Tentang Makanan (Atau Lebih Dari Itu)

Sudah beberapa jam. Kedua pria itu masih duduk dalam ruangan kecil dengan satu jendela itu, yang hanya dihangatkan oleh perapian kecil, meneruskan diskusi mereka tentang – tentang apa saja, tepatnya, yang bisa mereka bicarakan. Keduanya menyebut diri mereka pengikut Yesus Kristus, orang Yahudi yang mati disalib namun lalu bangkit dari kematian dan naik ke surga, dan mereka sama-sama mendedikasikan diri bagi sesama pengikut Yesus Kristus di kota Korintus. Di tengah kota yang begitu besar dan masyarakatnya yang terkenal begitu liar, tentu banyak hal harus mereka bicarakan.

“Sekarang,” ujar pria pertama, yang lebih muda, “sesuai kesepakatan kita tadi, kita akan membahas tentang makanan.”

Rekannya tertawa kecil. “Makanan, betul sekali,” sahutnya. “Apa yang mau kaubahas tentang makanan, Yustus?”

“Tentang daging yang dipersembahkan di kuil, daging terbaik di seluruh negeri,” sahut Yustus serius. “Bagaimana menurutmu, Paulus?”

Paulus menengguk air di gelasnya sebelum melanjutkan. “Apa yang ingin kautanyakan?”

“Bolehkah kita, pengikut Kristus, makan daging itu? Maksudku, kita tahu bahwa berhala itu benda mati, mereka hanya patung. Itu hal sepele, tetapi ada saja orang-orang yang mempertanyakan hal-hal sepele, bukan? Makan atau tidak makan, tidak ada bedanya; karena berhala itu tidak bisa menyucikan atau menajiskan makanan. Para pemrotes itu adalah orang-orang yang tidak berpengetahuan, sama sekali tidak mengerti ajaran kita.”

“Betul. Lalu?”

“Lalu, bukankah kita harus membungkam orang-orang yang mempermasalahkan makan daging kuil ini?”

Paulus menarik nafas sebelum menjawab. “Yustus, lihat apa yang telah dilakukan oleh ‘pengetahuan’ itu kepadamu.”

“Apa?” sahut Yustus bingung.

“Kau jadi sombong,” sahut Paulus, lembut namun tegas. “Pengetahuan yang kaubilang itu membuat orang menjadi sombong. Tahukah kau, apa yang tidak membuat orang sombong, namun justru membangun orang lain?”

Yustus menatap seniornya itu, menunggu jawaban.

“Kasih,” sahut Paulus lagi. “Kalau kaupikir kau punya pengetahuan, namun kau tidak mengasihi orang-orang – atau, harus kukatakan, saudara-saudaramu, maka kau sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang Tuhan kita. Kau tidak mengasihi, kau tidak kenal Allah. Seperti itulah.”

Jawaban Paulus yang telak itu membungkam Yustus selama beberapa detik, sebelum ia kemudian berargumen, “Tapi Paulus, kau tidak menjawab pertanyaanku tentang berhala. Berhala itu tidak ada, bukan? Jadi apa yang dipermasalahkan disini?”

“Ya, kau benar, berhala itu benda mati,” sahut Paulus, “namun pernahkah kaupikirkan, bagaimana dengan mereka yang sejak lahir tumbuh di kota ini? Sejak dalam kandungan mereka telah dibawa ke kuil berhala, dan yang mereka tahu, berhala itulah tuhan mereka. Lalu kita datang dan berkata-kata pada mereka tentang Kristus, dan mereka menjadi percaya. Bagi mereka, mereka ‘berpaling’ dari berhala kepada Kristus; berhala itu adalah musuh Kristus. Mereka telah berjuang meninggalkan hidup mereka yang lama dan memasuki hidup baru bersama Kristus. Sekarang kita akan mempersulit mereka karena kita makan daging berhala – sesuatu yang tidak akan pernah lagi mereka lakukan setelah mereka mengenal Kristus? Kita melakukannya di depan mata mereka dan membuat mereka bingung lagi? Kau sadar apa akibatnya bagi mereka, Yustus?”

Yustus tidak bisa berkata-kata. Paulus, masih menatapnya dengan serius, meneruskan kalimatnya. “Aku, Yustus,” ujarnya tajam, “aku lebih baik tidak makan daging lagi selama-lamanya daripada harus melihat saudaraku binasa karena makanan.”

Keheningan menerpa ruangan itu selama beberapa saat. Bunyi kayu yang berderak terbakar api perapian adalah satu-satunya yang terdengar.

“Baiklah,” sahut Yustus. “Aku bisa terima apa yang kaukatakan. Tapi bagaimana dengan kami?”

“Kami siapa?”

“Kami yang berpengetahuan. Maksudku, kami yang tahu bahwa berhala itu tidak ada dan makan daging kuil itu tidak berpengaruh apa-apa. Bagaimana dengan hak kami untuk makan apapun yang kami mau? Kau tidak berkata bahwa kami harus berkorban demi orang-orang yang tidak berpengetahuan itu, bukan?”

Paulus menghela nafas. “Yustus,” ujarnya lembut, “kau tahu siapa aku?”

Sang murid memandang gurunya dengan bingung. “Kau Paulus, rasul Yesus Kristus,” jawabnya, masih dengan nada bingung.

“Ya, aku rasul Yesus Kristus. Menurutmu, apakah sepantasnya gereja yang aku rintis di sini menopang biaya hidupku selama aku di sini?”

“Tentu saja.”

“Pantaskah bila aku memberitakan Injil tanpa halangan dan didukung dana oleh jemaat-jemaat di mana aku telah bekerja?”

“Ya, Paulus.”

“Sepantasnyakah seorang rasul mendapat upah dari pekerjaannya? Bukankah itu hak kami, para rasul?”

“Ya.”

“Apakah aku mengambil hak-hak itu, Yustus? Pernahkah aku meminta uang darimu atau jemaat di kota ini?”

Damian terdiam sejenak. Perlahan ia menjawab, “Tidak, Paulus.”

“Tidak pernah,” tegas Paulus. “Dan aku bangga bahwa aku tidak pernah meminta apapun dari kalian, jemaat Yesus Kristus. Bahkan aku bangga bahwa aku bisa melayani kalian, bisa melihat jiwa-jiwa dimenangkan, sambil aku memenuhi kebutuhanku dengan tanganku sendiri. Kau tahu apa yang kuanggap sebagai upah, Yustus?”

Muridnya itu menggeleng pelan.

“Bahwa aku boleh memberitakan Injil, itulah upahku. Bahwa aku boleh melayani sampai serendah-rendahnya, melepaskan hakku sebanyak-banyaknya, supaya orang lain diselamatkan. Itulah upahku, nak. Kau berbicara tentang pengetahuan. Tahukah kau bahwa pengabdian kita kepada Allah dan jemaat adalah seperti sebuah perlombaan? Di manakah ada atlet yang tidak mendisiplin dirinya sedemikian rupa, menahan dirinya dari kesenangan duniawi, demi memperoleh kemenangan? Dan betapa lebih mulianya kemenangan kita di dalam Kristus! Kau tahu itu?”

Yustus terdiam.

“Katakan padaku,” ujar Paulus, “apakah kau mengasihi saudara-saudaramu, jemaat di kota Korintus ini? Apakah mereka lebih penting dari daging makananmu?”

Sekali lagi hanya ada keheningan. Air mata mengembang di pelupuk mata Yustus. Ia menundukkan kepalanya.

Paulus menepuk bahu muridnya itu dengan lembut. “Nak, tidak ada ‘hak’ seperti yang kaubicarakan. Urusan kita disini adalah jiwa manusia dan apa yang menyenangkan Tuhan.” Paulus menggenggam tangan gembala muda itu, “Dan itu semua jauh lebih penting dari sekedar makanan.”

fireplace

(Berdasarkan I Korintus 9-10.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s