Tuhan Atau Orang Gila?

Dari Yohanes 5.

Pada suatu hari Sabat, Yesus berada di Yerusalem, tepatnya di dekat Pintu Gerbang Domba, di mana terdapat kolam Betesda. Itu hari Sabat. Menurut aturan Yahudi, pada hari Sabat, boro-boro ngantor, mengancingkan baju aja dilarang (kan ada perintah “Kuduskanlah hari Sabat”, benar? Dan para ahli Taurat membuat ribuan peraturan yang mendefinisikan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat). Salah satu yang dilarang adalah menyembuhkan orang – dan itu termasuk memberi Betadine di luka kalau kamu kebetulan jatuh di hari Sabat (seriusan). Yang lain yang juga dilarang adalah mengangkat benda yang beratnya melebihi ukuran tertentu.

Di situ, di tempat itu, pada hari Sabat, Yesus melihat seseorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lumpuh. Tiga puluh delapan tahun! Dan ia sedang menunggu. Menunggu apa? Menunggu air kolam bergetar karena digoncang oleh “malaikat” (entah apapun yang dimaksud). Ada ahli sejarah yang berkata bahwa di kolam itu terdapat ceruk yang bisa menimbulkan pusaran air. Dan pusaran itulah yang mereka kira goncangan malaikat. Yang jelas orang ini percaya bahwa bila ia bisa nyemplung tepat saat air goncang, ia akan sembuh. Ironisnya, selama tiga puluh delapan tahun, tidak ada yang membantunya nyemplung ke air itu.

Yesus bertanya kepada orang itu; sebuah pertanyaan yang menggetarkan hatinya yang terdalam: “Maukah engkau sembuh?”

Happy ending! Orang itu kemudian disembuhkan oleh Yesus.

Tapi.. Tapi.. Hari itu hari Sabat!

Semua orang Yahudi tahu bahwa ada larangan untuk menyembuhkan orang pada hari Sabat. Dan Yesus baru saja melanggar larangan tersebut! Apa pembelaannya untuk tindakan yang melanggar hukum tersebut? Dimulailah sebuah pembicaraan yang menarik tentang identitas Yesus yang sebenarnya. Yesus membuka dengan sebuah kalimat:

“BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”

Klaim macam apa itu?? Segera orang-orang Yahudi berusaha membunuh Yesus. Dia sudah kelewatan, Dia baru saja mengklaim bahwa Allah adalah BapaNya! Itu berarti Dia adalah ilahi, dan itu sebuah penghujatan besar terhadap keesaan Allah. Tapi Yesus tidak berhenti sampai di situ. Ia menyebut beberapa hal lain yang tidak kalah gawatnya.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

Dengan kalimat ini, Yesus berkata bahwa pekerjaan yang Ia lakukan adalah sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan kata lain, adalah kehendak Bapa bahwa Yesus, pada hari Sabat, menyembuhkan orang yang sudah 38 tahun lumpuh itu. Di telinga orang Yahudi, kata-kata itu kedengarannya seperti: “Adalah kehendak Bapa bahwa Aku melanggar hukum kalian.” Yesus tidak berhenti sampai di situ. Ia meneruskan:

“Aku berkata kepadamu: sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya akan hidup.”

Orang Yahudi percaya bahwa Allah sanggup membangkitkan orang mati dan akan melakukannya pada akhir zaman. Namun Yesus mengklaim bahwa Ia yang akan melakukan hal itu, dan sekaranglah saatnya. Ini gila. Mana ada manusia bisa membangkitkan orang mati? Dan Ia berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka mengerti. Membangkitkan orang mati? Sekarang? Apa yang orang ini bicarakan??

“Aku mempunyai kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya Aku melaksanakannya.”

Entah bagaimana dalam budaya masyarakat saat ini. Namun dalam budaya Yahudi, kesaksian satu orang tidaklah sah. Yohanes pembaptis telah bersaksi tentang Yesus. Namun Yesus berkata bahwa ada satu kesaksian yang bahkan lebih penting dari kesaksian Yohanes: semua tanda dan mujizat serta hal-hal ajaib yang Ia lakukan, yang mendukung klaimnya sebagai Anak Allah. Itu sudah dua saksi, dan itu lebih dari cukup. Ironisnya, orang-orang Yahudi tetap tidak percaya kepada Yesus karena mereka tidak melihat secara objektif. Entah tanda apa yang mereka inginkan dari Dia, tapi yang jelas ternyata apa yang dilakukan Yesus tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Yesus memberi sebuah pernyataan lagi, dan aku bener-bener ga ngerti kenapa orang Israel ga langsung merajam Dia setelah Dia bilang begini. Tapi Yohanes bilang, itu karena memang waktu Yesus untuk mati belum tiba. Baiklah.. Dia berkata:

“Kamu menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal. Tetapi walaupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu. …Jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepadaKu, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya akan apa yang telah ditulisnya, bagaimanakah kamu akan percaya akan apa yang Kukatakan?”

Ini sebuah pernyataan yang sungguh berbahaya! Yesus mengklaim bahwa Kitab Suci orang Israel menubuatkan tentang diriNya. Ia berkata bahwa Musa menulis tentang Dia. Siapa lagi Dia, bila bukan Tuhan sendiri??

Pernahkah kamu mendengar pernyataan: “Yesus tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Para pengikutnyalah yang melabeli dia seperti itu, terutama Paulus. Pauluslah pendiri kekristenan, bukan Yesus. Yesus adalah seorang pengajar moral yang luar biasa, orang yang mengubahkan dunia dengan hatinya yang mulia..” atau semacam itu?

Itu semua omong kosong.

Yesus adalah Tuhan, seperti yang Dia bilang – atau Dia hanya seorang gila yang sembarangan ngomong dan sudah bosan hidup.

Yesus bukan guru moral yang hebat. Guru moral akan menyuruh kamu berbuat baik, bersikap manis, memberi sedekah ke sana-sini, dan semacam itu. Tapi orang yang berkata, “Barangsiapa mau mengikut Aku dan ia tidak membenci ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat mengikut Aku,” tentu tidak masuk kategori “guru moral yang hebat”!

Yesus memang tidak mendirikan kekristenan. Ia tidak mendirikan agama.Ia berkata, siapa yang percaya dan mengikut Dia akan hidup selama-lamanya, sedangkan siapa yang menolak Dia akan binasa. Paulus, dan semua pengikutNya yang lain, menggemakan hal yang sama!

Orang-orang yang bersikap seolah-olah Yesus tidak pernah membuat klaim tentang keilahianNya adalah orang-orang yang tidak teliti membaca Alkitab. Atau, kalau boleh aku bilang, orang-orang yang membaca Alkitab dengan pikiran yang kosong. Ketika kita mempelajari siapa sebenarnya Yesus, tidak mungkin kita melewatkan Injil Yohanes; dan Injil Yohanes dipenuhi dengan klaim-klaim “gila” dari Yesus, manusia yang mengaku sebagai Allah! Yohanes sendiri menulis alasan ia membuat Injil tersebut:

“..semua yang tercantum di sini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.”

Bagaimana mungkin seseorang membaca Injil Yohanes dengan teliti dan melewatkan bagian yang begitu penting ini? Siapapun yang membaca goresan pena Yohanes di akhir abad pertama ini dihadapkan dengan dua pilihan dahsyat yang akan menentukan jalan hidup mereka selanjutnya: percaya bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Tuhan yang memberi keselamatan, atau menolak Dia sama sekali. Tidak ada pilihan ketiga. Tidak memilih berarti mengambil pilihan kedua.

Tuhan, atau orang gila. Semakin jauh kita menyelam dalam kesaksian Yohanes tentang Yesus, kita akan melihat, siapa sebenarnya Manusia yang mengklaim diri sebagai Allah ini.

Banyak orang yang mengaku Kristen tapi ga ambil pusing tentang siapa sebenarnya Yesus. Walau begitu, identitas Yesus dari Nazaret ini mendefinisikan seluruh hidupku – dan bukan cuma aku. Tidak terhitung jumlah orang yang mati karena mereka berkata bahwa Yesus dalah Tuhan. Terlalu banyak orang yang berkata bahwa bila mereka tidak mengenal Yesus, hidup mereka tentu sudah hancur berantakan. Anak tukang kayu yang mati terpaku pada sebuah salib ini, yang bahkan tidak dikenal oleh para pembesar Romawi kala itu, adalah manusia terpenting yang pernah hidup di dunia. Dan bila begitu banyak orang menganggap Dia – yang bahkan tidak pernah mereka lihat – lebih penting dari hidup mereka sendiri, pasti ada sesuatu yang sangat penting tentang Orang ini; begitu pentingnya, hingga menentukan hidup mati kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s