Kasihankah Aku?

Silakan baca ceritanya dalam Yohanes 5, tentang Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh pada sebuah hari Sabat.

“Aku Sungguh Kasihan.”

Di sekitar serambi kolam Betesda, Yesus berjumpa dengan seorang pria yang telah sakit selama tiga puluh delapan tahun. Dan Yesus bertanya: “Maukah engkau sembuh?”

Jawaban orang itu membuat aku bingung. Dia bukannya jawab mau atau tidak, tapi malah mengatakan sesuatu; sesuatu yang mengindikasikan adanya masalah dengan diri orang ini.

“Tuhan, tidak ada yang menolong aku masuk ke kolam itu…”

Penulis Injil Yohanes menjelaskan bahwa orang-orang Israel percaya bahwa ketika air kolam Betesda goncang, malaikatlah yang menggoncangkannya. Dan bila mereka bisa menjadi orang pertama yang menceburkan diri ke dalam kolam ketika air bergoncang, maka mereka akan sembuh dari penyakit apapun.

Orang ini sebenarnya sedang berkata, “Tuhan, tidak ada yang peduli pada saya. Saya sendirian. Tentu saya berharap ada orang yang akan menolong saya, yang memahami penderitaan saya. Tapi tidak ada orang yang peduli. Mereka mengecewakan saya.”

Dia melanjutkan:

“Setiap kali air kolam itu goncang dan aku mau masuk, selalu ada yang mendahuluiku.”

Sebenarnya dia sedang berkata, “Sudahlah, Tuhan, aku memang ditakdirkan untuk selamanya membawa masalah ini dalam hidupku.”

Kejamnya Mengasihani Diri Sendiri

Sekarang umurku 24. Orang itu sudah 38 tahun tergeletak lumpuh. Tiga puluh delapan tahun. Entah bagaimana rasanya ada di tempat yang sama 24/7 selama itu. Tapi yang lebih ga kebayang lagi adalah bagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri.

Rasa mengasihani diri sendiri itu mendistorsi perspektif penderitanya.

Siapa sih yang bisa memberi kesembuhan?

Jawabannya sebenarnya sederhana: tentu saja Tuhan. Tapi orang ini malah berharap pada air kolam.. -.-” Selama bertahun-tahun-tahun-tahun dia duduk aja di situ menunggu sebuah keajaiban – dan keajaiban yang ia tunggu bukanlah bahwa dia akan sembuh, tapi bahwa dia akan bisa nyemplung ke dalam kolam – atau lebih jauh lagi, bahwa akan ada seseorang yang membantu dia masuk ke dalam kolam. Dia menaruh harapannya di tempat yang sangat keliru!

Rasa mengasihani diri sendiri itu “memanjakan” penderitanya.

Ini menggelikan, tapi beneran. Dan sekalipun dunia cenderung disalahkan karena memberi kita gambaran yang palsu tentang kebahagiaan, kesuksesan dan berbagai hal lain, tidak ada orang yang bisa disalahkan atas keputusan yang kita ambil, selain, tentunya, diri kita sendiri.

Orang lumpuh ini memutuskan untuk “menikmati penderitaannya”. Hati-hati: Alkitab tidak pernah menyuruh kita menikmati penderitaan. Tuhan memerintahkan kita untuk bersukacita dalam penderitaan – yaitu bertekun. Menikmati penderitaan itu seperti bunuh diri: tindakan ini membunuh karakter seseorang, kehidupan sosialnya, dan masa depannya – bahkan ketika orang itu masih hidup!

Rasa mengasihani diri sendiri itu melumpuhkan penderitanya.

Orang yang mengasihani diri sendiri berpikir bahwa orang lain yang salah, bukan dia. Bukan dia, tapi keadaannya. Bukan dia, tapi bagaimana orang lain memperlakukan dia. Dan seterusnya. Jadi ketika Yesus bertanya kepada orang-orang seperti ini: “Maukah engkau sembuh?” mereka bisa berkata, “Tuhan, saya tidak sakit. Kolam ini yang perlu dimodifikasi supaya saya bisa nyemplung ke dalamnya.” Orang ini buta, terhadap hal yang bisa dengan jelas dilihat oleh orang lain. Semua orang bisa melihat bahwa dia butuh kesembuhan, bukan nyemplung ke kolam; semua orang – kecuali dirinya sendiri.

Reaksi Yesus

Kita yang masih sama-sama manusia, bisa terjebak dalam hal-hal seperti ini. Tapi tidak dengan Tuhan. Dia tahu apa yang ada di dalam hati kita yang terdalam. Dan tanpa basa-basi, Yesus memberikan perintah.

Tunggu. Perintah?

Ya, perintah. Bukan hiburan.

Orang yang mengasihani diri sendiri tidak perlu dihibur – mereka perlu ditegur. Tentu saja mereka ingin dihibur, tetapi mereka tidak perlu dihibur.

Tuhan adalah Raja. Dia memberi perintah yang harus kita jalankan – dan Dia tidak perlu melakukan perintah kita. Yesus, sang Raja, memberi perintah kepada orang yang 38 tahun lumpuh ini – perintah yang mengubah hidupnya:

“Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Bangunlah. Yesus seolah berkata, “Aku tahu kamu nyaman di situ, di tempat di mana semua orang mengasihani kamu, di mana kamu dikenal sebagai korban keadaan. Tapi hari ini, kamu dengar apa yang Aku katakan: Bangun. Berdiri di atas kakimu. Berhenti meratapi dirimu sendiri.”

Angkatlah tilammu. Tilam itu untuk diduduki sementara, bukan selamanya. Selama ini orang itu tergantung pada tilamnya, tapi hari itu Yesus menyuruh dia berkuasa atas dirinya sendiri, atas kelemahannya sendiri. Ia tidak tergantung lagi pada tilamnya itu.

Berjalanlah! Apakah kamu selama ini lumpuh? Apakah kamu menikmati rasa sakit hati? Apakah kamu terus merasa sebagai orang yang kasihan? Tinggalkan itu semua dan biarkan kuasa Tuhan memenuhi kamu sehingga kamu berjalan maju. TIdak, kamu tidak kasihan. Tidak, hidupmu bukan yang paling sulit di dunia ini. Kamu normal, seperti orang lain. Usir segala pikiran yang mengasihani diri sendiri, dan mulailah berjalan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s