Tak Jujur, Tak Mampu Menalar

Post ini adaptasi dari artikel IPTEK dalam Kompas hari ini (Kamis, 25 April 2013) halaman 14. Aku rekomendasi teman-teman baca artikel lengkapnya deh. Ini sedikit ulasannya.🙂

Siapa yang ga pernah bohong? Ada yang angkat tangan? Nahlo, anda baru saja berbohong! :p Yah, emang yang namanya bohong sudah jadi hal yang biasa dalam masyarakat ya, sampai seakan-akan kalo ga bohong berarti sok suci. *lho?* Mungkin bahkan timbul anggapan bahwa lie is the new honesty – maksudnya, yang wajar buat manusia itu ya berbohong, bukan bersikap jujur. Tapi, neuroscience akan membuktikan bahwa hal itu sangat salah. Perhatikan pernyataan Taufiq Pasiak, Sekretaris Jenderal Masyarakat Neurosains Indonesia sekaligus dosen FK Univ. Sam Ratulangi, Manado:

“Otak manusia didesain untuk berbuat jujur.”

Wah, menarik. Tapi kenapa begitu? Paragraf di bawah adalah kutipan langsung dari Kompas:

Cerebral cortex (otak manusia seperti yang kita kenal bentuknya itu) dan sistem limbik.
Sebelah kiri adalah cerebral cortex (otak manusia seperti yang kita kenal bentuknya itu) dan yang kanan sistem limbik. Korteks prefrontalis di gambar adalah frontal lobe.

Menurut Taufiq, otak bagian depan manusia dan korteks prefrontalis adalah bagian otak yang berkembang paling akhir dalam evolusi otak mahkluk hidup, sehingga disebut neokorteks. Otak berbagai binatang lebih banyak didominasi oleh otak bagian tengah (tempat sistem limbik) dan otak belakang yang disebut palaeokorteks. (Catatan: Kalo denger yang awalannya “palaeo” berarti primitif gitu lah. “Neo”, sebaliknya, artinya baru.)

Kondisi ini membuat nilai kejujuran hanya ada pada manusia. Dominasi otak bagian tengah dan otak bagian belakang pada binatang membuat keputusan yang diambil binatang hanya digunakan untuk bertahan hidup, tidak memperhitungkan benar atau salah.

“Karena kemampuan berpikirlah manusia disebut Homo sapiens, yang artinya mahkluk yang bijaksana,” katanya.

Karena sudah ada dalam otak manusia, maka tak perlu diajarkan kejujuran lebih dulu untuk berbuat jujur. Kejujuran, menurut Taufiq yang juga pendiri Center of Neuroscience Health and Spirituality Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, tidak berkaitan dengan ajaran agama. Ini membuat manusia yang tidak beragama atau tidak percaya Tuhan juga bisa berbuat jujur.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa paragraf terakhir suportif terhadap ateisme. Menurutku sih sederhana: Kok bisa otak manusia lebih berkembang dari otak hewan, sampai dia bisa tau yang namanya benar-salah? Dari mana ada kesadaran seperti itu? Kalo otak kita lebih berkembang dari hewan, lalu kita jadi lebih cepet, lebih gesit, lebih ganas dari mereka, itu konsekuensi yang wajar dari evolusi. Tapi bisa berpikir? Itu terlalu bagus buat disebut kebetulan. Fakta bahwa perkembangan otak kita bukan membuat kita berkembang secara fisik tapi secara psikologis menunjukkan bahwa ada yang mengatur itu semua, sehingga kita bisa disebut “manusia”.

Lalu, kalo emang otak kita didesain sedemikian sehingga kompatibel dengan kejujuran, apa yang terjadi waktu kita bohong?

Saat manusia dihadapkan pada hal-hal yang menuntut kejujuran, pikiran sadarnya akan terusik. Proses ini berlangsung di bagian otak depan yang disebut korteks prefrontalis. Bagian otak ini berperan dalam pengambilan keputusan, termasuk tindakan menimbang, menganalisis, hingga memperhitungkan resiko, baik-buruk maupun untung-rugi sebuah keputusan dan tindakan.

Kecepatan proses berpikir untuk pengambilan keputusan berbeda pada setiap orang. Ada yang cepat, namun ada pula yang lambat. Kecepatan berpikir sangat bergantung pada dibiasakan atau tidaknya otak untuk berpikir.

Tindakan yang diambil tanpa proses berpikir menunjukkan kurang berperannya korteks prefrontalis. Bagian otak yang lebih mendominasi pengambilan keputusan yang tergesa-gesa adalah sistem limbik di otak bagian tengah. Sistem limbik mengatur hal-hal terkait emosi, seperti rasa takut, cemas, atau khawatir.

Karena emosi lebih mengemuka dalam pengambilan keputusan, tindakan yang diambil adalah hal-hal yang menenangkan dan menyenangkan emosi saja, tindakan untuk bertahan hidup semata, dan tidak memperhitungkan dampak jangka panjang.

Singkat kata, orang yang berbohong mendegradasikan korteks prefrontalis (yang hanya ada di manusia dan membuat dia bisa berpikir) dan bertindak menurut sistem limbik (bagian primitif dari otak kita yang juga ada pada binatang). Kalo dibiasain seperti itu terus, orang itu akan mengalami kemunduran daya pikir dan lama-lama jadi lemot *beneran*, serta bertindak seperti binatang: berdasarkan insting untuk mempertahankan diri aja.

Kalo kita nonton tv terus liat tersangka atau terdakwa korupsi dan mereka masih sok cool aja, kita bisa bilang, “Ga tau malu ya, tuh orang.” Kenapa? Karena manusia punya kesadaran akan kehormatan – sesuatu yang membuat mereka jadi manusia. Kalo koruptor itu bilang, “Saya bersalah; silakan sita harta saya untuk mengganti kerugian yang saya sebabkan,” aku yakin kita bukannya mengutuk dia, tapi malah kagum karena dia berbuat jujur. Itu kehormatan seorang manusia.

Sebagai penutup, pernah dong, ngaku bersalah dan merasa lega karena uda ngaku? Itu karena ketika kita berbuat jujur, otak mengeluarkan serotonin dan oksitosin, zat kimia neurotransmitter yang membuat kita merasa nyaman, tenang, lega dan bahagia. Pernah juga dong, berbohong, terus deg-degan dan serba salah takut ketahuan? Itu karena waktu kita bohong, neurotransmitter yang muncul adalah kortisol, yang bikin kita ketakutan dan stres.

Badan kita aja tau, honesty is the best policy.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s