Sam Suka Senyum dan Geri Tukang Gerutu

Judul di atas adalah judul cerpen yang aku baca waktu kecil dari majalah AMI (Anak Manis Indonesia) yang sampai sekarang masih membekas di ingatanku. Aku langganan majalah itu waktu kecil, dan banyak banget cerita bagus-bagus di dalamnya (salah satunya yang berkesan adalah cerita Joni naik mobil Yamaha. Nahlo). Cerpen tentang Sam dan Geri ini bener-bener bikin aku belajar bahwa aku harus memilih sudut pandang yang benar waktu melihat masalah, kalo aku mau mengalami pembaharuan pikiran. Bisa dibilang, ga ada cerpen lain yang mempengaruhi aku sebesar cerpen ini – dan pengalaman itu meyakinkan aku bahwa cerita (semacam perumpamaan dari Tuhan Yesus) bisa sangat berguna buat menjelaskan maksud tertentu.

Aku uda ga inget persis ceritanya sih, tapi garis besarnya aku masih ingat. Dan beginilah parafrasenya…

Sam suka senyum adalah anak yang gembira. Dia selalu melihat hal yang baik dalam segala sesuatu. Ketika hari panas terik, ia senang karena jemuran ibunya jadi cepat kering. Ketika hari hujan, ia senang karena petani mendapatkan air yang mereka butuhkan untuk sawah mereka. Karena Sam selalu memikirkan hal yang baik, ia jadi sering tersenyum, dan karena itulah teman-temannya menyebutnya “Sam suka senyum.”

sadSebaliknya, Geri tukang gerutu mendapatkan panggilan tersebut karena ia selalu melihat kekurangan dalam segala sesuatu. Ketika soal ulangan lebih gampang dari yang ia pikir, ia mengeluh karena merasa rugi sudah belajar keras semalaman. Ketika teman-temannya bermain di lapangan, ia mengeluh lagi karena debu yang mereka timbulkan. Geri merasa tidak ada hal yang tidak punya kekurangan, karena itu wajahnya sering cemberut.

Sam dan Geri sekelas di sekolah, dan Sam beberapa kali memperhatikan bahwa Geri sering menggerutu tentang segala hal. Suatu hari Sam bertanya, “Geri, mengapa kamu sering menggerutu?”

Geri menghela nafas dan menjawab, “Aku justru heran karena kamu selalu tersenyum, Sam. Tidakkah kamu lihat bahwa di sekeliling kita banyak sekali hal yang tidak menyenangkan?”

Sam menyahut, “Menurutku di sekeliling kita justru banyak hal yang menyenangkan. Apa yang tidak menyenangkan dari wali kelas kita, Geri?”

Jawab Geri, “Yah, dia sering memberi PR dan selalu memperhatikan tugas piket.”

“Tapi Geri,” ujar Sam, “dia memberi kita PR karena dia ingin kita belajar, dan dia selalu membahas PR itu di hari berikutnya supaya kita bisa menjawab soal-soal yang sulit. Dan tentang piket, wali kelas kita tentu ingin kelasnya bersih dan nyaman untuk belajar.”

Geri terdiam, lalu berkata, “Benar juga sih. Aku tidak pernah memikirkan itu.”

“Lalu,” lanjut Sam, “apa yang tidak menyenangkan dari lapangan sekolah kita?”

“Wah, banyak,” sahut Geri bersemangat, “lapangan itu selalu berdebu ketika teman-teman berlari di atasnya, rumputnya sedikit, dan lapangan itu terlalu lebar untuk dipakai satu kelas pada jam olahraga!”

“Aku pikir,” kata Sam, “justru karena lapangan itu lebar maka semua siswa sekolah kita bisa bermain di lapangan pada jam istirahat. Lagipula lapangan dengan rumput sedikit lebih bagus dipakai untuk olahraga lari dibandingkan yang berumput banyak.”

“Hmm, benar juga,” ujar Geri. “Wah, aku tidak pernah terpikir hal-hal seperti itu, Sam.”

Sam tersenyum. “Kau tahu, Geri,” ujarnya sambil menepuk pundak Geri, “aku senang karena kau mau belajar hal-hal yang baru. Bagaimana bila mulai sekarang kau melihat segala sesuatu dari sisi baiknya?”

“Menarik juga,” ujar Geri. “Aku akan coba.”

happyKetika bel istirahat berbunyi, anak-anak sekelas Sam dan Geri bersiap keluar untuk bermain di lapangan. Ketika Geri akan keluar dari pintu kelas, Victor dan Ben lari melewatinya dan hampir menabraknya. “Kenapa harus lari-lari!” gerutu Geri, namun segera ia ingat untuk memikirkan hal yang baik, dan ia berkata lagi, “Yah, mereka bersemangat sekali untuk bermain di lapangan,” dan ia bergabung dengan mereka untuk main di lapangan. Di tengah permainan, Geri kepanasan karena terik matahari dan ia menggerutu lagi, “Mataharinya sangat panas!” namun kemudian ia ingat lagi untuk memikirkan hal yang baik, dan ia berkata, “Baguslah tidak hujan, jadi kami bisa bermain di lapangan.” Perlahan Geri terbiasa dengan memikirkan hal yang baik sehingga ia tidak lagi menggerutu dan jadi lebih sering tersenyum. Dan pelan-pelan juga teman-temannya lupa bahwa Geri dulu adalah penggerutu, karena sekarang ia menjadi Geri yang ramah dan menyenangkan!

2 thoughts on “Sam Suka Senyum dan Geri Tukang Gerutu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s