Emansipasi?

Berhubung dapat tugas mata kuliah Etika Terapan tentang “Wanita, Pria dan Allah”, aku jadi cari-cari literatur, termasuk bacaan dari internet. Dan yang namanya internet kan super variatif ya, dari artikel yang ditulis baik-baik sampe yang isinya cuma marah-marah doang, semuanya ada. Setelah baca beberapa artikel, aku jadi mikir tentang masalah kepemimpinan gereja yang selalu jadi perkara dari dulu. “Bolehkah wanita menjadi pengajar atau pemimpin gereja?” Jawabannya sangat bervariasi, tergantung orang yang menjawab.

Sebagian besar pemimpin Kristen dari aliran mainstream (yang, bisa diduga, adalah pria) menolak gagasan tentang kepemimpinan wanita di dalam gereja, dan mereka mengambil dasar dari I Timotius 2:12 dan I Korintus 14:34. Sebaliknya, pihak yang mendukung kepemimpinan wanita dalam gereja mengambil contoh-contoh dari Alkitab tentang bagaimana wanita memimpin umat Tuhan (misalnya nabiah Debora) atau berperan dalam jemaat mula-mula. Pihak yang kontra membantah dengan berkata bahwa I Tim 2:12 dan I Kor 14:34 sifatnya mandatoris, dan mereka menyebut contoh-contoh para pemimpin wanita di Alkitab itu sebagai teks yang “ambigu”.

Ya sebagai cewe, jujur aku sempat merasa didiskriminasi, oleh Alkitab dan oleh para cowo yang *gampang aja* menentang kepemimpinan wanita di gereja *tentu karena mereka bukan wanita*. Tapi sebagai pengikut Kristus yang wajib mendisiplin diri untuk taat pada Firman Tuhan, aku nurut kalo emang Alkitab bilang begitu. Sekarang yang jadi masalah bukan Alkitabnya (rasanya aku harus tegaskan bahwa rasa tersinggung tidak boleh dijadikan dasar penolakan terhadap firman Tuhan); tapi para pengulasnya.

Seandainya gereja memang harus dipimpin hanya oleh pria. Aku rasa sebenernya ini ga jadi masalah buat wanita, karena kecenderungan wanita adalah menjadi penolong (sesuai niat awal penciptaannya), dan pada dasarnya wanita dengan senang hati akan menolong dan senang dipimpin *oleh pemimpin yang baik, tentunya*. Sekarang tarolah orang-orang yang kontra kepemimpinan wanita itu memenangkan argumentasi, dan pria jadi pemimpin gereja. Lalu apa?

Spiderman aja tau: “With great power, comes great responsibility.” Apakah para pria bertanggung jawab atas kepercayaan yang Allah berikan pada mereka sebagai pemimpin gereja? Apakah mereka bekerja keras sekuat tenaga untuk pertumbuhan rohani dan kemajuan jemaat? Apakah mereka fokus mengabarkan Injil? Apakah mereka juga menjadi suami dan ayah yang baik dalam keluarga? Apakah para pria sadar bahwa apa yang mereka perjuangkan begitu rupa, yaitu “hak” untuk memimpin gereja, sebenarnya adalah tanggung jawab yang berat?

Selama berabad-abad, pria mendominasi kepemimpinan, bukan hanya di gereja namun di mana saja. Itu adalah zona nyaman bagi kaum pria. Ketika posisi mereka “terancam” oleh wanita pada abad ke-20, banyak pria kebakaran jenggot dan berusaha mengamankan posisi mereka (walopun banyak juga yang tenang-tenang aja, ga masalah kalo wanita jadi pemimpin). Para wanita membuktikan diri mampu menjalankan kepemimpinan, dan itu membuat pria ketar-ketir.

Urusan kepemimpinan wanita ini jadi berkepanjangan karena dua kubu, kubu feminis dan kubu patriarkal (ya sebut aja begitu), berseteru tanpa henti. Tapi apa sih yang melandasi perseteruan itu? Bahwa masing-masing pihak “benar”? Hardly. Emang masing-masing pihak merasa benar, dan masing-masing punya pembuktian hermeneutis yang meyakinkan; nah, jadi konflik ga selesai-selesai. Ada yang mau ngalah? –> ini baru pertanyaan penting :p

Ada beberapa hal yang aku pikirkan berkaitan dengan hal ini.

  1. Masalah ini adalah masalah etis, bukan masalah doktrinal (walaupun pasti ada orang-orang yang ngotot dengan ayat ini itu untuk memperluas daerah konflik). Faktanya, Paulus (yang sering disebut sebagai pro patriarkal) hanya membicarakan masalah ini dalam dua suratnya (dan yang satu adalah surat pribadi kepada Timotius). Jadi jangan sampe masalah etis bikin tubuh Kristus pecah jadi banyak bagian – malu-maluin aja!
  2. Ini adalah tentang kepemimpinan gereja. Seberapa penting pertumbuhan rohani jemaat dibanding idealisme pribadi pihak-pihak yang pro (baca: ngotot) dan kontra dengan kepemimpinan wanita di gereja? Apakah keputusan yang diambil berguna bagi jemaat atau sekedar debat kusir opini personal?
  3. Bagi yang pro, kalo emang ada yang keberatan dengan diangkatnya pemimpin wanita di gereja yang bersangkutan, ya mbok ngalah, ga usah berantem. Kalo emang panggilannya adalah untuk ‘melayani’, kita bisa kok, melayani tanpa jabatan. Dan kalo emang Tuhan mau pake orang itu untuk melayani sebagai pemimpin, apapun gendernya, Dia sendiri akan buka jalan.
  4. Bagi yang kontra, apa sebenernya keberatannya? Membela firman Tuhan, atau merasa ‘kalah macho’ aja kalo cewe sampe jadi pemimpin? Kalo emang ada cewe-cewe yang karakternya jelas baik, potensinya jelas kliatan dan emang terbeban buat melayani jemaat dalam bidang kepemimpinan, kenapa engga? Apalagi kalo kualitas cowo-cowonya ga sebaik yang cewe; yang terbaik buat jemaat adalah orang terbaik yang memimpin mereka, betul?
  5. Ketika menghadapi kemelut seperti ini, pemimpin jemaat lokal jelas harus mengambil keputusan. Tapi pertimbangan pertama keputusannya haruslah kesatuan tubuh Kristus, bukan opini pribadi. Aku pribadi akan lebih senang bila wanita diperlakukan setara dengan pria dalam hal kepemimpinan gereja; tapi bagaimana dengan jemaat setempat? Apa kebutuhan mereka? Bagaimana jemaat memandang masalah ini? Kepentingan pribadi kita ga boleh sampai menyengsarakan jemaat Tuhan.

Sekarang pendapat pribadi saya sebagai wanita ya. *ehem*

Aku adalah salah satu wanita yang terpanggil buat pelayanan mengajar di gereja, dan jujur aja, baca I Timotius 2:12 bikin aku sedih. Ada hal-hal yang bikin aku bertanya-tanya, karena sampe sekarang buat aku alasan Paulus (bahwa pria diciptakan dahulu, baru wanita) belum masuk akal. Tapi aku sadar bahwa (1) pemahamanku tentang firman Tuhan, termasuk pentingnya doktrin penciptaan, berkembang dari waktu ke waktu, karena itu ada kemungkinan suatu hari nanti baru aku bener-bener ngerti apa yang Paulus maksud; dan (2) gereja sudah terlanjur akrab dengan kepemimpinan pria, jadi memang tantangannya banyak kalo cewe-cewe pengen diperlakukan setara.

Akhir kata, urusan ini adalah tentang pelayanan, bukan masalah ambisi pribadi. Tuhan Yesus, teladan bagi pria dan wanita di seluruh dunia, bilang kepada murid-murid-Nya yang berebut tempat utama, supaya mereka mengejar pelayanan, bukan kekuasaan. Apa sih yang kita peroleh bila kita diberi jabatan tinggi dalam gereja? Tanggung jawab yang berat! Baik pria maupun wanita harus ingat bahwa pelayanan adalah anugerah yang besar, dan suatu hari kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Bos kita. Kita bisa berbeda dalam hal-hal minor non-doktrinal, namun kita harus sepakat dalam hal-hal yang terpenting. Daripada ribut, mari setiap kita menerapkan ayat-ayat yang ditujukan bagi semua orang percaya:

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.
– Filipi 2:5-6 –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s