Tak Sempat Berbangga

Buat orang-orang yang punya pengalaman tentang bagaimana Tuhan memberi dia kesempatan melayani, apalagi sampai pada jabatan/posisi yang cukup tinggi, ada bahaya yang mengincar: bahaya berbangga atas hari-hari yang sudah berlalu, alias the good old days. Rasanya keren aja kalo bisa ngomong ini-itu tentang pelayanan, seolah-olah kita tau segalanya. (Ngaku nih, ceritanya :p)

Aku salah satu korbannya. Dan uda lama aku merasa kalo itu salah. Ya kita tau bahwa ada yang ga beres ketika kita terus-terusan membicarakan hal-hal di masa lalu, seperti bapak-bapak yang hobi mengulang-ulang cerita, “Wah, kalo saya dulu. . . Saya pernah ini-itu. . . Tahun ‘74 itu, waktu saya ketemu Pak Harto. . .” dan sejenisnya. Ngerti kan maksudnya? Aku takut juga jangan-jangan lima puluh tahun lagi aku ngomong ke cucu, “Dulu yah, tahun 2008. . .” dan cucu bilang, “Oma uda cerita itu ratusan kali lho…” Aih, gawat kan? Itu menandakan kurang ada perkembangan (kalo bukan ga ada perkembangan sama sekali :p). Menoleh ke belakang terus memang membuat kita ga bisa maju.

Waktu Paulus menulis, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku,” dia baru aja bikin daftar hal-hal yang tadinya dia banggakan. Dan itu bukan hal-hal kecil lho! Siapapun yang Yahudi pasti bangga sekali dengan status seperti yang dimiliki Paulus – tapi dia meninggalkan semuanya itu. Dalam kasusku? Aku harus tinggalkan, bukan pengalamannya, tapi kebangganku akan apa yang sudah berlalu. Apa pengalaman-pengalaman itu salah? Jelas tidak. Yang salah adalah bila aku berpegang pada itu semua. Siapa aku? Ketua ini-itu? Pemusik? Pengkhotbah? Orang hebat? Salah, cuy. Aku ini pesuruhnya Tuhan.. Bos Besar berhak menempatkan aku di mana saja Dia mau, tanpa perubahan status – aku tetap pelayanNya.

Apa tujuan Paulus melupakan apa yang telah di belakang? Ini yang ia lakukan: “. . mengarahkan diri kepada apa yang di depanku.” Dia bukannya meninggalkan apa yang sudah di belakang karena putus asa ga ada titel lagi, tapi justru karena hidupnya bergerak maju: masih ada yang mau Tuhan kerjakan melalui dia. Ceritanya, si pelayan mau dipindah pos oleh Bosnya, dan Paulus bersiap untuk mutasi itu. Bila dia tetap memeluk apa yang ada di masa lalu, termasuk semua kebanggaannya, itu justru akan membebani dia ketika dia hendak, “. . berlari-lari pada tujuan, yaitu panggilan surgawi dalam Kristus Yesus.”

Kristus Yesus, itulah alasannya. Paulus selalu menyebut nama itu dengan penuh kekaguman, cinta, dedikasi, dan pengagungan. “Bagiku hidup adalah Kristus,” katanya — salah satu kalimat yang paling sering dikutip orang Kristen tetapi tanpa getaran yang sama dengan rasul yang telah menanggung begitu banyak penderitaan karena nama yang ia muliakan itu — dan ia melanjutkan, “. . jika aku harus hidup di dunia, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Hidupnya adalah bagi Kristus. Dan ia terus maju, dengan keinginan untuk bekerja lebih, memberi lebih, melakukan lebih, bagi Kristus yang ia kasihi.

Di akhir hidupnya, rasul ini berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik; aku telah mencapai garis akhir; aku telah memelihara iman.” Sebelum kalimat itu menjadi milik kita, jangan berhenti berlari. Dan, jangan lupa, jangan berpegang pada semua yang sudah lewat. Kita ini cuma pesuruh.🙂

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita,
marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,
dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. . .”

– Ibrani 12:1-2 –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s