Tentang Kesembuhan

Lama ga ngepost di blog, tau-tau bahas tentang kesembuhan. Haha. Ungkapan “Oleh bilur-bilur-Nya kamu menjadi sembuh” yang menginspirasi judul di atas adalah ungkapan yang lazim didengar orang Kristen, apalagi yang gerejanya beraliran Pentakosta-Kharismatik. Aku sendiri baru denger lagi ayat itu dikutip (untuk yang entah keberapa ribu kalinya) dalam Perjamuan Suci hari ini. Dan aku jadi kepikiran, sebenernya maksudnya apa ya? Jadi, aku buka ayatnya dalam I Petrus 2:24.

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurnya kamu telah sembuh.

Dilihat-lihat, konteks pembicaraan Petrus sama sekali bukan tentang kesembuhan fisik. Yang dia bicarakan adalah tentang kesediaan untuk menderita sebagai pengikut Kristus, yang juga telah menderita demi keselamatan kita. Aku kutip ayatnya dalam konteks ya.

Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejaknya: “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.” Ketika Ia dicaci-maki, Ia tidak membalas dengan mencaci-maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurnya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada Gembala dan Pemelihara jiwamu.

Ga ada arah ke kesembuhan fisik, kan? Petrus jelas-jelas bicara tentang kerelaan untuk menderita seperti Kristus menderita. Dan penderitaan itu berhubungan dengan keselamatan kita, orang-orang yang percaya kepada Yesus dan mengikut Dia. Kutipannya selesai; sekarang kita bisa lihat ayat aslinya di Yesaya 53:5—ayat yang dikutip Petrus.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita;
Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya,
dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

Yang dikatakan Yesaya cukup jelas. Perhatikan hubungan kata-kata berikut ini:

  • Tertikam—diremukkan; pemberontakan—kejahatan
  • Ganjaran—bilur-bilur (artinya, bekas luka); keselamatan—sembuh

Yesaya membahas tentang sesuatu yang lebih penting dari kesembuhan fisik. Alkitab memang mengidentikkan “keselamatan” dengan “kesembuhan”, terutama dalam Injil. Dan bisa jadi orang yang disembuhkan itu juga diselamatkan jiwanya. Tapi kalo harus pilih antara keselamatan kekal dengan kesembuhan fisik, masa pilih kesembuhan? Toh nanti orang-orang yang percaya pada Yesus akan dibangkitkan dari kematian dan tubuh mereka diubah menjadi tubuh kemuliaan, jadi mau sakit ato apapun di dunia ini, tetep aja nothing to lose. Beda cerita kalo orang sembuh waktu ikut KKR tapi tetep ga percaya Yesus; ga ada kebangkitan tubuh, dan tubuh yang susah-susah diobatin waktu hidup itu akhirnya membusuk juga setelah mati. Banyak kok kisah orang-orang yang matinya ga enak di Alkitab (dan sejarah gereja), tapi mereka ga pusing masalah itu, karena mereka tau apa yang menanti mereka setelah kematian: kehidupan kekal, di mana—kata Tuhan sendiri—tidak ada sakit-penyakit atau air mata lagi. Yesus mati bagi kita supaya kita diselamatkan; supaya dosa kita diampuni dan kita memperoleh hidup yang kekal, mulai dari ketika kita menerima Yesus dalam hidup kita, sampai selama-lamanya. Kesakitan dan kematian itu hanya fase dalam hidup yang singkat ini.

Ada hal yang penting buat diperhatikan. Bagi orang Israel, kesehatan fisik dan perkenanan Allah (God’s approval) terhadap seseorang sangat berhubungan. Makanya waktu ketemu orang yang buta sejak lahir, murid-murid Yesus tanya, “Guru, ini terjadi pada dia gara-gara dosanya siapa? Dosa dia sendiri atau dosa orang tuanya?” Mereka percaya bahwa orang menderita, sakit, mati dengan tragis, gara-gara dosa. Usut punya usut, ini asalnya dari jaman Musa, ketika Tuhan menjanjikan berkat bagi mereka yang setia kepada Dia dan kutuk bagi mereka yang menyembah berhala dan tidak menghormati Tuhan (Ulangan 28). Dari situlah orang Israel mengambil kesimpulan hubungan kebaikan-berkat dan kejahatan-kutuk.

Di kemudian hari, trennya berubah di kalangan murid-murid Yesus. Mereka melihat Guru dan Tuhan mereka mati dengan tragis, padahal Dia sang Kristus, “Yang Diurapi”, yang ketika dibaptis langit terbuka, Roh Tuhan turun atas Dia dan terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi; kepada-Nyalah Aku berkenan.” Lah, tapi kok matinya menderita? Ini untuk menggenapi nubuat para nabi (terutama Yesaya) yang menyatakan bahwa akan datang Hamba Tuhan yang menggenapi tugas yang Tuhan berikan, yaitu membawa keselamatan bagi Israel; dan Hamba Tuhan itu akan mati terbunuh dengan cara yang keji. Sejak para murid ngerti bahwa nubuat itu adalah tentang Yesus, mereka tidak lagi takut dengan kematian atau penderitaan, karena Tuhan merekapun sudah menderita dan mati; dan penderitaan serta kematian itu bukan tanda bahwa Allah tidak berkenan atas Dia—justru sebaliknya.

Terdengar protes: “Tapi kan Yesus sendiri menyembuhkan? Murid-murid Yesus (dalam Kisah Para Rasul) juga menyembuhkan!” Iya bener, itu semua bener. Protes berlanjut: “Jadi kesembuhan itu adalah hak kita juga dong?” Hmm, aku merasa agak terburu-buru kalo kita ngomong “hak”; masalahnya, hidup kita aja harus di-let go kalo kita mau ikut Yesus, jadi hak apa lagi dong yang kita punya? Boro-boro sembuh; kalo Tuhan mau kita kehilangan nyawa demi Dia, kita harus merelakan nyawa itu buat Dia kok. Jadi gimana ini? Apa ada konflik tentang kesembuhan dan kepengikutan terhadap Yesus? (Ini bahasanya kok jadi njelimet gini ya. Maab. Hahaha..)

Sama sekali engga. Berikut ini adalah argumen saya. *tsah*

Apa tujuan penyembuhan? Sepanjang Perjanjian Lama dan Baru, ada banyak banget cerita orang disembuhkan secara fisik. Perjanjian Baru mungkin lebih banyak kali ya, karena ga ada orang yang menyembuhkan orang sakit sebanyak Yesus. Apa tujuan penyembuhan massal itu? Tidak lagi dan tidak bukan: Buat membuktikan bahwa orang yang menyembuhkan itu benar-benar utusan Tuhan. Itu tujuan utamanya; sisanya tujuan sekunder.

Kesehatan itu pemberian Tuhan. Amin! Minta boleh ga? Ya boleh laaah.. Ga ada salahnya kita minta, wong Tuhan itu baik dan Dia membuka diri untuk permohonan-permohonan kita. Kalo ga minta sama Tuhan, minta sama siapa dong? Kalo dikasih, kan puji Tuhan ya, kita kan bisa melayani dan bekerja lebih optimal kalo sehat. Tuhan juga yang dimuliakan lewat kesehatan kita. Silakan baca Mazmur 38, 41, 88 yang isinya Daud berseru minta disembuhkan Tuhan. Ada juga cerita raja Hizkia yang disembuhkan dan ditambah umurnya dalam II Raja-Raja 20:1-11. Belum lagi cerita tentang orang-orang yang minta disembuhkan oleh Yesus dalam Injil.

Tapi itu bukan berarti Tuhan berkewajiban menyembuhkan kita. Dia kan Tuhan ya, jadi Dia boleh berbuat apa saja yang Dia mau, tanpa terikat keharusan. Apa ini berarti janji berkat Tuhan dalam Perjanjian Lama uda basi dan ga berlaku lagi? Ada yang bilang, karena itu Perjanjian Lama, jadi uda diganti Perjanjian Baru. Ya di Perjanjian Baru justru lebih banyak peristiwa penyembuhan, cuy. Masalahnya bukan lama ato baru. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan keturunannya (termasuk kita yang adalah keturunan Abraham melalui iman) meliputi dua hal: tanggung jawab Tuhan sebagai pihak yang berjanji, dan kepercayaan Abraham sebagai pihak yang menerima janji. Kalo kita mau ikut Tuhan, kita harus percaya bahwa Dia bertanggung jawab atas kehidupan, kematian, maupun afterlife kita. Tuhan memang bertanggung jawab. Seperti yang uda aku bilang di atas: yang lebih penting dari kesembuhan fisik kita adalah keselamatan jiwa kita, yang meliputi janji kebangkitan dari kematian dan tubuh yang dimuliakan. Tuhan bertanggung jawab atas itu semua! Kalo kita memaksa Tuhan buat menyembuhkan kita, itu berarti kita melanggar perjanjian karena kita menyatakan bahwa yang kita percaya adalah diri kita sendiri, bahwa kita lebih tau apa yang baik bagi kita dibanding Tuhan.

Terakhir, bagi orang percaya, banyak hal yang lebih penting dari kesembuhan. Kesembuhan fisik itu adalah tanda yang penting, bagi orang-orang yang belum kenal Tuhan. Tapi bagi kita yang sudah kenal Dia dan sudah berkomitmen untuk ikut Tuhan (baca: jadi orang Kristen), banyak hal yang lebih penting dari sekedar sehat secara fisik. Pertumbuhan dan kedewasaan rohani, membawa jiwa kepada Tuhan, jadi kesaksian yang baik sekalipun dalam penderitaan, melayani Tuhan dalam keterbatasan kita—itu semua sesuatu yang ga bisa diberikan dengan penumpangan tangan atau ditiup dari mimbar oleh miracle healer. Itu semua hanya bisa didapatkan dari penajaman karakter dan kesetiaan ikut Yesus selama bertahun-tahun, dan harganya jauh lebih tinggi dibanding kesembuhan.

Kesimpulanku adalah bahwa (1) minta kesembuhan pada Tuhan boleh-boleh aja, tapi (2) Tuhan tidak berkewajiban mengabulkan permintaan kita tersebut, apalagi kalo kita adalah orang Kristen yang sudah lebih dewasa dari sekedar anak yang ngambek kalo permintaannya ga dituruti orang tuanya; dan (3) kita perlu selidiki hati kita buat tau, apa sih yang paling penting buat kita? Kenyamanan kita sendiri, atau kemuliaan Tuhan? Karena orang tetap bisa memuliakan Tuhan dalam keadaan sakit kok, kalo dia emang niat.

Aku mau tutup dengan sebuah cerita yang sangat berkesan buat aku, tentang seorang hamba Tuhan bernama Corrie Ten Boom. Dia seorang wanita yang menghabiskan hidupnya untuk melayani Tuhan, dan suatu hari waktu dia sudah tua, dia sakit. Dari cerita yang aku denger, nyonya Ten Boom ini mendapat penglihatan ada seorang malaikat datang dan tanya pada dia, “Corrie, silakan kamu pilih: kamu mau pulang ke surga sekarang, atau hidup lima tahun lagi, tapi dalam keadaan sakit dan tidak bisa bangkit dari tempat tidur?”

Pilihan yang lebih enak ya uda jelas ya, daripada sakit terus mendingan pulang ke surga dan ketemu Yesus. Tapi jawaban nyonya Ten Boom adalah, “Yang mana yang lebih memuliakan Tuhan?”

Malaikat itu menjawab, “Yang kedua.”

“Kalau begitu,” kata nyonya Ten Boom, “saya pilih yang kedua.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s