Buat Tiap Anak Yang Punya Orangtua

Waktu sadar bahwa hari ini adalah hari Kartini, entah kenapa aku langsung kepikiran satu orang: mama.

Beberapa hari yang lalu mama dan aku pergi ke bukit doa di Ungaran selama tiga hari. Kami ga berdoa terus-terusan sih, lebih banyak ngobrolnya. :p Tapi dari ngobrol itulah aku makin ngerti apa yang mama pikirkan dan rasakan.

Di hari pertama, waktu kami mampir di sebuah rumah makan setelah sampai di Ungaran, entah lagi ngobrolin apa – aku lupa, mama bilang begini, “Tapi Glory waktu kecil tau kok, kalo mama lagi sedih.” Aku bingung dan jadi minta diceritain karena ga inget apa-apa tentang hal seperti itu. Mama bilang, “Iya. Waktu itu mama lagi sedih. Terus mama peluk kamu. Terus kamu bisa peluk balik dan elus-elus mama.” Dan itu kejadiannya waktu aku umur 2 tahun – pantesan ga inget apa-apa.

Cerita itu bikin aku mikir.. Dan jadi nyesel sih, sebenernya. Nyesel karena selama remaja I was such a pain in the neck. Aku anak yang berontak sama orang tua, sering bentak-bentak mereka, dan ga mau dengerin nasehat. Orangtuaku sendiri sepertinya ga merasa aku anak yang nyusahin (mungkin mereka bandingin sama anak-anak orang lain yang lebih heboh kelakuannya), tapi aku punya banyak penyesalan tentang cara aku memperlakukan mereka. Seperti layaknya anak remaja lainnya, aku sempat merasa orang tua itu nyusahin, kepo, ga asik, tanya-tanya yang ga penting, dan kalo dia telpon aku maunya cepet-cepet udahan; kalo dinasehatin aku seolah-olah bilang, “Ya, ya, ya. Whatever.”

Padahal mereka manusia juga, yang punya perasaan dan masalah sendiri. Mereka telpon karena mereka pengen tau keadaanku, karena mereka sayang. Dan di balik marah-marahnya mereka, ada ketakutan kalo-kalo aku celaka gara-gara kelalaianku sendiri. Lebih lagi, sekalipun kami lagi berantem atau ada masalah, mereka tetap membiayai kebutuhanku, menyediakan makanan, bahkan nelpon (dengan tau bahwa aku bakal bentak-bentak mereka karena ceritanya masih ngambek). Dan setelah sebesar ini, aku memang ga pernah lagi ngomong atau bersikap kurang ajar sama orang tua, tapi aku sungguh berharap seandainya kesalahanku waktu remaja itu bisa diperbaiki dan aku bisa tunjukin kalo aku sayang mereka.

Firman Tuhan bilang, “Hai anak-anak, taatilah orangtuamu di dalam Tuhan.” Banyak anak akan protes, “Kenapa?? Papa galak! Mama rese!” dan seterusnya. Paulus meneruskan kalimatnya dengan memberi alasan yang paling masuk akal: “Karena haruslah demikian.” Perlukah alasan untuk menaati dan menghormati dua orang yang tetap sayang sama kamu, lepas dari segala kelakuanmu yang menyakiti hati mereka? Tuhan dengan tepat memberi perintah itu dan seolah berkata pada kita, “Pikir aja, pantesnya gimana: hormat pada orang tua, atau kurang ajar pada mereka?”

Ada sebuah kepanjangan dari kata “family” yang aku baca beberapa tahun lalu. Sampai sekarang, ini masih sangat berarti buat aku.

FAMILY:

Father
And
Mother
I
Love
You

Selamat hari Kartini! Dan jangan lupa bahwa kita bisa sekolah dan belajar, bukan hanya karena jasa Kartini, tapi juga orang tua kita yang susah payah membiayai dan mengurus kita dari kecil imut-imut sampe gede segini. Dan buat pembaca yang mikir mau mulai dari mana dalam memperbaiki sikap terhadap orang tua, aku saran, mulai dari kata-kata; ngomong yang sopan dan lembut sama orang tua. Selamat mencoba!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s