Di Kedai Kopi Itu

Aku buru-buru melangkah masuk ke dalam kedai kopi itu. Pakaianku basah karena hujan, walaupun aku sudah menggunakan payung. AC yang dingin dalam ruangan itu membuatku merinding. Untung masih ada syal di tas yang bisa dipakai untuk menggantikan jaket yang basah ini.

Sambil mengeringkan payung, aku melayangkan mata di dalam kedai itu, mencari dia yang telah menungguku. Kami janji bertemu jam 4 sore, tapi aku sudah hampir setengah jam terlambat. Aku menemukan dia duduk di salah satu pojok ruangan, di dekat jendela. Dia melihatku dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku membalas lambaiannya dan buru-buru menghampirinya. Dia berdiri ketika aku sampai di hadapannya.

“Keujanan ya?” tanyanya.

“Sedikit.. Gara-gara ujan angin nih,” sahutku.

“Duduk, duduk..” Dia menarikkan sofa tempat dudukku agar aku lebih mudah masuk. Aku tersenyum sebagai tanda terima kasih.

“Oh, mau pesen minuman dulu?” tanyanya sambil hendak berdiri untuk memesankan minuman untukku. Aku menggeleng. Dia kembali duduk.

Aku tahu hari ini adalah hari yang penting bagi kami berdua. Dia sudah beberapa tahun dekat denganku. Makin lama hubungan kami makin serius, dan hari ini ia meminta kejelasan tentang masa depan kami berdua. Siap atu tidak, inilah waktunya.

“Jadi..”

Aku mengangkat wajahku dan mendapatinya menatapku dalam-dalam. Rasanya aku ingin kabur dari pandangan itu – tapi aku tidak bisa. Ia tersenyum memandangku.

“Kamu uda pikirin?”

Aku merasa telingaku tuli dari hiruk-pikuk kedai kopi itu; seolah-olah duniaku berhenti di hadapannya. Aku menelan ludah. Sungguh aku ingin berkata “ya” saja, tapi berbagai pikiran dalam benakku melarangku buru-buru menjawab.

“Uda,” sahutku, “dan aku punya pertanyaan..”

Dia menegakkan posisi duduknya. Wajahnya nampak penuh kepercayaan diri.

“Silakan.”

“Aku uda tanya-tanya orang yang kenal kamu. Dan aku cuma pengen tau. Kalo hubungan ini lanjut, apa kamu bisa jamin semua bakal baik-baik aja?”

Ia menatapku dalam-dalam dan menghela nafas.

“Sebelum aku ngomong apapun, aku pengen kamu tau bahwa aku seneng banget kamu uda pikirin baik-baik semua resikonya kalo kita lanjutin hubungan ini. Kita uda deket sekian tahun, dan kamu pasti kenal banyak orang yang ga suka sama aku, jadi kamu tau kalo aku bukan orang yang bakal disukai smua orang.

“Kalo kamu uda tanya orang-orang, mereka pasti tau bahwa hubungan kita ga akan gampang. Dan yang mereka bilang ga salah. Sejujurnya, kamu pasti mengalami masalah kalo kamu lanjut sama aku. Hidup ga bakal gampang sih.. Dan semakin kita deket.. Mm.. Banyak hal akan harus dikorbanin. Aku uda pernah kasitau kamu tentang itu kan? Yah, mungkin harus aku ulangi..”

Ia mengambil kopinya dan menyeruputnya sedikit. Aku merasa dia sendiri agak gugup berbicara denganku, sekalipun dia yang aku kenal selalu penuh percaya diri. Apa aku begitu penting buatnya?

“Aku tau apa yang ada di pikiran kamu.. Ini juga uda berkali-kali aku omongin, tapi biar kamu mantep, aku kasitau sekali lagi – dan aku ga akan bosen kasitau kamu hal ini: kamu sangat penting buat aku. Sangat, sangat, sangat penting. Lebih penting dari nyawaku sendiri. Hubungan ini bener-bener penting buat aku.”

Ia menyentuh tanganku dan menggenggamnya dengan lembut. Jantungku berdebar kencang.

“Aku sayang banget sama kamu. Dan aku menyesalkan sekali kamu harus ngalamin kesulitan kalo kamu bareng aku, tapi kamu perlu tau bahwa.. Aku yang terbaik buat kamu.

“Ada satu hal yang harus kamu inget. Sejak awal kita kenal, aku ga pernah berbuat jahat sama kamu. Aku uda cerita ke kamu semua tentang aku, dan aku jujur sejujur-jujurnya. Ga ada yang aku sembunyiin dari kamu. Kamu tau siapa aku, apa aja yang uda aku lakuin buat kamu, seberapa sayang aku sama kamu. Dan..”

Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat kepalanya kembali dan menatapku – lebih serius dari sebelumnya.

“Kamu bisa pegang janji ini – janji yang aku jamin dengan hidupku sendiri: aku ga akan pernah tinggalin kamu. Sesulit apapun keadaannya, kalo kamu tetep bareng aku, aku ga akan pernah tinggalin kamu. Aku janji.”

Tidak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan. Ia telah menyelesaikan kalimatnya, namun tidak melepaskan pandangannya dariku. Tangannya tetap memegang tanganku dan aku merasakan kehangatan luar biasa dalam hatiku. Ketika aku memandang wajahnya, tidak ada kepalsuan di sana.

“Jadi..?”

“Jadi apa?” sahutku menggodanya. Ia tertawa kecil.

“Jadiiii.. Will you be serious with me? Will you live with me?” sahutnya manja.

Kami tertawa pelan. Dia sungguh manis. Aku bahkan tidak ingin melepaskan tanganku dari tangannya. Dan aku bukannya tidak tahu bahwa bila aku meneruskan hubungan ini, aku akan mengalami banyak sekali kesulitan. Tapi aku seakan tidak punya pilihan.. Tanpa aku sadari, aku sangat mencintainya. Perlahan, dia telah menjadi hidupku. Prioritasku.

Aku menarik nafas. “Kamu tau,” ujarku, “sebenernya dari dulu aku berusaha menghindar dari kamu.”

Dia tertawa. Aku menepuk punggung tangannya. “Kenapa ketawa??” ujarku – sambil tertawa juga.

“Engga, engga.. Lanjut..” sahutnya di sisa tawanya.

“Iya, aku uda usaha menghindar dari kamu. Aku ga mau tau tentang kamu. Aku pengen ga peduli sama kamu. Tapi..”

Aku diam sesaat.

“Tapi kenapa..?”

“Tapi aku ga bisa.”

Aku begitu malu, rasanya ingin kubenamkan kepalaku ke dalam tanah. Aku merasakan wajahku memerah, dan aku yakin dia melihatnya. Namun dia tidak menggodaku, dia hanya tersenyum dengan mata berbinar-binar. Susah payah aku berusaha melanjutkan kalimatku.

“Rasanya aku ga mungkin bilang engga kalo kamu minta kita lanjutin hubungan ini.”

Kami saling berpandangan. Lalu tanpa kuduga, ia berdiri dari tempat duduknya dan mendekati tempat dudukku, lalu berlutut di sisiku. Ia menatapku lekat-lekat.

“Aku janji,” katanya, “sekali lagi aku janji buat terus ada buat kamu. Kapanpun kamu cari aku, aku pasti ada. Setiap hari, aku janji buat selalu bareng sama kamu. Ga ada orang lain yang bisa kasi apa yang aku kasi ke kamu. Aku janji, sekalipun nanti kita harus ngadepin masalah dan kesulitan, kamu ga akan nyesel kamu pilih aku. Aku janji.”

Ramainya suasana di kedai kopi itu tidak lagi terasa ketika ia mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak bisa melukiskan apa yang aku rasakan. Sejak dulu ia selalu berhasil membuat hatiku luluh, dan seperti yang ia katakan, memang ia tak pernah mengecewakanku. Aku menyentuh pipinya dan ia menangkap tanganku serta menciumnya. Aku mencintainya, tapi aku tahu dia mencintaiku lebih besar.

“So am I yours?” tanyanya lagi setengah menggodaku.

Aku tersenyum simpul. “I am yours,” sahutku. Lagi-lagi kami tertawa bersama.

“Aku percaya sama kamu,” ujarku sambil tersenyum padanya. Dia membalas senyumku.

“Kamu tau? Itu kalimat yang aku sangat, sangat pengen denger dari kamu.”

Ia memelukku. Ah, betapa hangatnya. Betapa luar biasanya. Betapa indahnya. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Dan yang terbaik adalah mengetahui bahwa cinta kami akan berlanjut, semakin dan semakin dalam.

Kami masih membicarakan beberapa hal sebelum meninggalkan kedai kopi itu. Ia menggandengku saat kami berjalan bersama. Aku memegang tangannya erat-erat. Tangan itu, yang berlobang paku demi hidupku, yang menanggung segala bebanku, yang terulur bagiku setiap kali aku membutuhkannya, sekarang adalah milikku selama-lamanya. Dan aku, miliknya selama-lamanya.

Based on a true story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s