Rutinitas

Yang rajin ke gereja pasti pernah dengar istilah ini, dan biasanya konotasinya negatif. Kita cenderung menganggap rutinitas sebagai sebuah kesalahan, sebagai sesuatu yang bertentangan dengan “kasih mula-mula”. Hmm, rutinitas itu ‘dingin’ dan ga keren sama sekali.

Tapi apakah benar begitu? Pertanyaannya dibalik aja: Mungkinkah kita bersemangat terus-terusan? Sanggupkah kita bertahan dalam emosi yang menggebu-gebu untuk mengasihi Tuhan? Lalu pertanyaan kedua, seandainyapun kita sanggup selalu bersemangat untuk ibadah dan pelayanan, lalu kita rajin ibadah setiap minggu, bukankah itu yang namanya rutinitas? Begitu ketemu kata ‘setiap’, ga bisa dihindari, kita ketemu dengan rutinitas.

Bagaimana dengan Alkitab? Tuhan ga suka rutinitas, kan? Tuhan mau kita on fire terus kan? Mari lihat apa yang diperintahkan Tuhan.

Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. (Ulangan 6:6-9)

Kedengerannya seperti rutinitas ya? Dan memang itu rutinitas. Harus diulang-ulang terus, diajarkan lagi dan lagi, dibicarakan waktu di rumah – super rutin! Dan ini perintah Tuhan. Perintah ini tidak menekankan pada emosi yang kita rasakan (bosen, bersemangat, dsb) tapi pada hal yang wajib kita lakukan sebagai umat Tuhan. Apa maksudnya? Mengapa Tuhan memberi perintah semacam ini?

Rutinitas itu bukan hanya berguna, melainkan penting. Dan aku yakin bahwa anak-anak Tuhan harus secara rutin melakukan hal yang baik. Contohnya, kebiasaan beribadah. Sejak kecil sampai ABG, aku diharuskan beribadah ke gereja setiap hari Minggu (oleh orang tua, tentunya). Bosen? Ya jelas, namanya juga anak kecil, apa sih yang ga bikin anak kecil bosen? Dan orang tuaku tau persis bahwa kebosanan tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan rutinitas yang penting. Aku sekolah di luar kota sejak SMA, kos dan hidup jauh dari orang tua. Apa yang aku lakukan waktu awal aku sampai di kota yang baru? Cari gereja! Saking terbiasanya dengan ibadah di gereja hari Minggu, aku bingung kalo nganggur seharian dan ga ke gereja. Sekarang, setelah aku dewasa, aku bisa bilang bahwa berkat rutinitas itu aku jadi tetap beribadah, sekalipun waktu itu aku labil, krisis iman, dll.

Contoh lain adalah saat teduh. Kita tau bahwa saat teduh yang cuma seminggu sekali itu ga bener. Yang seharusnya, saat teduh itu tiap hari. “Tapi nanti jadi rutinitas dong.” Ya emang harus rutin! Kadang aku bosen makan (aku bukan penikmat makanan yang suka coba-coba makanan baru), tapi bukan berarti aku ga makan dong?? Aku tetap perlu makanan itu. Kadang aku jenuh dengan saat teduh, tapi aku tetap jalani. Mengapa? Karena orang dewasa harus bisa mengalahkan dirinya sendiri untuk melakukan apa yang wajib ia lakukan.

Jadi, kalo dibilang ke gereja tiap minggu, pelayanan tiap minggu, kerja tiap hari itu rutinitas, ya emang itu rutinitas. Dan ga ada yang salah dengan sesuatu yang rutin kita lakukan. Tinggal bagaimana hubungan kita dengan Dia, Sumber sukacita dan damai sejahtera yang menguatkan kita ketika kita lelah dan jenuh. Selamat menjalani rutinitas; dan semangat menjalani rutinitas!🙂

Gambar dari Getty Images

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s