Tuhan Atas Semuanya

Ada seorang pemuda yang memiliki sebuah rumah yang cukup bagus dengan sepuluh kamar: lima kamar di lantai satu, lima kamar di lantai dua (kos-kosan kali ya :p). Dia mengundang Yesus datang ke rumahnya. Mereka ngobrol-ngobrol, dan karena pemuda ini begitu mengasihi Yesus, dia berkata dengan gembira, “Tuhan, ada satu kamar yang uda aku buat keren buanget, interiornya didesain, ada home theatre, kamar mandi dalem, ada balkonnya, pokoknya super! Aku mau kasih kamar itu buat Tuhan.” Wah, Yesus tersenyum senang dan dengan senang hati menerima pemberian itu. Pemuda itu mengajak Yesus ke kamar yang terletak di lantai dua tersebut. Yesus suka desain kamarnya, dan Dia setuju untuk menginap di situ malam itu.

Malampun tiba. Tengah malam, pintu rumah digedor dengan keras. Pemuda ini bangun dengan terkejut, dan waktu dia bukain pintu, ternyata yang dateng itu Iblis! Ga sendirian, tapi gerombolan! Mereka bawa karung besar-besar, mau ngerampok! Setengah mati pemuda itu berusaha melawan, sampe dia sendiri babak belur digebukin Iblis. Setelah puas gebukin orang itu, para Iblispun pulang membawa jarahan. Pemuda ini naik ke lantai dua dengan terpincang-pincang, cari Yesus. Begitu ketemu Yesus, proteslah dia, “Tuhan! Kok Tuhan ga bantu saya? Saya hampir mati digebukin Iblis nih, dan furniture saya diambilin sama mereka! Huhuhu..”

Yesus, sambil taroh betadine di luka-luka pemuda itu dan pasang plester menutup lukanya, berkata, “Ya kan Aku di kamar di pojok, kamu yang bukain pintu.. Rumah ini kan bukan punyaku tapi punya kamu..”

Pemuda itu mikir, bener juga yang Yesus bilang. Akhirnya dia memutuskan, “Yauda deh, Tuhan, kamar yang lantai dua, semuanyaa buat Tuhan! Jadi kita bagi dua yah, rumahnya. Tuhan bantu saya jaga yah.” Yesus mengangguk. “Siplah,” kataNya.

Malam kedua. Waktu masih setengah tidur, pemuda itu denger lagi pintu digedor dengan keras. Kali ini, karena tau itu Iblis, dia ga mau bukain pintu! Tapi dasar Iblis, mereka maksa masuk dengan bongkar jendela. Pemuda itu langsung berusaha menyelamatkan propertinya, dan terjadilah perkelahian seru! Yang lagi-lagi dimenangkan Iblis di sudut biru dengan pukulan TKO. Kali ini Iblis menjarah gadget dan brankas pemuda itu. Belum cukup, mereka ke dapur dan menjarah panci, wajan, telenan, kitchen set, apa ajalah yang bisa dijarah, sampe rumah si pemuda bener-bener kosong melompong.

Sekali lagi si pemuda nangis di hadapan Yesus. Tega bener Yesus biarin dia digebukin dan dijarah abis-abisan sama Iblis! Yesus, sambil mengobati lukanya lagi, berkata, “Tadi Iblisnya masuk lewat mana?” “Lewat jendela,” jawab si pemuda ketus. “Lantai satu?” tanya Yesus lagi. “Iya,” jawabnya. “Itu kan daerah kekuasaan kamu?” sahut Yesus.

Pemuda itu terdiam. Bener juga. Akhirnya, setelah beberapa menit diam dan berpikir, dia berkata, “Tuhan, gini deh. Ini rumah semuanya aku kasih deh buat Tuhan.. Kamar di atas bawah, ruang tamu, dapur, dll, smua buat Tuhan. Ntar aku ambil akte rumahnya, kuncinya, smua Tuhan simpen deh.”

Demikianlah malam itu terjadi serah terima properti secara kecil-kecilan tapi resmi, dari pemuda itu kepada Yesus. Yesus ambil semua akte dan kelengkapan rumah (apa, coba), dan Dia kasi kamar buat si pemuda itu. Kasian, babak belur digebukin setan.

Besok malemnya, terdengar lagi suara gedoran yang familiar itu. Kali ini, si pemuda belum tidur karena lagi ngobrol sama Yesus di ruang tamu. Denger pintu digedor, dia uda panik aja! Tapi Yesus bilang, “Tenang, kan Aku yang punya rumah, Aku yang bukain pintu ya.” Oh iya, bener juga!, pikir si pemuda. Wah, dia penasaran perkelahian seru seperti apa antara Yesus dengan Iblis! Yesus berjalan menuju pintu, membuka pintu, dan dengan dengan kalem memandang Iblis yang melongo melihat siapa yang membuka pintu.

“Ada apa ya?” tanya Yesus.

Iblis menelan ludah. “Nggg.. Nganu, om.. Ngggg.. Kita.. Kita.. Kita salah alamat kayaknya, om..”

Yesus memandangi segerombol Iblis yang tau-tau kliatan menciut itu. “Yauda kalo salah. Sana, pergi!”

“Ampun, om!” sahut para Iblis beramai-ramai sambil lari terbirit-birit.

….

Entah uda berapa kali aku denger cerita di atas. Tapi kemarin, waktu aku denger untuk yang kesekian kalinya, aku seperti ditanya Tuhan, “Kamar mana yang masih kamu pertahankan, Glory? Tempat kamu ga ijinkan Aku masuk?” Dan waktu doa aku ga bisa berenti nangis. Ada hal-hal tertentu dalam hidupku di mana aku mau kerjakan dengan usahaku sendiri, ambisiku sendiri, karena itu adalah milik yang berharga buat aku. Tapi aku terlalu lemah buat itu semua, maka setiap malam aku babak belur dihajar kekuatiran, ketakutan, kebingungan, dan macem-macem yang lain.

Penyerahan diri kepada Tuhan itu ga pernah basi, dan ga bisa cuma sekali dalam hidup kita. Secara pribadi, aku yakin bahwa kita perlu menyerahkan diri pada Tuhan lagi dan lagi setiap hari. Kamar mana yang masih kita pertahankan? Hari ini, berikan itu bagi Yesus.

Give Him everything🙂
(gambar dari http://www.gettyimages.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s