(Mis)komunikasi

Suatu hari terjadi keributan menjelang sebuah acara. Dua orang koordinator dari dua divisi yang berbeda saling berteriak satu sama lain, saling menyalahkan. Kalimat mereka kira-kira seperti ini.

“Kenapa lu ga bilang kalo lu perlu daftar ini?!?”

“Gue uda bilang!! Lu kali yang ga perhatiin!”

Apa nih, masalahnya? Biasanya, masalah yang terjadi dalam momen-momen seperti ini adalah gara-gara masalah komunikasi.

Apa sebenarnya komunikasi itu? Kita semua berkomunikasi (walaupun mungkin ga semua bisa memberi definisi). Arti sederhana dari komunikasi adalah menyampaikan dan menerima pesan. Kalau kamu baca tulisan ini, berarti kamu sedang menerima pesan, alias berperan sebagai komunikan, dan aku komunikatornya. Ketika kita ngobrol dengan orang lain, kita berkomunikasi juga. Namun kenyataannya, berkomunikasi tidak sesederhana itu. Buktinya, banyak sekali masalah yang timbul gara-gara terjadi kesalahan dalam komunikasi. Sebagai amatir (maksudnya orang yang tidak punya gelar khusus dalam bidang komunikasi), izinkan saya mengategorikan permasalahan komunikasi verbal menjadi beberapa bagian. Komunikasi verbal ya, jadi komunikasi lewat jalur ngomong. Ini klasifikasi amatiran aja ya, berdasarkan pengalaman sehari-hari.

Tidak berkomunikasi. Ya ini mah ga ketolong. Orang lain tidak bisa membaca pikiran kita, jadi bagaimana mungkin kita berharap mereka tau apa yang kita pikirkan atau rasakan bila kita tidak mengomunikasikannya? Faktanya, justru karena orang lain tidak bisa membaca pikiran kitalah makanya perlu ada komunikasi. Jadi kalau pembaca termasuk orang yang tidak suka berkomunikasi, tertutup, ga suka ngomong, ya jangan sebel kalau orang lain ga ngerti apa yang kamu pikirkan. Deal?

Salah berkomunikasi. Ini bisa terjadi bila ada kendala bahasa. Ga usah beda bahasa; aku beberapa kali mengalami masalah dalam kategori ini karena ngobrol dengan orang Indonesia timur. Kami sama-sama ngomong dalam bahasa Indonesia, tapi dia ga ngerti apa yang aku maksud, dan aku ga ngerti apa yang dia maksud. Kacau! Kenapa? Karena kalimat kami, walaupun kata-katanya sama-sama dalam bahasa Indonesia, strukturnya berbeda. Bahasa adalah elemen krusial dalam komunikasi. Ketika kendala bahasa tidak diatasi, kemungkinannya adalah miskomunikasi yang parah.

Gagal berkomunikasi. Maksudnya bukan gagal bicara atau gagap. Sama sekali bukan. Maksudku, bahasa sudah sama, istilah-istilah dimengerti, tingkat pengetahuan sepadan, pembicaraan berlangsung, tapi informasi tidak sampai. Ini bukan ga mungkin, karena aku sendiri berkali-kali mengalami hal seperti ini. Cerita yang aku pakai sebagai contoh di awal postingan ini menjelaskan hal itu. Si A sudah bilang bahwa dia perlu list yang mereka bicarakan, tapi si B tidak menangkap. Gimana ini? Ketika ada kejadian seperti ini, yang timbul dalam pikiranku adalah, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin, semua syarat komunikasi yang baik sudah terpenuhi, tapi orang ini tetep ga ngerti juga apa yang aku bicarakan?

Masih sebagai amatir, izinkan saya melakukan analisa kecil-kecilan tentang masalahnya. Kalau pembaca adalah orang yang tidak suka berkomunikasi, tidak heran bila komunikasi gagal, karena komunikasi adalah sebuah ilmu sekaligus seni; dia harus dipelajari dan diasah supaya kita mahir menggunakannya. Jadi anda kurang latihan lah, istilahnya. Tapi bila pembaca adalah orang yang sering berkomunikasi – dan saya yakin orang yang sering berkomunikasi sering juga mengalami masalah dalam komunikasi – anda tentu penasaran: Mengapa komunikasi bisa gagal?

  1. Ketidaksamaan istilah.

    Lucunya, inilah yang sering menjadi penyebab kegagalan komunikasi. Waktu kamu bilang, “Jalanan macet,” apa yang kamu maksud dengan “macet”? Ga bisa ngebut? Masih jalan tapi dengan kecepatan 10 Km/jam? Atau sama sekali ga jalan? Karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda, terjadilah masalah komunikasi.

    Solusi: Jangan pernah berasumsi bahwa persepsi orang lain selalu sama dengan kita. Beri usaha ekstra untuk menjelaskan secara singkat apa yang kita maksud. Misalnya kamu bilang, “Kalau sudah selesai pakai, dibereskan ya.” Akan lebih baik bila kamu menjelaskan sedikit seperti ini: “Kalau sudah selesai pakai, barang-barang dikembalikan ke tempat semula dan meja dilap biar bersih ya.” Jadi tidak ada interpretasi yang bias tentang “dibereskan”. Lebih jelas kan?

  2. Komunikator atau komunikan (atau keduanya) tidak fokus sehingga informasi hilang.

    Makanya, kalo ngobrol penting, usahakan jangan waktu salah satu atau dua-duanya cape banget. Kemungkinan besar kamu akan lupa apa yang dibicarakan ketika itu.

    Solusi: Jangan terlalu percaya diri bahwa kamu akan selalu bisa mencerna informasi dengan baik. Rapat jam 8 pagi padahal tidur baru jam 5 pagi, sesegar-segarnya kamu, pasti ada informasi yang hilang. Kenali keadaan fisik dan fisiologis tubuh sendiri, sehingga kamu selalu bisa memberi dan mencerna informasi dengan baik.

  3. Kurang mengulang.

    Waktu aku kuliah, dosen advertising bilang begini, “Supaya orang inget nama kita, kita harus mengulang menyebut nama kita setidaknya tiga kali dalam satu pembicaraan dengan mereka.” Banyak orang merasa cukup satu kali saja mereka menyampaikan informasi, dan mereka anggap pihak komunikan sudah benar-benar mengerti. Salah. Ada berapa Injil yang dimasukkan dalam Alkitab? Empat. Berapa kali Paulus mengulang penjelasan tentang keselamatan dalam surat-suratnya? Terus-menerus. Berapa kali Yesus menyuruh murid-muridNya saling mengasihi? Berkali-kali. Manusia perlu pengulangan supaya mereka benar-benar mengerti dan ingat.

    Solusi: Rekap ulang. Kalau memang informasi yang akan kamu sampaikan itu penting, ulang. Ingatkan orang yang bersangkutan. Ulang lagi. Bicarakan lagi. Kedengarannya membosankan, tapi kalau kita tidak mau mengalami masalah gara-gara informasi hilang, kita harus rajin mengulang.

Panjang amat ya pembahasannya. Ini aja belom semua. Hahahah.. Membahas komunikasi verbal sebenernya paling gampang (dibandingkan komunikasi nonverbal/tertulis) karena kita semua pasti ngomong. Sebagai penutup, aku pengen bilang bahwa salah satu hal terpenting yang tidak boleh diabaikan dalam komunikasi adalah niat baik – niat baik supaya orang mengerti apa yang mau kita sampaikan. Bila tujuan kita bukan membuat orang mengerti, kita akan malas memberi usaha lebih dalam komunikasi. Tapi kalau niat kita memang baik, kalau kita ingin memberi dan mendapat hasil sebaik-baiknya dari komunikasi, dengan senang hati kita akan memperbaiki diri.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s