Yang Rukun, Masbro, Mbaksis

Beberapa hari ini aku terus-terusan diingetin tentang kasih dalam tubuh Kristus, dan tiap kali, ada aja hal baru yang Tuhan ajarin ke aku. Kemaren bacaan Alkitabnya dari Kolose 3:8-17, tapi aku kecantol di ayat 15, jadi aku ublek-ublek ayat itu. Gimana sih, ublek-ublek ayat? Silakan baca post sebelumnya. Ini ayatnya:

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”

Awalnya aku sempat bingung karena merasa ga dapet logika kalimatnya. Tapi setelah direnungkan, liat ayat yang sama dalam versi lain, mikir lebih ekstensif, inilah hasil perenungan dan pembelajaran semalam.

Kita dipanggil untuk hidup rukun

Adalah rahasia umum bahwa dalam gereja sendiri ada masalah dengan kerukunan. Padahal, “Untuk itulah,” kata Paulus, “kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” Untuk apa? Untuk hidup berdamai satu dengan yang lain! Aku kemaren baca quote-nya Mark Driscoll: “Saying, “I love Jesus, but not the church” is like saying, “I love my adoptive father, but I don’t care about the rest of the family.”” Ga bisa dong.

Kita dipanggil untuk menjadi satu tubuh. Kita harus terima kenyataan bahwa orang lain beda dengan kita, ada sifat mereka yang ‘sulit’, tapi kita dan mereka adalah satu tubuh. Kalo dipisah, bakal koyak! Paulus pake metafor yang bagus: tubuh. Anggota tubuh ga bisa saling bermusuhan; mereka harus saling mendukung. Waktu mereka ga saling mendukung, tubuh jadi disfungsional, dan kita mengeluh, “Aku sakit.” Sakit artinya ga sehat; tubuh ga berada dalam kondisi normal. Demikian juga anak-anak Tuhan yang ga saling mendukung, mereka ga berada dalam kondisi normal.

Istilah “dipanggil menjadi satu tubuh” juga perlu diperhatikan. Mungkin selama ini kita pikir panggilan = profesi. Tapi ini lebih dari sekedar kegiatan: panggilan kita adalah untuk menjadi satu,satu tubuh yaitu tubuh Kristus. Kerjasama. Saling mendukung. Rukun. Kita dipisahkan dari dunia untuk masuk dalam persatuan anak-anak Allah. Jadi, seperti ada orang yang dipanggil jadi misionaris, businessman, dll, kita semua – semua – dipanggil untuk jadi satu tubuh yang saling mendukung, harmonis dan rukun, damai satu dengan yang lain.

Damai sejahtera Kristus

Tapi kenyataannya, orang-orang kristen berselisih satu dengan yang lain. Mengapa begitu? Dan gimana biar ga begitu? Paulus bilang, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.”

Ga ada cara lain, kita harus memiliki damai itu. Kalo orang dari dalemnya ga ada damai, gimana dia mau damai sama orang lain? Aku jadi inget analogi  kapal yang dipake C. S. Lewis. Sekarang pertanyaannya, sudahkah damai ada dalam hati kita? Ada dua hal penting yang aku perhatikan di dalam bagian ini.

  1. Damai sejahtera yang dari Kristus
  2. Damai itu memerintah dalam hati kita.


Pertama, kita ga bisa berdamai kalo damai itu dibuat-buat atau damai dari diri kita sendiri.
Istilah “damai” buat manusia itu maksudnya biasanya begini: “Gue ga ganggu elu, lu juga jangan ganggu gue.” Itu bukan damai, cuy, itu mah individualisme.. Berdamai sama orang lain versi Alkitab itu berbuat baik pada dia, memperhatikan keadaannya, tolongin waktu dia susah, doain dia, dan semua yang baik-baik itu – lepas dari perlakuan orang itu terhadap kita. Nah, yang seperti itu datangnya bukan dari dunia atau diri kita sendiri, tapi dari Kristus. Tanpa Dia, orang ga bisa berdamai dengan Allah. Dan kalo ga bisa berdamai dengan Allah, mana ada damai sejati di hatinya? Kalo ga ada damai sejati, gimana bisa mengasihi dan hidup berdamai dengan orang lain?

Kedua, damai itu memerintah. Aku sadar ini adalah hal yang ga biasa buat pemikiran orang dalam generasiku. Seperti apa itu damai yang memerintah? Ini, saudara sekalian, adalah pekerjaan Roh Kudus. Inget dong, apa yang Paulus bilang tentang buah Roh? Paulus mengkontraskan buah Roh dengan perbuatan daging – yaitu natur kita, manusia, yang berdosa. Lalu dia bilang begini, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Galatia 5:25). Roh Kudus sanggup menguasai seseorang yang telah menyerahkan hidupnya kepada Kristus, menguasai hati dan perasaannya, memberikannya kasih dan damai sejahtera yang “melebihi segala akal.” Terpujilah Tuhan!

“Hendaklah!”

Kalo itu semua pekerjaan Tuhan, kenapa kita yang diperintah? Kok jadi “mengalihkan tanggung jawab”?

Sama sekali bukan. Masalahnya, seringkali kita ribut sama orang lain bukan karena kita tidak bisa menahan diri, tapi karena kita pengen ribut aja, alias egonya terganggu. Kita perlu menginginkan perdamaian. Bahasa Alkitabnya malah lebih keras lagi: Kejarlah, Usahakanlah! (2 Timotius 2:22, Roma 12:18).

Penting sekali buat kita untuk sadar bahwa kalo kita ga mengejar perdamaian, ga mengampuni orang yang salah sama kita, ga mau mengalah, apalagi cari ribut (?!), kita sedang menyebabkan disfungsi dalam tubuh Kristus! Paulus bicara dengan keras kepada orang-orang yang menyebabkan perpecahan di Korintus: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan (menghancurkan) Bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia; sebab Bait Allah adalah kudus, dan Bait Allah itu ialah kamu.” Ini keras! Setiap kita, yang tidak mengusahakan perdamaian dalam tubuh Kristus, bersalah untuk hati yang keras itu. Karena itu Paulus menulis pesan ini dalam bentuk imperatif; ini bukan tentatif, bukan kalo kita lagi pengen aja, bukan kalo mood kita lagi bagus; tapi HARUS, apapun yang terjadi.

Bersyukurlah

Yang uda bertahun-tahun jadi Kristen, aku mau tanya, kapan terakhir bersyukur karena kalian adalah anggota keluarga Allah? Kapan terakhir bersyukur buat gerejamu, buat komunitasmu, buat saudara-saudari seimanmu?😉

Begitu kenal saudara-saudara se-Bapak, jadi susah ya, mengucap syukur? Liat kekurangan mereka – yang kadang-kadang kebangeten, liat kelemahan dan kebodohan yang dilakukan anak-anak Tuhan, rasanya ga bisa deh bersyukur. Rasanya terlalu banyak yang harus diperbaiki, sampe-sampe ga kliatan lagi apa yang bagus.

Tapi mari kita belajar dari Paulus. Paulus hampir selalu mengawali suratnya dengan pernyataan bahwa dia bersyukur atas keadaan jemaat yang ia kirimi surat (kecuali kalo dia lagi buru-buru mau ngomong sesuatu yang penting). Jemaat Korintus, salah satu jemaat yang paling amburadul, menerima salam ini dari Paulus:

“Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segalah hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus yang telah diteguhkan di antara kamu.”

Dalam jemaat yang kacau seperti itupun Paulus masih menemukan alasan untuk bersyukur. Gimana dengan kita? Apa kita ga bersyukur bahwa orang di kanan kiri kita di gereja sudah diselamatkan? Bersyukurkah kita karena ada saudara kita yang mau melayani Tuhan di gereja? Bersyukurkah kita bahwa kita punya komunitas yang terus mengingatkan kita tentang Tuhan (lewat kebaikan maupun keburukan mereka)?

“Bersyukur” pun ditulis dalam bentuk kalimat perintah. “Dan, bersyukurlah.” Buka mata untuk lihat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, lihat apa yang Tuhan kerjakan dalam hidup saudara-saudari kita. Bersyukurlah.

….

Tentu melakukannya lebih susah dari menulisnya. Tapi kalo kita ga melakukan ini, kita melukai tubuh Kristus, tubuh Dia, yang katanya kita cintai. Kristus adalah kepala, kita adalah tubuhNya. Kalo kita sayang Tuhan Yesus, kita akan mau belajar mengasihi tubuhNya juga: saudara-saudara seiman kita. Akhir kata…

“Berbahagialah orang yang membawa damai,
karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
– Yesus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s