Kasih Seperti Apa?

Beberapa tahun lalu aku pernah nonton sebuah film serial di tv (yang aku lupa judulnya apa atau pemerannya siapa), dan ada satu adegan yang aku inget banget – sebenernya ini satu-satunya adegan yang aku inget. Seorang bapak masuk ke rumah sambil ngomel-ngomel, dan waktu ketemu mantan isterinya, dia langsung tanya anak mereka di mana. Si tante bilang, ada di kamar. Bapak itu buru-buru menuju kamar si anak dan gedor pintu kenceng-kenceng. Anaknya, cowo berumur kira-kira 20 tahun, bertato dan mukanya penuh tindikan, buka pintu dalam keadaan telanjang dada, dan di belakangnya ada cewe yang juga berpakaian minim – intinya mereka lagi berhubungan seksual dan diinterupsi oleh si bapak. Bapak itu marah-marahin anaknya karena bawa cewe masuk kamar, dll. Anak itu dengan kalemnya bilang, “You always choose hate over love. We’re in love, man.”

Love. Banyak cerita yang indah tentang cinta. Tapi banyak juga cerita pahit tentang hubungan yang berantakan, komitmen yang dikhianati, anak-anak yang jadi broken home, gara-gara seseorang “sudah tidak cinta” atau jatuh cinta pada orang lain. Apa seperti itu yang namanya cinta? Dan lebih jauh lagi – aku akan ganti istilah dari ‘cinta’ kepada ‘kasih’ biar lebih universal – waktu kita baca di Alkitab, “Allah adalah kasih,” apa maksudnya seperti itu?

Coba kita lihat salah satu contoh definisi ‘kasih’ menurut manusia. Korintus adalah salah satu kota besar di kekaisaran Romawi pada abad pertama. Salah satu dewi yang terkenal (dan populer disembah) di kota itu adalah Aphrodite. Yap, doski adalah dewi cinta, yang cukup terkenal dalam mitologi Yunani. Judulnya dewi cinta; bagaimana caranya beribadah kepada dewi cinta? Tentu dengan cara saling mencintai, bukan? Dan ekspresi cinta apa yang lebih dalam dari seks? Jadi dalam ritual penyembahan kepada Aphrodite, warga Korintus rame-rame datang ke kuilnya dan pesta seks dengan imam-imam wanita yang “bertugas melayani” di sana. Demikianlah mereka memandang kasih.

Sisa Korintus sekarang

Ketika di Korintus tumbuh gereja, ada orang-orang yang percaya kepada Yesus dan mulai beribadah kepada Dia, Paulus menulis surat untuk memperingatkan mereka betapa berbedanya kasih yang dikenal orang-orang di kota itu dengan kasih Kristus. Dan di sinilah muncul perbedaan yang tajam. Inilah sebabnya orang yang tidak mengenal Kristus tidak bisa menjelaskan arti pernyataan “Allah adalah kasih.” Kenapa begitu? Karena kasih Allah dinyatakan lewat Kristus. Allah mau kita mengasihi dengan cara seperti apa? Seperti yang ditunjukkan Kristus. Apa itu kasih? Apa yang Allah lakukan bagi kita melalui Kristus. Semua-semua muter di Kristus, dan memang kasih Allah ga bisa dikenal lepas dari Kristus. Nanti ujung-ujungnya jadi seperti cowo yang aku ceritain di paragraf awal, atau seperti orang-orang Korintus yang salah kaprah.

Apa sih masalahnya dengan kasih manusia? Manusia itu berdosa, dan segala yang dia lakukan diwarnai dosa. Tuhan ga seperti itu; Dia kudus dan tidak bercela, jadi semua yang datang dari Dia itu kudus dan tidak bercela, termasuk kasihNya. Kasih yang kita kenal itu self-centered, cari kesenangan diri sendiri. Hubungan seks diberi nama ‘making love’, dan jaman sekarang ‘love’ memang diidentikkan dengan seks. Kalo ga berhubungan seks, berarti ga cinta. Lalu banyak orang yang bisa-bisanya jatuh cinta pada orang lain yang bukan pasangannya, lalu tinggalkan isteri atau suami untuk orang lain, dengan alasan, “Sudah tidak cinta.” Sebatas itu saja kasih manusia.

Kalo Tuhan gimana? Kasih Tuhan bukan kasih murahan yang berhenti sampai di kesenangan, kepuasan seksual, atau hal-hal semacam itu. Kasih Tuhan diwarnai dengan…

Kasih Tuhan selalu baru setiap pagi!

Kebenaran. Seperti yang sudah disebut di atas, kita ga bisa mengalami kasih Tuhan di luar Kristus. Memang Tuhan baik pada semua orang, semua manusia dan mahkluk hidup dapet yang namanya common grace: bisa nafas, bisa gerak, kalo hujan ya kita kebagian hujan, kalo panas ya semua kebagian sinar matahari. Tapi tidak lebih dari itu. Yang lebih dari itu adanya di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Kalo kita mau dikasihi oleh Tuhan, harus dengan caranya Tuhan. Caranya Tuhan adalah, melalui Yesus.

Kesetiaan. Nah, ini! Ga seperti manusia yang gampang bosen dan lalu kasihnya luntur, Tuhan itu super sangat setia. Begitu Dia mengasihi seseorang, Dia ga akan berhenti cuma gara-gara bosen atau orang itu berbuat salah. Ini warnanya kasih Tuhan, dan ini juga yang Dia mau ada dalam hubungan yang melibatkan komitmen, terutama pernikahan. Tuhan uda sayang aku selama 25 tahun, dan, kata Alkitab, “Untuk selama-lamanya kasih setiaNya!” KasihNya dijamin dengan komitmenNya untuk mengasihi.🙂

Kekudusan. Di tangan manusia, yang namanya kasih bisa jadi najis saking banyaknya kecemaran oleh dosa. Tapi Tuhan ga toleran terhadap dosa dan kasihNya adalah kasih yang kudus. Jangan sampe mentang-mentang Tuhan baik dan sabar lalu ada yang merasa itu adalah kelonggaran untuk berbuat dosa. Dalam Perjanjian Lama kita baca bahwa Tuhan sangat mengasihi Israel, tapi saking bebalnya bangsa itu, Dia menghukum mereka dengan sangat keras dan membuat mereka jadi budak bangsa-bangsa lain. Dan kenapa Dia tega berbuat begitu? Justru karena Dia mengasihi mereka. Umat Tuhan adalah umat yang kudus; dan karena Tuhan sangat mengasihi mereka, Dia sangat serius dalam menguduskan mereka.

Inilah kasih Tuhan. Dan dengan kasih seperti itulah Tuhan mau kita mengasihi saudara seiman kita. Mengasihi dalam kebenaran, karena kita adalah anak-anak Tuhan yang hidup dalam terang Tuhan dan dipimpin RohNya. Kasih itu buah Roh, jadi hasil kerja Roh di dalam kita, bukan kemampuan kita sendiri. Ga ada Roh Tuhan ya berarti ga bisa mengasihi. Ga percaya pada Yesus Kristus berarti ga punya Roh Kudus. Mengasihi dalam kesetiaan, karena setiap kita penuh kelemahan dan terus-terusan perlu dimaklumi, diampuni, dibantu lagi – seperti Tuhan yang ga putus asa mengasihi kita sekalipun kita berkali-kali salah. Mengasihi dalam kekudusan, karena kasih ga kompatibel dengan dosa. Orang yang hidup dalam dosa ga bisa mengasihi, karena hubungannya dengan Allah yang kudus itu ga beres. Dan kegiatan yang dilakukan dalam dosa (sekalipun judulnya “mengasihi” tapi sebenarnya bukan kasih karena di luar Yesus Kristus), ujung-ujungnya akan menghancurkan kita.

Semua gambar dari http://www.gettyimages.com

One thought on “Kasih Seperti Apa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s