Pikirkanlah Semuanya Itu

Aku sering denger orang bilang, “Jangan berharap sama manusia, karena manusia itu mengecewakan,” ato semacem itu lah. Ya bolehlah kalo emang kita sebenernya ga dalam posisi tergantung pada orang lain tapi kitanya manja aja. Tapi gimana kalo bergantung pada orang lain itu bukan pilihan, tapi keharusan? Misalnya dalam pekerjaan aku ditempatkan dalam satu grup yang harus bekerjasama; kan ga mungkin aku kerjain tugas semua orang?? Mau ga mau aku harus mempercayakan bagian-bagian dari pekerjaan itu ke orang lain. Dan gimana kalo ternyata si A males kerjain bagiannya, si B ga becus kerjain tugasnya, dan si C emang kekurangan kapasitas buat kerjain porsi dia? Dalam kasus seperti itu, kekecewaan adalah resiko yang ga bisa dihindari.

Kalo ada seseorang yang bisa kecewa banget, orang itu adalah Paulus. Dia ga manja dan dia kerja keras buat melayani Tuhan dalam pemberitaan Injil. Tapi apa yang dia dapat? Penjara! Setelah dua tahun dipenjara di Kaisarea gara-gara difitnah orang sebangsanya sendiri (yang kemungkinan besar dulunya adalah teman-temannya sendiri), Paulus mengajukan banding, sehingga dia harus dibawa ke Roma buat ketemu kaisar Romawi. Setelah melewati perjalanan yang epic banget (pake acara karam kapal dll segala), akhirnya Paulus sampai di Roma. Tapi di sana pun dia digantung-gantungin, dan sampai akhir kitab Kisah Para Rasul, om Paulus ini belom ketemu kaisar juga. Ckckck..

Yang lebih menyedihkan dari itu adalah apa yang diceritakan oleh Paulus dalam suratnya pada jemaat Filipi. Sudah dia susah karena dipenjara dan dioper-oper ke sana-sini,

  1. Dari sekian banyak jemaat yang dia dirikan di berbagai daerah Asia Kecil dan Eropa, sedikit sekali yang peduli dengan keadaannya waktu itu.
  2. Ada orang-orang yang senang karena Paulus dipenjara, dan mereka mulai “meniti karier” membangun jemaat di sana-sini (sekarang istilahnya “pendeta-pendeta” lah ya), dengan tujuan nambah penderitaan Paulus, karena mereka mendirikan jemaat bukan untuk melayani Tuhan, tapi dengan maksud yang egois.

Melihat keadaan Paulus waktu itu, wajarlah kalo dia galau atau marah terhadap keadaan. Tapi apa yang terjadi? Baca surat Filipi (surat di mana kisah-kisah di atas diceritakan), dan sama sekali ga ada tanda-tanda kemarahan di sana. Tentang penderitaannya, Paulus bilang, “Kepada (kita) telah dikaruniakan, bukan hanya untuk percaya pada Kristus, tapi juga untuk menderita bagi Dia.” Tentang penginjil-penginjil yang cari keuntungan sendiri, Paulus bilang, “Yang penting Kristus diberitakan; dan tentang hal itu, aku bersukacita!”

Gimana bisa, seseorang yang dikecewakan di sana-sini, ga didukung, dipersulit, dan hidupnya diwarnai penderitaan, bilang, “Aku bersukacita,” bahkan ketika orang-orang yang harusnya berdoa dan menolong dia malah mengkhianati dia dan mempersulit posisinya?

Jawabannya, menurutku, adalah karena Paulus mempraktekkan sendiri apa yang dia tulis pada jemaat di Filipi. Omongannya bukan nasehat kosong. Waktu kita baca kitab Filipi, surat yang bernada sukacita dan penuh semangat, kita harus ingat bahwa yang menulis surat itu adalah seseorang yang tangannya dibelenggu, di usia paruh baya, yang sepertinya kurang sehat, yang hanya ditemani beberapa sahabat dekat, seorang manusia yang dipenuhi Roh Kudus dan dipakai Tuhan untuk menulis pesan ilahi, bukan hanya pada jemaat Filipi, tapi juga pada kita. Orang ini tau betul apa yang dia tulis, karena dia sudah mempelajari itu semua dalam hidupnya sendiri.

Semakin jauh kita masuk dalam kitab Filipi, dan puncaknya pada pasal ketiga, akan makin jelas buat kita bahwa Paulus memberi penekanan khusus tentang pikiran. Alkitab versi New English Translation (NET) memberi terjemahan yang mengesankan buat beberapa bagian pasal 3:

I am single-minded: Forgetting the things that are behind and reaching out for the things that are ahead, with this goal in mind, I strive toward the prize of the upward call of God in Christ Jesus. Therefore let those of us who are “perfect” embrace this point of view.

Ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. (Indonesia Terjemahan Baru)

Apa sih yang kita pikirkan? Ke mana pikiran kita terarah – atau lebih tepatnya, kepada siapa pikiran kita terarah? Bila pikiran kita terarah pada diri sendiri, kita akan drop waktu keadaan tidak sesuai dengan ekspektasi kita atau waktu kita dikecewakan orang lain. Paulus ga depresi waktu dikhianati teman-temannya atau waktu dipenjara tanpa kemungkinan segera bebas – kenapa? Karena yang dia pikirkan bukan dirinya sendiri, tapi apa yang Tuhan mau dia lakukan. Dengan kata lain, sukacita itu bukan sesuatu yang dikejar atau diusahakan, tapi merupakan by-product, efek samping, dari pikiran yang terarah pada Pribadi yang benar.

Kekecewaan, bila kita bekerjasama dengan orang lain, adalah resiko yang tidak bisa dihindari. Tapi di dalam Yesus Kristus, kekecewaan itu bukan berubah jadi kepahitan. Yesus sendiri yang bilang, “Berbahagialah mereka yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Tentu bukan berdukacita gara-gara apa yang dia mau ga terpenuhi, tapi karena matanya tertuju pada Tuhan, karena dia merindukan pekerjaan Tuhan dikerjakan sebaik mungkin, karena dia mau sebanyak mungkin orang dijangkau dengan kasih Kristus. Orang-orang seperti inilah yang berdoa, “Bapa, biarlah kerajaanMu datang dan kehendakMu jadi, di bumi seperti di sorga.” Manusia mungkin mengecewakan mereka untuk jangka waktu sementara, tapi Allah yang mereka sembah, tidak pernah mengecewakan orang-orang yang ingin menyenangkan Dia.

Dengan tepat Paulus merangkum suratnya pada jemaat di Filipi dalam Filipi 4:8…

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s