Minta Hikmat

"Wisdom, please." (gambar dari Getty Images)

Tadi malem, aku dan seorang sahabat ngobrol tentang.. tentang.. tentang.. hidup? Ya lebih tepatnya pekerjaan sih. Lebih detailnya lagi, bagaimana sikap kami dalam bekerja. Jadi sahabat saya ini harus membuat keputusan yang cukup besar sehubungan dengan pekerjaannya, dan kami berdoa sama-sama; lalu tadi malam kami ngobrol deh. Obrolannya seputar curhat dan diskusi (biasa, cewe, mana afdol sih kalo ga ada sesi curhat.. :p).

Hasil evaluasi kami terhadap kinerja masing-masing tidak terlalu menggembirakan. Kalo pembaca familiar dengan kata ‘excellence’, mengutip istilah teman saya, “It’s not excellence I’ve been putting in my work.” Ya, harus diakui, saya merasa diri saya belum terlalu rajin dalam bekerja. *uhuk* Oke, belum rajin. *uhuk* Oke! Malas.. -.- Maksudnya, saya belum bisa sungguh-sungguh, dengan sekuat tenaga, dengan segenap hati, mengerjakan pekerjaan saya. Rasanya selalu ada yang kurang (dan, percayalah, bukan saya perfeksionis, tapi memang ada yang kurang).

Maka beberapa hari yang lalu saya ‘kena’ sekali waktu baca kutipan dari seseorang yang saya ikuti di sebuah media sosial. Dia mengutip Billy Graham, yang berkata:

Read your Bible. Work hard and honestly. And don’t complain.

Billy Graham umurnya sudah 90 tahun (kalau tidak salah), dan kalimat yang singkat itu sungguh ‘menghantam’ kesadaran saya. Kalau boleh dibilang, tahun ini adalah tahun di mana saya berjuang keras untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa saya bukan lagi anak kuliahan. Kemaren sempat tercetus kalimat ini: “Di kampus, kita kerjain apa yang kita suka, dan ga ada beban pikiran buat masa depan. Excellence bukan hal susah, karena kita rame-rame bareng orang-orang lain yang sama-sama excellent.” Itu semua sudah di belakang saya, dan sekarang saya harus menerima kenyataan seperti apa yang dibilang Paulus: siapa yang ga mau kerja, ya jangan makan. Suka ga suka dengan kerjaan, lagi ada masalah ataupun baik-baik aja, harus tetep kerja.

Lalu entah ngobrolin apa, pembicaraan kami sampai pada topik hikmat. Dan saya jadi ingat raja Salomo, seorang pujangga yang menulis tiga karya luar biasa yang masih bisa kita baca sampai hari ini karena termasuk dalam Perjanjian Lama dalam Alkitab. Seorang yang luar biasa berhikmat, sangat mengagumkan dan tidak ada raja lain seperti dia. Saya bukan mau membicarakan akhir hidup dan kegagalannya, tapi saya jadi membayangkan waktu Salomo harus menggantikan Daud, ayahnya, menjadi raja.

Daud, raja yang dicintai oleh seluruh Israel.

Daud, raja yang begitu diberkati Tuhan dan selalu diberi kemenangan.

Daud, raja yang ditakuti oleh musuh-musuhnya.

Kalau saya jadi Salomo, sekalipun saya sudah sempat ikut menjadi orang kedua dalam kerajaan selama beberapa tahun sebelum Daud mangkat, saya pasti tetap deg-degan. Mana bisa saya bersaing dengan ayah yang seperti itu?? Salomo juga sepertinya bukan memikirkan semua fasilitas yang akan dia dapat ketika menjadi raja, karena dia sama ketakutannya dengan saya (padahal saya tidak jadi raja :p).

Lalu suatu malam, raja Salomo yang baru beberapa waktu naik tahta, bertemu dengan Tuhan dalam mimpi, dan Tuhan bertanya, “Apa yang kamu minta?”

Teman-teman, aku sepertinya pernah mengalami hal semacam ini. Bukan ketemu Tuhan dalam mimpi, tapi merasa ditanya mau minta apa. Dan dengan sangat menyesal aku harus bilang, permintaanku waktu itu tidak sama dengan yang Salomo minta. Dan bila waktu bisa diulang, pasti aku akan minta hal yang sama dengan Salomo; tapi untungnya waktu tidak perlu diulang, karena Tuhan pasti dengar doaku, mau dulu maupun sekarang.

Salomo berkata, “Tuhan, bagaimana saya dapat memimpin bangsa yang begitu besar ini? Berilah saya hikmat untuk membedakan yang baik dan jahat, untuk mengerti kehendakMu.”

Sekarang saya harus minta hal yang sama pada Tuhan.

Saya tidak tau keadaan pembaca, tapi bagi saya, hidup itu membingungkan. Terus terang, saya bingung dan kuatir dengan masa depan saya. Saya pusing waktu pengeluaran saya lebih besar dibanding pemasukan. Saya pusing waktu ada pengeluaran mendadak. Banyak hal tentang hidup yang tidak saya mengerti, dan saya harus menghadapi itu semua sendiri. Bukan berarti ga ada orang yang bisa ditanya, tapi rasa bingungnya, takutnya, kuatirnya, dsb, tidak bisa dibagi dengan orang lain.

Dan setelah sekian lama bergumul dengan hal-hal seperti itu, saya mau minta hikmat pada Tuhan. Seperti Salomo, saya rasanya ingin berseru, “Tuhan, bagaimana saya dapat menjalani hidup yang super misterius dan membingungkan ini?? Berilah saya hikmat untuk mengetahui apa yang harus saya lakukan, sesuai kehendak Tuhan.” Hal-hal lain sekarang nampaknya tidak begitu penting dibandingkan hal itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s