita dibanding hasil pekerjaan mereka. Kasih Tuhan membuat kita melihat proses yang telah dijalani orang-orang itu. Kasih Tuhan membuat kita mampu mengampuni orang yang berbuat salah. Kasih Tuhan melembutkan hati kita dan membuat kita melihat orang lain seperti Dia melihat kita.

    Makasih ya tulisannya, I’m so blessed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s