Pemikiran Singkat Tentang Ateisme

Di Indonesia, ateisme memang tidak berkembang seperti di negara-negara barat. Tapi aku adalah salah satu generasi muda yang pernah ‘berurusan langsung’ dengan ideologi ini, tepatnya waktu SMA. Dibesarkan dalam keluarga Kristen dan hafal banyak ayat Alkitab, aku mulai baca literatur ateis dan komunis waktu SMA di Semarang. Dan berhubung waktu itu aku masih remaja, seperti anak remaja lainnya, apapun yang terasa benar, pasti aku ikuti. Termasuk ateisme.

Sekarang, masa SMA uda berlalu hampir 10 tahun (ya ampun!) dan aku uda ga mempertimbangkan pandangan ateistik sama sekali. Kenapa begitu?

Aku sependapat dengan C. S. Lewis yang (dengan sinis) berkata, kalau memang tidak ada Pencipta, berarti kita semua hanya organisme yang ada di dunia ini karena ‘kecelakaan’. Jadi, sudahlah, anda-anda yang ‘tidak sengaja terjadi’ ini tidak usah mengkhotbahi saya, karena pandangan dan pikiran anda pun ‘tidak sengaja terjadi’. Di sini ateisme harus menjilat ludahnya sendiri; karena dengan berkata bahwa tidak ada Pencipta yang menciptakan setiap individu berharga dan berkapasitas, mereka mendegradasi nilai diri mereka sendiri. Bila hal itu memang benar, tidak ada manusia yang layak saya dengarkan, karena toh mereka juga bukan mahkluk yang penting; mereka hanya ‘tidak sengaja’ lahir dan berkeliaran di dunia.

Bila kita hidup di dunia tanpa tujuan, tanpa alasan, entah bagaimana secara acak kita muncul di dunia, tidak ada yang namanya keberhargaan manusia. Sementara, yang terjadi adalah sebaliknya: ada orang-orang yang sangat berharga dalam hidup kita, dan kita akan melakukan apa saja untuk mempertahankan mereka. Sekalipun tidak ada orang yang kita hargai seperti itu, kita tentu menghargai diri kita sendiri semaksimal mungkin. Mengapa? Mengapa orang jahat harus dihukum? Mengapa kita menuntut keadilan bila sebenarnya manusia itu tidak berharga? Kan si pelaku kejahatan itu hanya melakukan tindakan yang acak, sama seperti keberadaannya di dunia adalah acak?

Bingung ga?

Ini masalahnya dengan ateisme modern, atau yang dikenal di Amerika dan Eropa sebagai New Atheism movement. Mereka marah-marah pada agama dan para penganut agama (terutama Kristen), memaki-maki Tuhan (biasanya Tuhannya orang Kristen), berusaha menunjukkan bahwa logika berpikir merekalah yang benar, lalu di akhir buku berbicara tentang moralitas yang seharusnya bagi umat manusia. Richard Dawkins dan geng-nya menyebut Tuhan dalam Perjanjian Lama sebagai Tuhan yang sadis, Tuhan yang seperti Hitler, kejam dan membinasakan ras manusia. Lalu mereka menyebut Alkitab itu buku yang non-ilmiah karena penyusunannya pun random dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mereka mengklaim bahwa atas nama agama, orang-orang telah berbuat kejahatan-kejahatan besar. Dan itu semua mereka tulis dalam buku mereka masing-masing dengan bahasa yang kasar. Apa begitu caranya orang intelek berargumentasi? Marah-marah dan penuh dengan sarkasme?

Masalah dengan para penulis itu begitu banyak, sulit dibahas satu per satu. Masalah utamanya adalah mereka menuntut orang-orang untuk objektif – padahal mereka sendiri sangat subjektif: mereka menyalahkan setiap orang yang tidak setuju dengan mereka. Sungguh pendekatan yang tidak menarik untuk mempromosikan ateisme. Ga heran paham ini ga bisa terlalu berkembang, karena pendekatan mereka yang tidak simpatik seperti itu.

Sudah ada banyak debat antara cendekiawan Kristen dengan para penulis ateis ini, jadi aku akan teruskan dengan alasan utama aku ga peduli lagi dengan ateisme. Kita bisa bicara panjang lebar tentang logika, tentang bukti-bukti, tentang intelektualitas, dan memang itu semua penting untuk diketahui. Tapi bukan itu alasan utama aku adalah orang Kristen. Lalu apa?

Aku kenal Tuhan.

Sekeras apapun orang berusaha membuktikan ke aku bahwa Tuhan itu ga ada, seperti apapun mereka berusaha, aku cuma bisa bilang, aku kenal Tuhan secara pribadi, dan usaha-usaha intelektual ga akan bisa memaksa aku untuk bilang Tuhan ga ada, karena nyatanya Dia ada! Aku kenal Dia; aku kenal suara-Nya, aku kenal sifat-sifat-Nya, aku tau apa yang Dia suka dan ga suka. Dia ngomong ke aku, Dia nyata dalam hidupku setiap hari. Seperti orang ga bisa membuktikan bahwa mamaku tidak eksis – karena faktanya dia ada di dunia, di tempat tertentu, dan aku bisa angkat telpon dan ngomong sama dia sekarang juga! – orang ga bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena aku tau Dia ada. Dia bukan Tuhan yang misterius, yang keberadaannya dipertanyakan, yang masih belum jelas ada atau engga. Dia ada, Dia nyata.

Apa masalahnya dengan para penulis ateis? Mereka berbicara dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak ada, lalu memaki-maki Dia – seolah-olah Dia ada, hehe – dan berusaha meyakinkan pembacanya bahwa hanya orang bodoh yang percaya Tuhan ada; padahal itu semua sama sekali tidak perlu, bila memang Tuhan tidak ada. Bila kita semua akan lenyap jadi debu setelah mati nanti, apa bedanya beragama dan tidak? Ga usah susah-susah meyakinkan orang bahwa Tuhan tidak ada; toh nanti ujung-ujungnya juga sama-sama mati. Kaum ateis hanya senang bila dianggap lebih pandai dari orang lain karena cara berpikir mereka ‘lebih maju’ dari orang pada umumnya. Mereka akan menyebut orang-orang beriman ‘bodoh’, ‘ga pake otak’ dan sebagainya. Ah, yang pintar dan bodoh nanti juga sama-sama mati dan dilupakan orang. Apa bedanya?😉

Faktanya, Tuhan yang kita kenal lewat Alkitab memang tidak pernah mempromosikan agama. Yang Dia inginkan adalah sebuah hubungan, perdamaian antara Dia Yang Mahakudus dengan kita, yang berdosa. Tuhan tidak minta kita menjalankan ritual khusus atau sistem agamawi yang kita kenal sekarang; itu semua adalah karya manusia sebagai ekspresi penyembahan mereka terhadap Dia. Yang Dia inginkan masih tetap sama, dari zaman manusia pertama hingga sekarang: hubungan. Faktanya, Tuhan mengasihi dan menginginkan kita. Kalau para promotor ateisme baru itu benar-benar sudah baca alkitab sampai selesai, harusnya mereka tau hal itu dengan jelas.

Sebagai penutup. Aku pernah baca transkrip debat antara Sam Harris (promotor ateis) dengan Rick Warren (pendeta salah satu gereja di Amerika), dan jujur aku seneng banget baca transkrip itu. Bukan karena Warren ‘memenangkan debat’, tapi karena dia memberitahu Harris apa yang sebenarnya ada dalam hati promotor ateis itu, yang sepertinya Harris sendiri ga tau. Di akhir debat ada pembicaraan yang menarik tentang roh; dan secara mengejutkan Harris membuat pernyataan bahwa ia percaya adanya roh (sungguh aneh, untuk penganut ateisme, sebuah filosofi yang kental dengan materialisme). Warren tidak mendebat, hanya menanyai Harris tentang gagasannya yang tidak biasa (untuk ukuran orang ateis) itu. Di akhir pembicaraan, Warren berkata, “You are more spiritual than you think. You just don’t want a God who tells you what to do.”

Well said, Mr. Warren. Well said.

One thought on “Pemikiran Singkat Tentang Ateisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s