Allah Yang Kekal

“Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun..”

Pembukaan Mazmur 90 yang ditulis oleh Musa itu sangat menyentuh buat aku. Lama aku mikir, kenapa bisa begitu. Malam ini, sementara aku sekali lagi memikirkan karya sastra itu, pelan-pelan sekali, aku mulai mengerti.

Ada pikiran aneh menghantui aku: Bagaimana seandainya ini malam terakhir aku hidup? Bagaimana kalau aku ga pernah bangun lagi? Bagaimana kalau aku mati? Aku biasanya ga takut mikir tentang kematian, tapi kali ini aku takut sekali—bukan takut bakal pergi ke mana, tapi takut terpisah dari orang-orang yang aku kasihi; aku takut momen yang manis itu berakhir; aku takut mereka mati, karena aku ga akan bisa melihat mereka lagi selama aku di dunia. Aku takut, suatu hari kelak yang aku punya dari seseorang hanya fotonya, dan aku ga bisa lagi peluk dia atau bilang aku sayang dia.

Aku ga mau mati. Aku ga mau hidup orang-orang yang aku kasihi berakhir. Aku mau kami semua hidup selama-lamanya, tidak bertambah tua, tidak sakit, tidak mengalami kesedihan, tidak mati. Selama-lamanya. Aku mau selama-lamanya.

Chairil Anwar menutup puisinya yang berjudul Aku—mungkin ini puisinya yang paling terkenal—dengan kalimat sederhana, “Aku mau hidup seribu tahun lagi!”

Ya, kami memang berbeda zaman, beda keyakinan, beda latar belakang, tapi kami menggemakan hal yang sama: kami mau hidup selama-lamanya.

Tapi sebenarnya yang ditulis Chairil tidaklah baru. Manusia, dari masa ke masa, takut pada kematian—dengan berbagai alasan. Kita tau bahwa keinginan untuk hidup selama-lamanya bukan milik satu-dua orang, tapi milik semua orang. Semua orang mau keluarganya tetap bersama selama-lamanya, tanpa ada yang meninggal karena kecelakaan, sakit, kejahatan, atau tua. Semua orang mau tetap bersama kekasihnya, teman-temannya, orang-orang yang dekat dengan hati mereka, tanpa ada perpisahan. Kita semua pasti pernah mengalami momen dimana kita tertawa lepas bersama orang-orang yang kita kasihi, dan di dalam hati kita yang terdalam ada suara, “Seandainya ini bisa bertahan selama-lamanya..” Dan mengapa? Mengapa kita punya kerinduan seperti itu? Ribuan tahun yang lalu, seorang yang bijak telah memberitahu kita..

“…Allah menaruh kekekalan dalam hati manusia.”

Ada kekekalan di dalam dada kita. AW Tozer berkata, “Pikiranmu menginginkan hal yang modern, tapi hatimu merindukan kekekalan.” Kita memang tidak diciptakan untuk mati! Ada yang salah; ada yang sangat salah, sehingga kita sampai mati. Dan itu adalah dosa. Ketika kita melawan Tuhan, berusaha hidup semau kita sendiri, membuat aturan kita sendiri, sesungguhnya, hidup kitalah yang kita hancurkan—dengan tangan kita sendiri.

Ironisnya, bahkan setelah kita percaya dan menyerahkan hidup kita pada Tuhan, setelah kita dipastikan akan hidup selama-lamanya bersama Dia, masih ada masa penantian selama kita di dunia ini. Kita tidak lantas tidak akan mati. Kita tetap akan mati. Masih akan ada air mata. Masih akan ada rasa pahit karena kehilangan. Masih akan ada keluarga yang meratap. Sampai akhirnya kita sendiri menutup mata, dan jiwa kita menemukan sejahtera di dalam Dia. Tapi sampai waktu itu, belum waktunya.

Musa, seorang yang telah lanjut umur, orang yang mencabut nyawa seorang Mesir dengan tangannya sendiri, menyaksikan ribuan tentara Mesir terkubur di dasar Laut Merah, memimpin bangsanya membantai pasukan musuh, melihat begitu banyak kematian di kemah Israel karena murka Allah, mengubur kakak-kakaknya saat mereka meninggal, dan pada akhirnya, menghadapi kematiannya sendiri bersama-sama Tuhan, menulis Mazmur ini—aku bahkan hampir bisa mendengar tarikan nafasnya yang berat sementara dia mengucapkan sajak.

“Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun-temurun.
Sebelum gunung-gunung dijadikan, dan bumi dan dunia diperanakkan,
Bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, Engkaulah Allah..”

“Allah Yang Kekal” adalah tiga kata yang terlalu besar untuk diucapkan manusia yang fana. Sulit sekali memahaminya, karena Dia lebih besar dari hati kita. Dia lebih besar dari kerinduan kita untuk mengalami kekekalan. Musa, hamba Allah, melabuhkan hatinya yang gelisah pada Allah Yang Kekal, Tempat Perteduhannya, Allah yang disembah nenek moyangnya, Allah yang juga membentuk hatinya dan menaruh kekekalan di dalamnya. Allah itu yang memberinya peristirahatan dan sejahtera. “Tuhan, di dalamMu ada pengharapan kekal,” seru Musa. Dan untuk sesaat, Musa mencicipi kekekalan, bahkan sebelum ia bertemu dengan Sang Penciptanya.

Allah Yang Kekal itu tidak berubah. Setiap jiwa yang gelisah boleh datang kepada Dia dan menemukan pengharapan yang tidak akan mati selama-lamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s