Semakin Mengenal

Hari Minggu kemarin, aku dan seorang sahabat ngobrol setelah makan siang. Salah satu topik obrolan yang selalu asik buat kami adalah tentang orang. Bukan ngomongin orang, tapi ngomongin sifat manusia. Dan kemarin, sambil ngobrol sama dia, aku jadi banyak mikir tentang perjalanan hidupku sendiri.

Kalau pembaca tau tentang psikologi populer tentang temperamen manusia, sifatku didominasi karakter kolerik . Sekilas info, orang kolerik adalah tipe pemimpin yang berani, bisa dibilang agresif, ambisius dan manipulatif. Orang-orang seperti ini disegani oleh orang lain sebagai pemimpin. Sifat baiknya banyak, sifat jeleknya juga. Salah satu sifat kolerik yang ga asik adalah kebutuhannya untuk mendominasi, yang bikin dia (selalu) berusaha memposisikan diri sebagai orang yang lebih hebat dari orang lain.

Sebagai orang kolerik, sejujurnya aku rasa, kebutuhan untuk dianggap hebat oleh orang sebenernya justru didasari rasa tidak aman. Karena merasa ga aman, orang kolerik berpikir bahwa mereka harus hebat supaya dihargai orang lain. Aku ga sadar tentang hal ini dulu; aku baru bisa lihat blind-spot itu sekarang.

Lalu terjadi perubahan. Aku akan berusaha sebisa mungkin jelasin perubahan apa yang aku maksud, karena emang susah jelasinnya. Moga pembaca paham. Yang terjadi adalah..

Semakin aku kenal Tuhan, semakin aku kenal diriku sendiri, semakin aku jujur sama diri sendiri tentang kekurangan-kekuranganku.

Semakin aku kenal Tuhan, semakin aku kenal sifat-sifat manusia.

Semakin aku kenal Tuhan, semakin aku ngerti kepada siapa saja aku bisa membuka diri dan dari siapa saja aku bisa belajar jadi orang yang lebih baik.

Semakin aku kenal Tuhan, semakin aku merasa aman dan sadar bahwa aku ga perlu membuktikan diri kepada siapapun.

Sekarang aku jauh lebih berani jujur tentang apa yang sesungguhnya aku rasakan (itu susah buat kaum kolerik, teman-teman. Haha). Aku lebih santai, aku menikmati hidup dan jalan dalam panggilan Tuhan tanpa pusing orang anggep aku hebat atau engga. Aku tulus mengasihi orang lain dan ingin tahu tentang apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Lewat post ini, teman-teman, aku cuma pengen bilang bahwa apa yang Yesus katakan itu benar.. Dia bilang, “Jika kamu tetap di dalam Aku dan FirmanKu tetap di dalam kamu, maka kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Tetap di dalam Dia. Di mana kamu sekarang? Di luar Yesus, tidak ada keamanan identitas. Kita disebut ‘terhilang’. Bahasa Inggris menyediakan istilah yang lebih umum: we are lost without Him.

FirmanNya di dalam kita. Banyak orang yang menyebut diri Kristen ga mau repot belajar firman Tuhan. Alasannya macam-macam: sudah ada Roh Kudus lah (ini jelas pengenalan yang keliru tentang Roh Kudus), dengerin kotbah aja lah, sibuk lah, yang intinya adalah alibi dari kemalasan. Aku cuma bisa bilang, kalo kita ga isi pikiran kita dengan firman Tuhan, dunia akan isi kita dengan berbagai macam sampah.

Kita akan mengetahui kebenaran. Tadi aku cerita bahwa semakin aku kenal Tuhan, semakin aku kenal diriku sendiri. Kok bisa? Karena aku diciptakan sesuai gambarNya. Dan waktu aku lihat Gambar Ideal dari sifat-sifatku, aku jadi tau yang mana yang salah dan tidak sesuai gambaran itu.

Kebenaran itu akan memerdekakan kita. Apa hal terbaik dari firman Tuhan? Dia bukan hanya memberitahu kita apa yang salah, tapi juga mengubah kita menurut gambaran yang benar (silakan lihat 2 Timotius 3:16-17).

Aku suka sekali kata memerdekakan. Para pendengar Yesus bertanya, “Siapa yang perlu merdeka? Kami bukan budak siapapun!” Jawaban Yesus adalah, “Siapapun yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Semua orang yang punya kekurangan, yang emosinya sering lepas kendali, yang tidak setia pada pasangan, yang malas, yang mau menang sendiri, tepatnya semua kita adalah budak dosa—budak kejahatan di dalam diri kita. Dan hanya Yesus yang dapat memerdekakan kita.

Terakhir, aku kutip kata-kata Yesus dalam percakapanNya dengan Nikodemus. Yesus baru saja bilang bahwa setiap orang yang mau masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami kelahiran kembali dalam Roh Allah. Nikodemus bingung, sehingga Yesus memberi analogi: “Angin bertiup. Kamu tidak dapat melihatnya, namun kamu dapat merasakannya. Demikian pula setiap orang yang lahir dari Roh.”

Aku berubah. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana terjadinya perubahan itu, tapi aku, dan semua orang yang kenal aku, bisa merasakannya.

One thought on “Semakin Mengenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s