Melihat Surga Atau Mengenal Tuhan?

Ada-ada aja nih judulnya. Gini lho, gan. Barusan aku baca (skimming, maksudnya) sebuah buku tentang seorang anak umur 11 tahun yang dapet penglihatan berkali-kali tentang surga dan neraka. Penglihatannya spektakuler (dia liat berbagai jenis setan, Lucifer bawa trisula, dll, makan es krim 8 scoop di surga, dan lain-lain). Dan seperti biasanya para penulis buku-buku seperti itu, dia juga punya ketertarikan cukup mendalam terhadap yang namanya dunia roh. Maksud dunia roh, menurut mereka (secara implisit), adalah dunia yang ga kliatan mata jasmani kita.

Nah, masalah bener ato engganya penglihatan seperti itu, apalah hak saya untuk berkata-kata ya, karena itu kan pengalaman. Kalo dia bilang pernah ke surga, ya orang mau ngomong apa, wong dia yang ngalamin sendiri. Yang lebih penting dari bener-engganya pengalaman itu, adalah nilai teologisnya.

walking on clouds

Manusia dari sononya emang tertarik pada hal-hal mistis; tapi ada orang-orang yang punya ketertarikan berlebihan.

Ngaku ato engga, seberapapun rasionalnya kita, kita punya ketertarikan pada hal-hal yang ga bisa dijelaskan oleh akal sehat (sekalipun kita mungkin selalu berusaha cari penjelasan yang rasional tentang peristiwa seperti itu). Ketertarikan itu wajar, dan umurnya sudah setua peradaban manusia; buktinya dari jaman dulu udah ada dukun and the gank, yang bantu orang nyari anggota keluarga yang hilang, deketin cewe yang dia suka, lihat masa depan, dsb. Dan ini semua bukan hal-hal yang ga rasional (sebagai catatan, apa yang ga kliatan mata, bukan berarti ga eksis. Contohnya sinyal HP); rasio dan kecenderungan manusia terhadap hal supranatural bersebelahan dalam otak kita.

Yang jadi masalah adalah kalo ketertarikan kita pada hal-hal mistis itu kebablasan. Ini bukan cuma penyakit para langganan mbah dan eyang, yaitu para orang pintar nan sakti, tapi juga masalah bagi banyak orang di gereja. Suatu hari aku lagi nunggu bus di halte seberang Grand Indo, dan duduk di sebelahku seorang bapak. Bapak itu tanya, “Kristen ya, dek?” Aku bilang iya. Dia tanya gerejaku di mana, dan aku jawab. Dia lalu bilang, “Saya gerejanya di situ tuh,” (nunjuk sebuah gedung – tapi jujur aku sendiri bingung maksudnya gedung yang mana, karena daerah situ kan semuanya gedung tinggi). Dia lanjut, “Saya suka ibadah di situ, soalnya pendetanya sering ke surga, deket sama Tuhan. Kita kalo cari pemimpin kan yang deket sama Tuhan ya.”

Sampai di sini mungkin beberapa pembaca paham pendeta siapa yang dimaksud bapak itu. Ga tau? Yauda gpp. :p

Aku jujur sedih denger pernyataan bapak itu. Sering ke surga? Really? Maksudnya, bukan bener ato engga si pendeta sering ke surga – itu mah urusan dia sama Tuhan; tapi buat apa hal seperti itu diomongin ke jemaat?? Pendeta itu ga bisa nyalahin orang yang bilang bahwa dia mengarahkan jemaatnya untuk mengkultuskan dia, bukan menyembah Tuhan. Apa pernyataan seperti itu penting diomongin dari mimbar? Apa itu membangun pengenalan jemaat tentang Tuhan – cerita tentang surga ada tumbuhan apa, cerita dia ngobrol sama Tuhan Yesus, cerita orang makan es krim 8 scoop di surga – apa itu semua berguna buat jemaat?

Kenapa aku mempertanyakan apakah itu semua perlu? Karena yang menyelamatkan kita adalah iman di dalam Yesus Kristus, bukan yang lain. Bertobat, dibaptis dalam nama Yesus, menerima Roh Kudus, bertumbuh dalam komunitas rohani, kenal Tuhan lewat firman-Nya, melayani Tuhan – itu semua jauh lebih penting daripada penglihatan-penglihatan spektakuler sekalipun. Jangan salah, kalo seseorang punya pengalaman bolak-balik ke surga (dan neraka), good for that person. Tapi kalo itu dijadikan dasar dari pengajaran, itu sudah meleset.

Tentang dunia roh

Sama seperti jalan-jalan ke surga, ada juga pendeta-pendeta yang hobiii banget bahas yang ngeroh-ngeroh. Sebenernya ga masalah bahas roh, karena Tuhan Yesus aja bilang bahwa Allah itu Roh. Yang jadi masalah, seperti jalan-jalan ke surga, adalah obsesi tentang hal-hal yang ga kliatan mata.¬†Kenapa menurut aku obsesi tentang “dunia roh” bermasalah? Ada beberapa sebab.

Pertama, hal-hal yang rohani ga terpisah dari hal-hal jasmani. Apa buktinya? Contoh #1: Manusia punya natur dosa, maka dia berbuat dosa. Naturnya ga kliatan, tapi dari perbuatannya kliatan bahwa dia berdosa. Contoh #2: Paulus menyinggung tentang “perbuatan daging” dan “buah Roh”. Kalo kita ngomongin buah Rohnya aja ya, isinya bukan “penglihatan, mimpi-mimpi, keadaan trance” dsb; tapi kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dst – semua yang tangible, yang bisa dirasakan oleh kita, manusia – tindakan yang nyata, ga cuma ngawang-ngawang di “roh”.

Kedua, harus diakui bahwa pembahasan tentang dunia roh itu kecil presentasenya di dalam seluruh Alkitab. Ga percaya? Monggo baca aja Alkitabnya sampe selesai, dan buktikan sendiri. Kesepakatan di antara para teolog (dan, sebenernya, siapa aja yang hobi baca buku) adalah bahwa hal-hal yang sedikit dibahas di Alkitab berarti bukan topik utama dalam doktrin Alkitab secara keseluruhan. Jangan salah, aku bukan bilang bahwa yang “minoritas” itu ga penting; tapi terobsesi pada yang kecil-kecilnya akan membuat kita kehilangan poin-poin yang mau ditekankan.

Kalo ada pertanyaan, “Jadi topik apa yang paling banyak dibicarakan dalam Alkitab?” aku ga akan ragu buat menjawab, “Rencana Tuhan untuk keselamatan dan kehidupan kekal bagi umat-Nya di dalam Yesus Kristus.” Itulah yang dibicarakan dari Kejadian sampe Wahyu. Ga percaya? Ayo silakan baca sendiri.

Ketiga, jemaat harus diajar firman Tuhan supaya mereka bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Berapa banyak orang Kristen yang berani ngobrol dengan orang atheis yang mempertanyakan iman mereka? Berapa banyak orang Kristen yang bisa menjelaskan apa yang dia percaya? Berapa banyak orang Kristen yang bisa mengidentifikasi apakah sebuah ajaran sesat atau tidak? Memang, ga semua orang yang ada di gereja sungguh-sungguh mengasihi Tuhan; tapi banyak juga orang-orang yang mengasihi Tuhan, yang ga kompeten sebagai orang Kristen. Kenapa? Ya gimana mereka bisa ngerti, kalo ga ada yang ngajar? Gimana ada pengajaran kalo pendetanya setiap kali naik ke mimbar bilang bahwa dia lagi nunggu inspirasi dari Tuhan (yaitu dia ga persiapan)?

Waktu murid-murid Yesus berkata, “Guru, ajarlah kami berdoa,” Yesus ga jawab dengan menyuruh mereka berbahasa roh. Jangan salah, no disrespect to speaking in tongues; masalahnya, bukankah itu yang sering dilakukan pemimpin rohani sekarang, waktu mereka ga tau harus ngajar apa kepada jemaat? Yesus, sebaliknya, bener-bener mengajar murid-murid-Nya berdoa; Dia mau mereka ngerti apa yang mereka doakan dan kenapa mereka berdoa begitu. Memang ada waktunya kita sangat tertekan, atau bingung, atau takut, atau stress, dan Roh Kudus menggerakkan kita untuk berbahasa roh – dan itu baik. Tapi itu semua harus seimbang; pengalaman dan pengetahuan kita tentang Tuhan harus seimbang!

Penutup

Ishh, pake penutup segala. :p

Demi keperluan thesis, aku lagi belajar (lagi) bahasa Yunani, dan alangkah tidak mudahnya belajar bahasa di umur yang sudah dua puluhan ini. Wajar banget kalo pendeta atau pengajar tergoda buat copas aja commentary orang lain, apalagi yang ada kata-kata Yunani dan Ibraninya. Uda kliatan kece dong, di depan jemaat, karena bisa ngomong, “Ini, dalam bahasa aslinya…” Caelah. :p

Tapi satu hal yang memotivasi aku dalam belajar adalah penulis bukunya, Willam D. Mounce, yang berkali-kali mengawali cerita dalam bab-bab bukunya, “Ketika saya sedang mempelajari teks Yunani untuk bahan ajar Sekolah Minggu…” (Sekolah Minggu di sana bukan cuma buat anak kecil tapi orang dewasa juga). Dan aku mikir. Sekolah Minggu. Dia bukan kotbah di kebaktian umum lho! Dia mengajar sekelompok kecil orang yang jumlahnya mungkin ga lebih dari lima belas – dan dia repot-repot baca teks Yunani dan ditafsir kata per kata!

Seberapa bersediakah hamba-hamba Tuhan sungguh-sungguh mengabdikan diri supaya jemaat bertumbuh dalam iman mereka? Seorang hamba Tuhan menyebut pekerjaan hamba Tuhan sebagai “labor”, karena banyaknya PR yang harus dia kerjakan, bukan cuma jadi pembicara di sini dan di sana dengan modal konkordansi atau cerita-cerita spektakuler. Ini jelas bukan hal yang mudah.

Paulus adalah contoh yang luar biasa. Dia pernah ke surga, tapi dia menceritakan pengalaman itu hanya dalam beberapa kata di suratnya pada jemaat Korintus, dan sisanya adalah pengajaran, nasehat, doktrin, bagi jemaat itu. Dia mengasihi jemaat Korintus dan mau mereka dapet yang terbaik: Kehidupan kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Soal surga, santai aja lah, toh nanti kita semua kumpul di sana, selama-lamanya. Ga usah ngintip sekarang juga gapapa. :p

One thought on “Melihat Surga Atau Mengenal Tuhan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s