Cerita Dari Anggota Gereja Pentakosta

Salah satu hal yang menarik dalam kalangan gereja adalah perdebatan antara gereja beraliran Pentakosta-Kharismatik dan non-Pentakosta, yang masih terus ada sampai hari ini. Sejak bibit-bibit gerakan Pentakosta di awal abad ke-20, kontroversi memang tidak berhenti.

Aku yakin ga semua orang Kristen akan setuju dengan definisiku ini – ya inilah pendapatku: perdebatannya adalah tentang apakah Roh Kudus sanggup melakukan sesuatu atau tidak. Kaum Pentakosta-Kharismatik percaya bahwa Roh Kudus bisa berbuat apa saja yang Ia kehendaki, tidak terbatas pada formula yang kita dapatkan dari Alkitab; sementara pihak lain berargumen bahwa Roh Kudus tidak akan melakukan hal-hal yang dilabeli oleh orang Pantekosta-Kharismatik sebagai ‘pekerjaan Roh Kudus’. Kalangan yang ekstrim dan anti-Pentakosta-Kharismatik bahkan menganggap apa yang terjadi di gereja-gereja Pentakosta-Kharismatik sebagai perbuatan setan, bukan Roh Kudus. Dan mungkin kalangan Pentakosta-Kharismatik yang ekstrim juga menuduh penentangnya ‘tidak punya Roh Kudus’. Tambah panas aja debatnya.

Aku sendiri berlatarbelakang gereja Pentakosta, jadi sejak kecil aku uda liat tuh orang yang berbahasa roh, kepenuhan Roh Kudus (ini istilah yang khas dalam gereja Pentakosta dan aku ga jelaskan panjang lebar di sini), orang yang sakit disembuhkan secara ajaib, dan setan diusir. Ini bukan post untuk membela aliran Pentakosta-Kharismatik, tapi sekedar masukan dari orang yang ada di dalamnya. Aku tau bahwa hanya sedikit ahli teologi yang diakui kompeten yang berasal dari gereja Pentakosta-Kharismatik (dan bukan salah siapa-siapa karena memang sepertinya gereja non-Pentakosta yang lebih berminat pada bidang akademik – dan itu hal yang sangat baik), karena itu hanya sedikit penjelasan yang memadai tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara kami, orang-orang gereja Pentakosta-Kharismatik. Tujuanku menulis ini adalah berbagi semacam insider’s story lah. Hehe…

Membicarakan Pentakosta, kita akan dibawa kembali ke kitab Kisah Para Rasul. Aku yakin kita semua suka kisah-kisah awal gereja mula-mula, saat mereka berkumpul bersama dan tidak ada yang kekurangan karena mereka saling berbagi, lalu bagaimana mereka saling mengasihi dan memberitakan Injil dengan berani. Keren! Tapi setelah itu, kita berbeda pendapat. Muncul peristiwa-peristiwa yang tidak biasa: kesembuhan ilahi (bayangan Petrus bisa menyembuhkan orang!), baptisan Roh Kudus (yang memiliki tanda fisik sehingga orang bisa berkata, “Wah, mereka menerima Roh Kudus!”), mimpi dan penglihatan, dan keberadaan nabi pada zaman itu. Cukup, cukup, ini sudah terlalu banyak dan tidak rasional lagi. Lalu sebagian orang Kristen berkata bahwa itu semua ‘sudah berhenti’, sudah tidak ada lagi pada masa sekarang.

Gereja Pentakosta-Kharismatik, sebaliknya, sangat bersemangat dengan hal-hal itu, seolah-olah itu semua baru terjadi kemarin dan bukan dua milenium lalu! Bisa dibilang pola berpikir orang Pentakosta-Kharismatik sangat sederhana: Kami percaya, bila Tuhan bisa melakukan itu dulu, Dia tetap bisa melakukan itu sekarang.

Mungkin ada yang berkata, “Ya Tuhan memang bisa, masalahnya apakah Dia akan melakukan itu pada masa kita.” Untuk mendukung teori bahwa Tuhan tidak lagi melakukan hal-hal ajaib seperti dalam Kisah Para Rasul, dilakukanlah eksegesis yang rumit. Aku mahasiswa Sekolah Theologi, jadi aku sangat menghargai eksegesis yang berkualitas (dan memang, harus diakui, biasanya gereja Pentakosta-Kharismatik dicela karena eksegesisnya terlalu sederhana). Namun sayangnya banyak ahli yang melakukan eksegesis itu sudah punya posisi tertentu sebelum mengeksegesis. Akibatnya, hasilnya tetap mendukung pemikiran mereka.

Posisi gereja Pentakosta-Kharismatik bukan sekedar percaya, namun percaya karena mengalami. Klaim kami sama seperti Petrus dan Yohanes, “…kami tidak mungkin tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami dengar dan kami lihat.” Faktanya adalah, belasan tahun lalu, dalam suatu KKR di gereja, aku berdiri di depan altar, seorang pendeta menumpangkan tangan di kepalaku, dan entah darimana aku mulai ngomong bahasa yang ga aku kenal. Aku jatuh ke belakang (tanpa merasa sakit), dan ada damai yang begitu besar yang aku rasakan. Setelah kejadian itu, aku semangat banget pelayanan di gereja dan mulai baca Alkitab setiap hari. Aku jadi betah berdoa, dan jadi ngerti apa maksudnya hidup di dalam Firman Tuhan (sebelumnya, gagasan itu abstrak sekali buat anak abege seumur aku waktu itu), dan aku mulai berdoa buat orang-orang di sekitarku yang belum kenal Tuhan. Buat pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai belajar mengasihi Tuhan.

Aku pernah mengalami tahap dimana aku pikir itu semua pengalaman palsu, sekedar pengalaman emosional aja. Tapi melihat buahnya dalam hidupku, aku sekarang yakin itu sebuah pengalaman yang luar biasa dengan Roh Kudus. Aku percaya Tuhan bekerja lewat penumpangan tangan. Aku percaya orang yang dibaptis Roh Kudus akan menunjukkan tanda yang bisa menjadi kesaksian bagi orang lain. Aku percaya pentingnya pengalaman rohani seperti itu, walaupun memang sesudahnya kita harus hidup dalam firman Tuhan dan persekutuan dengan orang percaya. Dan yang aku lihat dalam Kisah Para Rasul adalah pengalaman seperti itu juga. Rasul-rasul mengalami hal itu, orang-orang percaya dalam gereja mula-mula mengalami hal itu. Aku mengalami hal itu. Pengalaman itu nyata.

Mengapa gereja Pentakosta-Kharismatik berkembang terus, sekalipun banyak tentangan dan dituduh tidak alkitabiah? Karena pengalaman yang aku ceritakan barusan bukan hanya pengalamanku sendiri. Jutaan orang di seluruh dunia mengalami hal yang sama – malah lebih spektakuler! – bahkan di negara-negara di mana penginjil tidak diperbolehkan masuk, dan menjadi Kristen adalah tindakan kriminal. Roh Kudus yang sama melakukan hal-hal ajaib di sana juga – bahasa roh mah hanya urusan kecil buat Dia, wong membangkitkan orang mati pun Dia bisa!

Terakhir. Aku setuju sekali dengan prinsip ‘lihat dari buahnya’. Seseorang bisa memiliki pengalaman rohani yang luar biasa, namun bila tidak terjadi perubahan hidup, pengalamannya tentu dipertanyakan. Dan sepertinya inilah yang jadi batu sandungan bagi orang-orang yang melihat gereja Pentakosta-Kharismatik. Ada orang-orang yang terlalu berani mengklaim apa yang ia lakukan itu ‘disuruh Tuhan’; ada yang memakai nama Tuhan untuk menutupi perbuatan jahat; ada yang tidak sungguh-sungguh bertobat dan masih hidup dalam dosa, dan seterusnya. Namun ini semua bukan tentang itu. Adalah bodoh bila kita berkata, “Tuhan tidak mungkin melakukan hal-hal ajaib,” hanya karena ada orang-orang yang mendapat pengalaman itu dan menyelewengkannya. Faktanya adalah, Tuhan tetap bekerja sekalipun manusia yang ia curahi anugerah sebenarnya tidak pantas mendapatkan itu. Kuasa Tuhan tidak ditentukan oleh kualitas pribadi kita, namun oleh kehendak-Nya.

Kalau ada yang ingin berpendapat tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam gereja Pentakosta-Kharismatik, aku sarankan, masuklah ke gereja tersebut selama setidaknya beberapa bulan, dan lihatlah sendiri. Kenalilah orang-orangnya. Gerejanya ramai dengan tepuk tangan dan tangisan, orang-orang bermazmur dan berbahasa roh dengan diiringi musik, formulir permohonan doa selalu terisi, pendetanya seru sendiri saat berkhotbah, dan orang-orang berdoa minta kesembuhan dan pertolongan dari Tuhan. Mengapa begitu? Karena, sama seperti orang Kristen di seluruh dunia, kami percaya bahwa Tuhan baik dan mengasihi kami, dan Dia senang ketika kami menikmati kehadiran-Nya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s