Segala Kemuliaan Bagi ….?

Istilah kocak, “Segala kemuliaan bagi si A,” itu pertama kali aku denger dari seorang junior yang lagi bercanda tentang temannya yang sama-sama pelayanan dalam bidang pujian & penyembahan, berhubung si A ini mendapat banyak sekali perhatian. Sekali lagi, nadanya bercanda ya, bukan ngiri. Jadi kami sama-sama tertawa geli saat istilah itu terucap.

Tapi setelah dipikir-pikir, aku jadi merasa beberapa orang benar-benar ingin mewujudkan kalimat itu jadi sesuatu yang nyata: segala kemuliaan bagi mereka. Dan orang-orang dengan ambisi tersebut benar-benar berusaha keras supaya mereka jadi orang-orang yang dianggap hebat oleh orang lain. Dan kalo ngomong begini, aku jadi inget diri sendiri.

Aku belajar main musik waktu SD, belajar keyboard. Lesnya cuma bertahan 2 tahun karena aku males. Baru menjelang SMP aku mulai serius lagi belajar keyboard dengan teknik-teknik yang sebelumnya aku ga mau tau. Kelas 5 SD aku mulai belajar gitar, dan belajarnya otodidak – dan aku dulu bangga banget kalo permainan gitarku dipuji orang dan aku jawab, “Belajar sendiri,” waktu mereka tanya aku les ato engga. Setelah itu bass. Lalu drum. Lalu apapun yang ada nadanya atau ritmenya. Aku ga menguasai semuanya, karena begitu aku merasa aku bisa, aku jadi bosen dan aku tinggalin.

Alat musik seakan cuma mainan buat aku, dan dengan cepat aku jadi sombong.

Waktu masuk kuliah di UPH dan ikutan pelayanan kampus, aku belajar banyak tentang yang namanya pelayanan. Belajar banget harus angkat-angkat barang sendiri kalo mo main musik, beresin kabel, latihan berulang-ulang, belajar motivasi yang bener, belajar rendah hati, belajar setia walaupun ga diapresiasi – dan belajar ga gede kepala walaupun main musik di acara bergengsi. Dan aku mulai belajar jadi penyanyi juga (walopun, harus diakui, suara beneran pas-pasan aja :p).

Sekarang, aku jauh lebih waras dibanding dulu. Glory yang dulu sombong banget (seriusan), dengan kasih karunia Tuhan yang melimpah-limpah, diajar sadar bahwa itu semua pemberian Tuhan. Dan setiap kali aku bilang, “Ini semua karena Tuhan,” aku bukan cuma ngomong sesuatu yang klise, tapi aku serius. Entah jadi orang macam apa aku ini, kalo Tuhan ga berbelas kasihan. Harus mengungkit masa lalu dimana aku masih super sombong aja bikin aku eneg. Kalo bukan karena Tuhan yang mengubah aku, mungkin semua orang ga suka sama aku, saking jeleknya sifatku.

Ga ada yang dibanggakan dari aku. Seandainya terjadi kecelakaan dan salah satu jari tangan kiriku putus, aja, aku ga bisa main musik dengan baik lagi – karena keyboard maupun gitar perlu jari lengkap kedua tangan. Seandainya kaki bermasalah, pasti aku terganggu sekali. Seandainya suara hilang, aku ga bisa nyanyi lagi. Dan itu semua bisa saja terjadi! Betapa rapuhnya, betapa fananya kehebatan manusia.

Aku ga marah atau sirik sama musisi-musisi dan penyanyi-penyanyi rohani yang jago. Aku ga sebel kalo mereka nyombong. Perasaan yang ada adalah sedih. Sedih, karena mereka ga sadar bahwa itu semua pemberian Tuhan; bahwa ga ada yang bisa dibanggakan. Sedih melihat orang-orang yang seperti aku dulu, yang merasa diri luar biasa, padahal ga ada apa-apanya kalo bukan karena Tuhan.

Sedih, karena suatu hari mereka akan meratapi masa kejayaan mereka dulu, di mana semua kemuliaan buat mereka, tapi sekarang Tuhan yang berhak atas kemuliaan itu, mengambilnya dari mereka.

Seorang teman pernah bilang, “Panggung itu tinggi. Karena itu, hati-hati supaya jangan jatuh.” Paulus ngomong hal yang sama waktu dia bilang, “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” Sungguh kata-kata yang keras, namun perlu. Siapa yang menganggap kita begitu penting? Siapa yang akan ingat orang yang main musik atau memimpin pujian? Apakah kita cukup hebat untuk jadi legenda sepanjang jaman? Kesombongan jelas adalah sesuatu yang konyol.

Ini sekedar refleksi pribadi yang beberapa hari ini mengisi hati saya. Aku juga pernah ada di panggung, aku juga pernah cinta banget kumpul-kumpul sama sesama pemusik dan penyanyi, aku juga pernah bangga karena jadi ‘frontman’ di panggung, aku pernah merasakan itu semua. Tapi itu ga bertahan. Satu-satunya yang bertahan adalah pekerjaan yang didedikasikan untuk Tuhan.. Saat dari hati kita yang terdalam kita merendahkan diri dan bener-bener bilang, “Segala kemuliaan bagi Tuhan,” apa yang kita lakukan, akan bertahan selama-lamanya dalam hati kita dan hati orang-orang yang kita layani.

Teman, semoga dalam hidupmu, segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s