Sebuah Penyembahan

Marta sibuk sekali.

Begitu ia tahu Yesus akan lewat di daerahnya, ia mengirim orang untuk memberitahu Yesus bahwa Yesus bisa mampir di rumahnya. Yesus bukan sekedar rabi yang hebat, namun dia juga adalah sahabat bagi keluarganya. Marta begitu bersemangat – ia mengerahkan para pembantunya, pegawai-pegawainya dan semua orang di rumahnya untuk membantunya.

Dia memasak, menyediakan minuman, menyiapkan tempat duduk dan berbagai keperluan lain bagi Yesus dan murid-muridNya. Paling tidak jumlah mereka ada belasan orang, dan mereka tentu lelah serta lapar. Para pembantunya tahu bahwa nyonya mereka adalah seorang perencana yang luar biasa dan organisator yang handal. Marta tidak melewatkan satupun hal!

Lalu Yesus tiba. Marta dengan gembira menyambutnya. Bukan hanya Marta, namun juga Maria, saudaranya. Mereka menyilakan Yesus dan murid-muridnya duduk, serta beristirahat dan menikmati hidangan.

Segera Marta sibuk keluar masuk membawakan berbagai makanan dan kue-kue. Satu per satu hidangan keluar. Begitu sop habis, Marta segera masuk lagi ke dapur dan keluar dengan sayuran. Begitu minuman habis, ia ke dapur lagi untuk mengambil tambahan minuman. Ia tidak mau tamu-tamunya kehabisan makanan – tentu ia tidak mau menjadi tuan rumah yang tidak baik, bukan?

Namun Marta sendirian. Ia melihat Maria duduk di dekat Yesus, tidak peduli bahwa piring di depan Yesus yang tadinya berisi roti telah kosong. Ia berharap Maria akan berinisiatif mengambilkan tambahan makanan bagi Yesus, namun saudaranya itu kelihatannya terlalu serius mendengarkan Yesus. Marta, sedikit kesal pada adiknya, mengambilkan tambahan makanan dan meletakkannya di hadapan Yesus. Yesus tersenyum padanya dan mengucapkan terima kasih.

Tapi terjadi lagi. Kali ini, jelas-jelas minuman Yesus habis. Maria tetap saja diam dan hanya mendengarkan! Marta melihat dengan kesal. Tuan rumah macam apa yang membiarkan tamunya kehabisan minuman? Ia melirik Maria, namun saudaranya itu tidak begitu memperhatikannya. Sekali lagi Marta masuk ke dapur dan keluar dengan segelas air bagi Yesus. Kali ini ia mendekati Yesus dan menyampaikan protes dengan berbisik.

“Tuhan,” ucapnya dengan nada kesal, “tolong suruhlah Maria membantu aku. Aku bekerja sendiri – dia diam saja! Aku rasa Tuhan tentu memperhatikan kelakuannya itu..?”

Yesus menarik kursi di dekatnya dan berkata dengan perlahan, “Marta, duduklah di sini.” Marta, sedikit bingung, menurutinya.

“Marta, kamu tau apa yang kamu lakukan?” tanya Yesus sambil memandang temannya itu.

Dengan padangan bingung dan ragu-ragu Marta menjawab, “Aku melayani Tuhan.”

“Bukan,” kata Tuhan. “Kamu menyibukkan dan merepotkan diri. Kamu tau apa yang aku inginkan?”

Kali ini Marta benar-benar bingung. Ia menggeleng.

“Aku mau bertemu kalian, Marta,” ujar Yesus pelan. “Aku bukan ingin makanan dan minuman. Aku ingin bertemu kalian.

Marta terpaku. Ia tidak bisa berkata-kata. Yesus melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati.

“Marta, Maria tau apa yang aku inginkan. Yang terbaik bagiku adalah bertemu dengan kalian, bukan apa yang kalian berikan padaku. Dan kamu tau? Momen kamu bersama dengan aku adalah momen terbaik dalam hidupmu. Maria mengalami itu, dan aku ingin kamu juga mengalaminya.”

Yesus tersenyum. Marta masih terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Apa yang ia pikir yang terbaik bagi Yesus ternyata bukan yang terbaik. Dan sungguh mengejutkan Yesus berkata bahwa ia lebih menghargai kebersamaan daripada pelayanan.

“The King is enthralled by your beauty..
Worship Him, for He is your Lord.”

– Psalm 45:11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s